Daftar Isi
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْأَمْنِ وَالطُّمَأْنِينَةِ، وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْحُرِّيَّةِ وَالِاسْتِقْلَالِ، فَنَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى شُكْرِ نِعَمِهِ وَحُسْنِ اسْتِعْمَالِهَا فِي طَاعَتِهِ وَمَرْضَاتِهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَخَيْرُ مَنْ عَرَّفَنَا بِرَبِّنَا، وَخَيْرُ مَنْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نَشْكُرُ نِعَمَهُ وَكَيْفَ نَرْحَمُ عِبَادَهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، الْمُبَشِّرِ وَالنَّذِيرِ، وَالْمُعَلِّمِ وَالْقُدْوَةِ، وَالَّذِي نَرْجُو شَفَاعَتَهُ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا اتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَالِاقْتِدَاءَ بِهَدْيِهِ، وَمُرَافَقَتَهُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْوُرُودَ عَلَى حَوْضِهِ، وَنَيْلَ شَفَاعَتِهِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Di tengah perayaan kemerdekaan, ada saudara yang sedang berjuang
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita senantiasa memuji Allah Subhanahu wa Ta‘ala atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat keamanan, nikmat keluarga, dan nikmat hidup dalam suasana negeri yang merdeka. Kita bersyukur kepada-Nya karena masih diberi kesempatan untuk berkumpul di rumah-Nya pada hari yang mulia ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, pada hari-hari ini kita sedang berada dalam suasana memperingati 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Maka marilah kita sejenak tidak hanya melihat kemerdekaan sebagai sebuah perayaan, tetapi melihatnya sebagai nikmat Allah yang perlu kita renungkan maknanya.
Setiap tahun kita mengibarkan bendera, mengikuti upacara, mengadakan berbagai kegiatan, dan merasakan semarak kemerdekaan. Kita bersuka cita karena Allah telah memberikan kepada bangsa ini kesempatan untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka. Namun, di tengah kegembiraan itu, ada pemandangan yang seharusnya membuat hati kita berhenti sejenak. Di Palestina, saudara-saudara kita masih menghadapi penderitaan dan kehilangan rasa aman. Di negeri sendiri, saudara-saudara kita di NTT sedang menghadapi dampak gempa dan kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Kita sedang memperingati kemerdekaan, sementara ada manusia yang sedang merindukan keamanan. Kita masih dapat pulang ke rumah yang utuh, sementara ada saudara kita yang rumahnya telah menjadi reruntuhan. Kita masih dapat berkumpul bersama keluarga, sementara ada keluarga lain yang sedang berduka. Maka kemerdekaan seharusnya tidak hanya membuat kita bersuka cita, tetapi juga membuat kita semakin pandai bersyukur dan semakin peka terhadap penderitaan sesama.
Jamaah Jumat rahimakumullah, berita-berita itu jangan sampai hanya menjadi informasi yang kita lihat di layar HP, lalu beberapa menit kemudian kita lupakan. Jangan sampai kita terlalu sering melihat penderitaan hingga hati kita terbiasa dan tidak lagi tergerak. Justru ketika Allah memperlihatkan kepada kita saudara yang kehilangan rumah, keluarga, keamanan, dan ketenteraman, sesungguhnya Allah sedang mengingatkan kita tentang nikmat yang masih kita miliki. Kita masih aman, masih sehat, masih dapat beribadah, masih dapat berkumpul dengan keluarga, dan masih dapat menjalani kehidupan dengan tenang. Semua itu bukan sesuatu yang pantas dianggap biasa. Kemerdekaan adalah nikmat yang harus disyukuri, dan kemanusiaan adalah amanah yang harus dijaga.
Kemerdekaan adalah nikmat Allah yang harus disyukuri
Jamaah Jumat rahimakumullah, Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrāhīm [14]: 7).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa nikmat tidak cukup hanya dikenali, tetapi harus disyukuri. Kemerdekaan adalah salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada bangsa ini. Maka ketika kita mengucapkan, “Alhamdulillah, Indonesia merdeka,” jangan sampai ucapan itu berhenti di lisan. Sebab syukur yang sebenarnya bukan hanya mengatakan Alhamdulillah, tetapi menyadari bahwa ada nikmat yang Allah titipkan dan ada tanggung jawab yang mengikuti nikmat tersebut.
Dahulu para pendahulu kita berjuang dengan tenaga, harta, air mata, bahkan nyawa agar generasi setelahnya dapat hidup dalam kemerdekaan. Kini perjuangan itu berada di tangan kita. Kita mungkin tidak lagi berhadapan dengan penjajah di medan perang, tetapi kita tetap memiliki perjuangan yang tidak kalah penting: menjaga persatuan, melawan kebodohan, memerangi korupsi dan ketidakjujuran, mendidik generasi, menolong yang lemah, serta menggunakan kebebasan untuk semakin dekat kepada Allah. Kemerdekaan bukan tiket untuk hidup semaunya; kemerdekaan adalah kesempatan untuk beribadah, belajar, bekerja, berbuat baik, dan menjadi manusia yang bermanfaat. Maka semakin besar nikmat yang kita rasakan, seharusnya semakin besar pula rasa syukur dan tanggung jawab kita. Jangan sampai kita mewarisi kemerdekaan dari para pendahulu, tetapi gagal mewariskan kebaikan kepada generasi sesudah kita.
Syukur bukan hanya merayakan, tetapi menggunakan nikmat untuk kebaikan
Jamaah Jumat rahimakumullah, Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.” (QS. Saba’ [34]: 13).
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan di lisan atau rasa bahagia di dalam hati. Syukur harus diterjemahkan menjadi amal nyata. Karena itu, ketika kita merayakan kemerdekaan, jangan hanya bertanya, “Bagaimana kita memeriahkannya?” tetapi mari bertanya lebih dalam, “Apa yang sudah kita lakukan sebagai bentuk syukur atas kemerdekaan ini?” Sebab kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah kesempatan yang Allah berikan agar kita dapat beribadah, menuntut ilmu, bekerja, membangun keluarga, dan berbuat kebaikan dengan lebih leluasa.
Maka setiap orang memiliki cara untuk bersyukur. Seorang guru bersyukur dengan mengajar secara amanah, karena di tangannya ada masa depan generasi. Seorang pedagang bersyukur dengan kejujuran, karena rezeki yang halal lebih berharga daripada keuntungan yang besar tetapi tidak berkah. Seorang pejabat bersyukur dengan keadilan, bukan menggunakan jabatan untuk kepentingan diri sendiri. Seorang pemuda bersyukur dengan menjaga waktunya, mengisinya dengan ilmu, ibadah, dan karya, bukan menghabiskannya dalam kelalaian. Orang yang Allah beri harta bersyukur dengan membantu mereka yang membutuhkan. Dan setiap Muslim bersyukur dengan menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Sebab ukuran syukur bukan seberapa meriah kita merayakan kemerdekaan, tetapi seberapa banyak kebaikan yang lahir dari kemerdekaan yang kita nikmati.
Palestina: kemerdekaan membuat kita memahami arti keamanan
Jamaah Jumat rahimakumullah, ketika kita melihat berita tentang Palestina, janganlah kita hanya melihatnya sebagai sebuah konflik politik yang jauh dari kehidupan kita. Lihatlah dengan hati seorang Muslim dan seorang manusia. Di sana ada keluarga yang kehilangan rumah, anak-anak yang tumbuh dalam ketakutan, orang tua yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai, dan manusia yang hanya ingin menjalani kehidupan dengan aman di tanah kelahirannya. Sementara kita hari ini dapat tidur dengan tenang, beribadah tanpa rasa takut, berkumpul bersama keluarga, dan menjalani kehidupan dalam suasana yang relatif aman. Dari sinilah kita belajar memahami betapa mahalnya sebuah keamanan. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ
“Dan mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan untuk membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak?” (QS. An-Nisā’ [4]: 75).
Ayat ini menggugah hati kita agar tidak menjadi manusia yang hanya memikirkan keselamatan diri sendiri ketika melihat orang-orang lemah dan tertindas.
Namun, jamaah rahimakumullah, kepedulian tidak selalu harus berarti sesuatu yang besar. Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Ada yang Allah beri kelapangan harta sehingga mampu membantu. Ada yang memiliki tenaga dan kesempatan untuk terlibat dalam bantuan kemanusiaan. Ada yang memiliki ilmu dan kemampuan untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak. Dan tidak ada seorang pun yang terlalu lemah untuk berdoa. Yang paling kita khawatirkan justru bukan ketidakmampuan kita membantu dengan banyak, tetapi hilangnya rasa peduli dari dalam hati. Jangan sampai kita begitu sering melihat penderitaan hingga penderitaan itu tidak lagi menggugah perasaan. Jangan sampai air mata orang lain hanya menjadi gambar yang lewat di layar HP kita. Palestina seharusnya membuat kita semakin menghargai nikmat keamanan yang Allah berikan kepada kita, sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan yang kita rasakan semestinya melahirkan kepedulian terhadap mereka yang belum merasakan keamanan itu. Karena orang yang benar-benar bersyukur atas keselamatannya bukan hanya menikmati keselamatan itu, tetapi juga tergerak ketika melihat orang lain kehilangan keselamatan.
Jangan sampai kita terbiasa melihat penderitaan
Jamaah Jumat rahimakumullah, ada satu bahaya yang sering tidak kita sadari ketika setiap hari kita disuguhi berbagai berita tentang penderitaan manusia. Ketika pertama kali melihat rumah-rumah hancur, kita merasa sedih. Ketika melihat anak-anak menangis, hati kita tersentuh. Ketika mendengar kabar kematian, kita terdiam. Namun ketika berita yang sama datang berulang-ulang, perlahan-lahan kita terbiasa. Gambar kehancuran menjadi pemandangan biasa, tangisan menjadi suara yang biasa, dan kematian perlahan berubah menjadi sekadar angka di layar. Padahal, di balik setiap angka ada manusia, ada keluarga, ada orang tua, ada anak-anak, ada seseorang yang dicintai dan dicintai oleh orang lain. Yang perlu kita khawatirkan bukan hanya ketika mata kita melihat penderitaan, tetapi ketika hati kita sudah tidak lagi merasakannya.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.” (QS. Al-Ḥajj [22]: 46).
Jamaah rahimakumullah, mungkin kita tidak mampu menghentikan seluruh penderitaan yang terjadi di dunia, tetapi kita masih mampu menjaga agar hati kita tidak mati rasa. Ketika melihat penderitaan, doakan. Ketika mampu membantu, bantulah. Ketika tidak mampu berbuat banyak, setidaknya jangan mencibir, jangan meremehkan, dan jangan kehilangan rasa kemanusiaan. Sebab hati yang hidup akan tetap tergerak meskipun penderitaan itu datang berkali-kali. Jangan sampai kita begitu terbiasa melihat orang lain kehilangan rumah, sementara kita lupa mensyukuri rumah yang masih kita miliki; jangan sampai kita terbiasa melihat orang lain kehilangan keamanan, sementara kita lupa bahwa keamanan yang kita rasakan adalah nikmat Allah yang luar biasa.
NTT: musibah saudara kita mengajarkan arti nikmat yang sering kita lupakan
Jamaah Jumat rahimakumullah, gempa yang mengguncang Flores, NTT, mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia begitu rapuh dan nikmat yang kita miliki sering kali baru terasa berharga ketika orang lain kehilangannya. Ketika kita pulang ke rumah dan rumah itu masih berdiri, itu nikmat. Ketika malam tiba dan kita dapat tidur dengan aman, itu nikmat. Ketika kita masih bisa duduk bersama keluarga, mendengar suara orang tua, melihat anak-anak tumbuh, dan bangun pagi dalam keadaan sehat, semuanya adalah nikmat Allah yang sering kita anggap biasa. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155).
Maka musibah yang menimpa saudara-saudara kita di NTT bukan alasan bagi kita untuk merasa lebih beruntung, tetapi menjadi panggilan untuk lebih bersyukur, lebih peduli, dan jika Allah memberikan kemampuan, lebih banyak membantu. Sebab salah satu cara terbaik mensyukuri keselamatan yang Allah berikan kepada kita adalah dengan hadir bagi mereka yang sedang kehilangan keselamatan.
Kemerdekaan: Kesempatan untuk Taat dan Menjadi Manfaat
Jamaah Jumat rahimakumullah, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, jangan sampai kita memahaminya hanya sebagai bebas dari penjajahan. Bagi seorang Muslim, kemerdekaan adalah kesempatan untuk menggunakan kebebasan yang Allah berikan untuk melakukan kebaikan. Kita dapat beribadah dengan aman, menuntut ilmu, membangun keluarga, bekerja dengan tenang, berdakwah, membantu sesama, dan memberikan kontribusi bagi negeri. Tetapi di sinilah kita perlu jujur kepada diri sendiri: apakah kemerdekaan yang kita nikmati membuat kita semakin dekat kepada Allah, atau justru memberi kita lebih banyak kesempatan untuk lalai? Apakah kebebasan membuat kita semakin peduli kepada masyarakat, atau justru semakin sibuk dengan urusan diri sendiri? Sebab kebebasan yang hanya digunakan untuk mengejar kesenangan, tanpa membuat kita semakin taat dan bermanfaat, pada hakikatnya belum menunjukkan bahwa kita telah memahami makna kemerdekaan.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. At-Takāṡur [102]: 8).
Maka jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah diberikan negeri ini kepada saya?” tetapi tanyakan pula, “Apa yang sudah saya berikan kepada negeri ini?” Jangan hanya bertanya, “Mengapa bangsa ini belum menjadi lebih baik?” tetapi tanyakan, “Sudahkah saya menjadi bagian dari kebaikan itu?” Kemerdekaan bukan sekadar warisan yang kita nikmati, tetapi amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, mari kita isi kemerdekaan dengan iman yang kokoh, ilmu yang bermanfaat, kejujuran, kepedulian, persatuan, dan amal nyata. Sebab kemerdekaan akan benar-benar bermakna ketika orang-orang yang menikmatinya menjadi manusia yang semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.
Pertanyaan yang perlu dibawa pulang
Jamaah Jumat rahimakumullah, sebelum khutbah pertama ini kita akhiri, marilah kita membawa pulang beberapa pertanyaan untuk kita renungkan, bukan hanya dengan pikiran, tetapi dengan hati. Ketika mendengar berita tentang Palestina, apakah hati kita masih peduli? Ketika melihat saudara-saudara kita di NTT tertimpa musibah, apakah kita semakin pandai bersyukur atas nikmat keselamatan yang Allah berikan? Dan setelah menikmati 81 tahun kemerdekaan Indonesia, apakah kita semakin sadar bahwa kemerdekaan adalah amanah? Para pendahulu kita dahulu mempertaruhkan tenaga, harta, bahkan nyawa agar generasi setelahnya dapat hidup dalam kemerdekaan. Kini kemerdekaan itu sampai kepada kita. Maka jangan sampai kita hanya mewarisi hasil perjuangan mereka, tetapi kehilangan semangat pengorbanan, persatuan, dan tanggung jawab yang mereka miliki. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan kebaikan sebelum suatu hari nanti kita ditanya: apa yang telah kita lakukan dengan nikmat kemerdekaan yang Allah titipkan kepada kita?
Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita jaga hati kita agar tetap peka, lisan kita agar tetap baik, dan langkah kita agar selalu berada dalam kebaikan. Semoga apa yang kita dengar hari ini tidak berhenti di telinga, tetapi mengetuk hati dan mengubah amal kita.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾
Kemerdekaan yang Menguatkan Kepedulian
Jamaah Jumat rahimakumullah, ukhuwah bukan sekadar slogan, tetapi harus terlihat ketika saudara kita membutuhkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Muslim no. 2586).
Jika satu bagian tubuh sakit, bagian lainnya ikut merasakan. Karena itu, kemerdekaan seharusnya semakin menguatkan persatuan, gotong royong, dan kepedulian kita. Syukur atas kemerdekaan bukan hanya dengan merayakannya, tetapi dengan menggunakan nikmat keamanan untuk berbuat baik, membantu yang membutuhkan, dan menjadi manusia yang bermanfaat.
Jamaah Jumat rahimakumullah, ada tiga hal yang perlu kita bawa pulang: bersyukur atas nikmat yang masih kita miliki, peduli kepada saudara yang sedang tertimpa musibah, dan berusaha menjadi manusia yang bermanfaat. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699). Mungkin kita tidak mampu melakukan banyak hal, tetapi kita masih bisa berdoa, bersedekah, membantu, dan menjaga kepedulian. Jangan hanya bertanya, “Siapa yang akan membantu mereka?” tetapi tanyakan, “Apa yang bisa saya lakukan?”
Jamaah Jumat rahimakumullah, hari ini kita masih bisa beribadah dengan aman, berkumpul bersama keluarga, bekerja, belajar, dan tidur di rumah tanpa rasa takut. Semua itu adalah nikmat Allah. Maka jangan sampai kita sibuk merayakan kemerdekaan tetapi lupa mensyukurinya, menikmati keamanan tetapi lupa kepada mereka yang kehilangan keamanan. Para pendahulu telah berjuang agar kita menikmati kemerdekaan. Kini tugas kita mengisinya dengan iman, ilmu, kejujuran, persatuan, dan kepedulian. Jadikan kemerdekaan sebagai amanah yang kita tunaikan, dan jadikan kemanusiaan sebagai kebaikan yang kita buktikan. Semoga Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina, menguatkan korban bencana di NTT, dan menjaga Indonesia dengan keamanan, persatuan, keadilan, serta keberkahan.
اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا وَأَهْلَهَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَمَكْرُوهٍ، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَارْزُقْ أَهْلَهَا الْأَمْنَ وَالْأَمَانَ وَالسَّكِينَةَ وَالطُّمَأْنِينَةَ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي إِنْدُونِيسِيَا وَفِي أَرْضِهَا وَمِيَاهِهَا وَمَوَارِدِهَا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا نِعَمَكَ وَخَيْرَاتِكَ، وَاصْرِفْ عَنْهَا الْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْمَصَائِبَ وَالْكَوَارِثَ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فِلَسْطِينَ، اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ، وَآمِنْ خَوْفَهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاكْسُ عَارِيَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَاحْفَظْ أَطْفَالَهُمْ وَنِسَاءَهُمْ وَضُعَفَاءَهُمْ.
اللَّهُمَّ فَرِّجْ كُرْبَتَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاكْشِفْ ضُرَّهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ أَمْرِهِمْ فَرَجًا وَمَخْرَجًا، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ سَكِينَتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَنَصْرَكَ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيزُ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِينَ أَصَابَتْهُمُ الْمُصِيبَةُ فِي نُوسَا تِنْغَارَا الشَّرْقِيَّةِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ مَنْ تُوُفِّيَ مِنْهُمْ، وَاشْفِ الْمَصَابِينَ وَالْمَرْضَى، وَاحْفَظِ الْمُهَجَّرِينَ وَالْمُتَضَرِّرِينَ، وَآوِ مَنْ فَقَدَ مَسْكَنَهُ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوبِ مَنْ فَقَدَ أَهْلَهُ وَأَحِبَّتَهُ.
اللَّهُمَّ عَوِّضْهُمْ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوا، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَخَفِّفْ مُصَابَهُمْ، وَارْزُقْهُمُ الصَّبْرَ وَالثَّبَاتَ، وَسَخِّرْ لَهُمْ مَنْ يُعِينُهُمْ وَيُغِيثُهُمْ وَيَقِفُ مَعَهُمْ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَصَائِبِ، وَاحْفَظْ أَهْلَهَا، وَأَدِمْ عَلَيْنَا نِعْمَةَ الْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، قَائِمِينَ بِحُقُوقِ عِبَادِكَ، نَافِعِينَ لِدِينِنَا وَمُجْتَمَعِنَا وَبَلَدِنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا أُمَّةً مُتَرَاحِمَةً، مُتَعَاوِنَةً، مُتَكَافِلَةً، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا قَدَرَ غَفَرَ، وَإِذَا رَأَى مُصَابًا أَعَانَ وَرَحِمَ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ دُعَاءَنَا، وَارْحَمْ ضَعْفَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَاجْبُرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْخَيْرِ، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْمُجِيبُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Oleh : Santri Darsya




