
Mudir Pondok Pesantren Darusy Syahadah
Di balik perjalanan panjang Pondok Pesantren Darusy Syahadah dalam mencetak kader-kader dakwah yang berilmu dan berakhlak mulia, terdapat sosok-sosok yang mengabdikan hidupnya untuk membina umat melalui jalur pendidikan. Salah satu sosok yang memiliki peran penting dalam perjalanan tersebut adalah Ustadz Qosdi Ridwanullah, yang saat ini mengemban amanah sebagai Mudir (Direktur) Pondok Pesantren Darusy Syahadah.
Sebagai pemimpin pesantren, beliau memikul tanggung jawab besar dalam mengarahkan penyelenggaraan pendidikan, membina para asatidz, mendampingi para santri, sekaligus menjaga kesinambungan cita-cita besar para pendiri pesantren. Kepemimpinan beliau menjadi bagian dari estafet perjuangan yang terus menguatkan Darusy Syahadah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan kader umat yang berilmu, bertakwa, dan siap mengemban amanah dakwah di tengah masyarakat.
Perjalanan kepemimpinan beliau tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perkembangan Pondok Pesantren Darusy Syahadah. Melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu, Ustadz Qosdi Ridwanullah hadir dengan komitmen untuk menjaga nilai-nilai dasar tarbiyah pesantren sekaligus mengembangkan pendidikan Islam agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Latar Belakang Pendidikan
Ustadz Qosdi Ridwanullah berasal dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Sejak muda beliau menaruh perhatian besar terhadap ilmu-ilmu syariat dan bahasa Arab. Semangat menuntut ilmu tersebut membawanya menempuh pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA) Jakarta pada Jurusan Bahasa Arab, dan menyelesaikan studinya pada tahun 1997.
Bekal keilmuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan menjadi fondasi penting dalam perjalanan dakwah dan pengabdiannya di dunia pendidikan Islam. Penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu modal utama dalam membina generasi yang memahami sumber-sumber ajaran Islam secara lebih mendalam.
Mengabdikan Diri dalam Dunia Pendidikan dan Dakwah
Selepas menyelesaikan pendidikan, Ustadz Qosdi Ridwanullah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan dakwah. Selama bertahun-tahun beliau terlibat dalam pembinaan santri, pengajaran ilmu-ilmu agama, serta pengembangan sistem pendidikan pesantren.
Pengalaman panjang tersebut kemudian mengantarkan beliau dipercaya memimpin Pondok Pesantren Darusy Syahadah. Dalam berbagai profil resmi pesantren disebutkan bahwa beliau memiliki pengalaman belasan tahun dalam bidang pendidikan dan dakwah.
Melanjutkan Estafet Kepemimpinan Darusy Syahadah
Sejak tahun 2010, Ustadz Qosdi Ridwanullah dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur atau Mudir Pondok Pesantren Darusy Syahadah, melanjutkan kepemimpinan dari Ustadz Dr. Mustaqim Safar, M.Pd., salah seorang perintis pesantren yang kemudian lebih fokus pada pengembangan yayasan dan pembinaan strategis lembaga pendidikan.
Amanah tersebut bukan sekadar jabatan administratif, tetapi merupakan tanggung jawab besar untuk menjaga ruh tarbiyah yang telah dibangun sejak awal berdirinya Darusy Syahadah, sekaligus mengembangkan pesantren agar mampu menjawab kebutuhan umat di setiap zaman.
Kepemimpinan yang Berorientasi pada Tarbiyah
Dalam kepemimpinannya, Ustadz Qosdi Ridwanullah senantiasa menempatkan tarbiyah sebagai ruh utama dalam proses pendidikan di Pondok Pesantren Darusy Syahadah. Menurut beliau, pendidikan pesantren tidak hanya bertujuan untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian, akhlak, dan karakter santri agar menjadi pribadi muslim yang memiliki kedalaman iman, keluasan ilmu, serta kesiapan mengemban amanah dakwah.
Pendidikan yang ideal bukan hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual dan kematangan emosional. Oleh karena itu, proses pembinaan santri harus berlangsung secara menyeluruh, melalui pendekatan ilmu, nasihat, pendampingan, serta keteladanan yang nyata dari para pendidik.
Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian dalam sistem pendidikan Darusy Syahadah adalah pendidikan berbasis konseling dialogis. Pendekatan ini menempatkan hubungan antara pendidik dan santri bukan sekadar hubungan antara pengajar dan peserta didik, tetapi lebih sebagai hubungan pembinaan antara murabbi dan mutarabbi.
Melalui komunikasi yang terbuka, dialog yang hangat, dan pendampingan yang berkesinambungan, santri diberikan ruang untuk menyampaikan persoalan, mendapatkan arahan, serta menemukan solusi terhadap berbagai tantangan yang mereka hadapi selama menjalani pendidikan. Dengan pendekatan ini, para asatidz tidak hanya hadir sebagai penyampai materi pelajaran, tetapi juga sebagai pembimbing yang memahami perkembangan kepribadian dan kebutuhan setiap santri.
Selain pendekatan dialogis, Ustadz Qosdi Ridwanullah juga menekankan pentingnya qudwah hasanah (keteladanan yang baik) dalam proses pendidikan. Beliau memandang bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori dan nasihat, tetapi harus diwujudkan melalui contoh nyata dari para pendidik.
Keteladanan para asatidz dalam ibadah, akhlak, kedisiplinan, kesungguhan dalam belajar, serta kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dari proses tarbiyah. Sebab, santri lebih mudah menerima nilai-nilai kebaikan melalui apa yang mereka lihat dan rasakan secara langsung dibandingkan hanya melalui apa yang mereka dengar.
Dengan perpaduan antara ilmu, keteladanan, dan pendekatan pembinaan yang dekat dengan santri, diharapkan pendidikan di Darusy Syahadah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan pemahaman agama, tetapi juga memiliki karakter kuat, akhlak mulia, serta kesiapan menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.
Beliau menjelaskan bahwa arah pendidikan Darusy Syahadah berfokus pada beberapa sasaran utama, di antaranya:
- pembentukan karakter Islami;
- melahirkan generasi Ahlul Qur’an;
- penguasaan bahasa Arab;
- pendalaman ilmu-ilmu syariat;
- pengembangan keterampilan hidup (life skill) sebagai bekal berdakwah dan bermasyarakat.
Menjalin Sinergi dengan Wali Santri dan Masyarakat
Di bawah kepemimpinan beliau, hubungan antara pesantren dan wali santri terus diperkuat melalui Komite Ma’had Darusy Syahadah (KMDS). Dalam berbagai pertemuan di berbagai daerah, beliau menyampaikan perkembangan pesantren sekaligus mengajak para wali santri untuk bersama-sama mendukung proses pendidikan putra-putri mereka.
Beliau memandang bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bertumpu pada pesantren, tetapi juga memerlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan.
Kiprah Sosial dan Dakwah
Selain memimpin pesantren, Ustadz Qosdi Ridwanullah juga aktif hadir dalam berbagai forum kemasyarakatan. Salah satunya adalah keterlibatan beliau dalam forum GARPU bersama unsur Forkopimcam, tokoh agama, dan tokoh masyarakat di Kecamatan Simo.
Dalam forum tersebut beliau menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membina masyarakat, menjaga generasi muda dari berbagai penyimpangan moral, serta menghadirkan solusi melalui dakwah, pendidikan Al-Qur’an, dan pembinaan keislaman.
Meneruskan Visi Darusy Syahadah
Dalam berbagai kesempatan, Ustadz Qosdi Ridwanullah senantiasa mengingatkan bahwa visi Pondok Pesantren Darusy Syahadah adalah melahirkan kader yang alim dan muttaqi. Menurut beliau, ilmu yang benar harus melahirkan ketakwaan, sedangkan ketakwaan akan menjadi pengendali bagi ilmu agar memberi manfaat bagi umat.
Semangat inilah yang terus menjadi landasan dalam membangun sistem pendidikan di Darusy Syahadah, sehingga setiap santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berakidah lurus, berakhlak mulia, memiliki keluasan ilmu, serta siap mengabdikan diri di tengah masyarakat.
Penutup
Perjalanan pengabdian Ustadz Qosdi Ridwanullah merupakan bagian dari kesinambungan perjuangan Pondok Pesantren Darusy Syahadah dalam membangun peradaban melalui pendidikan Islam. Dengan pengalaman, dedikasi, serta komitmennya terhadap pembinaan generasi, beliau terus melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren agar tetap istiqamah mencetak kader-kader dakwah yang berilmu, bertakwa, dan bermanfaat bagi umat, bangsa, dan agama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan, keberkahan, dan keistiqamahan kepada beliau dalam mengemban amanah mulia ini serta menjadikan setiap ikhtiar yang dilakukan sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
