Daftar Isi
Boyolali — Suasana penuh haru, syukur, dan kebanggaan menyelimuti halaman Masjid Baitul Makmur Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah, Gunungmadu, Kedunglengkong, Simo, Boyolali, Ahad (28/6/2026). Sebanyak 356 santri dan santriwati resmi diwisuda dalam sebuah prosesi yang bukan sekadar menjadi penutup masa belajar di pesantren, tetapi juga menjadi awal perjalanan panjang mengemban amanah dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada umat.
Wisuda tahun ini diikuti oleh 187 wisudawan dan 169 wisudawati yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, yaitu KMI Angkatan ke-29, KMT ke-5, STI ke-5, DID A ke-24, DID B ke-5 untuk putra, serta KMA Angkatan ke-16, KMT ke-4, dan DID ke-17 untuk putri.
Acara yang berlangsung sejak pukul 07.00 WIB hingga menjelang Zhuhur tersebut dihadiri oleh seluruh wisudawan dan wisudawati beserta orang tua, keluarga besar Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah, para asatidz, karyawan, tokoh masyarakat, serta tamu undangan.
Prosesi wisuda dipandu dengan khidmat oleh Ustadz Ihsanul Amal Ar-Rifa’i dan Ustadz Nufail Faris. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Abdullah Yasir, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah air, kemudian Mars Darusy Syahadah yang membangkitkan semangat perjuangan seluruh civitas pesantren.

Wisuda sebagai Penguat Langkah Pengabdian
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Yasmin Utama Surakarta, KH. Mustaqim Safar, menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus apresiasi kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Darusy Syahadah.
Beliau menjelaskan bahwa kehadiran para wali santri dalam prosesi wisuda bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, tetapi menjadi bagian penting untuk memperkuat dukungan dan doa bagi para alumni yang akan memasuki fase baru dalam kehidupan mereka.
Menurut beliau, pendidikan merupakan fondasi utama kemajuan sebuah bangsa. Banyak tokoh dunia menyatakan bahwa apabila ingin melemahkan suatu bangsa, maka rusaklah terlebih dahulu sistem pendidikannya. Oleh karena itu, Darusy Syahadah terus berupaya menjadi ladang pengabdian yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat serta bangsa Indonesia.

Menyiapkan Generasi Ulama dan Penghafal Al-Qur’an
Direktur Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah, Ustadz Qosdi Ridwanullah, dalam sambutannya kembali menegaskan visi dan misi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berkomitmen melahirkan kader-kader dakwah, pendidik, serta pemimpin umat yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Beliau juga menyampaikan perkembangan terbaru pesantren, yakni rencana pembukaan program Tahfizh tingkat SLTP sebagai salah satu bentuk komitmen Darusy Syahadah dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an sejak usia dini.
Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa Darusy Syahadah siap melanjutkan estafet perjuangan para ulama dan pahlawan Nusantara yang telah berkontribusi besar dalam menjaga agama sekaligus membangun bangsa melalui jalur pendidikan.
Apresiasi Pemerintah untuk Peran Pesantren
Mewakili Pemerintah Kabupaten Boyolali, Bapak Sutanto, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah atas dedikasinya dalam mencetak generasi muslim yang berilmu dan berakhlak.
Beliau berpesan agar para alumni senantiasa menjaga akhlak mulia, menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, serta menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat di tengah masyarakat.
Menurutnya, generasi santri memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga moral bangsa sekaligus menjadi garda terdepan dalam merawat persatuan dan nilai-nilai keislaman di Indonesia.
Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara para tokoh masyarakat, pengurus yayasan, dan pimpinan pesantren sebagai simbol sinergi dalam membangun pendidikan Islam.
Khutbah Wada’: Wisuda Bukan Garis Akhir
Momentum yang paling dinanti dalam rangkaian wisuda adalah penyampaian mau’izhah hasanah atau khutbah wada’ oleh Dr. KH. Farid Ahmad Okbah, Lc., M.A.
Beliau menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis akhir dari proses belajar, melainkan titik awal perjalanan yang sesungguhnya dalam mengabdi kepada agama.
Beliau menjelaskan bahwa tradisi pendidikan pesantren memiliki akar sejarah yang panjang sejak masa Rasulullah ﷺ melalui Ahlush Shuffah, yaitu para sahabat yang mengkhususkan diri menuntut ilmu dan berdakwah.
Beliau juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah pesantren terbanyak di dunia. Hal tersebut merupakan nikmat besar sekaligus amanah yang harus dijaga karena tantangan dakwah di masa depan juga semakin kompleks. Oleh sebab itu, pesantren tetap menjadi benteng terkuat umat Islam di Indonesia.
Dalam nasihatnya, beliau mengutip penjelasan Imam As-Safarani rahimahullah dalam kitab Ghidhā’ al-Albāb fī Syarḥ Manẓūmat al-Ādāb mengenai lima benteng yang menjaga agama seorang mukmin.
Benteng pertama adalah keimanan yang diibaratkan sebagai benteng emas.
Benteng kedua adalah keikhlasan yang laksana benteng perak.
Benteng ketiga adalah syariat Islam sebagai benteng besi.
Benteng keempat adalah sunnah Nabi sebagai benteng batu.
Sedangkan benteng kelima adalah akhlak mulia yang diibaratkan sebagai benteng tanah.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa setan akan berusaha merusak lima benteng tersebut secara bertahap, dimulai dari yang paling luar, yaitu merusak akhlak seseorang. Ketika akhlak telah rusak, seseorang akan mudah meninggalkan sunnah Nabi, kemudian meremehkan syariat Islam, kehilangan keikhlasan hingga seluruh amalnya dipenuhi keinginan mencari pujian manusia, dan pada akhirnya keimanan pun dapat melemah bahkan hilang dari dalam hati.
Nasihat tersebut menjadi bekal berharga bagi para wisudawan agar tetap istiqamah menjaga agama di tengah berbagai tantangan kehidupan.
Pesan Perpisahan yang Mengharukan
Suasana haru semakin terasa ketika perwakilan wisudawan, Usamah Al-Qoida, menyampaikan pesan dan kesan mewakili seluruh alumni.
Dengan penuh rasa syukur, ia mengucapkan terima kasih kepada para asatidz yang selama bertahun-tahun membimbing, mendidik, dan membersamai para santri.
Ia juga mengenang berbagai kisah perjuangan selama tinggal di pesantren, mulai dari suka dan duka kehidupan santri hingga rasa rindu kepada keluarga yang menjadi bagian dari proses pendidikan.
Kepada para orang tua, ia menyampaikan ungkapan terima kasih atas doa, pengorbanan, dan kesabaran selama mempercayakan pendidikan putra-putrinya di Darusy Syahadah.
Sementara kepada seluruh teman seperjuangan, ia berpesan agar tidak pernah merasa selesai belajar. Menurutnya, kemuliaan seorang santri tidak diukur dari gelar yang dimiliki, tetapi dari akhlak, adab, serta manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Nasihat Orang Tua: Jadikan Hidup sebagai Madrasah
Mewakili seluruh wali santri, Bapak Husni Rijal menyampaikan rasa syukur sekaligus permohonan maaf kepada seluruh guru dan pengurus pesantren atas segala kekurangan selama proses pendidikan putra-putri mereka.
Beliau mengutip nasihat Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:
حَيَاةُ الْفَتَى وَاللَّهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى، إِذَا لَمْ يَكُونَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
“Demi Allah, kemuliaan hidup seorang pemuda bertumpu pada ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada pada dirinya, maka dirinya tidak memiliki kemuliaan yang patut dibanggakan.”
Beliau kemudian memberikan tiga pesan mendalam kepada seluruh alumni.
Pertama, siapa pun yang ditemui hendaknya dijadikan sebagai guru; jika melihat kebaikan maka ambillah teladannya, sedangkan jika melihat keburukan jadikan sebagai pelajaran agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama.
Kedua, di mana pun berada, jadikan tempat tersebut sebagai sekolah karena proses belajar tidak pernah berhenti.
Ketiga, setiap persoalan hidup hendaknya dipandang sebagai materi pembelajaran agar seseorang terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Meneguhkan Komitmen Alumni
Sebagai bentuk kesiapan mengemban amanah, seluruh wisudawan mengikuti pembacaan ikrar alumni yang dipandu oleh Ustadz Muhammad Imron. Ikrar tersebut menjadi komitmen bersama untuk menjaga keistiqamahan, membawa nama baik almamater, serta terus berkontribusi dalam dakwah dan pendidikan di tengah masyarakat.
Selanjutnya, Wakil Direktur Bidang Kependidikan, Ustadz Zaid Abdul Lathif, membacakan berbagai prestasi yang berhasil diraih para santri selama menempuh pendidikan di Darusy Syahadah. Beliau berharap capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan semangat belajar di masa mendatang.
Beliau juga memohon doa dan dukungan dari seluruh orang tua menjelang masa penugasan para alumni agar mereka diberi kemudahan dalam menjalankan amanah dakwah dan pengabdian.
Rangkaian wisuda kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr. KH. Farid Ahmad Okbah, Lc., M.A., memohon keberkahan ilmu, keistiqamahan, dan keselamatan bagi seluruh alumni dalam mengarungi kehidupan setelah meninggalkan bangku pesantren.
Setelah prosesi resmi berakhir, setiap wisudawan dan wisudawati mengabadikan momen bersama wali kelas masing-masing sebagai kenang-kenangan atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Suasana haru semakin terasa ketika para tamu undangan, orang tua, asatidz, dan seluruh alumni saling berjabat tangan, berpamitan, dan memohon doa.
Air mata bahagia, senyum penuh syukur, serta pelukan hangat antara guru, orang tua, dan santri menjadi penutup indah prosesi wisuda tahun ini.
Wisuda bukanlah akhir perjalanan. Dari halaman Masjid Baitul Makmur inilah lahir ratusan alumni Darusy Syahadah yang siap melangkah ke tengah masyarakat, membawa cahaya ilmu, menjaga akhlak, menebarkan dakwah, dan melanjutkan estafet perjuangan Islam demi kemaslahatan umat dan bangsa.




