BerandaKabar PondokKhataman Kitab Bidayatul Hidayah: Menyemai Akhlak Mulia di Kalbu Para Santri

Khataman Kitab Bidayatul Hidayah: Menyemai Akhlak Mulia di Kalbu Para Santri

- Advertisement -spot_img

Boyolali, 21 Mei 2025 — Dalam suasana yang penuh kekhusyukan dan semangat keilmuan, Pondok Pesantren Darusy Syahadah kembali menggelar salah satu tradisi intelektual dan spiritualnya yang sarat makna: “Khataman Kitab Bidayatul Hidayah”. Acara ini dilaksanakan pada Rabu pagi, tepat ba’da Shubuh, bertempat di Joglo Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, unit STI, Blagung, Simo, Boyolali.

Kepala kepengasuhan STI ustadz Sudarisman Ahmad saat sedang memberikan sambutan dan tausiyah untuk santri di acara khataman.

 

Ustadz Muhammad Setyo Nugroho selaku pemateri kitab Bidayatul Hidayah

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh santri kelas 1, 3, dan 4 STI (Syu’bah Ta’shil Ilmi) ini menghadirkan narasumber utama Ustaz Muhammad Setyo Nugroho, Lc., M.H., seorang alim yang dikenal dengan kedalaman ilmunya serta penyampaian yang menyentuh hati.

Salah satu santri peserta khataman kitab Bidayatul Hidayah sedang mengajukan pertanyaan

 

Para asatidz dan pengurus STI ikut membersamai santri dalam acara khataman kitab Bidayatul Hidayah

Meski digelar pada dini hari, suasana khidmat sangat terasa sejak awal hingga akhir. Bukan sekadar kegiatan formal, khataman ini menjadi momen penting dalam perjalanan pendidikan dan pembentukan karakter para santri. Sebab, kitab yang dikhatamkan—”Bidayatul Hidayah” karya Imam Al-Ghazali rahimahullah—bukan kitab biasa. Ia adalah warisan emas dari seorang ulama besar yang menuntun pembacanya untuk meniti jalan akhlak, memurnikan niat, serta memperhalus adab dalam menjalani kehidupan.

Antusias para santri STI saat sedang menyimak penjelasan ustadz

“Ini bukan hanya tentang menyelesaikan bacaan kitab. Ini tentang meresapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, lalu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ustaz Setyo dalam tausiyah penutupnya.

Foto dokumentasi suasana santri STI saat sedang menyimak penjelasan ustadz

Kitab ini memang sarat dengan nasihat-nasihat moral dan spiritual. Ia mengajak santri untuk memulai perjalanan ilmu dengan memperbaiki hati dan adab, sebelum menapaki tangga-tangga keilmuan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, khataman kitab ini menjadi simbol dari proses pendidikan menyeluruh—bukan hanya dalam aspek intelektual, tetapi juga dalam dimensi spiritual dan sosial.

 

Harapan besar pun disematkan dalam kegiatan ini: agar para santri mampu mengamalkan ilmu yang telah mereka pelajari, menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga santun, rendah hati, dan bermanfaat bagi umat. Di tengah zaman yang semakin kering akan keteladanan moral, kegiatan semacam ini menjadi oase yang menyejukkan.

 

Pada akhir acara, para santri secara bergiliran menyampaikan ungkapan rasa syukur dan harapan mereka setelah menyelesaikan khataman. Sebagian besar dari mereka berharap semoga nilai-nilai yang telah mereka pelajari dari kitab tersebut dapat terus menyala dalam diri, membimbing langkah mereka dalam menempuh kehidupan sebagai calon dai, ulama, dan pemimpin umat.

 

Khataman ini bukan hanya tentang menutup satu kitab. Ia adalah pembuka jalan menuju kehidupan yang lebih berakhlak dan beradab.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami