BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatKorupsi yang Tidak Pernah Masuk Berita

Korupsi yang Tidak Pernah Masuk Berita

- Advertisement -spot_img

Dosa-dosa kecil yang justru akrab dalam kehidupan sehari-hari.

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا شَرَعَ لَنَا مِنْ حِفْظِ الْأَمَانَاتِ، وَتَحْرِيمِ الْخِيَانَةِ وَالْغُلُولِ وَأَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ، فَهُوَ سُبْحَانَهُ يُحِبُّ الْأُمَنَاءَ، وَيُبْغِضُ الْخَائِنِينَ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِينُ، الَّذِي ضَرَبَ أَعْظَمَ الْأَمْثِلَةِ فِي الْأَمَانَةِ وَالنَّزَاهَةِ وَالْوَفَاءِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الْأَمِينِ الْمَأْمُونِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ، وَهِيَ سَبِيلُ النَّجَاةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

وَقَالَ سُبْحَانَهُ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

Mukadimah

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullāh

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah melimpahkan kepada kita nikmat yang tak terhingga; nikmat iman yang meneguhkan hati, nikmat Islam yang membimbing langkah, nikmat kesehatan yang memungkinkan kita hadir memenuhi panggilan-Nya, serta nikmat amanah yang Allah titipkan kepada setiap insan dalam berbagai bentuk kehidupan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muḥammad ﷺ, sosok yang sejak sebelum diangkat menjadi rasul telah dikenal dengan gelar Al-Amīn karena kejujuran dan amanahnya, sehingga beliau menjadi teladan sepanjang zaman bagi setiap muslim. Oleh karena itu, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebab, ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam kejujuran, integritas, dan kesungguhan menjaga setiap amanah, sekecil apa pun, karena di hadapan Allah tidak ada satu pun pengkhianatan yang luput dari perhitungan-Nya.

Jamaah Jumat rahimakumullāh

Ketika mendengar kata korupsi, kebanyakan dari kita segera membayangkan kasus-kasus besar yang menghiasi pemberitaan: pejabat yang menyalahgunakan jabatan, uang negara yang raib hingga miliaran rupiah, atau berbagai skandal yang merugikan masyarakat luas. Akibatnya, kita merasa bahwa korupsi adalah dosa yang jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Padahal, Islam mengajarkan bahwa korupsi tidak selalu dimulai dari angka yang besar, tetapi berawal dari pengkhianatan terhadap amanah yang dianggap remeh. Mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengurangi tanggung jawab tetapi tetap menuntut hak secara utuh, memanfaatkan fasilitas umum untuk kepentingan pribadi, hingga bersikap tidak jujur dalam pekerjaan adalah benih-benih korupsi yang sering kali dianggap lumrah. Mungkin perbuatan-perbuatan itu tidak pernah menjadi berita utama, tidak diproses di pengadilan, bahkan tidak mendapat sorotan manusia. Namun ketahuilah, setiap amanah yang dikhianati tetap tercatat oleh malaikat, diketahui oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban pada hari ketika tidak ada lagi sesuatu yang dapat disembunyikan.

 

Korupsi Tidak Selalu Berupa Uang Negara

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Islam memandang korupsi dengan cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar menggelapkan uang negara atau menyalahgunakan jabatan publik. Setiap bentuk pengkhianatan terhadap amanah adalah bibit korupsi yang harus diwaspadai. Datang terlambat namun tetap mengisi absensi seolah-olah hadir tepat waktu, menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, mengurangi jam kerja tanpa alasan yang dibenarkan, mengambil barang milik bersama tanpa izin, memanipulasi laporan, berjualan ketika seharusnya bekerja, mengurangi timbangan dalam berdagang, atau menjalankan tugas dengan asal-asalan meskipun menerima gaji secara penuh, semuanya mungkin terlihat sebagai pelanggaran kecil di mata manusia. Bahkan, sebagian orang menganggapnya sebagai hal yang lumrah karena “semua orang juga melakukannya”. Padahal, jika dicermati, semua perbuatan tersebut memiliki akar yang sama, yaitu mengambil sesuatu yang bukan haknya atau tidak menunaikan kewajiban sebagaimana mestinya.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak mengkhianati amanah. Allah berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Anfāl [8]: 27).

Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada para pemimpin atau pejabat, tetapi kepada setiap mukmin tanpa terkecuali. Sebab, amanah hadir dalam setiap aspek kehidupan: sebagai pegawai, pedagang, guru, pelajar, orang tua, bahkan sebagai tetangga dan anggota masyarakat. Maka, sebelum kita mengecam korupsi yang terjadi di ruang-ruang kekuasaan, marilah terlebih dahulu memastikan bahwa tidak ada pengkhianatan terhadap amanah yang masih kita pelihara dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya, korupsi yang besar hampir selalu berawal dari kebiasaan menganggap remeh pengkhianatan yang kecil.

Dosa Kecil yang Dianggap Biasa Lama-lama Menjadi Budaya

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah

Salah satu sebab mengapa kemungkaran terus tumbuh adalah karena manusia mulai kehilangan rasa bersalah terhadap dosa-dosa kecil. Kalimat-kalimat seperti, “Semua orang juga begitu”, “Cuma sedikit, tidak akan berpengaruh”, atau “Tidak ada yang tahu”, perlahan berubah menjadi pembenaran atas perbuatan yang sebenarnya dilarang. Padahal, kerusakan besar dalam masyarakat hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang, diwariskan, lalu dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Ketika ketidakjujuran dipandang sebagai kecerdikan, ketika pelanggaran dianggap sebagai hal biasa, dan ketika amanah mulai diabaikan tanpa rasa takut kepada Allah, saat itulah benih-benih korupsi sedang ditanam dalam kehidupan kita.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan umatnya agar tidak meremehkan dosa sekecil apa pun. Beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ …

“Jauhilah dosa-dosa yang dianggap remeh…” (HR. Aḥmad, no. 22808; dinilai hasan oleh Al-Albānī dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘, no. 2686).

Peringatan ini mengajarkan bahwa dosa-dosa kecil yang terus dilakukan tanpa taubat akan berkumpul hingga membinasakan pelakunya, sebagaimana ranting-ranting kecil yang terkumpul akhirnya mampu menyalakan api yang besar. Demikian pula korupsi dalam skala besar hampir selalu berawal dari pelanggaran yang dianggap sepele, dari kebohongan yang dimaafkan, dari amanah yang diabaikan, dan dari hati yang semakin kebal terhadap rasa takut kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Maka jangan pernah meremehkan dosa kecil, karena bisa jadi itulah pintu yang mengantarkan seseorang kepada dosa yang jauh lebih besar.

Korupsi Berawal dari Hilangnya Amanah

Hadirin yang dirahmati Allah

Jika kita telusuri lebih dalam, sesungguhnya akar dari setiap bentuk korupsi adalah hilangnya sifat amanah dalam diri seseorang. Islam tidak membatasi amanah hanya pada urusan harta atau uang semata. Waktu yang Allah berikan adalah amanah, jabatan yang diemban adalah amanah, ilmu yang dimiliki adalah amanah, pekerjaan yang menjadi sumber penghidupan adalah amanah, bahkan kepercayaan yang diberikan oleh orang lain juga merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika amanah tidak lagi dipandang sebagai ibadah, melainkan sekadar beban atau kesempatan untuk mencari keuntungan pribadi, saat itulah pintu-pintu pengkhianatan mulai terbuka. Sebaliknya, jika setiap muslim menyadari bahwa seluruh amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, niscaya ia akan berhati-hati dalam setiap perkataan, keputusan, dan tindakannya.

Rasulullah ﷺ menegaskan eratnya hubungan antara iman dan amanah melalui sabdanya,

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

“Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki amanah.” (HR. Aḥmad, no. 12567; dinilai hasan oleh para ulama).

Karena itu, menjaga amanah bukan sekadar etika sosial, tetapi merupakan cerminan kualitas keimanan seorang mukmin. Al-Imām Ibnul Qayyim raḥimahullāh bahkan menegaskan,

أَصْلُ الدِّينِ الصِّدْقُ وَالْأَمَانَةُ

“Pangkal seluruh agama adalah kejujuran dan amanah.” (Madārij as-Sālikīn, Jilid 2, hlm. 293).

Betapa dalam makna nasihat ini. Sebab, kejujuran melahirkan kepercayaan, amanah melahirkan keberkahan, sedangkan pengkhianatan hanya akan melahirkan kerusakan, baik dalam diri seseorang, keluarganya, maupun kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Maka, sebelum kita berharap lahir pemimpin yang bersih, marilah kita mulai dengan menjadi pribadi yang amanah dalam setiap tanggung jawab yang Allah titipkan kepada kita.

Muhasabah: Jangan Menunggu Menjadi Koruptor Besar

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan-Nya

Di penghujung renungan ini, marilah kita berhenti sejenak untuk bermuhasabah. Janganlah kita terlalu sibuk menyoroti korupsi yang dilakukan orang lain, sementara kita lalai mengoreksi diri sendiri. Tanyakanlah dengan jujur kepada hati kita: pernahkah kita mencuri waktu kerja dengan bermalas-malasan atau sengaja mengulur-ulur pekerjaan? Pernahkah kita menggunakan fasilitas kantor, masjid, sekolah, atau milik bersama untuk kepentingan pribadi tanpa izin? Pernahkah kita mengurangi kualitas pekerjaan, tetapi tetap mengharapkan upah yang penuh? Sudahkah kita mendidik anak-anak untuk berlaku jujur dalam hal-hal kecil, seperti mengembalikan barang pinjaman, berkata apa adanya, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya? Sudahkah kita membiasakan diri meminta izin sebelum menggunakan milik orang lain, meskipun nilainya tampak sepele? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin sederhana, tetapi darinya kita dapat mengukur sejauh mana amanah masih hidup di dalam hati kita.

Sesungguhnya perubahan tidak selalu dimulai dari ruang-ruang kekuasaan, melainkan dari ruang-ruang kehidupan yang paling dekat dengan kita. Bangsa yang bersih tidak pertama kali dibangun di gedung-gedung pemerintahan, tetapi dibangun dari hati yang takut kepada Allah, dari keluarga yang menanamkan kejujuran, dari sekolah yang mendidik integritas, dari masjid yang menghidupkan ketakwaan, dari pasar yang menjunjung keadilan, dan dari tempat kerja yang dipenuhi rasa tanggung jawab. Jika setiap individu menjaga amanah dalam perkara-perkara kecil, insya Allah akan lahir masyarakat yang bersih, dan dari masyarakat yang bersih akan lahir pemimpin-pemimpin yang jujur. Sebab, sebesar apa pun cita-cita memberantas korupsi, ia tidak akan pernah terwujud selama setiap orang masih menganggap remeh pengkhianatan terhadap amanah dalam kehidupan sehari-hari.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾

أَعَاذَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفَسَادِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ، وَوَفَّقَنَا لِمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ.

Penutup

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Sebagai penutup khutbah ini, marilah kita mengingat bahwa korupsi bukan hanya tentang uang miliaran rupiah atau penyalahgunaan jabatan. Korupsi adalah setiap bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang Allah titipkan kepada kita. Jangan pernah meremehkan dosa-dosa kecil, karena kebiasaan mengabaikan amanah akan melahirkan kerusakan yang lebih besar. Jika kita menginginkan masyarakat dan bangsa yang bersih, maka mulailah dari diri sendiri dengan membiasakan kejujuran dalam setiap perkataan, pekerjaan, dan tanggung jawab yang kita emban.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا﴾

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 58).

Marilah kita menjadi hamba-hamba Allah yang menjaga amanah dalam setiap urusan, sekecil apa pun bentuknya. Sebab, dari pribadi-pribadi yang jujur akan lahir keluarga yang baik, masyarakat yang kuat, dan insya Allah bangsa yang diberkahi oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا صَادِقَةً، وَأَلْسِنَتَنَا صَادِقَةً، وَأَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَارْزُقْنَا الصِّدْقَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ وَالنِّيَّةِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ، فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ كُلِّ صُورِ الْغِشِّ وَالظُّلْمِ وَأَكْلِ الْحَرَامِ.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى أَدَاءِ الْأَمَانَاتِ، وَوَفِّقْنَا لِحِفْظِهَا صَغِيرِهَا وَكَبِيرِهَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ الصَّادِقِينَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَنْفُسَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا، وَأَصْلِحْ ذُرِّيَّاتِنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَأَصْلِحْ بِلَادَنَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، يَسُودُهُ الصِّدْقُ وَالْأَمَانَةُ وَالتَّقْوَى، إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Oleh : Santri Darsya

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami