BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatMembina Adab dan Menggapai Ilmu

Membina Adab dan Menggapai Ilmu

- Advertisement -spot_img

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنِ الْآدَابِ، وَفَضَّلَ أَهْلَ الْعِلْمِ وَرَفَعَ دَرَجَاتِهِمْ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الْعَظِيمَةِ وَآلَائِهِ الْجَسِيمَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى مَا عَلَّمَنَا وَهَدَانَا وَأَرْشَدَنَا، وَنَسْأَلُهُ عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَخُلُقًا حَسَنًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُعَلِّمُ وَالْمُرَبِّي، وَالْقُدْوَةُ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ، وَالْمِثَالُ الْأَعْلَى فِي الْأَخْلَاقِ وَالْآدَابِ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِمَنْ أَرَادَ النَّجَاةَ، وَهِيَ أَسَاسُ كُلِّ خَيْرٍ وَسَبَبُ كُلِّ فَلَاحٍ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk terus belajar serta memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam ilmu, ibadah, dan akhlak.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena takwa tidak hanya tercermin dalam banyaknya ilmu yang kita miliki, tetapi juga dalam bagaimana ilmu tersebut membentuk sikap dan akhlak kita. Maka pada khutbah kali ini, marilah kita merenungkan pentingnya membina adab dan menggapai ilmu, agar ilmu yang kita pelajari tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menjadikan kita semakin rendah hati, semakin baik akhlaknya, dan semakin dekat kepada Allah.

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Salah satu persoalan yang cukup memprihatinkan pada zaman kita adalah ketika ilmu berkembang begitu pesat, tetapi akhlak tidak selalu tumbuh bersamanya. Hari ini manusia semakin mudah mendapatkan pengetahuan. Apa yang dahulu harus dicari bertahun-tahun melalui perjalanan dan berguru kepada banyak orang, sekarang dapat ditemukan hanya dalam hitungan detik melalui telepon genggam. Berbagai kajian, buku, artikel, ceramah, dan penjelasan tentang agama tersedia begitu melimpah. Namun di tengah kemudahan tersebut, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah bertambahnya pengetahuan juga membuat kita semakin dekat kepada Allah? Apakah semakin banyak yang kita ketahui membuat kita semakin rendah hati, semakin santun dalam berbicara, semakin mampu menjaga lisan, dan semakin baik akhlaknya?

Sebab ilmu yang sebenarnya bukan sekadar sesuatu yang memenuhi pikiran. Ilmu seharusnya memberikan pengaruh kepada hati dan perilaku. Semakin seseorang mengenal Allah, semestinya semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Semakin ia memahami agama, semestinya semakin baik ibadah dan akhlaknya. Semakin banyak ia mengetahui kebenaran, semestinya semakin jauh ia dari kesombongan dan semakin hati-hati dalam menilai orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Rasulullah ﷺ :

 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa salah satu kemuliaan Rasulullah ﷺ yang Allah tegaskan adalah kemuliaan akhlak beliau. Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling berilmu tentang Allah, tetapi ilmu tersebut tidak menjadikan beliau sombong. Beliau adalah manusia yang paling mulia, tetapi tetap rendah hati. Beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi, tetapi tetap lembut kepada manusia. Maka semakin dekat seseorang dengan ilmu yang benar, seharusnya semakin tampak pula adab dan akhlaknya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Inilah yang dahulu sangat diperhatikan oleh para ulama. Mereka tidak memandang proses belajar hanya sebagai kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Menuntut ilmu juga merupakan proses membentuk kepribadian. Seorang murid bukan hanya belajar apa yang dikatakan gurunya, tetapi juga belajar bagaimana gurunya bersikap. Ia melihat bagaimana gurunya berbicara, bagaimana gurunya menghormati orang lain, bagaimana gurunya menjaga shalat, bagaimana gurunya menghadapi kesalahan, bagaimana gurunya bersikap ketika dipuji maupun ketika dikritik. Dari situlah adab tumbuh melalui keteladanan.

Imam Ibnu Sirin rahimahullah berkata,

 كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الْهَدْيَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ

“Dahulu mereka mempelajari perilaku dan petunjuk hidup sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” Mereka tidak hanya ingin mengetahui sesuatu, tetapi juga ingin menjadi manusia yang baik setelah mengetahuinya.

Begitu pula nasihat Imam Makhlad bin Husain rahimahullah kepada Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah:

 نَحْنُ إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْحَدِيثِ

“Kita lebih membutuhkan banyak adab daripada banyaknya hadits.”

Tentu perkataan ini bukan berarti ilmu tidak penting. Justru ilmu sangat penting. Akan tetapi ilmu membutuhkan adab agar ia memberikan manfaat. Ilmu yang tidak dihiasi adab dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain, sedangkan ilmu yang disertai adab akan membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya masih sangat banyak kekurangan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di zaman sekarang, tantangan dalam masalah ini menjadi semakin besar. Internet telah memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk belajar agama. Ini adalah nikmat yang patut disyukuri. Banyak orang yang sebelumnya sulit mendapatkan akses kepada ilmu kini dapat mendengarkan kajian para ustadz dan ulama, membaca kitab, mempelajari Al-Qur’an dan hadits, serta mendapatkan berbagai pengetahuan keislaman dengan sangat mudah. Tetapi kemudahan tersebut juga memiliki sisi lain yang harus kita waspadai. Tidak semua yang kita baca benar, tidak semua yang kita dengar memiliki dasar yang kuat, dan tidak semua orang yang pandai berbicara tentang agama memiliki kedalaman ilmu.

Maka jangan sampai Google, media sosial, atau potongan video beberapa menit menjadi satu-satunya guru kita dalam memahami agama. Belajar melalui internet boleh, bahkan bisa sangat bermanfaat. Namun ilmu agama membutuhkan bimbingan, membutuhkan proses, membutuhkan guru, dan membutuhkan kemampuan untuk memahami persoalan secara utuh. Jangan sampai seseorang baru membaca satu atau dua penjelasan kemudian merasa telah mampu memberikan penilaian terhadap perkara yang sebenarnya membutuhkan kajian panjang.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika sedikit pengetahuan justru melahirkan banyak keberanian untuk menghakimi. Baru mengetahui satu dalil, sudah merasa paling memahami agama. Baru membaca satu pendapat, sudah mudah mengatakan orang lain salah. Baru mengenal istilah-istilah agama, sudah ringan lisannya mengucapkan bid’ah, sesat, syirik, bahkan kafir kepada orang lain. Padahal para ulama yang jauh lebih luas ilmunya justru dikenal sangat berhati-hati dalam berbicara.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).

Ayat ini bukan hanya mengajarkan kepada kita tentang pentingnya bertanya kepada orang yang berilmu, tetapi juga mengajarkan sebuah adab: menyadari bahwa kita tidak mengetahui segala sesuatu.

Tidak semua pertanyaan harus kita jawab. Tidak semua perdebatan harus kita ikuti. Tidak semua kesalahan orang lain harus kita komentari. Dan tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan permusuhan. Terkadang kalimat “saya belum tahu” jauh lebih selamat daripada memberikan jawaban yang kita sendiri belum memiliki ilmu tentangnya.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Adab dalam menuntut ilmu juga bukan hanya tentang bagaimana kita bersikap kepada guru. Adab memiliki ruang yang jauh lebih luas. Adab yang paling utama adalah adab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: belajar dengan niat yang benar, mengakui bahwa ilmu adalah karunia Allah, dan menggunakan ilmu untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Setelah itu adab kepada Rasulullah ﷺ dengan mencintai dan mengikuti petunjuk beliau. Kemudian adab kepada guru dan orang yang mengajarkan ilmu, adab kepada sesama manusia, serta adab kepada ilmu itu sendiri dengan mengamalkannya.

Karena itu, seseorang yang benar-benar berilmu tidak cukup hanya ditandai dengan banyaknya hafalan atau luasnya pengetahuan. Ilmu yang bermanfaat akan terlihat dalam kehidupannya. Ia lebih mudah menerima nasihat. Ia tidak malu mengakui kesalahan. Ia tidak merasa harus selalu menang dalam perdebatan. Lisannya lebih terjaga. Ia lebih menghormati orang lain. Dan yang paling penting, ia semakin tunduk kepada Allah.

Inilah salah satu nilai penting yang seharusnya terus dijaga dalam pendidikan, termasuk pendidikan di pesantren. Santri tidak hanya datang untuk mendapatkan pelajaran di kelas. Ia hidup bersama guru, belajar kedisiplinan, belajar menghormati orang lain, belajar berjamaah, belajar bertanggung jawab, belajar menerima teguran, belajar meminta maaf, belajar mengendalikan keinginan, dan belajar hidup bersama orang lain. Semua itu sebenarnya adalah bagian dari proses menuntut ilmu.

Sebab manusia tidak cukup hanya diberi tahu tentang kebaikan. Ia juga perlu dibiasakan untuk melakukan kebaikan. Ia tidak cukup hanya mendengar tentang kesabaran, tetapi harus belajar bersabar. Tidak cukup hanya membaca tentang tawadhu, tetapi harus belajar merendahkan hati. Tidak cukup mengetahui bahwa menjaga lisan adalah kewajiban, tetapi harus berlatih menahan ucapan ketika marah. Dan proses seperti ini membutuhkan waktu, keteladanan, serta lingkungan yang mendukung.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Maka hari ini mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Setelah bertahun-tahun belajar, apakah kita menjadi orang yang lebih baik? Setelah begitu banyak ayat dan hadits yang kita dengar, apakah hati kita semakin takut kepada Allah? Setelah begitu banyak nasihat yang kita terima, apakah lisan kita semakin terjaga? Setelah mengetahui begitu banyak kesalahan orang lain, apakah kita juga semakin sibuk memperbaiki kesalahan diri sendiri?

Jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk menambah ilmu, tetapi lupa menambah adab. Jangan sampai kita pandai menjelaskan kebenaran, tetapi tidak pandai menunjukkan kebenaran melalui akhlak. Jangan sampai ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah justru menjadi sebab tumbuhnya kesombongan di dalam diri.

Pada akhirnya, tujuan kita menuntut ilmu bukanlah agar dikenal sebagai orang pintar. Bukan pula agar kita menang dalam perdebatan atau mendapatkan pengakuan dari manusia. Tujuan ilmu adalah agar kita semakin mengenal Allah, semakin benar dalam beribadah, semakin baik akhlaknya, dan semakin besar manfaatnya bagi orang lain.

Maka marilah kita terus belajar, tetapi jangan pernah meninggalkan adab. Mari kita tambah ilmu sekaligus memperbaiki akhlak. Mari kita hormati guru, sayangi sesama, jaga lisan, rendahkan hati, dan amalkan apa yang telah kita ketahui. Karena ilmu yang benar bukan hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga mengubah kehidupan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang tawadhu, lisan yang terjaga, akhlak yang mulia, dan kemampuan untuk mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. Semoga Allah menjadikan ilmu kita sebagai cahaya yang menerangi jalan kehidupan dan menjadi hujah yang menyelamatkan kita di hadapan-Nya, bukan justru menjadi hujah yang memberatkan kita.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita menutup khutbah ini dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ilmu yang kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat, menghiasi diri kita dengan adab dan akhlak yang mulia, serta menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa rendah hati dan bertakwa. Semoga Allah memperbaiki hati kita, membimbing langkah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan ilmu yang kita miliki sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya serta bermanfaat bagi sesama. Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَخُلُقًا حَسَنًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَهُدًى وَتُقًى. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَحَسِّنْ أَخْلَاقَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي عِلْمِنَا وَعَمَلِنَا، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ، نَافِعِينَ لِأَنْفُسِنَا وَلِعِبَادِكَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ، وَحُسْنَ الْأَدَبِ، وَصِدْقَ الْعَمَلِ.

اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا نُورًا فِي قُلُوبِنَا، وَحُجَّةً لَنَا، وَسَبَبًا لِقُرْبِنَا مِنْكَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَحَسِّنْ أَخْلَاقَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي عِلْمِنَا، وَانْفَعْ بِنَا الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Oleh : Santri Darsya 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami