Oleh: Yahya Tsabit
(Mahasantri Ma’had Aly Ta’hil Al-Mudarrisin Darusy Syahadah, Semester 6)
Silakan klik Santri Darsya untuk men-download artikel kultum berikut.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita cahaya iman. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ, sang pembawa petunjuk kebenaran.
Saudaraku seiman, tidak ada penyakit yang lebih mengerikan daripada penyakit hati. Sebab, jika hati telah terjangkiti kemunafikan, maka cahaya iman akan meredup, kebenaran akan tertolak, dan akhirnya manusia tersesat dalam kebinasaan. Rasulullah ﷺ bahkan menggambarkan hati orang munafik sebagai hati yang terbalik, tidak mampu menerima kebaikan, meski kebenaran begitu nyata di hadapannya.
Maka marilah kita merenung dan bercermin: apakah hati kita masih bersih dari noda nifak? Apakah iman kita masih teguh, ataukah perlahan-lahan terkikis oleh kelalaian dan tipu daya dunia?
Jam’ah Rahimakumullah.
Para sahabat telah membagi hati-hati manusia menjadi empat macam. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Hudzaifah Ibnu Yaman secara mauquf, yaitu:
- Pertama, Qalbun Ajrad (Hati yang murni). Manusia yang memilki hati yang murni akan didapati padanya lentera yang bersinar. Ridha dan sabar adalah sayap yang membuat hati terbang tinggi, menerima segala takdir dengan lapang, tak goyah meski badai menerpa. Maka hati yang murni bersinar laksana lentera, menerangi langkah sang pemilik-Nya, menuntun ke jalan yang diridhai, menjauhkan dari gelap yang menyesatkan.
- Kedua, Qolbun aghfal (hati yang tertutup). Ini merupakan hatinya orang-orang kafir. Sebagaimana yang digambarkan Allah ﷻ dalam surah al-Qur’an:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ٦
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur itu sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” (al-Baqarah: 6)
- Ketiga, Qolbun mankus (hati yang terbalik). Inilah hati yang diliputi kemunafikan. Ia mengenal kebenaran, namun dengan sadar mengingkarinya. Dahulu ia melihat cahaya kebenaran, tetapi kemudian memilih untuk membutakan diri darinya.
Hati semacam ini dipenuhi oleh cinta dunia dan ketakutan akan kehilangan kenikmatan fana. Demi kepentingan pribadi, mereka rela mengorbankan kebenaran, menjual prinsip demi keuntungan sesaat.
Tanpa benteng keimanan yang kokoh, hati mereka mudah terombang-ambing oleh propaganda dan fitnah yang menyesatkan. Seperti kapal tanpa nahkoda, mereka hanyut dalam arus kepalsuan, jauh dari cahaya petunjuk.
- Keempat, Qolbun tamadduhu madatan (hati yang memiliki dua unsur). Yaitu unsur keimanan dan kemunafikan, mana dari keduanya yang menang itulah yang mendominasi.
Bentuk apapun yang dituangkan kepada suatu yang terbalik, tentu tidak akan bisa ditampung. Maka, selayak itulah hati kaum munafikin yang tebalik, sehingga samudra Allah ﷻ dan Rasul pun tak akan mampu ditampung.
Maka kekhawatiran para sahabat terhadap penyakit nifak ini sangatlah besar karena mereka mengetahui betul bagaimana jauhnya kemunafikan dari petunjuk dan hidayah Allah ﷻ. Sehingga, neraka yang paling dasar pun bukanlah untuk mereka yang musyrik, tapi untuk mereka yang mati dalam keadaan membawa penyakit kemunafikan.
Allah ﷻ berfirman:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥
“Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan paling rendah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. an-Nisa’: 145)
Ketakutan terhadap ayat ini selalu menyelimuti para sahabat Rasulullah ﷺ, membuat mereka senantiasa merasa waspada terhadap penyakit nifak dalam hati mereka. Mereka terus menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam kemunafikan. Salah satu kisah yang mencerminkan kegelisahan ini adalah pengalaman Hanzhalah al-Usyaidi, seorang juru tulis Rasulullah ﷺ.
Suatu hari, Abu Bakar ash-Shiddiq bertemu dengan Hanzhalah dan menanyakan keadaannya. Dengan wajah penuh kegelisahan, Hanzhalah berkata, “Aku telah menjadi munafik.” Terkejut, Abu Bakar pun bertanya, “Subhanallah, apa maksudmu?”
Hanzhalah menjawab, “Ketika diriku bersama Rasulullah ﷺ, aku seakan-akan melihat surga dan neraka di depan mata. Namun, saat aku kembali ke keluarga dan sibuk dengan urusan dunia, semua itu perlahan menghilang dari ingatan.”
Abu Bakar merenung sejenak sebelum berkata, “Aku pun merasakan hal yang sama.”
Mereka berdua pun pergi menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan kegelisahan mereka. Rasulullah ﷺ tersenyum lembut sebelum bersabda, “Seandainya kalian selalu berada dalam keadaan seperti saat kalian bersamaku, maka malaikat akan menjabat tangan kalian. Namun, wahai Hanzhalah, lakukanlah segala sesuatu dengan seimbang, sesaat demi sesaat.” Beliau mengulangi kalimat terakhir itu sampai tiga kali.
Abu Bakar dan Hanzhalah saling bertukar pandang. Keduanya menyadari bahwa iman itu naik dan turun, dan menjaga hati dari penyakit nifak adalah perjalanan seumur hidup.
Seperti hujan yang tak selamanya deras, iman pun memiliki musimnya. Namun, selayaknya seorang petani merawat tanamannya agar tidak layu, seorang mukmin pun harus menjaga hatinya dari penyakit yang merusak iman.
Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa iman tidaklah statis. Seperti kayu yang dapat lapuk dimakan rayap, iman pun bisa melemah oleh berbagai penyakit, termasuk kemunafikan. Oleh karena itu, menjaga hati dari sifat nifak adalah hal yang harus selalu diupayakan.




