Daftar Isi
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِعِبَادِهِ مَوَاسِمَ لِلْخَيْرَاتِ، وَفَتَحَ لَهُمْ أَبْوَابَ الرَّحَمَاتِ، وَخَصَّ عَشْرَ ذِي الْحِجَّةِ بِفَضَائِلَ عَظِيمَاتٍ وَنَفَحَاتٍ مُبَارَكَاتٍ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلٰهًا أَوَّلًا بِلَا ابْتِدَاءٍ، وَآخِرًا بِلَا انْتِهَاءٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُصْطَفَى الْأَمِينُ، وَالسِّرَاجُ الْمُنِيرُ، خَيْرُ مَنْ عَبَدَ اللَّهَ وَاتَّقَاهُ، وَأَعْظَمُ مَنْ نَرْجُو شَفَاعَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: « اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿ لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ ﴾
Mukadimah
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang masih melimpahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, serta kesempatan menikmati hari-hari mulia pasca Idul Adha. Dialah Allah yang mempertemukan kita dengan musim ibadah, musim pengorbanan, dan musim ketakwaan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbesar dalam penghambaan dan ketaatan kepada Allah. Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, sebagaimana firman-Nya:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Āli ‘Imrān: 102).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, kita baru saja melewati hari-hari besar yang penuh dengan gema takbir, ibadah kurban, sedekah, dan kebersamaan kaum muslimin. Bahkan hingga hari ini kita masih berada dalam suasana hari-hari tasyrik, hari-hari yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. Namun sesungguhnya Idul Adha bukan hanya tentang ramainya penyembelihan hewan kurban atau melimpahnya hidangan makanan, melainkan momentum besar untuk merenungkan kembali makna pengorbanan, ketundukan, dan ketakwaan kepada Allah. Di tengah kehidupan modern yang sering membuat manusia sibuk mengejar dunia, Idul Adha hadir mengingatkan bahwa seorang hamba terkadang harus rela mengorbankan ego, hawa nafsu, kenyamanan, bahkan sesuatu yang paling dicintainya demi meraih ridha Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
.Keutamaan Hari-Hari Tasyrik
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, di antara pelajaran penting yang sering terlupakan setelah Idul Adha adalah memahami hakikat hari-hari tasyrik. Banyak orang memandang hari tasyrik sekadar momen libur panjang, bakar sate, kumpul keluarga, atau menikmati melimpahnya daging kurban. Padahal dalam pandangan syariat, hari-hari tasyrik memiliki kedudukan mulia sebagai hari untuk memperbanyak dzikir dan rasa syukur kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ
“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim, no. 1141).
Hadits ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang memisahkan antara nikmat jasmani dan ibadah ruhani. Seorang muslim dipersilakan menikmati makanan dan kebahagiaan pada hari tasyrik, namun lisannya tetap basah dengan takbir, tahmid, tahlil, dan berbagai dzikir kepada Allah. An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil dianjurkannya memperbanyak dzikir pada hari-hari tasyrik, khususnya takbir setelah shalat dan ketika penyembelihan kurban. Karena itu, sangat disayangkan apabila gema takbir hanya terdengar di masjid, sementara hati manusia justru kembali sibuk dengan urusan dunia dan lalai mengingat Allah. Padahal setiap lantunan takbir yang kita kumandangkan sejatinya sedang menghidupkan kembali pelajaran besar dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, seorang nabi yang membuktikan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.
Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah, ketika gema takbir Idul Adha terus berkumandang, sejatinya kaum muslimin sedang diajak mengingat sebuah kisah agung yang mengguncang langit dan bumi: kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihimas salam. Bukan sekadar kisah tentang penyembelihan, tetapi kisah tentang kepatuhan total kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Setelah bertahun-tahun menanti hadirnya seorang anak, Allah menganugerahkan Ismail kepada Nabi Ibrahim di usia senja. Namun ketika rasa cinta itu tumbuh begitu dalam, Allah justru menguji beliau dengan perintah yang paling berat bagi seorang ayah: menyembelih anak yang sangat dicintainya. Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ﴾
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’” (QS. aṣ-Ṣāffāt: 103–105).
Betapa luar biasanya peristiwa ini. Nabi Ibrahim rela kehilangan yang paling dicintainya demi ridha Allah, sementara Nabi Ismail menunjukkan ketundukan yang begitu menakjubkan; tidak memberontak, tidak marah, tidak menolak, bahkan justru membantu ayahnya menunaikan perintah Rabb-nya. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ujian tersebut merupakan puncak ujian cinta dan ketaatan. Ketika keduanya benar-benar pasrah dan berserah diri kepada Allah, maka Allah mengganti Nabi Ismail dengan sembelihan yang besar sebagai bukti bahwa Allah tidak menyia-nyiakan hamba yang taat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, di sinilah letak pelajaran terbesar Idul Adha yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Banyak orang mudah menjalankan ibadah selama tidak mengganggu kepentingan pribadinya. Shalat terasa ringan selama tidak mengganggu pekerjaan, sedekah terasa mudah selama tidak mengurangi gaya hidup, dan ketaatan terasa nyaman selama tidak bertabrakan dengan hawa nafsu. Namun ketika seseorang diminta mengorbankan gengsi, menahan syahwat, meninggalkan penghasilan haram, memperbaiki aurat, menjaga pandangan, atau melepaskan sesuatu yang dicintainya demi Allah, di situlah ujian keimanan sebenarnya dimulai. Sebagian orang mampu mengorbankan kambing atau sapi setiap tahun, tetapi belum mampu mengorbankan kesombongan yang bersarang di dalam hati. Ada yang rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk kurban, tetapi masih berat meninggalkan maksiat yang setiap hari dilakukan. Padahal ruh terbesar dari kisah Nabi Ibrahim bukanlah darah sembelihan itu sendiri, melainkan kesiapan hati untuk mendahulukan perintah Allah di atas segala-galanya. Idul Adha mengajarkan kepada kita bahwa seorang mukmin sejati bukan hanya pandai beribadah saat mudah, tetapi juga mampu tetap taat ketika harus berkorban. Wallahu a‘lam bish shawab.
Hakikat Kurban: Meraih Ketakwaan
Jamaah Jumat rahimakumullah, di antara pelajaran paling dalam dari ibadah kurban adalah bahwa Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tidak pernah membutuhkan daging ataupun darah sembelihan kita. Allah Mahakaya dan Mahasempurna, tidak bertambah kemuliaan-Nya dengan banyaknya hewan kurban manusia. Karena itu Allah menegaskan dalam firman-Nya:
﴿ لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ ﴾
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. al-Ḥajj: 37).
Ayat ini mengingatkan bahwa inti terbesar dari kurban bukan terletak pada besarnya hewan, mahalnya harga, atau banyaknya pujian manusia, melainkan pada keikhlasan hati dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya. Tafsir ath-Thabari menjelaskan bahwa yang diterima Allah adalah amal yang dilakukan dengan niat ikhlas dan ketakwaan. Sementara Tafsir as-Sa’di menerangkan bahwa kurban merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah melalui pengagungan syiar-syiar-Nya. Karena itu, betapa ruginya jika seseorang sibuk memperlihatkan hewan kurbannya kepada manusia, namun lupa memperbaiki niatnya di hadapan Allah. Betapa ironis jika ada yang bangga mengunggah dokumentasi kurban di media sosial, tetapi hatinya kosong dari rasa tunduk dan syukur kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Ma‘asyiral muslimin yang dimuliakan Allah, inilah penyakit yang sering mengintai amal manusia di zaman sekarang: lebih sibuk menjaga penilaian manusia daripada menjaga keikhlasan di hadapan Allah. Ada yang ingin dipandang dermawan, ingin disebut paling banyak berkurban, ingin dipuji sebagai orang baik, padahal Allah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar penampilan luar. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, no. 2564).
Hadits ini menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang terlalu sibuk mempercantik citra diri tetapi lalai memperbaiki hati. Sebab bisa jadi seseorang tampak sederhana di mata manusia, namun sangat mulia di sisi Allah karena ketakwaannya. Sebaliknya, bisa jadi seseorang terlihat paling religius dan paling dermawan, tetapi amalnya ringan di sisi Allah karena tercampuri riya dan kesombongan. Oleh sebab itu, Idul Adha seharusnya tidak hanya meninggalkan aroma sate dan daging kurban di rumah-rumah kita, tetapi juga meninggalkan bekas ketakwaan dalam hati kita; hati yang lebih ikhlas, lebih tunduk, lebih mudah bersyukur, dan lebih siap mengorbankan apa pun demi meraih ridha Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Wallahu a‘lam bish shawab.
Muhasabah Pasca Idul Adha
Jamaah Jumat rahimakumullah, setelah gema takbir mulai perlahan mereda dan hiruk-pikuk penyembelihan kurban mulai berakhir, ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama: apakah semangat ibadah kita ikut mereda? Apakah ketakwaan kita benar-benar bertambah setelah Idul Adha berlalu? Dan apakah hati kita kini menjadi lebih dekat kepada Allah, atau justru kembali tenggelam dalam kesibukan dunia sebagaimana sebelumnya? Sebab hakikat Idul Adha bukanlah sekadar ritual tahunan yang datang lalu pergi tanpa bekas dalam jiwa. Idul Adha adalah madrasah keikhlasan, madrasah pengorbanan, dan madrasah ketakwaan. Ia datang untuk mendidik hati manusia agar belajar tunduk kepada Allah dalam segala keadaan. Betapa banyak orang yang begitu semangat bertakbir saat malam Idul Adha, namun beberapa hari setelahnya kembali lalai dari shalat berjamaah. Betapa banyak lisan yang ramai menyebut nama Allah ketika hari raya, tetapi kembali sibuk dengan ghibah, kemaksiatan, dan kelalaian setelah suasana hari besar berlalu. Padahal ukuran keberhasilan sebuah ibadah bukan hanya pada semarak pelaksanaannya, tetapi pada perubahan yang ditinggalkannya dalam kehidupan seorang hamba setelah ibadah itu selesai.
Karena itu para ulama salaf selalu mengingatkan bahwa tanda diterimanya amal adalah lahirnya amal saleh berikutnya. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu sekadar angan-angan dan hiasan, tetapi apa yang menetap di hati dan dibuktikan dengan amal.” Perkataan beliau yang dinukil dalam Hilyatul Auliya ini menjadi nasihat yang sangat relevan di zaman sekarang, ketika agama terkadang hanya tampak ramai di lisan dan media sosial, namun minim pengaruh dalam perilaku sehari-hari. Maka jangan biarkan semangat Idul Adha berhenti hanya pada pembagian daging kurban dan foto kebersamaan semata. Jagalah shalat berjamaah yang mulai rajin kita kerjakan, hidupkan dzikir yang sempat basah di lisan kita, teruskan sedekah dan kepedulian kepada sesama, serta pertahankan semangat ketaatan meski suasana hari raya telah berlalu. Sebab seorang mukmin sejati tidak hanya rajin beribadah pada musim tertentu, tetapi berusaha istiqamah sampai akhir hayatnya. Mudah-mudahan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang tidak hanya meramaikan syiar Islam secara lahiriah, tetapi juga hidup dengan hati yang dipenuhi ketakwaan dan keikhlasan. Wallahu a‘lam bish shawab.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُ
Menjaga Spirit Pengorbanan Setelah Hari Raya
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, di zaman sekarang pengorbanan sering dipahami hanya sebatas materi, padahal ada pengorbanan yang jauh lebih berat daripada mengeluarkan harta. Beratnya seorang ayah bangun sebelum subuh untuk mengajak keluarganya shalat berjamaah. Beratnya seorang pemuda menjaga pandangan di tengah fitnah yang begitu mudah diakses. Beratnya seorang muslimah mempertahankan hijab dan kehormatannya di tengah budaya yang semakin jauh dari rasa malu. Beratnya seorang pekerja meninggalkan penghasilan haram demi mencari rezeki yang halal dan berkah. Semua itu adalah bentuk pengorbanan yang sangat bernilai di sisi Allah. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan hakikat ubudiyah dengan ungkapan yang sangat mendalam:
فَحَقِيقَةُ الْعُبُودِيَّةِ: كَمَالُ الْحُبِّ مَعَ كَمَالِ الذُّلِّ وَالْخُضُوعِ
“Hakikat penghambaan kepada Allah adalah kesempurnaan cinta yang disertai dengan kesempurnaan ketundukan dan kepatuhan.”
(Madārijus Sālikīn, karya Ibnul Qayyim rahimahullah, tahqiq Muhammad al-Mu‘taṣim Billah al-Baghdādi, Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, cet. ke-3, 1416 H, jilid 1, hlm. 74)
Maka ketika seorang hamba rela meninggalkan sesuatu yang dicintainya demi menjaga ketaatan kepada Allah, di situlah tampak bukti keimanan yang sebenarnya. Idul Adha mengajarkan kepada kita bahwa menjadi hamba Allah bukan sekadar tentang ibadah sesaat, tetapi tentang kesiapan berkorban dan istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat. Wallahu a‘lam bish shawab.
قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَيَّامِ ذِي الْحِجَّةِ، وَوَفِّقْنَا فِيهَا لِصَالِحِ الْأَعْمَالِ، وَاجْعَلْنَا فِيهَا مِنَ الذَّاكِرِينَ الشَّاكِرِينَ، وَمِنَ الْمُقْبِلِينَ عَلَيْكَ بِقُلُوبٍ خَاشِعَةٍ وَأَنْفُسٍ مُطْمَئِنَّةٍ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ، وَارْزُقْنَا إِخْلَاصَ النِّيَّةِ وَصِدْقَ الْعَمَلِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا صَالِحَةً وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا قُرْبَانَنَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا تَقْصِيرَنَا وَذُنُوبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ عِنْدَكَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ،
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.




