BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatSolidaritas yang Hilang: Membangun Kembali Kasih Sayang Sesama Muslim

Solidaritas yang Hilang: Membangun Kembali Kasih Sayang Sesama Muslim

- Advertisement -spot_img

Khutbah Pertama

الحمدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الإِيمَانَ رَابِطَةً تَجْمَعُ القُلُوبَ، وَشَرَعَ الأُخُوَّةَ سَبِيلًا لِلتَّرَاحُمِ وَالتَّعَاوُنِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ،

فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ أَمَرَ اللهُ بِهَا فَقَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ بَعْدَ أَنْ أَعُوْذَ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ،

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ ثِمَارِ التَّقْوَى تَحْقِيقَ الأُخُوَّةِ وَإِحْيَاءَ الرَّحْمَةِ بَيْنَ المُسْلِمِينَ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Mukadimah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Dzat yang tidak pernah berhenti melimpahkan nikmat kepada kita. Nikmat iman yang menghidupkan hati, nikmat Islam yang menuntun langkah, serta nikmat waktu dan kesehatan yang hari ini masih Allah berikan sehingga kita dapat berkumpul di rumah-Nya dalam keadaan tunduk dan berharap ampunan. Betapa banyak manusia yang hidup serba cukup namun hatinya hampa, betapa banyak yang sehat raganya namun mati nuraninya. Maka sungguh iman dan Islam adalah karunia terbesar yang seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan hanya di lisan, tetapi dalam sikap dan kepedulian terhadap sesama. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muḥammad ﷺ, teladan agung yang tidak hanya mengajarkan shalat dan puasa, tetapi juga mengajarkan cinta, empati, dan kasih sayang kepada seluruh umat.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah, pada kesempatan yang mulia ini, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jama’ah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan yang tidak berhenti pada ibadah ritual semata, tetapi juga tercermin dalam kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Takwa bukan hanya tentang hubungan kita dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana hati ini peka terhadap penderitaan orang lain, bagaimana kita tidak tega melihat saudara kita susah sementara kita berpaling acuh. Sebab ketakwaan sejati akan melahirkan hati yang hidup, iman yang peduli, dan Islam yang menghadirkan rahmat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkungan dan umat secara keseluruhan.

Gambaran Fenomena Sosial Umat Hari Ini

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, salah satu kegelisahan terbesar dalam kehidupan umat hari ini adalah semakin menguatnya sikap cuek dan apatis di tengah kaum muslimin. Kita hidup berdampingan, tetapi hati saling berjauhan. Kita bertetangga, namun tak saling menyapa. Bahkan ada saudara seiman yang hidup dalam kesempitan, sementara kita berlalu tanpa rasa bersalah. Betapa sering telinga ini mendengar adzan, namun hati justru tuli terhadap jeritan sesama. Kepedulian sosial kian melemah, bukan karena kita tidak mampu membantu, tetapi karena kita terbiasa tidak peduli.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah, lebih menyedihkan lagi ketika kesalehan hanya berhenti pada ritual pribadi. Shalat terjaga, ibadah rajin, tetapi empati sosial mengering. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan kesalehan yang egois. Hubungan dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari hubungan dengan manusia. Ibadah yang benar seharusnya melembutkan hati, bukan mengeraskannya. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin besar kepeduliannya kepada sesama. Maka jika iman tidak melahirkan kasih sayang, barangkali yang perlu kita periksa bukan ibadah orang lain, tetapi kualitas iman di dalam diri kita sendiri.

Konsep Solidaritas dalam Al-Qur’an

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Al-Qur’an meletakkan fondasi solidaritas umat dengan sangat tegas dan jelas. Allah Ta‘ālā berfirman:

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Ḥujurāt: 10)

Ayat ini tidak sekadar menggambarkan hubungan emosional, tetapi menetapkan sebuah ikatan yang kokoh, ikatan iman. Imam al-Qurṭubī rahimahullah menjelaskan dalam Tafsīr al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, ketika menafsirkan ayat ini, bahwa Allah menjadikan persaudaraan iman lebih kuat daripada persaudaraan nasab, karena ikatan ini dibangun di atas akidah, ketaatan, dan tujuan akhir yang sama. Oleh karena itu, konsekuensinya adalah kewajiban untuk saling menjaga kehormatan, saling menolong saat susah, dan tidak membiarkan saudara seiman terluka sendirian (Tafsīr al-Qurṭubī, jilid 16, penafsiran QS. al-Ḥujurāt: 10).

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah, persaudaraan iman bukan sekadar slogan yang indah di lisan, bukan pula hiasan spanduk atau tema ceramah semata. Ia adalah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Jika kita melihat saudara kita terjatuh, lalu berpaling; melihat tetangga kesulitan, lalu beralasan sibuk; mendengar kabar duka, namun hati tak tergerak, maka patut kita bertanya: di mana letak ukhuwah yang Allah perintahkan? Persaudaraan iman menuntut keberpihakan, kepedulian, dan pengorbanan. Ia menuntut kita untuk hadir, bukan hanya mengetahui; membantu, bukan sekadar mendoakan; dan merasakan, bukan sekadar menyaksikan. Sebab iman yang benar akan selalu melahirkan solidaritas yang nyata dalam kehidupan.

Peringatan Al-Qur’an terhadap Sikap Individualisme

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan persatuan, tetapi juga memberi peringatan keras agar kita tidak terjerumus dalam sikap saling menjauh dan mementingkan diri sendiri. Allah Ta‘ālā berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ۙ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.” (QS. Āli ’Imrān: 105)

Ayat ini mengingatkan bahwa perpecahan bukan selalu bermula dari konflik besar, tetapi sering lahir dari hati yang enggan peduli, dari ego yang ingin berjalan sendiri, dari sikap merasa paling benar lalu menutup diri dari yang lain. Ketika hubungan antarhati renggang, maka perpecahan sejatinya telah dimulai, meskipun secara fisik kita masih berada dalam satu barisan.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah, individualisme bukan sekadar persoalan perbedaan pilihan atau aktivitas, tetapi penyakit hati yang perlahan melemahkan umat. Saat masing-masing sibuk menyelamatkan diri sendiri, kebersamaan kehilangan maknanya. Masjid ramai, tetapi ukhuwah sepi. Kegiatan berjalan, tetapi keberkahan menghilang. Padahal kekuatan umat tidak lahir dari banyaknya jumlah, melainkan dari kuatnya ikatan hati. Ketika kebersamaan dijaga, pertolongan Allah pun dekat. Namun saat kita memilih berjalan sendiri-sendiri, maka jangan heran jika umat ini lemah, mudah terpecah, dan kehilangan wibawa serta keberkahan dalam kehidupannya.

Teladan Nabi ﷺ dalam Membangun Solidaritas

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Nabi Muḥammad ﷺ telah memberikan teladan paling indah tentang makna solidaritas dalam kehidupan umat. Beliau bersabda:

 مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling berempati adalah seperti satu tubuh.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī (no. 6011) dan Muslim (no. 2586).

Rasulullah ﷺ tidak menggambarkan umat sebagai kumpulan individu yang berdiri sendiri, tetapi sebagai satu tubuh yang utuh. Artinya, iman menuntut adanya ikatan batin, kepedulian yang hidup, dan kebersamaan yang nyata, bukan hubungan yang dingin dan formal semata.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah, Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī rahimahullah menjelaskan dalam Fatḥ al-Bārī bahwa perumpamaan “satu tubuh” menunjukkan kewajiban adanya rasa saling merasakan penderitaan dan kebahagiaan, bukan sekadar mengetahui kabar atau mendengar cerita (Fatḥ al-Bārī, jilid 10, syarḥ hadits no. 6011).

Jika satu bagian tubuh sakit, bagian yang lain tidak mungkin bersikap netral dan acuh. Maka demikian pula umat ini, ketika ada saudara yang tertimpa musibah, dizalimi, atau hidup dalam kesempitan, iman tidak membiarkan kita diam dan merasa aman sendiri. Solidaritas bukan pilihan tambahan, tetapi konsekuensi iman. Sebab umat yang tidak saling merasakan adalah umat yang telah kehilangan ruh persaudaraannya, meskipun masih berkumpul dalam satu masjid dan satu shaf.

Kritik Nabi ﷺ terhadap Sikap Tidak Peduli

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Nabi Muḥammad ﷺ memberikan kritik yang sangat tegas terhadap sikap tidak peduli dalam kehidupan sosial. Beliau bersabda:

 لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

“Tidaklah beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bayhaqī dalam Shu‘ab al-Īmān, No. 3389)

Ungkapan Nabi ﷺ ini bukan sekadar nasihat etika, tetapi tamparan bagi hati yang merasa aman dengan ibadahnya, namun abai terhadap penderitaan orang terdekat di sekitarnya.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah, hadits ini menegaskan bahwa ukuran kesempurnaan iman tidak hanya terletak pada banyaknya ibadah personal, tetapi pada sejauh mana iman itu melahirkan kepedulian. Islam tidak mengenal konsep “selamat sendiri”, merasa cukup dengan shalat dan dzikir, sementara membiarkan orang lain terluka dan kelaparan. Iman yang benar akan membuat seseorang gelisah ketika melihat ketimpangan, resah saat tetangganya susah, dan tergerak untuk berbagi meski dalam keterbatasan. Sebab hati yang kenyang dengan iman tidak akan tega melihat saudara di sekitarnya kelaparan, baik secara fisik maupun batin.

Akar Hilangnya Solidaritas

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, hilangnya solidaritas di tengah umat tidak terjadi begitu saja, tetapi tumbuh dari akar-akar yang sering kita anggap biasa. Salah satunya adalah cinta dunia yang berlebihan. Hati terlalu sibuk mengejar kenyamanan, harta, dan urusan pribadi hingga lupa menoleh ke kanan dan ke kiri. Kesibukan menjadi alasan untuk tidak peduli, rutinitas menjadi tameng untuk menolak empati. Kita berangkat pagi, pulang sore, fokus pada urusan sendiri, sementara di sekitar kita ada saudara yang menanggung beban hidup sendirian tanpa uluran tangan.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah, akar lainnya adalah lemahnya kesadaran bahwa umat ini adalah satu tubuh. Kita melihat penderitaan orang lain sebagai masalah mereka, bukan urusan bersama. Ditambah lagi dengan salah paham dalam beragama, merasa cukup dengan ibadah ritual, seolah shalat dan dzikir telah membebaskan kita dari tanggung jawab sosial. Padahal ibadah yang benar justru melahirkan akhlak sosial yang hidup. Jika ibadah tidak melembutkan hati dan tidak menumbuhkan kepedulian, maka yang perlu kita perbaiki bukan orang lain, tetapi cara kita memahami dan mengamalkan agama itu sendiri.

Penutup Khutbah Pertama

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, kebangkitan umat tidak pernah lahir dari slogan yang lantang atau seruan yang indah di lisan, tetapi dari hati yang hidup dan peduli. Umat ini akan kuat ketika masing-masing anggotanya saling merasakan, saling menjaga, dan saling menguatkan. Jika hati-hati kita kembali lembut, empati kembali tumbuh, dan kepedulian kembali dihidupkan, maka persaudaraan iman akan bangkit dengan sendirinya. Marilah kita jeda sejenak, merenungi apa yang telah disampaikan, lalu kita lanjutkan pada khutbah kedua dengan tekad untuk memperbaiki diri dan menyalakan kembali cahaya solidaritas dalam kehidupan kita.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ringkasan Pesan Khutbah Pertama Langkah Praktis Menghidupkan Kembali Solidaritas

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, sebagai penegasan dari khutbah pertama, marilah kita tanamkan kembali dalam hati bahwa solidaritas adalah bagian dari iman, bukan pelengkapnya. Individualisme yang membuat kita sibuk dengan diri sendiri bertentangan dengan ruh ajaran Islam yang membangun umat di atas persaudaraan. Persaudaraan sejati tidak cukup diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan kepedulian yang nyata. Iman tidak diukur dari seberapa jauh kita menjaga diri, tetapi seberapa besar kehadiran kita bagi orang lain. Maka mari kita mulai menghidupkan kembali solidaritas itu dari lingkaran terdekat: dari keluarga yang sering kita abaikan, dari tetangga yang jarang kita perhatikan, dan dari jama’ah masjid yang setiap pekan berdiri satu shaf dengan kita. Biasakan empati dengan mau mendengar, ringan membantu, dan tulus mendoakan. Jadikan masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi pusat kepedulian umat, serta jaga lisan dan hati dari sikap meremehkan sesama muslim.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah, al-Ḥasan al-Baṣrī rahimahullah pernah menasihatkan bahwa seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Perkataan ini menegaskan bahwa cinta kepada sesama muslim adalah cermin kematangan iman. Iman yang tidak melahirkan kasih sayang adalah iman yang rapuh, mudah runtuh oleh ego dan kepentingan pribadi. Jika kita ingin iman ini kokoh, maka rawatlah dengan empati, kepedulian, dan cinta yang tulus. Sebab hati yang dipenuhi kasih sayang akan menjadi jalan turunnya rahmat Allah, baik bagi diri kita, maupun bagi umat secara keseluruhan.

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْقُلُوبِ، وَنُورُ الطَّرِيقِ، وَعِصْمَةُ الْعَبْدِ فِي الشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِالْهُدَى، وَأَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ، فَإِنَّهُ أَمَانُ الْعِبَادِ وَسَبَبُ الرَّحْمَةِ وَدَفْعِ الْبَلاءِ.

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، لَيِّنْ قُلُوبَنَا وَقُلُوبَ الْمُسْلِمِينَ، وَانْزِعْ مِنْهَا الْقَسْوَةَ وَالْغَفْلَةَ، وَازْرَعْ فِيهَا الرَّحْمَةَ وَالْمَحَبَّةَ وَالشُّعُورَ بِآلَامِ إِخْوَانِنَا، اللَّهُمَّ طَهِّرْ نُفُوسَنَا مِنَ الْأَنَانِيَّةِ وَالْبَلَادَةِ، وَجَنِّبْنَا خُلُقَ الْإِعْرَاضِ وَالْلَّامُبَالَاةِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَسْعَوْنَ فِي قَضَاءِ حَوَائِجِ النَّاسِ وَتَفْرِيجِ كُرُوبَاتِهِمْ، اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْمَعْهُمْ عَلَى الْحَقِّ، وَارْبُطْ بَيْنَهُمْ بِرِبَاطِ الْمَوَدَّةِ وَالتَّرَاحُمِ وَالتَّكَافُلِ، اللَّهُمَّ احْفَظْنَا وَاحْفَظِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَبَلَاءٍ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ، إِنَّكَ أَنْتَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Sumber : santridarsya.xo.je

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami