Daftar Isi
KHUTBAH PERTAMA
Mukadimah
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِعِبَادِهِ مَوَاسِمَ لِلْخَيْرَاتِ، وَفَتَحَ لَهُمْ أَبْوَابَ الرَّحَمَاتِ، وَخَصَّ عَشْرَ ذِي الْحِجَّةِ بِفَضَائِلَ عَظِيمَاتٍ وَنَفَحَاتٍ مُبَارَكَاتٍ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلٰهًا أَوَّلًا بِلَا ابْتِدَاءٍ، وَآخِرًا بِلَا انْتِهَاءٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُصْطَفَى الْأَمِينُ، وَالسِّرَاجُ الْمُنِيرُ، خَيْرُ مَنْ عَبَدَ اللَّهَ وَاتَّقَاهُ، وَأَعْظَمُ مَنْ نَرْجُو شَفَاعَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: « اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،
إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ أَنْ جَعَلَ لَهُمْ مَوَاسِمَ يَتَزَوَّدُونَ فِيهَا مِنَ الْإِيمَانِ وَالطَّاعَاتِ، وَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِهَا هَذِهِ الْأَيَّامُ الْمُبَارَكَاتُ: أَيَّامُ الْعَشْرِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، الَّتِي أَقْسَمَ اللَّهُ بِهَا فِي كِتَابِهِ الْعَظِيمِ فَقَالَ سُبْحَانَهُ: وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
وَقَالَ تَعَالَى:لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: الْأَيَّامُ الْمَعْلُومَاتُ هِيَ أَيَّامُ الْعَشْرِ.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullah,
kita hidup di zaman yang bergerak sangat cepat. Hari-hari manusia dipenuhi kesibukan tanpa jeda. Pagi hingga malam manusia berlari mengejar dunia; mengejar jabatan, keuntungan, pengakuan, dan pujian manusia. Teknologi semakin canggih, informasi semakin mudah diakses, komunikasi semakin cepat, namun ironisnya hati manusia justru semakin mudah lalai dari Allah. Banyak orang hari ini terlihat tersenyum di hadapan layar, tetapi hatinya kosong dan gelisah. Media sosial membuat manusia berlomba menampilkan kehidupan terbaiknya, memamerkan kebahagiaan, perjalanan, makanan, dan pencapaian, tetapi sedikit yang benar-benar berlomba memperbaiki shalatnya, memperbaiki akhlaknya, memperbanyak taubatnya, dan mempersiapkan bekal menuju akhiratnya. Manusia sibuk mempercantik tampilan luar, namun lupa membersihkan isi hati. Padahal hati yang jauh dari Allah tidak akan pernah tenang walaupun dunia berada di tangannya.
Ma‘āsyiral muslimīn a‘azzakumullāh,
di tengah kerasnya kehidupan dan lalainya manusia dari akhirat, Allah Yang Maha Rahman tidak membiarkan hamba-hamba-Nya tenggelam tanpa peringatan. Allah hadirkan musim-musim kebaikan agar hati yang mati bisa kembali hidup, agar jiwa yang kering kembali lembut, dan agar manusia yang terlalu sibuk dengan dunia kembali mengingat tujuan hidupnya. Di antara musim kebaikan terbesar itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Bulan ini bukan sekadar identik dengan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban, tetapi ia adalah madrasah ketakwaan, momentum muhasabah, dan panggilan agar manusia kembali tunduk kepada Allah. Dzulhijjah datang mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang berkorban; bukan hanya tentang menikmati dunia, tetapi juga tentang menyiapkan akhirat. Maka sungguh merugi orang yang melewati hari-hari mulia ini dalam kelalaian, sementara pintu pahala dibuka lebar dan rahmat Allah turun tanpa batas.
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah memuliakan sebagian waktu di atas waktu yang lain. Sebagaimana Allah memilih sebagian manusia menjadi nabi dan rasul, Allah juga memilih sebagian tempat dan sebagian hari sebagai musim turunnya rahmat dan pahala yang berlipat ganda. Di antara waktu yang sangat agung itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Sampai-sampai Allah bersumpah dengannya dalam firman-Nya:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar dan malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)
Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa inilah pendapat Ibnu ‘Abbās, Ibnu Az-Zubair, Mujahid, dan banyak ulama salaf lainnya. Lalu Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaannya dalam sabda beliau:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
“Tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”
(HR. Al-Bukhārī, no. 969)
Hadits ini menunjukkan bahwa amal shalih pada hari-hari Dzulhijjah memiliki kedudukan yang sangat agung di sisi Allah, bahkan lebih utama daripada jihad sunnah di jalan Allah kecuali jihad yang paling tinggi pengorbanannya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
betapa banyak manusia hari ini menunggu waktu senggang untuk mulai taat. Ada yang berkata, “Nanti kalau pekerjaan sudah longgar saya akan mengaji.” Ada yang berkata, “Kalau sudah tua saya akan rajin ke masjid.” Ada yang berkata, “Kalau urusan dunia sudah selesai saya akan fokus ibadah.” Padahal urusan dunia tidak akan pernah benar-benar selesai sampai manusia masuk ke liang kubur. Sementara itu, musim pahala sudah Allah hadirkan di depan mata. Ironisnya, manusia begitu antusias menyambut promo dunia: rela antre demi diskon belanja, rela begadang demi tiket murah, rela menghabiskan waktu berjam-jam demi keuntungan sesaat. Namun ketika Allah membuka “promo pahala” di sepuluh hari Dzulhijjah, banyak yang justru lalai dan sibuk dengan hiburan serta urusan yang tidak mendekatkan dirinya kepada Allah. Seakan-akan manusia yakin akan hidup panjang, padahal berapa banyak orang yang tahun lalu masih mendengar khutbah Dzulhijjah bersama kita, kini telah berada di alam kubur menunggu hisab amalnya. Maka orang yang cerdas bukanlah yang paling pandai mengumpulkan dunia, tetapi yang paling pandai memanfaatkan musim ketaatan sebelum datang hari penyesalan yang tidak lagi berguna.
Dzulhijjah Mengajarkan Pengorbanan, Bukan Sekadar Perayaan
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Dzulhijjah tidak hanya mengajarkan tentang perayaan dan penyembelihan hewan kurban, tetapi lebih dalam dari itu, ia mengajarkan makna pengorbanan dan ketundukan total kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika kita mendengar kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sesungguhnya kita sedang menyaksikan pelajaran terbesar tentang keimanan. Betapa tidak, setelah sekian lama menanti hadirnya seorang anak di usia senja, Allah justru memerintahkan beliau untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail ‘alaihis salam. Ini bukan sekadar ujian perasaan seorang ayah, tetapi ujian apakah cinta kepada Allah benar-benar berada di atas segala-galanya. Allah mengabadikan momen agung itu dalam firman-Nya:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya…”
(QS. Ash-Shāffāt: 103)
Perhatikanlah, jamaah sekalian, ayat ini tidak menggambarkan perdebatan panjang, tidak pula keluhan dan protes. Yang ada hanyalah kepasrahan, ketundukan, dan keyakinan penuh kepada Allah. Nabi Ibrahim rela mengorbankan yang paling dicintainya demi meraih ridha Rabb-nya. Inilah hakikat pengorbanan dalam Islam: ketika perintah Allah lebih besar daripada keinginan diri sendiri.
Ma‘āsyiral muslimīn a‘azzakumullāh,
persoalannya hari ini, banyak manusia ingin masuk surga tetapi tidak siap berkorban. Banyak yang ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, namun tidak mau meninggalkan kenyamanan maksiat. Demi karier manusia sanggup begadang, demi hobi manusia rela menghabiskan waktu dan harta, demi gengsi manusia rela berutang dan bekerja tanpa lelah, tetapi ketika adzan Subuh berkumandang terasa begitu berat meninggalkan kasur dan selimutnya. Begitu sulit menjaga pandangan dari maksiat digital, begitu berat meninggalkan tontonan yang haram, begitu susah menyisihkan sebagian harta untuk sedekah dan kurban, padahal semua itu hanyalah titipan sementara. Kita hidup di zaman ketika manusia mudah mengorbankan akhirat demi dunia, tetapi berat mengorbankan dunia demi akhirat. Karena itu Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
“Inti pengorbanan bukan pada darah hewan, tetapi pada ketundukan hati kepada Allah.” (Lathā’if Al-Ma‘ārif, hlm. 390).
Maka hakikat kurban bukan sekadar menyembelih kambing atau sapi, melainkan menyembelih kesombongan, hawa nafsu, cinta dunia, dan segala sesuatu yang menghalangi kita dari ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Kurban dan Kepedulian Sosial di Tengah Individualisme
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
di antara hikmah besar disyariatkannya kurban adalah agar manusia belajar peduli dan tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Islam bukan agama yang membiarkan seseorang tenggelam dalam kenikmatan pribadi tanpa memikirkan keadaan orang lain. Karena itu Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
“Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.”
(QS. Al-Ḥajj: 28)
Ayat ini mengajarkan bahwa kurban bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga ibadah sosial. Ada hak kaum fakir dalam kebahagiaan hari raya. Ada hak orang-orang miskin untuk ikut merasakan nikmat yang Allah berikan kepada saudaranya. Dzulhijjah mendidik umat ini agar tidak menjadi manusia yang egois dan individualis. Sebab hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang mengetahui harga barang-barang mahal, tetapi tidak mengetahui keadaan tetangganya sendiri. Ada yang hafal promo makanan di berbagai tempat, tetapi tidak tahu bahwa di sekitar rumahnya ada keluarga yang kesulitan membeli beras. Bahkan ironisnya, ada yang setiap hari mengunggah foto makanan dan kemewahan hidupnya di media sosial, sementara tidak jauh dari rumahnya ada anak-anak yang tidur dalam keadaan lapar. Inilah tanda ketika hati mulai kehilangan rasa empati.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
karena itu kurban sejatinya adalah syiar kasih sayang dan empati. Islam ingin umatnya saling merasakan, saling membantu, dan saling menguatkan. Jangan sampai ibadah hanya berhenti pada ritual pribadi tanpa menghadirkan kepedulian sosial. Jangan sampai seseorang rajin beribadah, tetapi hatinya keras terhadap penderitaan sesama. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ
“Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.”
(HR. Al-Baihaqī dalam Syu‘ab Al-Īmān, no. 3389)
Hadits ini bukan sekadar teguran tentang makanan, tetapi peringatan agar hati seorang muslim tidak mati rasa terhadap keadaan orang lain. Maka ketika Dzulhijjah datang, jangan hanya sibuk memikirkan hewan apa yang akan dibeli, berapa ukurannya, atau bagaimana penampilannya, tetapi pikirkan pula berapa banyak hati yang akan bahagia karena kepedulian kita. Sebab terkadang sepotong daging yang bagi kita biasa saja, bisa menjadi kebahagiaan besar bagi orang yang jarang merasakan makanan yang layak. Dan bisa jadi, bukan banyaknya harta yang mengangkat derajat kita di sisi Allah, tetapi kepekaan hati kita terhadap penderitaan sesama manusia.
Bahaya Lalai di Musim Ketaatan
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
di antara musibah terbesar dalam kehidupan seorang hamba bukanlah sedikitnya harta, bukan pula beratnya ujian dunia, tetapi hati yang lalai dari mengingat Allah di tengah terbukanya pintu-pintu kebaikan. Betapa banyak manusia yang memasuki musim Dzulhijjah, namun hatinya tetap tenggelam dalam hiburan dan kelalaian. Hari-hari mulia berlalu, tetapi lisannya lebih sibuk membicarakan dunia daripada berdzikir kepada Allah. Ada yang begitu hafal jadwal diskon belanja, hafal tanggal promo besar, hafal jadwal pertandingan dan tontonan, tetapi tidak tahu kapan puasa Arafah dilaksanakan. Ada yang begitu bersemangat membuat konten demi mendapatkan perhatian manusia, tetapi malas memperbaiki shalat dan amalnya demi mencari ridha Allah. Waktu berjam-jam terasa ringan untuk berselancar di media sosial, tetapi beberapa menit membaca Al-Qur’an terasa berat. Inilah tanda ketika dunia mulai memenuhi hati manusia dan akhirat perlahan dilupakan.
Karena itu Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memperingatkan manusia dengan firman-Nya:
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ
“Telah dekat kepada manusia hari hisab mereka, sementara mereka dalam kelalaian berpaling.”
(QS. Al-Anbiyā’: 1)
Ayat ini seakan berbicara langsung kepada keadaan manusia hari ini. Manusia sibuk merencanakan masa depan dunia, tetapi lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja tanpa menunggu kesiapan. Banyak orang takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan penghasilan, takut kehilangan pengikut dan popularitas, tetapi sedikit yang takut kehilangan pahala dan kesempatan taubat. Padahal umur terus berjalan dan tidak pernah kembali. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilang pula sebagian dirimu.” Maka setiap hari Dzulhijjah yang berlalu sejatinya bukan sekadar berkurangnya tanggal di kalender, tetapi berkurangnya jatah umur kita di dunia. Karena itu jangan biarkan hari-hari mulia ini lewat hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan iman dan amal. Sebab orang yang paling merugi adalah orang yang masih diberi kesempatan hidup, namun gagal memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekat kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Amalan Praktis di Bulan Dzulhijjah
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
jika Allah telah menghadirkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah sebagai musim pahala dan ampunan, maka pertanyaannya adalah: amalan apa yang akan kita persembahkan kepada Allah pada hari-hari mulia ini? Jangan sampai Dzulhijjah hanya lewat sebagai tanggal di kalender tanpa bekas dalam hati dan amal kita. Mulailah hari-hari ini dengan taubat yang sungguh-sungguh. Bisa jadi selama ini hati kita terlalu jauh dari Allah, terlalu banyak dosa yang disembunyikan, terlalu sering lalai dalam shalat dan ibadah. Maka Dzulhijjah adalah momentum untuk kembali. Hidupkan shalat berjamaah, karena itulah tanda hidupnya iman seorang muslim. Perbanyak membaca Al-Qur’an yang selama ini mungkin hanya tersimpan di rak tanpa disentuh. Hidupkan dzikir di lisan-lisan kita, bukan hanya memenuhi waktu dengan obrolan dunia dan suara hiburan. Rasulullah ﷺ bersabda:
فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
“Maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari itu.”
(HR. Aḥmad, no. 5446)
Hari-hari ini adalah kesempatan untuk memperbanyak kalimat yang dicintai Allah sebelum datang hari ketika lisan tidak lagi mampu berdzikir.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dzulhijjah juga mengajarkan bahwa keshalihan bukan hanya tampak di masjid, tetapi juga dalam sikap dan akhlak sehari-hari. Jagalah lisan kita dari ghibah, fitnah, dan komentar buruk, termasuk di media sosial yang hari ini sering menjadi ladang dosa tanpa disadari. Jangan sampai jari-jari kita lebih cepat menulis keburukan daripada berdzikir kepada Allah. Perbanyak sedekah walaupun sedikit, karena boleh jadi ada orang yang hidupnya menjadi ringan sebab bantuan kita. Jangan lupakan puasa Arafah yang memiliki pahala penghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Berbaktilah kepada orang tua selama mereka masih hidup, sebab banyak orang yang baru merasakan penyesalan ketika orang tuanya telah tiada. Dan bagi yang Allah lapangkan rezekinya, hidupkan syiar kurban dengan penuh keikhlasan. Sebab hakikat Dzulhijjah bukan sekadar banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi sejauh mana hari-hari itu mampu mengubah hati kita menjadi lebih dekat kepada Allah, lebih lembut kepada sesama, dan lebih siap menghadapi kehidupan akhirat.
Penutup Khutbah Pertama
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
sebelum khutbah ini kita akhiri, renungkanlah bahwa boleh jadi Dzulhijjah tahun ini adalah Dzulhijjah terakhir dalam hidup kita. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih duduk di shaf-shaf masjid bersama kita, masih mengumandangkan takbir, masih berbicara tentang rencana hidup dan cita-cita dunia, namun hari ini mereka telah berada di alam kubur menunggu hisab amalnya. Kematian tidak menunggu seseorang menjadi tua, tidak pula menunggu seseorang selesai dengan urusan dunianya. Karena itu jangan biarkan hari-hari mulia ini berlalu tanpa taubat, tanpa dzikir, tanpa perubahan diri, dan tanpa amal yang mendekatkan kita kepada Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang hanya meramaikan suasana Dzulhijjah, tetapi tidak mendapatkan keberkahan dan ampunan di dalamnya. Maka sebelum terlambat, sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna, marilah kita kembali kepada Allah dengan hati yang tulus, memperbaiki ibadah, memperbanyak amal shalih, dan memohon ampun atas dosa-dosa yang telah lalu.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُ
Ringkasan Pesan Utama
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
sesungguhnya Dzulhijjah adalah panggilan Allah agar manusia kembali kepada-Nya setelah terlalu lama disibukkan oleh dunia. Ia adalah musim untuk membersihkan hati yang mulai keras, melembutkan jiwa yang lalai, dan menghidupkan kembali iman yang redup karena dosa dan kesibukan duniawi. Di bulan inilah kita belajar bahwa kedekatan kepada Allah tidak akan diraih tanpa keikhlasan dan pengorbanan. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya, sementara ibadah kurban mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri. Maka Dzulhijjah bukan sekadar tentang takbir yang menggema dan hewan kurban yang disembelih, tetapi tentang sejauh mana hati kita berubah menjadi lebih ikhlas, lebih peduli, lebih mudah berbagi, dan lebih siap meninggalkan maksiat demi mencari ridha Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Sebab sebesar apa pun ibadah yang dilakukan, jika tidak melahirkan hati yang lebih dekat kepada Allah dan lebih lembut kepada sesama, maka kita perlu mempertanyakan kembali makna ibadah yang kita jalani.
قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَيَّامِ ذِي الْحِجَّةِ، وَوَفِّقْنَا فِيهَا لِصَالِحِ الْأَعْمَالِ، وَاجْعَلْنَا فِيهَا مِنَ الذَّاكِرِينَ الشَّاكِرِينَ، وَمِنَ الْمُقْبِلِينَ عَلَيْكَ بِقُلُوبٍ خَاشِعَةٍ وَأَنْفُسٍ مُطْمَئِنَّةٍ.
اَللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَ الْمُتَّقِينَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَى رَعَايَاهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ وَالْمَظْلُومِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُؤَيِّدًا وَمُعِينًا، وَاكْشِفْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالضُّرَّ وَالْكُرُوبَ، وَارْحَمْ ضَعْفَهُمْ وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَذِكْرَنَا وَصَدَقَاتِنَا وَقُرْبَانَنَا، وَاجْعَلْهُ خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Oleh : Santri Darsya




