BerandaKabar PondokKilas PeristiwaBersama Merajut Kekuatan Pendidikan Holistik (GIHES 2026)

Bersama Merajut Kekuatan Pendidikan Holistik (GIHES 2026)

- Advertisement -spot_img

Alhamdulillah, saya berkesempatan hadir mewakili pesantren-pesantren yang tergabung dalam Formaqin pada ajang Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026. Acara yang mempertemukan jaringan pondok pesantren alumni Gontor ini berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta.

Diskusi mengenai pendidikan holistik dalam simposium ini terasa amat bernas. Paparan Prof. Hamid Zarkasyi membuka cakrawala berpikir kita tentang potret pendidikan modern yang kerap terlalu menitikberatkan pada aspek intelektual semata. Imbasnya, lahirlah generasi yang cerdas secara akal, tetapi rapuh dalam kematangan emosional, spiritual, serta kepedulian sosial. Problematika pendidikan yang kurang integral ini disadari tidak lagi efektif, hingga dunia Barat pun kini mulai menggagas konsep pendidikan holistik.

Padahal, Indonesia telah memiliki role model pendidikan holistik yang teruji oleh zaman. Gontor, yang berdiri sejak tahun 1926, telah lama mempraktikkan pendidikan integral untuk membentuk insan kamil. Pembinaan aspek spiritual, emosional, intelektual, hingga kepekaan sosial dijalankan secara simultan dalam kehidupan pesantren. Sudah saatnya sistem pendidikan pesantren berdiri di barisan terdepan sebagai contoh nyata pendidikan holistik—sebuah sumbangsih berharga dari Indonesia untuk dunia.

Penguatan gagasan ini semakin terasa ketika para pakar pendidikan dari Turki, India, Jepang, dan Malaysia menyampaikan pandangan mereka. Pakar dari Malaysia secara khusus mengingatkan pentingnya pendidikan holistik pada era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Di saat AI mampu mengambil alih sebagian fungsi pemrosesan intelektual, dimensi emosional dan spiritual manusia tetap membutuhkan sentuhan langsung dari seorang guru sebagai pendidik. Gagasan ini selaras dengan pesan tamu kehormatan, Bapak Jusuf Kalla, pada malam harinya yang kembali menegaskan bahwa pendidikan berkualitas harus menyentuh tiga pijakan utama: head (akal), heart (hati), dan hand (keterampilan).

Salah satu paparan dalam GIHES 2026 tentang konsep pendidikan Islam yang menyentuh manusia secara utuh dalam berbagai aspek kehidupan.

Memasuki hari kedua, diskusi bergulir hangat bersama Dr. Basnang Said selaku Direktur Pendidikan Pesantren Kementerian Agama RI. Beliau menyampaikan apresiasi negara atas kontribusi besar pesantren hingga diakui sebagai salah satu pilar pendidikan nasional. Khusus bagi satuan pendidikan Muadalah, pemerintah memberikan kebebasan untuk mengonstruksi kurikulum secara mandiri, selama tetap menanamkan rasa cinta tanah air dan komitmen terhadap NKRI dalam diri para santri.

Siang harinya, seluruh peserta menghadiri pembacaan pernyataan bersama yang dipimpin oleh Prof. Hamid Zarkasyi. Inti deklarasi tersebut menekankan bahwa pesantren yang telah konsisten menerapkan pendidikan holistik patut bersyukur, sekaligus percaya diri menawarkan sistem ini sebagai salah satu solusi bagi tantangan pendidikan nasional maupun global.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Malam Peradaban di Gedung Nusantara MPR/DPR RI. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nur Wahid, Pimpinan PMDG KH. Hasan Abdullah Sahal, serta para duta besar dari sejumlah negara sahabat.

Dokumentasi GIHES 2026 di Hotel Borobudur Jakarta dan rangkaian penutupan Malam Peradaban di Kompleks MPR/DPR RI
Dokumentasi GIHES 2026 di Hotel Borobudur Jakarta dan rangkaian penutupan Malam Peradaban di Kompleks MPR/DPR RI

Pertemuan dalam GIHES 2026 ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Selain berinteraksi dengan para praktisi pendidikan dari berbagai negara, ruang-ruang diskusi informal saat makan bersama para asatiz turut menyulut optimisme baru. Ada keyakinan kuat bahwa apabila pesantren-pesantren di Indonesia bersinergi dan bergerak bersama, kontribusi nyata bagi peradaban bangsa dan dunia bukanlah sekadar angan.

Sudah saatnya para pendidik di pesantren terus bersyukur dan mengambil peran aktif dalam mencetak generasi unggul. Tugas kita hari ini adalah menjaga serta terus meningkatkan kualitas diri agar senantiasa hadir sebagai sosok mu’allim, murabbi, dan mu’addib bagi masa depan umat.

Wallahul musta‘an.

7 September 2026

Khadim Darusy Syahadah,
Qosdi Ridwanullah

- Advertisement -spot_img
abufajri
abufajrihttp://www.darusyahadah.com/tag/abufajri/
Alumnus K01 tahun 1998, menyukai kaligrafi atau khat, menulis dan edit-edit dikit
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read

Antara Adab dan Feodalisme

- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami