BerandaKultumMemperkuat Iman: Langkah Awal Menuju Surga

Memperkuat Iman: Langkah Awal Menuju Surga

- Advertisement -spot_img

Oleh: Muhammad Basyir Abdul Majid

(Mahasantri Ma’had Aly Ta’hil Al-Mudarrisin Darusy Syahadah, Semester 2)

Silakan klik Santri Darsya untuk men-download artikel kultum berikut.

 

Jama’ah salat tarawih rahimakumullah…

Dalam satu kesempatan Rasulullah ﷺ pernah mengabarkan akan suatu peristiwa yang sangat mengguncangkan dunia kafir kala itu, beliau menceritakan dalam satu malam beliau diperjalankan oleh Allah ﷻ pergi menuju Baitul Maqdis, Palestina hingga kemudian naik ke Sidratul Muntaha peristiwa ini di kemudian hari dikenal sebagai Isra’ Mi’raj. Hal ini menimbulkan respon negatif para manusia di masa itu mulai dari Kafir Quraisy sampai Kaum Muslimin sendiri. Beberapa menghujat Rasulullah ﷺ, mengoloknya sebagai orang gila bahkan ada yang memilih untuk kembali pada kekufuran.

Akan tetapi respon negatif semacam itu tak didapati pada pribadi Abu Bakar yang luhur. Ia dengan penuh kesadaran dan senang hati mengimani dan membenarkan peristiwa ini sedari awal kabar itu terdengar olehnya. Dengan demikian gelar ash-shidiq disematkan pada pribadi Abu Bakar, membuatnya menjadi seorang yang pertama dan paling utama setelah Baginda Rasulullah.

Mungkin kita tak menyadari bahwa kisah di atas menyiratkan akan keimanan yang dapat melompat melewati batas-batas akal sehat. Yang dengannya Abu Bakar senang hati akan melawan meski satu dunia menjadi musuh baginya. Yang dengannya Abu Bakar mengungguli keutamaan infak Utsman bin Affan. Yang dengannya Abu Bakar mengungguli keutamaan keberanian Umar bin Khattab.

Jangan kita anggap hal ini hanyalah sepele, kita dihadapkan akan keutamaan infaq Utsman bin Affan. Seorang konglomerat pada masa itu, menguasai satu, dua, bahkan lebih, dari jalur perdagangan internasional. Mobil yang menurut kita sangat mahal dengan harga selangit, motor dengan seri terbaru dari perusahan raksasa, gadget dengan teknologi terbaru, memiliki semua hal tersebut hanyalah semudah membalikkan telapak tangan bagi Utsman.

Jama’ah salat tarawih rahimakumullah…

Apakah ada bukti kekayaan Utsman bin Affan hingga sekarang? Bukankah dikatakan ia adalah orang yang terlampau kaya? Jawabannya adalah ada, ketika kita mencari tau tentang sumur Utsman di google atau pencarian media apapun maka akan kita dapati bahwa hartanya masih terus bertambah hingga detik dimana saya menyampaikannya.

Akan tetapi, yang menjadi pembahasan menariknya adalah infaq seorang Utsman bin Affan sang konglomerat arab yang disandingkan oleh Abdurahman bin Auf, dapat diungguli dengan cahaya keimanan Abu Bakar. Cahaya keimanan ini juga dapat bersinar lebih terang dari keberanian Umar bin Khattab, para hadirin ketika sudah pasti sering mendengar kisah keberanian Umar, seorang jawara gulat arab, seorang yang dengan lantang menyatakan keisalamannya di hadapan para pemuka Kafir Quraisy.

Di hari ketika Umat Islam memutuskan untuk berhijrah ke Yastrib (dikenal Madinah sekarang) dengan sembunyi-sembunyi, Umar bin Khattab dengan Membawa pedang di tangan kanan sembari berucap “Siapa yang ingin istrinya menjanda, anaknya yatim piatu maka temui aku di balik bukit ini.”

Jama’ah salat tarawih rahimakumullah…

Jika kita menilik ke pribadi Abu Bakar maka sungguh akan kita dapati sebuah keimanan yang bersinar lebih terang dari mentari, lebih luas dari lautan, lebih kokoh dari gugusan pegunungan. Maka kita dapati sebuah garis besar bahwa tidak harus kaya untuk menjadi mulia, tidak harus jagoan untuk menajdi mulia, ini hanyalah masalah di dalam hati kita sebuah permata yang dapat kita poles hingga terang, keimanan yang nyata.

Maka dari itu marilah kita mulai bercermin dan menata diri  untuk diri kita sendiri memikirkan akankah kita lewatkan kesempatan ini dimana menjadi yang utama nan mulia tanpa harta, tanpa harus jagoan.

Di kesempatan lain Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ, يَزِيْدُ بِاالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِاالمَعَاصِى

Artinya: “Keimanan itu dapat bertambah serta berkurang, ia akan bertambah dengan ketaatan dan ia akan berkurang dengan kemaksiatan.”

Poin pertama untuk menjadikan permata diri kita ini bersinar terang adalah menambah ketaatan kita, kita mulai dari yang paling sederhana berupa menjalankan perintah Allah dan RasulNya, sholat 5 waktu kita jaga, puasa ramadhan kita jalani sepenuhnya 30 hari atau 29, zakat kita tunaikan bagi yang berkecukupan, dan haji bagi yang mampu. Ketika kita telah berhasil menjalankan segala perintahNya maka dilanjutkan dengan menjauhi larangannya seperti ghibah kita jauhi, iri dengki kita berlindung atasnya, dan berbagai macam jenis maksiat yang jangan sampai kita terjatuh padanya.

Dalam tafsiran lain termasuk yang mengurangi keimanan adalah meninggalkan amalan-amalan sholeh yang biasanya dikerjakan oleh hamba. Sebagai permisalan adalah seorang hamba yang selalu mendirikan malam² nya dengan tahajud di setiap hari, akan tetapi datang suatu hari ia tak melakukan apa yang telah menjadi rutinitasnya maka saat itu juga dapat diartikan keimanan orang tersebut sedang berkurang. Atau seorang yang terbiasa  menyempatkan berdzikir setelah sholat barang hanya 2-3 menit akan tetapi di situasi lain ia tak sempat untuk melakukannya maka keimanan orang ini juga sedang mengalami penurunan.

Oleh karena itu, marilah kita mulai memperhatikan kondisi keimanan kita bersama karena iman dapat dengan mudah bertambah melalui amalan kecil begitu pula ia lebih mudah lagi untuk berkurang hanya dengan meninggalkan amalan-amalan kecil itu. Dan di akhir ini marilah kita berdoa dengan penuh pengharapan agar Allah dapat memberikan keistiqomahan dalam menjalani jalan kebaikan yang panjang ini.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami