BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatJangan Tunggu Nanti: Karena Kita Tidak Pernah Tahu Amal Mana yang Terakhir

Jangan Tunggu Nanti: Karena Kita Tidak Pernah Tahu Amal Mana yang Terakhir

- Advertisement -spot_img

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ، وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْحَيَاةِ وَالْفُرْصَةِ وَالْوَقْتِ، فَكَمْ مِنْ نِعْمَةٍ نَتَقَلَّبُ فِيهَا وَلَا نَشْعُرُ بِقَدْرِهَا، وَكَمْ مِنْ فُرْصَةٍ أَمْهَلَنَا اللَّهُ فِيهَا لِنَتُوبَ وَنُصْلِحَ وَنَعْمَلَ صَالِحًا.

نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الْمُتَتَالِيَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى آلَائِهِ الْمُتَوَالِيَةِ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى شُكْرِ نِعَمِهِ، وَحُسْنِ اسْتِعْمَالِ أَوْقَاتِنَا، وَالْمُبَادَرَةِ إِلَى طَاعَتِهِ قَبْلَ فَوَاتِ الْفُرْصَةِ وَمَجِيءِ الْأَجَلِ.

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَخَلِيلُهُ وَصَفِيُّهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ هَادِيًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَجَعَلَهُ قُدْوَةً لِلْمُؤْمِنِينَ وَإِمَامًا لِلسَّالِكِينَ.

فَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ، وَأَعْظَمُ مَا يَحْمِلُهُ الْمُؤْمِنُ مَعَهُ فِي رِحْلَتِهِ إِلَى الدَّارِ الْآخِرَةِ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

ثُمَّ يَا عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ النِّعَمِ الَّتِي قَدْ لَا نَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا بَعْدَ فَوَاتِهَا: نِعْمَةُ الصِّحَّةِ، وَنِعْمَةُ الْفَرَاغِ، وَنِعْمَةُ الْوَقْتِ. وَإِنَّ الْعَاقِلَ مَنْ اغْتَنَمَ أَيَّامَهُ قَبْلَ انْقِضَائِهَا، وَبَادَرَ إِلَى الطَّاعَةِ قَبْلَ أَنْ تُغْلَقَ أَبْوَابُ الْعَمَلِ.

وَقَدْ حَذَّرَنَا اللَّهُ تَعَالَى مِنْ أَنْ نُؤَخِّرَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ حَتَّى يَأْتِيَ وَقْتٌ لَا يَنْفَعُ فِيهِ التَّمَنِّي، فَقَالَ سُبْحَانَهُ:

﴿وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ ۝ وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾

Waktu Bukan Milik Kita: Kita Tidak Pernah Tahu Kapan Kesempatan Berakhir

Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, dan waktu yang masih diberikan kepada kita. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik sepanjang zaman, beserta keluarga dan para sahabatnya. Marilah kita tingkatkan iman dan takwa dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, di antara nikmat terbesar yang sering kita sia-siakan adalah kesempatan dan waktu. Kita sering berkata, “nanti,” seakan-akan hari esok pasti menjadi milik kita. Padahal, tidak ada yang menjamin kita masih memiliki kesempatan. Maka pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan pentingnya segera melakukan amal kebaikan dan tidak menundanya.

Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan Allah, salah satu kelemahan manusia adalah merasa bahwa dirinya masih memiliki banyak waktu. Kita sering berkata, “Nanti saya sedekah, nanti saya bertaubat, nanti saya belajar agama, nanti saya memperbaiki shalat, nanti saya meminta maaf.” Seolah-olah hari esok sudah berada dalam genggaman kita. Padahal, yang benar-benar kita miliki hanyalah kesempatan yang sedang kita jalani saat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan penyesalan orang yang telah didatangi kematian:

 ﴿حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ۝﴾.

“Hingga apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak!” (QS. al-Mu’minūn [23]: 99–100).

Imam al-Sa‘di rahimahullah menjelaskan bahwa ketika kematian datang, orang yang dahulu menyia-nyiakan kesempatan akan memohon dikembalikan ke dunia bukan untuk menambah hartanya, bukan untuk mengejar kenikmatan dunia, tetapi untuk melakukan amal saleh yang dahulu ia tinggalkan. Namun saat itu, kesempatan telah berakhir. (‘Abd al-Raḥmān ibn Nāṣir al-Sa‘di, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān, jilid 1, hlm. 552–553).

Maka, saudara-saudaraku, jangan sampai kita baru menyadari mahalnya sebuah kesempatan setelah kesempatan itu menjadi kenangan. Bisa jadi hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk bersedekah, untuk meminta maaf, untuk berbakti kepada orang tua, untuk memperbaiki shalat, atau untuk bertaubat kepada Allah. Kita tidak tahu amal mana yang akan menjadi amal terakhir kita, sebagaimana kita juga tidak tahu kapan langkah terakhir kita di dunia ini. Yang paling menyakitkan bukan sekadar ketika kematian datang, tetapi ketika kematian datang sementara hati kita masih dipenuhi kalimat, “Seandainya saya punya waktu sedikit lagi, saya akan beramal.” Karena itu, selama Allah masih memberikan kita hidup, kesehatan, dan kesempatan, jangan biarkan kebaikan hanya menjadi niat. Sebab hari ini adalah kesempatan untuk beramal, sedangkan esok hanyalah harapan yang belum tentu Allah izinkan.

Allah Tidak Hanya Memerintahkan Berbuat Baik, Tetapi Berlomba-lomba dalam Kebaikan

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk berbuat baik, tetapi juga memerintahkan kita agar segera dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah berfirman,

 ﴿وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾

“Dan bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Di mana pun kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah [2]: 148).

Perhatikan firman Allah: فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ, “berlomba-lombalah dalam kebaikan.” Ini bukan sekadar perintah agar kita menjadi orang baik, tetapi dorongan agar kita tidak lambat ketika pintu kebaikan terbuka. Imam al-Sa‘di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk bersegera dalam kebaikan, menyempurnakannya, dan berusaha menjadi orang yang lebih dahulu mengambil kesempatan tersebut. (‘Abd al-Raḥmān ibn Nāṣir al-Sa‘di, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, jilid 1, hlm. 80–81).

Hadirin yang Allah muliakan, sering kali kita bukan tidak ingin berbuat baik, tetapi kita terlalu banyak menunggu. Menunggu waktu luang untuk membaca Al-Qur’an, menunggu kaya untuk bersedekah, menunggu tua untuk lebih rajin beribadah, menunggu suasana hati membaik untuk meminta maaf. Padahal, kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Apakah hari ini saya sudah berbuat baik?” tetapi, “Ketika Allah membuka pintu kebaikan di hadapan saya, apakah saya segera masuk atau justru membiarkannya tertutup?” Jangan sampai orang lain sudah melangkah dalam kebaikan sementara kita masih sibuk berkata, “Nanti.” Sebab dalam perlombaan menuju Allah, yang berbahaya bukan hanya berhenti, tetapi terlalu lama menunda untuk memulai.

Mengapa Kita Suka Menunda Kebaikan?

Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan Allah, terkadang kita menunda kebaikan bukan karena tidak tahu bahwa itu baik, tetapi karena merasa masih memiliki banyak kesempatan. Kita berkata, “Nanti saya membaca Al-Qur’an setelah pekerjaan selesai. Nanti saya bersedekah kalau sudah punya uang lebih. Nanti saya meminta maaf kalau hati sudah tenang. Nanti saya memperbaiki shalat ketika sudah tua. Nanti saya belajar agama ketika sudah tidak sibuk. Nanti saya berbakti kepada orang tua ketika sudah punya waktu.” Akhirnya, “nanti” menjadi kebiasaan, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu kita. Padahal, yang sering kita sebut “nanti” itu bukan milik kita. Kita tidak pernah tahu apakah setelah kesibukan ini selesai kita masih diberi umur, apakah setelah memiliki rezeki lebih kita masih diberi kesempatan, atau apakah besok kita masih diberi kesehatan untuk melakukan apa yang hari ini kita tunda.

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita agar tidak menunda amal ketika kesempatan masih terbuka. Beliau bersabda,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amal-amal sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari dalam keadaan beriman, tetapi pada sore harinya menjadi kafir; atau pada sore hari dalam keadaan beriman, tetapi pada pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Muslim no. 118).

Hadis ini mengajarkan bahwa kesempatan untuk beramal tidak boleh dianggap akan selalu tersedia. Fitnah, kesibukan, perubahan keadaan, bahkan perubahan hati dapat datang kapan saja dan menghalangi seseorang dari kebaikan. Maka ketika Allah membuka pintu kebaikan hari ini, jangan terlalu yakin pintu itu masih terbuka esok hari. Jangan tunggu hati menjadi sempurna untuk bertaubat, jangan tunggu kaya untuk bersedekah, dan jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai. Sebab bisa jadi, kebaikan yang kita tunda hari ini adalah kebaikan yang kelak paling kita sesali karena tidak pernah sempat kita lakukan.

Nasihat Nabi ﷺ: Jangan Menunggu Esok untuk Kebaikan yang Bisa Dilakukan Hari Ini

Hadirin yang Allah muliakan, Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat dalam kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:

 كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. al-Bukhari no. 6416).

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma kemudian memberikan nasihat yang menggambarkan bagaimana seorang mukmin seharusnya memperlakukan waktu:

 إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada di waktu sore, jangan menunggu datangnya pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, jangan menunggu datangnya sore. Manfaatkan kesehatanmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. al-Bukhari no. 6416).

Nasihat ini mengajarkan kepada kita bahwa hidup bukan tempat untuk menumpuk kata “nanti”. Seorang musafir tidak akan membangun rumah di setiap tempat yang ia singgahi, karena ia sadar bahwa perjalanannya akan terus berlanjut. Demikian pula seorang mukmin, ia menggunakan dunia sebagai tempat menyiapkan bekal menuju akhirat. Apa yang bisa dilakukan hari ini, jangan sengaja ditunda sampai esok; sebab kita tidak pernah memiliki kepastian tentang esok.

Saudara-saudaraku seiman, mari kita tanyakan kepada diri kita dengan jujur: berapa banyak orang yang berkata, “Besok saya akan bertaubat,” tetapi malam ini menjadi malam terakhirnya? Berapa banyak yang berkata, “Nanti saya akan meminta maaf,” tetapi ternyata kesempatan bertemu sudah tidak ada? Berapa banyak yang berkata, “Kalau sudah kaya saya akan bersedekah,” tetapi kematian datang ketika hartanya masih tersimpan? Bahkan mungkin kita sendiri memiliki kebaikan yang selama ini hanya menjadi rencana. Maka jangan menunggu kehilangan untuk menghargai kesehatan, jangan menunggu tua untuk memperbaiki ibadah, dan jangan menunggu kematian untuk menyadari betapa mahalnya waktu. Selama Allah masih memberi kita hidup, berarti masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri; selama masih diberi kesehatan, berarti masih ada kesempatan untuk beramal; dan selama masih diberi waktu, jangan biarkan satu pun kesempatan menuju kebaikan berlalu tanpa kita manfaatkan.

Jangan Hanya Berniat Baik: Pulanglah dengan Satu Amal yang Segera Dikerjakan

Kaum muslimin yang Allah muliakan, khutbah ini jangan berhenti sebagai nasihat yang kita dengarkan lalu kita lupakan ketika meninggalkan masjid. Hendaknya masing-masing dari kita pulang membawa tekad untuk melakukan satu kebaikan yang selama ini tertunda. Tanyakan kepada diri kita: kebaikan apa yang selama ini saya tunda? Siapa yang hari ini seharusnya saya mintai maaf atau saya maafkan? Amal apa yang masih bisa saya lakukan hari ini sebelum kesempatan itu hilang? Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita,

 ﴿وَأَنفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ ۝ وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ۝﴾

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi termasuk orang-orang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila telah datang ajalnya.” (QS. al-Munāfiqūn [63]: 10–11). Ibn Kathir rahimahullah menjelaskan bahwa ketika kematian telah datang, seseorang akan menyesali kesempatan yang telah disia-siakan dan berharap diberi sedikit waktu untuk memperbaiki amalnya. Namun permintaan itu tidak akan dikabulkan, karena kesempatan beramal telah berakhir. (Ismā‘īl ibn ‘Umar ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, jilid 8, hlm. 134–135).

Hadirin yang dirahmati Allah, jangan sampai kita menjadi orang yang memiliki banyak niat baik, tetapi sedikit amal yang benar-benar dikerjakan. Sebab pada hari kiamat, waktu yang kita miliki akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah ﷺ bersabda,

 لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. al-Tirmidzi no. 2417).

Maka setelah khutbah ini, jangan hanya berkata, “Saya akan berubah.” Tentukan satu perubahan dan mulailah hari ini. Jika ada yang harus meminta maaf, lakukanlah. Jika ada yang harus bersedekah, bersedekahlah. Jika ada shalat yang selama ini kita lalaikan, perbaikilah. Jika ada Al-Qur’an yang lama tidak kita baca, bukalah hari ini. Jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk memulai kebaikan. Kita tidak membutuhkan hari yang sempurna untuk beramal; kita hanya membutuhkan kemauan untuk memulai sebelum waktu yang kita miliki benar-benar berakhir.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾

Penutup dan Renungan

Kaum muslimin yang Allah muliakan, pada akhirnya kita tidak pernah tahu kapan perjalanan hidup ini akan berakhir. Karena itu, jangan tunggu menjadi tua untuk menjadi taat, jangan tunggu kaya untuk bersedekah, jangan tunggu kehilangan untuk menghargai, dan jangan tunggu kematian datang untuk ingin beramal. Selama Allah masih memberi kita waktu, kesehatan, dan kesempatan, mari kita gunakan semuanya untuk mendekat kepada-Nya. Jangan biarkan kebaikan hanya menjadi niat dan rencana, karena bisa jadi kesempatan yang kita miliki hari ini tidak akan kita temukan lagi esok hari. Maka marilah kita pulang dari masjid ini bukan hanya dengan hati yang tersentuh, tetapi dengan satu amal yang segera kita kerjakan, satu dosa yang kita tinggalkan, dan satu kebaikan yang kita mulai. Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Dia memanjangkan umur kita dalam ketaatan, memberkahi waktu dan kesehatan kita, mengampuni dosa-dosa kita, memberi kita kekuatan untuk segera melakukan setiap kebaikan, dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah.

اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا، وَأَعِنَّا عَلَى اسْتِغْلَالِهَا فِيمَا يُرْضِيكَ.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْمُبَادَرَةَ إِلَى الْخَيْرِ، وَالْمُسَارَعَةَ إِلَى الطَّاعَةِ، وَالْمُسَابَقَةَ فِي الْخَيْرَاتِ.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُسَوِّفُونَ التَّوْبَةَ وَالطَّاعَةَ، وَيَقُولُونَ: سَنَفْعَلُ غَدًا، وَنَحْنُ لَا نَدْرِي هَلْ نَبْلُغُ الْغَدَ أَمْ لَا.

اللَّهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوبَنَا مِنْ غَفْلَةِ التَّسْوِيفِ، وَأَعِذْنَا مِنْ إِضَاعَةِ الْأَوْقَاتِ فِيمَا لَا يُرْضِيكَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً صَادِقَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَشَهَادَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى أَنْ نَغْتَنِمَ صِحَّتَنَا قَبْلَ مَرَضِنَا، وَحَيَاتَنَا قَبْلَ مَوْتِنَا، وَفَرَاغَنَا قَبْلَ شُغْلِنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَيَّامَنَا زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلْ آخِرَ أَعْمَالِنَا خَيْرَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

اللَّهُمَّ لَا تَقْبِضْ أَرْوَاحَنَا إِلَّا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا فُتِحَ لَهُمْ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْخَيْرِ بَادَرُوا إِلَيْهِ، وَإِذَا عَرَفُوا الْحَقَّ اتَّبَعُوهُ، وَإِذَا أَذْنَبُوا اسْتَغْفَرُوا وَتَابُوا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى مِنْ تَقْصِيرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا، وَاجْعَلْ مَا بَقِيَ مِنْ أَيَّامِنَا خَيْرًا مِمَّا مَضَى.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عِبَادًا صَالِحِينَ، مُسَارِعِينَ إِلَى الْخَيْرَاتِ، مُسَابِقِينَ فِي الطَّاعَاتِ، ثَابِتِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ أَعْمَالِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا سَيِّئَاتِنَا، وَتَجَاوَزْ عَنْ تَقْصِيرِنَا، وَارْحَمْنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

Oleh : Santri Darsya

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami