BerandaKabar PondokMenarik Anak Panah Sejarah: Refleksi Malam Kajian di Joglo Syeikh Imam

Menarik Anak Panah Sejarah: Refleksi Malam Kajian di Joglo Syeikh Imam

- Advertisement -spot_img

Ahad malam, 27 Juli 2025 — Angin malam berembus pelan di kompleks STI Darusy Syahadah. Di bawah atap kayu Joglo Syeikh Imam Khatib Al Minangkabawi, santri dan asatidz berkumpul bukan untuk bersantap atau bersenda gurau, melainkan menyimak perbincangan serius: tentang sejarah, tentang bangsa, dan tentang kita—umat yang diberi amanah untuk menjaga keduanya.

Sambutan dari kepala jurusan STI Darusy Syahadah ustadz Sudarisman Ahmad.

Malam itu, Pesantren Islam Darusy Syahadah kedatangan tamu istimewa, Ustadz Hadi Nur Ramadhan, M.A., Wakil Sekretaris LSBPI MUI Pusat. Dalam kajian bertema “Sejarah Indonesia dan Peran Kita dalam Menjaganya,” beliau membuka cakrawala berpikir para hadirin: bahwa sejarah bukan sekadar rentetan nama, tahun, dan peristiwa. Ia adalah cermin, peta, bahkan senjata bagi mereka yang mau memahaminya.

Penyampaian materi tamu oleh ustadz Hadi Nur Ramadhan, M.A., Wakil Sekretaris LSBPI MUI Pusat.

“Belajar sejarah seperti menarik anak panah,” kata beliau, “semakin ditarik ke belakang, semakin melesat ke depan.”

Kata-kata itu menggema di kepala para santri. Mereka mulai menyadari: mengingat perjuangan para ulama dan pahlawan bukanlah nostalgia kosong, tapi modal untuk melesat lebih jauh—menuju cita-cita umat dan kejayaan Islam yang sejati.

Ustadz Hadi Nur Ramadhan, M.A., Wakil Sekretaris LSBPI MUI Pusat selaku pemateri di acara kajian tamu STI Darusy Syahadah.

Lebih dari itu, Ustadz Hadi menegaskan bahwa belajar sejarah adalah bagian dari pendidikan keimanan. Allah mengulang-ulang kisah umat terdahulu dalam Al-Qur’an bukan karena kebetulan, melainkan agar orang beriman mengambil ibrah—pelajaran yang hidup dan terus relevan.

“Orang beriman dididik Allah untuk belajar sejarah agar bisa mengambil ibrah darinya.”

Suasana peserta kajian tamu.

Kajian malam itu bukan hanya menambah pengetahuan, tapi juga menyalakan semangat baru. Santri tidak lagi melihat sejarah sebagai beban pelajaran, tapi sebagai bekal juang. Mereka belajar bahwa mencintai negeri ini tidak cukup dengan kata, tapi harus disertai dengan ilmu, pemahaman, dan kesiapan untuk menjadi penjaga nilai-nilai kebenaran.

Acara berlangsung hingga malam menua, namun cahaya pemahaman telah menyala di benak para peserta. Sejarah bukan untuk ditinggalkan, apalagi dilupakan. Ia harus digenggam erat, agar langkah ke depan tidak limbung, dan arah perjuangan tetap lurus menuju ridha-Nya.

 

 

 

📍 Joglo Syeikh Imam Khatib Al Minangkabawi, Komplek STI Darusy Syahadah, Blagung, Kedunglengkong, Simo, Boyolali
20.00 – Selesai
👥 Peserta: Seluruh Santri dan Asatidz

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami