BerandaBuletin DakwahMelacak Akar Gagasan Komunisme di Indonesia

Melacak Akar Gagasan Komunisme di Indonesia

- Advertisement -spot_img

Download Buletin 36 – Melacak Akar Ideologi Komunisme di Indonesia

Oleh: Adib Fattah Suntoro,M.Ag.

(Pengajar Islamic Worldview, Ma’had Aly Darusy Syahadah)

“Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati.” Slogan penuh kebencian itu pernah menggema di Jawa Timur pada pergolakan PKI Madiun 1948. Sejak 18 September 1948, setelah Muso memproklamasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun, slogan tersebut semakin gencar diteriakkan oleh para pendukung PKI Muso, baik dari kalangan sipil maupun kelompok bersenjata yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Melalui slogan tersebut, kekerasan terhadap kalangan pesantren dilakukan secara brutal, termasuk terhadap Pondok Modern Darussalam Gontor. Beruntung, ketika itu Kiai Sahal dan Kiai Imam Zarkasyi berhasil menyelamatkan diri bersama para santri dengan mengungsi. Meskipun demikian, beberapa bangunan dan fasilitas pesantren menjadi sasaran kemarahan anggota PKI. Di sejumlah tempat, kekejaman tersebut bahkan tidak dapat dibendung. Bangunan pesantren dirusak, aktivitas di langgar dibubarkan, sementara sejumlah kiai dan santri menjadi sasaran pembunuhan. Bahkan, menurut Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, di sejumlah desa, kota, jalan, dan gang telah dipersiapkan lubang-lubang yang kemudian digunakan sebagai tempat pembantaian kiai dan santri secara massal (Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, 2016: 109).

Pengalaman yang dialami Gontor menjadi salah satu gambaran kecil dari situasi yang terjadi di berbagai wilayah. Dalam cakupan yang lebih luas, penyair Taufiq Ismail menyebut bahwa sepanjang 1917–1991, berbagai rezim komunis di sejumlah negara telah menyebabkan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar. Ia memperkirakan sekitar 120 juta orang menjadi korban, termasuk di Uni Soviet, China, dan Kamboja. Uni Soviet disebut sebagai salah satu negara dengan jumlah korban terbesar, terutama pada masa Lenin dan Stalin, sementara di China, pemerintahan Mao Zedong juga dikaitkan dengan puluhan juta korban. Di Kamboja, rezim Khmer Merah di bawah Pol Pot pada 1975–1978 disebut telah menewaskan sekitar dua juta orang (Ismail, 2016).

Namun, memahami kekerasan dan berbagai tragedi dalam perjalanan komunisme tidak cukup hanya dengan melihat rangkaian peristiwa yang terjadi. Di balik gerakan politik tersebut terdapat gagasan-gagasan yang membentuk pandangan tentang agama, manusia, masyarakat, sejarah, dan kepemilikan. Lalu, dari mana gagasan komunisme itu berasal dan bagaimana ia dapat tumbuh di Indonesia? Pertanyaan ini membawa kita untuk menelusuri akar pemikiran yang melandasi ideologi tersebut, terutama gagasan tentang materialisme, perjuangan kelas, kritik terhadap agama, dan perubahan masyarakat yang kemudian turut membentuk perkembangan komunisme dalam sejarah Indonesia.

Dari Marxisme Menuju Komunisme

Untuk memahami komunisme, kita perlu menelusuri gagasan yang menjadi fondasinya. Salah satu tokoh utamanya adalah Karl Marx (1818–1883) bersama Friedrich Engels (1820–1895). Pemikiran mereka berkembang melalui dialog dengan filsafat Jerman, sosialisme Prancis, dan ekonomi politik Inggris (McLellan, 2007).

Karl Marx

Salah satu dasar pemikiran Marx adalah materialisme, yang menempatkan kondisi material sebagai unsur penting dalam memahami realitas dan kehidupan manusia. Pandangan ini kemudian berkembang menjadi materialisme historis, yaitu pemahaman bahwa perkembangan masyarakat sangat berkaitan dengan cara manusia memenuhi kebutuhan hidup melalui kerja, produksi, dan hubungan ekonomi (Marx & Engels, 1846/1976).

Dalam masyarakat kapitalis, Marx melihat adanya dua kelas utama, yaitu borjuasi sebagai pemilik alat-alat produksi dan proletariat sebagai pekerja yang menjual tenaga kerjanya untuk memperoleh upah. Perbedaan kepemilikan tersebut melahirkan hubungan yang menurut Marx bersifat eksploitatif. Melalui konsep surplus value atau nilai lebih, Marx menjelaskan bagaimana nilai yang dihasilkan pekerja menjadi sumber keuntungan bagi pemilik modal (Marx, 1867/1976).

Dari kondisi tersebut lahir konsep perjuangan kelas. Marx dan Engels memandang pertentangan antara kelas pemilik modal dan kelas pekerja sebagai salah satu kekuatan penting dalam perubahan sejarah (Marx & Engels, 1848/1976). Karena itu, perubahan masyarakat diarahkan bukan sekadar pada perbaikan kondisi pekerja, tetapi pada perubahan struktur kepemilikan dan produksi melalui revolusi proletariat.

Salah satu tujuan utama revolusi tersebut adalah menghapus kepemilikan borjuis atas alat-alat produksi dan pada akhirnya membentuk masyarakat tanpa kelas. Dalam cita-cita komunisme, produksi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bersama, yang dirumuskan Marx dalam prinsip: “Dari masing-masing menurut kemampuannya, kepada masing-masing menurut kebutuhannya” (Marx, 1875/1978).

Dengan demikian, komunisme memiliki rangkaian pemikiran yang berawal dari materialisme, berkembang menjadi analisis hubungan produksi dan kelas, kemudian mengarah pada perjuangan kelas, revolusi proletariat, dan masyarakat tanpa kelas. Kerangka tersebut juga memengaruhi kritik Marxis terhadap agama, yang melihat agama dalam kaitannya dengan kondisi sosial dan material manusia (Marx, 1843/1975).

Kritik terhadap Agama

Di sinilah persoalan komunisme menjadi lebih mendasar bagi masyarakat yang kehidupan sosialnya dibangun di atas agama. Kritik Marx terhadap agama tidak dapat dilepaskan dari kritiknya terhadap kondisi sosial manusia. Dalam Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, Marx memandang agama sebagai bentuk kesadaran manusia yang berkaitan dengan kondisi sosial tertentu. Agama, dalam kerangka tersebut, bukanlah wahyu yang datang dari Tuhan kepada manusia, melainkan sesuatu yang dipahami sebagai produk manusia dan masyarakat (Marx, 1843/1975).

Karena itu, Marx tidak berhenti pada kritik terhadap keyakinan keagamaan. Ia menghubungkan kritik terhadap agama dengan kritik terhadap struktur sosial yang menurutnya menghasilkan keterasingan manusia. Agama dianggap memberikan penghiburan terhadap penderitaan, sementara akar penderitaan itu sendiri berada dalam kehidupan sosial manusia (Marx, 1843/1975).

Pandangan tersebut kemudian berkembang dalam tradisi Marxis menjadi sikap kritis terhadap agama. Lenin, misalnya, secara lebih tegas menyatakan bahwa materialisme dan perjuangan melawan agama memiliki hubungan erat. Menurutnya, agama perlu dipahami melalui kondisi sosial yang membuatnya tetap memiliki pengaruh di tengah masyarakat (Lenin, 1909/1972).

Dari perspektif ini terlihat bahwa perbedaan antara Islam dan materialisme Marxis bukan sekadar perbedaan dalam persoalan politik atau ekonomi. Keduanya berangkat dari pandangan yang berbeda mengenai hakikat realitas. Dalam Islam, realitas tidak terbatas pada apa yang dapat ditangkap oleh indra. Allah adalah realitas tertinggi, sedangkan alam merupakan ciptaan-Nya. Manusia hidup dalam dunia material, tetapi kehidupannya tidak berhenti pada dunia material. Ada wahyu, kehidupan akhirat, pertanggungjawaban moral, dan tujuan hidup yang melampaui kepentingan ekonomi (Al-Attas, 1995).

Sementara itu, materialisme historis menempatkan kondisi material dan hubungan produksi sebagai unsur fundamental dalam memahami perkembangan masyarakat. Perbedaan titik berangkat inilah yang kemudian memengaruhi cara keduanya memandang manusia, masyarakat, sejarah, dan agama.

Ketika Marxisme Masuk ke Hindia Belanda

Lalu bagaimana gagasan yang lahir dari pergulatan intelektual Eropa tersebut dapat masuk ke Indonesia? Jawabannya berkaitan erat dengan kolonialisme, pendidikan modern, gerakan buruh, pers, dan jaringan politik internasional. Salah satu tokoh penting dalam proses awal tersebut adalah Hendricus Sneevliet, seorang sosialis Belanda yang datang ke Hindia Belanda pada 1913. Pada 1914 ia mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) di Surabaya. Organisasi ini menjadi salah satu saluran awal penyebaran gagasan sosialisme dan Marxisme di Hindia Belanda (McVey, 1965).

Sneevliet kemudian membangun hubungan dengan Sarekat Islam. Di sinilah sejarah komunisme Indonesia menjadi menarik. Marxisme tidak langsung tumbuh sebagai gerakan yang berdiri sendiri di tengah masyarakat pribumi. Ia masuk melalui jaringan organisasi, serikat buruh, media massa, dan terutama melalui upaya mendekati kelompok-kelompok politik yang telah memiliki basis massa (McVey, 1965).

Semaun, seorang aktivis buruh kereta api, menjadi salah satu tokoh pribumi yang bergabung dengan ISDV. Tokoh lain seperti Darsono, Alimin, Musso, dan kemudian Tan Malaka juga memainkan peran penting dalam perkembangan awal gerakan tersebut. Pada 1920, organisasi tersebut berkembang menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) dan terhubung dengan jaringan Komintern (McVey, 1965; Hindley, 1966).

Menariknya, penyebaran Marxisme di Indonesia juga berlangsung melalui proses penerjemahan gagasan. Marx dan Engels menulis dalam konteks Eropa, sementara masyarakat Hindia Belanda memiliki struktur sosial, bahasa, kebudayaan, dan tradisi keagamaan yang berbeda. Karena itu, para aktivis komunis berusaha menerjemahkan istilah-istilah Marxian ke dalam bahasa Melayu dan menghubungkannya dengan persoalan masyarakat kolonial (McVey, 1965).

Dengan demikian, komunisme di Indonesia sejak awal tidak sekadar merupakan salinan utuh komunisme Eropa. Ia mengalami proses penerjemahan, penyesuaian, dan pencarian bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat setempat.

Dari Gagasan Menuju Pergolakan Politik

Perjalanan komunisme Indonesia kemudian memasuki fase yang semakin politis. Pada 1926–1927 terjadi pemberontakan PKI terhadap pemerintah kolonial di sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra. Pemberontakan tersebut gagal dan diikuti penangkapan, pembuangan, serta penindakan terhadap para aktivis komunis (McVey, 1965).

Gerakan komunis kemudian kembali memperoleh ruang politik yang lebih besar setelah kemerdekaan Indonesia. Dalam perjalanan berikutnya, konflik antara kelompok komunis dan kelompok-kelompok politik lainnya semakin tajam. Puncak penting terjadi dalam Peristiwa Madiun 1948, ketika kelompok yang dipimpin Muso mendeklarasikan pemerintahan yang dikenal sebagai Republik Soviet Indonesia. Peristiwa tersebut kemudian berakhir dengan kekalahan kelompok pemberontak dan penangkapan serta pembunuhan sejumlah tokoh PKI (Ricklefs, 2008).

Namun, memahami Madiun hanya sebagai perebutan kekuasaan juga belum cukup. Di belakang konflik politik tersebut terdapat pertarungan gagasan mengenai negara, revolusi, agama, kelas sosial, dan arah masa depan Indonesia.

Di sinilah sejarah menjadi penting. Ideologi tidak berhenti sebagai teori yang berada di dalam buku. Ketika gagasan memperoleh organisasi, kader, media, dan kekuatan politik, ia dapat berubah menjadi kekuatan sejarah yang nyata.

Persinggungan dengan Islam

Persinggungan komunisme dan Islam di Indonesia berlangsung cukup kompleks. Gerakan komunis pernah berusaha masuk ke organisasi berbasis massa Islam, terutama Sarekat Islam. Persinggungan tersebut kemudian melahirkan perdebatan ideologis dan turut menyebabkan perpecahan Sarekat Islam menjadi SI Merah dan SI Putih (McVey, 1965).

Islam dan komunisme memang dapat bertemu dalam kritik terhadap kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan sosial. Namun, menurut H.M. Rasjidi, persamaan tersebut tidak menghilangkan perbedaan mendasar dalam pandangan hidup. Islam mendasarkan keadilan pada tauhid dan wahyu, sedangkan komunisme dalam tradisi Marxis bertumpu pada materialisme dan perjuangan kelas (Rasjidi, 1965).

Perbedaan tersebut tampak dalam cara memandang manusia. Islam melihat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki dimensi ruhani dan tanggung jawab moral, bukan sekadar makhluk ekonomi. Karena itu, Hamka mengkritik materialisme komunisme yang menurutnya mereduksi kehidupan manusia pada aspek materi dan mengabaikan hubungan manusia dengan Tuhan (Hamka, 1982).

Dalam persoalan ekonomi, Islam juga berbeda dari komunisme. Islam mengakui kepemilikan pribadi, tetapi mengaturnya dengan tanggung jawab sosial. Harta tidak boleh digunakan untuk menzalimi orang lain dan di dalamnya terdapat hak orang yang membutuhkan. Dengan zakat, infak, sedekah, dan aturan muamalah, Islam berusaha mewujudkan keadilan tanpa harus menghapus kepemilikan pribadi.

Islam juga tidak menjadikan konflik kelas sebagai dasar perubahan masyarakat. Kemiskinan dan kesenjangan tidak diselesaikan dengan mempertentangkan kelas kaya dan miskin, tetapi melalui keadilan, persaudaraan, serta pengaturan hak dan kewajiban. Roesli D.M.B. karena itu melihat persoalan komunisme bukan sekadar pada sistem ekonominya, melainkan pada pertentangannya dengan dasar keimanan dan pandangan hidup Islam (Roesli D.M.B., 1955).

Dengan demikian, kesamaan antara Islam dan komunisme dalam kritik terhadap ketidakadilan tidak berarti keduanya memiliki tujuan dan landasan yang sama. Islam memperjuangkan keadilan berdasarkan tauhid, moralitas, dan syariat, sedangkan komunisme bertumpu pada materialisme dan perjuangan kelas. Atas perbedaan mendasar tersebut, komunisme tidak sejalan dengan pandangan hidup Islam dan tidak tepat dijadikan sebagai dasar ideologis kehidupan masyarakat Indonesia.

Daftar Pustaka

Afifi, Anab, dan Thowaf Zuharon. Ayat-Ayat yang Disembelih: Sejarah Banjir Darah Para Kyai, Santri, dan Penjaga NKRI oleh Aksi-Aksi PKI. Jakarta: Cordoba Books, 2016.

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam. Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), 1995.

Engels, Friedrich. “Socialism: Utopian and Scientific.” 1880. Dalam Marx and Engels Collected Works, Vol. 24. London: Lawrence & Wishart, 1989.

Hamka. Studi Islam. Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, 1982.

Hindley, Donald. The Communist Party of Indonesia, 1951–1963. Berkeley: University of California Press, 1966.

Lenin, V. I. “The Attitude of the Workers’ Party to Religion.” 1909. Dalam Lenin Collected Works, Vol. 15. Moscow: Progress Publishers, 1973.

Marx, Karl. “Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right: Introduction.” 1843. Dalam Marx and Engels Collected Works, Vol. 3. Moscow: Progress Publishers, 1975.

Marx, Karl. Capital: A Critique of Political Economy, Vol. 1. 1867. Moscow: Progress Publishers, 1976.

Marx, Karl. “Critique of the Gotha Programme.” 1875. Dalam Marx and Engels Selected Works, Vol. 3. Moscow: Progress Publishers, 1978.

Marx, Karl, dan Friedrich Engels. The German Ideology. 1845–1846. Dalam Marx and Engels Collected Works, Vol. 5. Moscow: Progress Publishers, 1976.

Marx, Karl, dan Friedrich Engels. Manifesto of the Communist Party. 1848. Dalam Marx and Engels Collected Works, Vol. 6. London: Lawrence & Wishart, 1976.

McLellan, David. Marxism After Marx. 4th ed. Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2007.

McVey, Ruth T. The Rise of Indonesian Communism. Ithaca: Cornell University Press, 1965.

Rasjidi, H. M. Islam Menentang Komunisme. Djakarta: Islam Studi Club Indonesia, 1965.

Ricklefs, M. C. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. 4th ed. New York: Palgrave Macmillan, 2008.

Roesli, D. M. B. Islam dan Komunisme. Solo: Bintang Hidjau, 1955.

Taufiq Ismail. “Taufiq Ismail: Komunis Bantai 120 Juta Orang di 75 Negara.” ANTARA News, 27 Mei 2016.

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami