Daftar Isi
Oleh: Khalid Brahmana
Di tengah derasnya arus informasi, agnostisisme menjadi salah satu pandangan yang semakin dikenal. Agnostisisme mempertanyakan apakah keberadaan Tuhan dapat diketahui secara pasti oleh manusia. Penganutnya tidak selalu menyatakan bahwa Tuhan tidak ada, tetapi memilih bersikap bahwa keberadaan Tuhan belum atau tidak dapat dipastikan.[1]Fenomena ini semakin mudah ditemukan di era digital, ketika berbagai pandangan tentang agama, ateisme, dan agnostisisme dapat diakses dengan mudah. Hal ini membuat sebagian orang kembali mempertanyakan keyakinan yang selama ini mereka pegang.
Bagi seorang Muslim, fenomena tersebut perlu dipahami dengan tepat. Islam mengajarkan manusia untuk menggunakan akal dan berpikir, tetapi juga menunjukkan batas kemampuan akal serta pentingnya wahyu sebagai petunjuk. Karena itu, penting untuk memahami agnostisisme sekaligus melihat bagaimana Islam memandangnya.
Apa Itu Agnostisisme?
Secara etimologis, istilah agnostik berasal dari bahasa Yunani, yaitu a yang berarti “tidak” dan gnostos yang berarti “diketahui” atau “dikenal”. Secara sederhana, agnostik berarti “tidak mengetahui”. Dalam konteks pemikiran tentang Tuhan, agnostisisme merujuk pada pandangan bahwa manusia tidak memiliki kepastian pengetahuan mengenai keberadaan Tuhan maupun realitas metafisik.[2]
Istilah “agnostik” sendiri dipopulerkan oleh filsuf Inggris Thomas Henry Huxley pada abad ke-19. Huxley menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan sikap intelektual yang tidak mau mengklaim mengetahui sesuatu yang menurutnya belum memiliki dasar pengetahuan yang memadai. Ia memperkenalkan istilah ini pada 1869 dalam lingkungan Metaphysical Society.[3]

Dengan demikian, agnostisisme bukan sekadar mengatakan, “Saya tidak tahu.” Pandangan ini berkaitan dengan keyakinan bahwa kemampuan manusia untuk mengetahui sesuatu memiliki batas. Bagi seorang agnostik, persoalannya bukan hanya apakah Tuhan ada, tetapi apakah manusia benar-benar memiliki kemampuan dan bukti yang cukup untuk memastikan keberadaan-Nya.
Gagasan Ini Sudah Ada Sejak Dahulu
Walaupun istilah agnostisisme baru muncul pada abad ke-19, pertanyaan tentang keterbatasan pengetahuan manusia sebenarnya sudah jauh lebih tua. Dalam sejarah filsafat Yunani, terdapat berbagai pemikiran yang mempertanyakan kemampuan manusia dalam mencapai kepastian mengenai realitas.
Salah satunya dapat dilihat dalam pemikiran Protagoras. Dalam pembahasannya mengenai para dewa, ia menyatakan bahwa manusia menghadapi keterbatasan dalam mengetahui apakah para dewa benar-benar ada atau tidak. Keterbatasan manusia, menurutnya, menjadi salah satu alasan mengapa persoalan tersebut sulit dipastikan.[4]
Pemikiran serupa juga dapat ditemukan dalam tradisi skeptisisme yang berkembang melalui tokoh seperti Pyrrho. Tradisi ini mendorong manusia untuk berhati-hati dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu yang belum memiliki dasar yang kuat. Namun, skeptisisme Yunani tidak bisa begitu saja disamakan dengan agnostisisme modern. Keduanya memiliki latar belakang dan tujuan filosofis yang berbeda.[5]
Karena itu, lebih tepat jika dikatakan bahwa agnostisisme modern memiliki akar pemikiran yang panjang. Pertanyaan tentang batas pengetahuan manusia terus berkembang hingga akhirnya pada abad ke-19 muncul istilah khusus untuk menggambarkan posisi tersebut.
Mengapa Agnostisisme Muncul di Zaman Modern?
Kemunculan agnostisisme modern tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pemikiran Barat. Kemajuan ilmu pengetahuan, berkembangnya rasionalisme, kritik terhadap otoritas keagamaan, dan perubahan cara manusia memahami alam turut membentuk suasana intelektual yang mempertanyakan berbagai keyakinan lama.[6]
Ilmu pengetahuan modern memang memberikan banyak penjelasan mengenai alam semesta. Namun, dari sini muncul pertanyaan baru: apakah segala sesuatu yang benar harus dapat dibuktikan melalui metode ilmiah? Jika sesuatu tidak dapat diamati atau diuji secara empiris, apakah berarti sesuatu tersebut tidak dapat diketahui?
Pertanyaan semacam inilah yang kemudian menjadi penting dalam perdebatan mengenai Tuhan. Sebagian orang beranggapan bahwa karena Tuhan tidak dapat diamati secara langsung melalui indera atau eksperimen laboratorium, maka keberadaan-Nya tidak dapat dipastikan. Dari sinilah muncul sikap yang memilih untuk menangguhkan penilaian.[7]
Di era modern, sikap seperti ini semakin mudah ditemukan. Perkembangan teknologi dan arus informasi membuat manusia berhadapan dengan berbagai pandangan agama, filsafat, dan sains dalam waktu yang bersamaan. Tidak sedikit orang yang akhirnya mempertanyakan kembali keyakinan yang selama ini diterimanya.
Bagaimana Islam Memandang Agnostisisme?
Lalu, bagaimana Islam memandang agnostisisme? Islam mengakui bahwa kemampuan manusia memang terbatas. Tidak semua hal dapat diketahui manusia. Al-Qur’an bahkan menegaskan bahwa manusia hanya diberikan sedikit pengetahuan dibandingkan keluasan ilmu Allah. Allah berfirman: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra’: 85)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan manusia untuk merasa mengetahui segala sesuatu. Ada banyak hal yang berada di luar jangkauan manusia. Hakikat zat Allah, perkara gaib, kehidupan akhirat, dan berbagai persoalan metafisik tidak dapat dipahami manusia hanya dengan mengandalkan kemampuan inderawi. Namun, pengakuan terhadap keterbatasan manusia tidak berarti Islam mengajarkan keraguan terhadap keberadaan Allah. Di sinilah terdapat perbedaan mendasar antara Islam dan agnostisisme.
Dalam Islam, keterbatasan manusia dalam mengetahui sesuatu tidak berarti bahwa kebenaran itu tidak dapat diketahui sama sekali. Allah memberikan manusia akal, indera, dan wahyu sebagai sarana untuk mengenal kebenaran. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal, memperhatikan alam, dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah.
Dengan kata lain, Islam mengakui bahwa akal manusia terbatas, tetapi bukan berarti akal tidak mampu mengenal adanya Tuhan. Keterbatasan akal justru menjadi alasan mengapa manusia membutuhkan petunjuk wahyu.
Alam Semesta dan Pertanyaan tentang Pencipta
Islam juga mengarahkan manusia untuk melihat alam sebagai tanda yang menunjukkan keberadaan dan kekuasaan Allah. Al-Qur’an tidak meminta manusia untuk beriman secara membabi buta. Banyak ayat justru mengajak manusia berpikir tentang penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, penciptaan manusia, serta keteraturan alam. Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang yang besar bagi proses berpikir. Alam bukan sekadar objek untuk digunakan manusia, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengenal kebesaran Penciptanya.
Karena itu, Islam tidak melihat pertanyaan “Apakah Tuhan ada?” sebagai pertanyaan yang harus dihindari. Justru manusia diarahkan untuk menggunakan akalnya dalam memahami tanda-tanda kekuasaan Allah. Yang menjadi persoalan adalah ketika keterbatasan manusia dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa Tuhan tidak mungkin diketahui atau tidak mungkin ada.
Wahyu Menjadi Pembeda
Perbedaan yang sangat penting antara perspektif Islam dan agnostisisme terletak pada sumber pengetahuan. Agnostisisme modern umumnya membatasi pembahasan pada kemampuan manusia dalam mengetahui. Islam tidak berhenti pada kemampuan manusia, tetapi juga mempertimbangkan wahyu sebagai sumber pengetahuan yang berasal dari Allah.[8]
Manusia memang tidak dapat mengetahui perkara gaib hanya melalui pengamatan dan eksperimen. Akan tetapi, Allah dapat memberitahukan sebagian perkara gaib melalui wahyu kepada para nabi. Karena itu, dalam Islam, pengetahuan tentang Tuhan tidak hanya dibangun melalui spekulasi filosofis, tetapi juga melalui wahyu yang dibawa para rasul.
Di sinilah pentingnya konsep iman dalam Islam. Iman bukan berarti menolak akal. Sebaliknya, akal digunakan untuk memahami tanda-tanda kebenaran, sedangkan wahyu memberikan petunjuk tentang perkara-perkara yang tidak mampu dijangkau manusia secara mandiri.
Seyyed Hossein Nasr menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, pengetahuan tidak hanya terbatas pada pengetahuan empiris. Realitas memiliki dimensi yang lebih luas daripada apa yang dapat ditangkap oleh indera. Karena itu, membatasi realitas hanya pada sesuatu yang dapat diukur secara material akan menghasilkan pandangan yang sempit terhadap keberadaan.[9]
Bukan Sekadar “Percaya atau Tidak Percaya”
Dari sini kita dapat memahami bahwa perdebatan antara Islam dan agnostisisme sebenarnya tidak cukup jika hanya diringkas menjadi “percaya atau tidak percaya kepada Tuhan”. Persoalannya lebih mendasar: dari mana manusia memperoleh pengetahuan tentang kebenaran?
Agnostisisme mengingatkan manusia agar tidak sembarangan mengklaim mengetahui sesuatu. Sikap kritis seperti ini pada dasarnya memiliki nilai positif. Islam pun mengajarkan manusia untuk tidak berbicara tanpa ilmu. Namun, Islam tidak menerima kesimpulan bahwa karena manusia memiliki keterbatasan, maka keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui.
Islam justru mengajarkan bahwa keterbatasan manusia harus diimbangi dengan penggunaan akal yang benar dan mengikuti petunjuk wahyu. Manusia tidak diminta mengetahui segala sesuatu. Manusia hanya diminta menerima kebenaran berdasarkan petunjuk yang telah diberikan Allah dan menggunakan kemampuan yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya.
Daftar Pustaka
Ardiwinata, Saddam, et al. “Etika dan Hukum Menurut Pyrrho.” Praxis: Jurnal Filsafat Terapan 1, no. 2 (2024).
Armawi, Armaidy. Filsafat Barat Pra-Modern. Yogyakarta: UGM Press, 2021.
Brown, Alan Willard. The Metaphysical Society: Victorian Minds in Crisis, 1869–1880. New York: Columbia University Press, 2019.
Draper, Paul. “Atheism and Agnosticism.” Dalam The Stanford Encyclopedia of Philosophy, diedit oleh Edward N. Zalta. Summer 2022.
Le Poidevin, Robin. Agnostisisme: Sebuah Pengantar Singkat. Yogyakarta: IRCiSoD, 2021.
Nasr, Seyyed Hossein. Antara Tuhan, Manusia, dan Alam. Yogyakarta: IRCiSoD, 2021.
[1] Paul Draper, “Atheism and Agnosticism,” The Stanford Encyclopedia of Philosophy, ed. Edward N. Zalta, Summer 2022.
[2] Robin Le Poidevin, Agnostisisme: Sebuah Pengantar Singkat (Yogyakarta: IRCiSoD, 2021).
[3] Alan Willard Brown, The Metaphysical Society: Victorian Minds in Crisis, 1869–1880 (New York: Columbia University Press, 2019).
[4] Armaidy Armawi, Filsafat Barat Pra-Modern (Yogyakarta: UGM Press, 2021).
[5] Saddam Ardiwinata et al., “Etika dan Hukum Menurut Pyrrho,” Praxis: Jurnal Filsafat Terapan 1, no. 2 (2024).
[6] Le Poidevin, Agnostisisme: Sebuah Pengantar Singkat.
[7] Draper, “Atheism and Agnosticism.”
[8] Le Poidevin, Agnostisisme: Sebuah Pengantar Singkat.
[9] Seyyed Hossein Nasr, Antara Tuhan, Manusia, dan Alam (Yogyakarta: IRCiSoD, 2021).




