BerandaKultumMencari Ketenangan di Tengah Cobaan: Hikmah di Balik Kesedihan

Mencari Ketenangan di Tengah Cobaan: Hikmah di Balik Kesedihan

- Advertisement -spot_img

Oleh. Yahya Tsabit

(Mahasantri Ma’had Aly Ta’hil Al-Mudarrisin Darusy Syahadah. Semester 6)

Silakan klik Santri Darsya untuk men-download artikel berikut:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Jam’ah Rahimakumullah…

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah ﷻ, yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesempatan untuk berkumpul dalam majelis yang penuh keberkahan ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan hakikat kehidupan di dunia ini. Sering kali kita berharap bahwa hidup hanya dipenuhi dengan kebahagiaan, tanpa kesedihan, tanpa penderitaan. Namun, kenyataannya dunia ini adalah tempat ujian, tempat manusia menghadapi berbagai cobaan yang menguji keimanan dan keteguhan hati. Sebagaimana kehidupan menghadirkan kebahagiaan, ia juga tak lepas dari duka. Sebagaimana ada pertemuan, ada pula perpisahan. Semua ini adalah ketetapan Allah ﷻ, yang mengajarkan kita tentang hakikat dunia yang fana.

Jam’ah Rahimakumullah…

Pernahkah kita membayangkan sebuah dunia tanpa kesedihan? Sebuah tempat di mana air mata tak pernah menetes, perpisahan tak pernah ada, dan hati tak pernah terluka? Namun, itu hanyalah angan-angan yang mustahil. Allah ﷻ menciptakan dunia ini dengan segala dinamika kehidupan: suka dan duka, tawa dan air mata, perjumpaan dan perpisahan. Sementara manusia, diciptakan dalam kelemahan, rentan terhadap ujian dan cobaan.

Kesedihan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Tak ada kebahagiaan yang benar-benar bersih dari kecemasan, tak ada cinta tanpa kekhawatiran akan kehilangan. Harta yang melimpah pun tak lepas dari ketakutan akan kefakiran. Bahkan cinta yang paling tulus sekalipun, bisa ternodai oleh rasa takut akan perpisahan.

Seorang ulama besar, Abu Ali Nurdin Al-Yusi, mengutip sebuah syair dari gurunya, Syekh Abu Muhammad Al-Husai bin Abu Bakr, yang menggambarkan realitas kehidupan manusia:

“Setiap insan pasti mengalami delapan perkara: Bahagia dan sedih, pertemuan dan perpisahan, Kemudahan dan kesulitan, lalu sakit dan kesehatan.”

.Jama’ah sekalian,

Bahkan orang-orang yang paling mulia pun tidak terlepas dari kesedihan. Para nabi dan rasul adalah manusia yang diuji dengan cobaan paling berat. Nabi Adam menangis penuh penyesalan setelah melanggar larangan Allah dengan memakan buah terlarang. Nabi Nuh mengadukan hatinya yang pilu karena kaumnya yang enggan beriman. Nabi Ya’qub merasakan kesedihan mendalam hingga kehilangan penglihatannya karena kehilangan putra tercinta. Rasulullah ﷺ sendiri, dengan kelembutan hatinya, pernah menitikkan air mata atas kepergian putranya, Ibrahim.

Dunia ini selalu menghadirkan dua sisi yang berlawanan dalam satu waktu. Kesenangan bisa berubah menjadi kesedihan dalam sekejap mata. Sakit dan sehat dipisahkan oleh batas yang amat tipis. Bahkan, jarak antara kehidupan dan kematian lebih dekat dari tali sandal yang melekat di kaki. Maka, mengharapkan hidup tanpa kesedihan di dunia ini sama halnya dengan mengharapkan kehidupan tanpa kematian.

Jama’ah Rahimakumullah…

Mari kita merunungi Firman Allah ﷻ:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَۗ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوْرٌ شَكُوْرٌۙ ۝٣٤

Sesungguhnya Rabb kami benar-benar maha pengampun lagi maha mensyukuri” (QS. fathir: 34)

Ketahuilah, Rehat yang sesungguhnya bukanlah di dunia ini. Dunia adalah tempat untuk bekerja, berusaha, dan berjuang. Sedangkan tempat istirahat sejati adalah di akhirat, di surga Allah ﷻ yang penuh kenikmatan. Dunia adalah ladang untuk menanam amal, sementara akhirat adalah tempat menuai hasilnya. Jangan sampai kita menginginkan semua doa dikabulkan di dunia, hingga tak tersisa ganjaran untuk kita di akhirat.

Seorang murid pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Wahai Syekh, kapan kita bisa beristirahat?” Imam Ahmad menjawab dengan penuh hikmah, “Ketika sebelah kaki ini sudah berpijak di surga.”

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Saat Hari Kiamat kelak, akan ada seseorang yang selama di dunia hidupnya penuh kemewahan, tetapi kemudian ia dicelupkan ke dalam neraka walau hanya sesaat. Lalu ia ditanya, “Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?” Dengan wajah pucat dan penuh ketakutan, ia menjawab, “Tidak pernah. Demi Allah, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan.”

Sebaliknya, akan ada seseorang yang sepanjang hidupnya di dunia penuh penderitaan. Namun, ia dicelupkan sekali ke dalam surga, lalu ditanya, “Apakah kamu pernah merasakan kesusahan?” Ia tersenyum dan berkata, “Tidak. Demi Allah, aku tidak pernah merasakan kesedihan, bahkan tidak pernah melihat penderitaan.”

Maka, kebahagiaan sejati adalah ketika hati menemukan ketenangan dalam ketaatan kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kumandangkan iqamah, rehatkan kami dengan shalat.”

Dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kita diajak untuk memperbanyak rakaat shalat dan amal shaleh. Sujud demi sujud yang kita lakukan adalah wujud ketundukan dan harapan agar kelelahan, kesedihan, dan segala duka yang kita alami di dunia ini kelak terbayar dengan perjumpaan yang menghapus semua luka.

Jama’ah Rahimakumullah…

Kepanatan itu akan sirna. Saat jiwa orang-orang beriman terlepas dari raga, saat itulah ia terlepas dari berbagai keletihan dunia. Diantara mereka ada yang telah mendapatkan kabar gembera sejak malaikat datang untuk menjemput ruhnya; ia mendapat sapaan salam dari malaikat;

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ۝٣٠

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah kemudian dia meneguhkan pendirian dengan mengatakan , “Kamu jangan merasa khawatir dan sedih hati, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.”(QS. fushshilat: 30)

Derita sakit akan sirna, ketika rumah dunia yang luas berganti dengan alam kubur yang lapang sejauh mata memandang. Kesepian akan berganti dengan persahabatan amal baik yang menemani.

Kesedihan akan sirna, ketika manusia dibangkitkan di Padang Mahsyar. Wajah-wajah yang dahulu cemas kini bersinar bahagia, menerima catatan amalnya dengan tangan kanan.

Kesedihan akan sirna, ketika kaki pertama kali menginjak surga, lalu lisan ini akan memuji Allah ﷻ:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَۗ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوْرٌ شَكُوْرٌۙ ۝٣٤

Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagu Maha mensyukuri.” (QS. Fathir: 34)

Dan pada akhirnya, ketika para malaikat memasuki istana kenikmatan, mereka akan memberi ucapan selamat:

سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ ۝٢٤

Selamat Sejahtera atasmu karena kesabaranmu. Alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. ar-Ra’du: 24)

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diberi kesabaran dan diganjar dengan kebahagiaan abadi di sisi Allah ﷻ. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami