Daftar Isi
Boyolali – Pada Kamis pagi, 31 Juli 2025, Gerakan Aliansi Pembela Umat (GARPU) menggelar pertemuan bersama FORKOPIMCAM dan tokoh-tokoh masyarakat di Rumah Makan Mojopahit, Bendungan, Simo, Boyolali. Pertemuan ini digagas sebagai bentuk respons atas maraknya kembali berbagai bentuk penyakit masyarakat (PEKAT) di wilayah Kecamatan Simo, seperti capjikia, minuman keras, kenakalan remaja, hingga praktik perzinaan.
Ma’had Darusy Syahadah melalui Mudir-nya, Ustadz Qosdi Ridwanullah, hadir langsung dalam kegiatan tersebut dan turut memberikan kontribusi pemikiran dalam sesi diskusi terbuka yang melibatkan unsur pemerintahan, aparat keamanan, ormas Islam, dan elemen pendidikan.
Acara ini dibuka dengan sambutan dari Camat Simo yang menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang menunjukkan kepedulian terhadap kondisi sosial di Simo. Beliau juga menyampaikan salam dari Bupati Boyolali dan harapan agar kegiatan ini menjadi inspirasi bagi kecamatan lain.



GARPU Pelopori Aksi Bersama Tangkal Pekat di Simo
Pertemuan yang digagas oleh Gerakan Aliansi Pembela Umat (GARPU) bersama FORKOPIMCAM Simo menjadi tonggak awal terbentuknya gerakan terpadu dalam menanggulangi penyakit masyarakat yang kian mengkhawatirkan. Sebagai wadah kolaboratif dari berbagai elemen strategis umat dan pemerintah, GARPU hadir bukan sekadar menyuarakan keprihatinan, melainkan mendorong lahirnya langkah nyata dan berkelanjutan.
Maraknya perjudian, minuman keras, kenakalan remaja, hingga kasus penyakit menular seperti HIV dan sipilis menjadi bukti bahwa problem sosial di Simo tidak bisa lagi dihadapi secara parsial. Semua pihak menyadari bahwa persoalan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga ruhiyah dan struktural. Karena itu, dibutuhkan gerakan bersama yang menyentuh akar permasalahan: lemahnya nilai agama, kurangnya kontrol sosial, serta lemahnya penegakan aturan.
Dalam suasana yang penuh keprihatinan namun optimis, seluruh peserta pertemuan menyuarakan pentingnya membangun komitmen lintas sektor. Sinergi antara ormas, aparat pemerintah, pesantren, dan tenaga kesehatan menjadi landasan utama dalam menyusun strategi pencegahan, edukasi, serta penanganan terhadap berbagai bentuk penyakit masyarakat.
Pesantren Darusy Syahadah melalui partisipasi aktifnya menegaskan kesiapan untuk mengambil peran dalam pembinaan ruhiyah dan pendidikan masyarakat. Sementara itu, dukungan dari aparat keamanan, lembaga kesehatan, hingga pemerintah desa memperkuat harapan bahwa upaya ini tidak akan berhenti sebagai wacana, tapi akan berlanjut sebagai gerakan kolektif yang menyentuh langsung kehidupan warga.
Pertemuan ini menjadi titik awal dari sebuah komitmen bersama: menjaga Simo dari kerusakan moral dan menyelamatkan generasi dari gelombang kehancuran sosial yang semakin nyata.
Pesantren Siap Ambil Peran Strategis
Ustadz Qosdi Ridwanullah menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab sosial untuk mendidik dan menjaga ruhiyah masyarakat. Dalam forum tersebut, beliau menyatakan bahwa Darusy Syahadah siap mengerahkan mahasiswa-mahasiswa terbaiknya untuk mengisi ruang-ruang kosong pembinaan di tengah masyarakat Simo, baik melalui pendidikan Al-Qur’an, kajian keislaman, maupun kegiatan pemberdayaan remaja.
“Ini bukan hanya persoalan sosial. Ini adalah persoalan ruhiyah dan masa depan bangsa. Ketika pendidikan gagal, akan lahir generasi yang lemah akhlaknya. Maka pesantren harus menjadi solusi, bukan sekadar penonton,” ujarnya dengan tegas.

Komitmen Bersama: Dari Diskusi ke Aksi
Kegiatan ditutup dengan seruan agar hasil diskusi ini ditindaklanjuti melalui komitmen bersama antara GARPU dan FORKOPIMCAM. Hal ini mencakup kolaborasi dalam edukasi masyarakat, pembinaan remaja, operasi gabungan, hingga safari dakwah lintas masjid dan desa. Harapannya, penyakit masyarakat yang selama ini mengakar dapat diberantas secara bertahap dengan sinergi yang berkelanjutan.
Ma’had Darusy Syahadah mengajak seluruh pihak untuk tidak sekadar mengeluhkan kondisi umat, tetapi hadir langsung memberi solusi. Karena menjaga masyarakat dari kerusakan moral adalah bagian dari jihad peradaban yang tidak kalah penting dari perjuangan di medan tempur.




