BerandaKajianTsaqafahAKHIR HAYAT DRAKULA

AKHIR HAYAT DRAKULA

- Advertisement -spot_img

DrakulaDrakula dalam Film

Drakula; makhluk yang digambarkan dalam beberapa film sebagai karakter penghisap darah ini, dalam sejarah, memang benar adanya. Namun, film yang dipertontonkan itu, hampir saja mengaburkan fakta sejarah yang sesungguhnya tentang sosok Drakula. Konon, Bram Stoker, novelis berkebangsaan Inggris, dengan sengaja memanipulasi sejarah; menutup-nutupi kekejaman Drakula.

Nama aslinya Vlad Tepes (dibaca Tse-pesh). Dia lahir sekitar bulan Desember 1431 M di Benteng Sighisoara, Transylvania, Rumania. Ayahnya bernama Basarab (Vlad II) yang terkenal dengan sebutan Vlad Dracul, karena keanggotaannya dalam Orde Naga. Dalam bahasa Rumania, Dracul berarti naga. Sedangkan akhiran ulea artinya “anak dari”. Dari gabungan kedua kata itu, Vlad Tepes dipanggil dengan nama Vlad Draculea (dalam bahasa Inggris dibaca Dracula), yang berarti ‘anak dari sang naga’.

Kisah tentang Drakula adalah gambaran konkrit seorang anak lelaki yang tidak tahu arti balas budi. Merasa bersyukur telah dibantu dalam merebut takhta di Wallachia, juga sebagai bentuk kesetiaannya kepada Daulah Utsmaniyah, ayah Dracula, Vlad II, menitipkan dua putranya di Turki; Drakula dan Radu. Dua kakak beradik ini memeluk Islam sehingga mereka pun mendapat pendidikan militer dari para prajurit Turki yang terkenal handal dalam berperang.

Tetapi, ibarat air susu dibalas air tuba. Setelah tumbuh dewasa, menjadi panglima militer dan berhasil berkuasa di Wallachia atas bantuan Daulah Utsmaniyah, sisa-sisa prajurit Turki yang ikut berperang bersamanya, setelah disekap berhari-hari di ruang bawah tanah, dalam keadaan telanjang bulat, diarak oleh Drakula menuju pinggir kota untuk dieksekusi. Hyphatia Cneajna dalam bukunya yang berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib”, menceritakan beberapa penyiksaan keji yang dilakukan Drakula terhadap kaum muslimin.

Tiga ratus ribu umat Islam menjadi korban yang dibantainya dengan sangat kejam dan tidak manusiawi. Ada yang dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula; yaitu seseorang ditusuk duburnya dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya ditajamkan. Kayu sula tersebut menembus hingga ke perut, kerongkongan, dan menembus kepala melalui mulut! Lebih sadisnya lagi, tidak hanya orang dewasa yang menjadi objek kekejaman penyulaan! Hyphatia memberikan pemaparan tentang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis kerana mereka kesakitan yang amat apabila ujung kayu menembus perut kecilnya. Tubuh-tubuh korban itu, meregang di kayu sula untuk menjemput ajalnya.”

Namun, meskipun darah lebih kental dari pada air, tetapi aqidah dan keyakinan yang terpatri dalam hati, menjadi kekuatan tersendiri yang menggerakkan seseorang untuk membela saudara seiman, walau harus berhadapan dengan saudara kandungnya. Radu, adik Drakula yang memang lebih ‘alim dan rajin dari kakaknya, diangkat oleh Sulthan Muhammad Al Fatih sebagai panglima perang bersama enam puluh ribu pasukan untuk meng-qishash Drakula.

Sayangnya, Drakula telah mengendus rencana ini. Maka untuk ‘menyambut’ kedatangan pasukan Turki Utsmani, ia perintahkan pasukannya untuk ‘memburu’ orang Turki yang tersisa. Kemudian, di kanan kiri jalan yang membentang sepanjang 10 km, Drakula memajang mayat-mayat kaum muslimin yang ditawannya dalam keadaan telah disula.

Mental kaum muslimin sempat goyah dengan pemandangan mengerikan ini. Tetapi, setelah menyaksikan kegigihan Sulthan yang menunjukkan jiwa seorang mujahid, semangat pasukan Islam kembali bangkit dan terbarukan. Para tentara yang dipimpin Radu, berhasil mengepung Benteng Poenari. Karena merasa terdesak, isteri Dracula memilih bunuh diri dengan terjun dari salah satu menara benteng. Adapun Dracula, ia melarikan diri ke Hongaria melalui lorong rahasia.

Hingga tahun 1475 M, Wallachia dikuasai oleh Kerajaan Turki, sebelum akhirnya direbut kembali oleh Dracula yang disokong pasukan Salib dari Transylvania dan Moldavia. Pada bulan Desember 1476, di tepi Danau Snagov, Dracula tewas dalam pertempuran melawan pasukan Turki pimpinan Sultan Muhammad Al Fatih. Kepala Dracula dipenggal, kemudian dibawa ke Konstantinopel untuk dipertunjukkan kepada rakyat Turki. Sedang badannya dikuburkan di Biara Snagov oleh para biarawan.

Distorsi Sejarah

Barat tak henti hentinya berusaha mendistrosi tentang sultan Al Fatih. Mereka berupaya merusak image dan wibawa sang sultan.

Salah satunya adalah pada tahun 2014, Hollywood memproduksi film yg berjudul “Darkula Untold Story” yang menggambarkan sang sultan sebagai sosok pemimpin otoriter yang buruk.

Digambarkan di dalam film itu bahwa sang sultan gemar menculik anak-desa dari desa-desa yang telah ditaklukkan untuk dijadikan tentara. Tidak sampai di situ, mereka juga menggambarkan bahwa pembebasan dan perang jihad suci sultan Al Fatih itu merupakan penjajahan yang menzhalimi rakyat.

Padahal Islam memerangi para pemerintahan yang kafir lagi korup dan menzhalimi rakyat. Islam hendak membebaskan manusia, bukan menaklukkan apalagi menjajah dan menjarah. Islam hendak menebarkan keadilan, memasukkan manusia apapun ras dan agamanya untuk berada di bawah kedamaian syariat Allah.

 

Penulis :  M. Faishal Fadhli dan Akbar Fachreza

Editor   : Yazid Abu Fida’

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami