BerandaBuletin DakwahAlhambra: Jejak Keindahan Islam dalam Seni Arsitektur

Alhambra: Jejak Keindahan Islam dalam Seni Arsitektur

- Advertisement -spot_img

Oleh: Ridwan Sadili

Download Buletin Alhambra: Jejak Keindahan Islam dalam Seni Arsitektur

Pendahuluan

Setelah hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah, Islam berkembang menjadi peradaban yang maju dan menyebar ke berbagai wilayah. Pada masa Khulafaur Rasyidin, ekspansi Islam mencapai Khurasan, kemudian dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah yang memindahkan pusat pemerintahan ke Damaskus dan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad (al-Isy, 2007, p. 158). Setiap periode memberikan kontribusi penting dalam penyebaran dan perkembangan peradaban Islam.

Setelah runtuhnya Dinasti Umayyah di Timur, keturunannya mendirikan kembali kekuasaan di Cordoba, Spanyol, pada tahun 756 M (Hitti, 1970, p. 388). Dari wilayah ini lahir berbagai pencapaian peradaban Islam, termasuk karya arsitektur monumental berupa Istana Alhambra. Dalam seni arsitektur Islam di Spanyol, ornamen berbentuk manusia dan hewan digantikan dengan motif geometris, kaligrafi Al-Qur’an, dan syair-syair yang mencerminkan nilai estetika Islam.

Proses Islam Masuk Ke Spanyol

Jauh sebelum masuknya Islam ke Spanyol, negeri tersebut merupakan negara jajahan Romawi yang namanya  Iberia kemudian berganti menjadi Asbania di abad ke dua dan  kelima masehi Spanyol ditaklukkan oleh Bangsa Vandal dari Jerman yang kemudian nama Asbania ini telah diganti menjadi Vandalucia sampai pada pemerintahan Visigoth. Pada awal kedatangan Islam Vandalucia ini telah digantikan dengan nama Andalus untuk memudahkan orang Arab menyebutkannya (Mufidah, 2013, p. 174).

Pada masa pemerintahan Visigoth orang Spanyol yang saat itu dikuasai oleh bangsa Rom dan bepusat  di kota kuno Taliqah yang mana saat ini berdekatan dengan Seville. Ketika itu Spanyol terbagi menjadi beberapa wilayah maka terjadilah konflik yang mengakibatkan kemiskinan (Mufidah, 2013, p. 175). Dengan keadaan masyarakat Spanyol yang sedang dilanda kemiskinan dan adanya motif balas dendam kepada Roderik maka raja Witiza. Disebrang selat adanya kekuasaan yang adil dan kuat di daratan Afrika timur dari Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair dan Maroko yang di pimpin oleh Musa bin Nushair yang ketika itu berniat melakukan dakwah ke Andalusia untuk mewujudkan cita-cita Bani Umayyah, maka antara Musa bin Nusair dan  Raja Julian yang menguasai daratan Selat Giblartar melakukan kesepakatan untuk menghabisi kekuasaan Roderikc bersama-sama.(Raghib As-Sirjani et al., 2013, p. 35).

Kesepakatan yang dibangun antara Musa bin Nusair dengan Raja Julian menjadi peluang dibukanya jalan menuju penaklukan Andalusia yang ketika itu Musa Bin Nusair megangkat Thoriq bin Ziyad menjadi gubernur di Tangier, sampai akhirnya saat tekanan yang dilakukan oleh Rodrick kepada masyarakat Spanyol yang semakin keras membuat Julian penguasa Sabtah melakuakan negosiasi dan  perjanjian yang berbunyi.

  1. Kami menyerahkan Pelabuhan Sabtah kepada Anda (padahal kota ini telah menjadi persoalan besar bagi kaum muslimin selama bertahun-tahun lamanya, tanpa ada solusi karena sudah berada di luar kemampuan mereka).
  2. Kami akan membantumu dengan semua informasi terkait bumi Andalusia.
  3. Sebagai imbalannya adalah semua properti bangunan dan tanah milik Witiza yang selama ini dirampas oleh Roderic. Witiza sendiri mempunyai 3000 properti yang seharusnya menjadi milik keturunannya sepeninggalnya.Namun Roderic merampasnya dari mereka.

Perjanjian ini merupakan perjanjian yang sangat baik dan tidak diduga Musa Bin Nusair setelah beberapa saat berfikir bagaiamana bisa masuk ke Andalusia tanpa bersinggungan dengan raja Julian sebagai penguasa pelabukan Sabtah, tetapi dengan niat Dakwah tulus karena Allah Raja Julian menyerahkan seluruhnya kepada Muslimin untuk membantunya mengalahkan Roderick.(Raghib As-Sirjani et al., 2013, pp. 42–43).

Setelah kabar ini sampai ke Musa bin Nusair beliau segera mengirim surat meminta izin kepada Kholifah Al-Walid bin Abdul Malik, setelah mendapatkan izin Musa mengirimkan pasukan pertama yang di Pimpin Tharif bin Malik dengan 500 prajurit kaum muslimin (400 orang pasukan invanteri dan 100 orang pasukan kavaleri) untuk mempelajari wilayah Andalus Selatan guna mempersiapkan pembukaan Andalus seluruhnya dengan lebih maksimal. Setelah tugas Tharif selesai selama satu tahun Musa Bin Nusair menyipakan 7000 prajurit untuk melakukan penaklukan Andalusia.

Setelah persiapan selama satu tahun disiapkan Thariq Bin Ziyad sebagai pemimpin pasukan yang ditugaskan membebaskan Andalusia membawa 12000 pasukan sedangkan Raja Roderick membawa pasukan 100.000 pasukan, Pada tanggal 28 Ramadhan 92 H (19 Juli 711 M ), di Lembah Barbate, berakhir pada Pertempuran berlangsung  hingga hari Ahad, 5 Syawal 92 H (19 Juli 711 M) pertarungan terjadi selama delapan hari  dimenangkan oleh muslimin. Walaupun dengaan jumlah yang tidak masuk akal namun semua atas izin Allah.(Raghib As-Sirjani et al., 2013, pp. 56–60)

 Kemenangan pasukan Thoriq bin Ziyad terjadi bukan tanpa alasan yang logik, karena dalam kenyataanya jumlah pasuka yang 12000 maju dengan keteguhan hati, keyakinan dan percaya terhadap pemimpin mereka yang adil, juga janji Allah jika menang mereka akan mendapatkan harta yang sudah di atur Allah 4/5 dan saat mereka mati dijanjikan syahid dan baasan surga. Sedangkan dalam pihak Rodrick dengan 100.000 merupakan hasil paksaan kepada budak dan masyarakat yang ditindas, saat mereka menang mereka tidak dapat apa-apa kecuali penindasan seperti sebelumnya, jika kalah mereka hanya akan mati sebagai prajurit perang. Tentu hal ini menjadi faktor pembeda dalam pertempuaran besar ini.

Pembangunan Al-Hambra

Setelah penaklukan Andalusia oleh pasukan Thoriq bin Ziyad, Andalusia dipimpin oleh Musa bin Nusair namun tidak lama setelah itu Musa bin Nusair dan Thoriq bin Ziyad diminta kembali ke Damaskus oleh Walid Bin Abdul Malik. Maka kepemimpinan Andalusia diberikan kepada Anak Musa Bin Nusair yaitu Abdul Aziz bin Musa, seorang pemuda yang memiliki keahlian dalam memimpin pasukan karena pernah ditugaskan Musa bin Nusair membuka seluruh bagian barat kota Andalusia. Maka tidak didiragukan lagi kemampuan Abdul Aziz untuk memimpin Andalus setelah ditinggalkan Musa bin Nusair dan Thoriq bin Ziyad.(Raghib As-Sirjani et al., 2013, pp. 79–85)

Setelah  masa penaklukan berakhir, dimulailah masa baru dalam sejarah kisah Andalusia yang disebut sebagai Masa Al-Wulat (para gubernur), yang dimulai dari tahun 95 H (714 M) dan berlangsung selama 42 tahun yang berakhir pada tahun 138 H (755 M).(Raghib As-Sirjani et al., 2013, p. 92).

Awal pembangunan Istana Al-Hambra oleh Muhammad Ibn Yusuf Ibn Nasr atau lebih dikenal dengan nama Ibn al-Ahmar. Seorang pangeran yang berasal dari Afrika Utara. disebut Al-Hamra karena bangunan Istana Al-Hambra akan nampak kemerah -merahan pada waktu senja, karena bangunan ini buat dari batu yang sedikit kemerah-merahan.(Mufidah, 2013, p. 180)

Gaya Arsitektur Geometri al-Hambra

Pada pola pembuatan denah, fasade[1], dan ornament yang menghiasi bangunan ditata dalam kesenian matematika sederhana. Desain dan teknik pelaksanaan bangunan tersebut didasarkan pada ilmu geometri dengan metode rasio 1:5. Kesenian Islam yang dimaksud, menurut Prisse dalam Rabah terbagi dalam tiga bagian, yaitu bunga, geometri, dan kaligrafii. Desain dan teknik pelaksanaan bangunan tersebut didasarkan pada ilmu geometri, bangunan yang mengaplikasikan aspek rasio ini adalah denah bangunan Palacio del Parta di Al-hambra dan menara Abd Al-Rahman III di Masjid Cordoba yang tinggi menaranya lima kali lebih tinggi dari bangunan. Dalam pembuatan bangunan tersebut adalah teorema pitagoras yang berasal dari Yunani” (Andi, 2011, p. 133)

Dengan menggunakan metode escuadra, ditarik garis imajiner dari bagian dalam kolom 2 dan 4 sehingga ada satu titik di bagian utara.Untuk ketebalan dinding bagian utara tower, ditentukan kembali  kombinasi escuadra dan cartabon,” (Andi, 2011, p. 134) Pembuatan Geometri pada Ornamen bentuk  lingkaran yang dikombinasikan dengan persegi dan lingkaran yang dikominasikan dengan segitiga.” (Andi, 2011, p. 135)

Adapun gambaran ruangan Al-Hambra yang paling menarik ada halaman (Cuarto Dorado) atau halaman Ruang Emas. Ini adalah halaman yang menawan dengan air mancur di tengahnya. Di fasad selatan, halaman memiliki jendela ganda, yang ditutup dengan jeruji kayu ( “mashrabiya”) dibuat dengan akurasi yang tepat. “Ayat Tahta” dari Al-Qur’an tertulis di fasad, yang membuat beberapa sarjana percaya bahwa Cuarto Dorado adalah pintu masuk utama ke istana. Di tengah halaman ada air mancur dengan patung 12 singa, di belakangnya terdapat mangkuk yang dihiasi dengan ayat-ayat penyair Arab Ibn Zamrak, memuji Emir: “Tuhan memberkati, yang memberi Imam Muhammad. Dari sedikit gambaran yang dicatat masih lebih banyak keindahan Al-Hambra yang belum tertulis maka untuk mengetahui lebih dalam perlu membaca literatur lain tentang Keindahan Al-Hambra.[2]

 Penutup

Dari uraian diatas bahwa sebelum Islam masuk ke Spanyol, Islam membangun kekuatan di Maroko yang dipimpin oleh Musa bin Nusair kemudian menjalin hubungan bilateral dengan Raja Julian sebagai penguasa selatan selat yang menjadi tempat disebut Giblartar, yang kemudian melakukan kerjasama untuk menggningkan Raja Roderick dan akhirnya bisa masuk setelah pertempuran di lembah Barbate yang dengan Jumlah Pasukan Thoriq Bin Ziyad 12000 dan Roderick 100.000. Kemudian Andalusia dikuasai Islam dan dipimpin oleh Abdul Aziz bin Musa dan beberapa gubernur Damaskus selama 42. Tahun.

Kemudian awal pembangunan Al-Hambra oleh Muhammad Ibn Yusuf Ibn Nasr yang disebut Ibn hamr, sebagai julukan kepadanya dan juga bangunan Al-Hambra yang kemerah-merahan saat senja. Dalam pembangunan Al-Hambra menggunakan teknik Geometri yang diambil dari Yunani dengan tidak menggunakan hiasan dari dewa, manusia dan hewan melainkan dengan budaya seni Islam berupa perpaduan ornament dan kaligrafi bertulisakan ayat. Maka dengan adanya Al-Hambra Islam tidak membatasi keretaifitas dalam model pembangunan melainkan dengan mengalihkan sedkit dari pola yang didapat dari peradaban Yunani.

Daftar Pustaka

Al-Isy, Yusuf. (2007). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Andi, Aulia Rahman. (2011). Geometri dalam Arsitektur Islam Andalusia: Studi Kasus Istana Alhambra dan Masjid Cordoba. Jurnal Arsitektur Islam, 3(2), 130–136.

Hitti, Philip K. (1970). History of the Arabs. London: Macmillan Press.

Mufidah, Lailatul. (2013). Peradaban Islam di Andalusia dan Pengaruhnya terhadap Eropa. Jurnal Studi Islam, 8(2), 173–182.

Raghib As-Sirjani, Muhammad. (2013). Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

 

[1] Sebagian bidang dari depan sebuah bangunan yang bisa menentukan gaya dan karakteristik arsitektur

[2] https://travel4life.ru/id/poland/algambra—velikolepnyi-dvorec-v-gorode-granada-ispaniya-algambra-v.html

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami