BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatRumah Tanpa Bimbingan Ilmu: Bencana Generasi yang Terabaikan

Rumah Tanpa Bimbingan Ilmu: Bencana Generasi yang Terabaikan

- Advertisement -spot_img

Khutbah Pertama

الحمدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَصَحَابَتِهِ الْغُرِّ الْمَيَامِينِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

Mukadimah: Rumah sebagai Titik Awal Peradaban

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Dzat yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan agung dalam membina umat dan membangun peradaban dari ruang-ruang kecil bernama rumah. Dari rumah beliau menanamkan tauhid, dari rumah pula lahir generasi yang mengubah wajah dunia. Maka sesungguhnya rumah dalam pandangan Islam bukan sekadar tempat bernaung dari panas dan hujan, bukan hanya bangunan dari batu dan kayu, tetapi ia adalah pusat pembentukan iman, akhlak, dan karakter manusia. Dari rumah itulah masa depan umat disemai; apakah akan tumbuh sebagai generasi yang kuat dan bermartabat, atau justru rapuh dan kehilangan arah.

Namun, ma’asyiral muslimin, betapa sering hari ini kita menyaksikan ironi yang menyedihkan. Banyak rumah berdiri megah dan indah, tetapi sunyi dari zikir dan nasihat agama. Banyak ruang keluarga penuh dengan fasilitas, tetapi kosong dari keteladanan dan nilai. Akibatnya, kita dihadapkan pada krisis generasi: adab yang runtuh, iman yang rapuh, dan arah hidup yang kian kabur. Anak-anak tumbuh cerdas secara intelektual, tetapi miskin secara spiritual; fasih berbicara tentang dunia, namun gagap mengenal Tuhannya. Inilah bencana yang tidak selalu tampak oleh mata, tetapi terasa perih di hati: ketika rumah kehilangan ruhnya, maka generasi pun kehilangan jiwanya.

Hakikat Rumah dalam Islam

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, sesungguhnya rumah dalam Islam bukan hanya ruang tinggal, tetapi ia adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anak kita. Di sanalah anak pertama kali belajar mengenal Allah, membedakan yang benar dan yang salah, memahami makna adab dan tanggung jawab. Karena itu, orang tua bukan sekadar pencari nafkah, tetapi pendidik sebelum hadirnya guru dan ustadz. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dengan sabdanya:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhārī, no. 893 dan Muslim, no. 1829).

Hadits ini menegaskan bahwa ayah dan ibu adalah pemimpin dalam rumahnya, dan anak-anak adalah amanah yang kelak akan ditanya oleh Allah: dengan apa mereka dibesarkan, nilai apa yang ditanamkan, dan teladan apa yang mereka saksikan setiap hari.

Ma’asyiral muslimin, betapa besar perbedaan antara rumah yang hidup dengan ilmu dan rumah yang hanya hidup dengan fasilitas. Rumah yang hidup dengan ilmu akan memancarkan ketenangan, meski sederhana bentuknya, karena di dalamnya ada zikir, doa, nasihat, dan keteladanan. Sementara rumah yang hanya dipenuhi fasilitas, namun kosong dari nilai, akan melahirkan kegelisahan meski tampak mewah dari luar. Maka rumah dalam Islam bisa menjadi tempat turunnya rahmat, ketika ia dihidupkan dengan iman dan akhlak; tetapi ia juga bisa berubah menjadi sumber kehancuran karakter, ketika di dalamnya absen nasihat agama dan teladan kebaikan. Dari rumah seperti inilah lahir generasi yang kehilangan arah, karena sejak awal mereka tidak diajari untuk berjalan di atas cahaya ilmu dan tuntunan wahyu.

Makna Bimbingan Ilmu dalam Keluarga

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, ketika kita berbicara tentang bimbingan ilmu dalam keluarga, jangan kita sempitkan maknanya hanya pada nilai rapor, ijazah, atau prestasi akademik. Ilmu yang paling mendasar justru adalah ilmu tentang Allah, tentang halal dan haram, tentang adab kepada orang tua, tentang kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Inilah ilmu yang membentuk arah hidup, bukan sekadar kecakapan hidup. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa rusaknya anak seringkali bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena kelalaian orang tua dalam menanamkan ilmu agama sejak dini. Beliau berkata:

وَمَنْ أَهْمَلَ تَعْلِيمَ وَلَدِهِ مَا يَنْفَعُهُ وَتَرْكَهُ سُدًى فَقَدْ أَسَاءَ إِلَيْهِ غَايَةَ الإِسَاءَةِ

“Barangsiapa menelantarkan pendidikan anaknya dari ilmu yang bermanfaat dan membiarkannya tanpa arahan, maka sungguh ia telah berbuat buruk kepada anaknya dengan seburuk-buruk perlakuan.” (Lihat: Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudūd bi Ahkāmil Maulūd, tahqiq: ‘Abdurra’ūf al-Munāwī, jilid 1, hlm. 229).

Ini menunjukkan bahwa ilmu dalam keluarga bukan sekadar tambahan, tetapi kebutuhan pokok bagi keselamatan generasi.

Ma’asyiral muslimin, nasihat agama dalam rumah ibarat cahaya yang menuntun langkah keluarga agar tidak tersesat di jalan gelap zaman. Jika cahaya ini tidak dinyalakan di dalam rumah, maka anak-anak akan mencari cahaya di luar, meski itu hanyalah kilau palsu yang menyesatkan. Al-Imam al-Ghazālī rahimahullah menegaskan bahwa hati anak pada dasarnya bersih dan siap menerima apa pun yang dituangkan kepadanya. Beliau berkata:

وَالصَّبِيُّ أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ، وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ سَاذِجَةٌ، خَالِيَةٌ مِنْ كُلِّ نَقْشٍ وَصُورَةٍ

“Anak adalah amanah di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang berharga, bersih dari segala ukiran dan gambaran.”
(Lihat: al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, jilid 3, hlm. 67).

Maka jika orang tua tidak mengisinya dengan iman dan ilmu, lingkungan dan media akan mengisinya dengan nilai-nilai liar tanpa filter. Di sinilah bahayanya: ketika anak belajar hidup bukan dari wahyu dan teladan, tetapi dari arus dunia yang tak mengenal batas halal dan haram.

Keteladanan Akhlak: Pendidikan Paling Kuat

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, sesungguhnya pendidikan yang paling kuat bukanlah yang paling sering diucapkan, tetapi yang paling sering diperlihatkan. Anak-anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada dari apa yang mereka dengar. Akhlak orang tua adalah “kitab terbuka” yang dibaca anak setiap hari, tanpa perlu huruf dan kata. Dari cara kita berbicara, marah, bersabar, beribadah, dan memperlakukan sesama, anak-anak menyerap nilai kehidupan secara diam-diam namun mendalam. Maka jangan heran bila anak tumbuh meniru bukan apa yang kita perintahkan, tetapi apa yang kita praktikkan. Rumah yang penuh dengan keteladanan akan melahirkan karakter, sedangkan rumah yang penuh kontradiksi akan melahirkan kebingungan jiwa.

Betapa sering kita menyuruh anak shalat, namun mereka melihat kita menunda-nunda shalat bahkan meremehkannya. Kita melarang dusta, tetapi rumah dipenuhi kebohongan kecil yang dianggap sepele. Kita mengajarkan kesantunan, namun lidah kita sendiri kerap melukai. Inilah tragedi pendidikan yang paling menyakitkan: ketika nasihat kita runtuh oleh perilaku kita sendiri. Keteladanan yang rusak tidak hanya merusak adab, tetapi juga melukai kepercayaan anak kepada nilai kebaikan itu sendiri. Dari sinilah lahir generasi yang pandai berbicara tentang moral, tetapi asing dalam mempraktikkannya. Maka, ma’asyiral muslimin, sebelum kita menuntut anak menjadi baik, luruskanlah terlebih dahulu diri kita, karena sesungguhnya akhlak kita adalah pelajaran yang paling jujur bagi mereka.

Dampak Rumah Tanpa Ilmu dan Akhlak

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, ketika sebuah rumah kehilangan cahaya ilmu dan keteladanan akhlak, maka yang lahir bukanlah generasi yang kuat, tetapi generasi yang rapuh meski tampak cerdas. Mereka mungkin unggul dalam pengetahuan dunia, fasih berbicara tentang teknologi dan karier, namun miskin adab dan kering rasa takut kepada Allah. Tanpa ilmu yang membimbing dan akhlak yang menuntun, anak-anak mudah terombang-ambing oleh arus zaman, menelan setiap nilai yang datang tanpa saringan iman. Mereka tidak lagi bertanya apakah sesuatu diridhai Allah, tetapi hanya apakah itu menguntungkan dan menyenangkan. Inilah generasi yang kehilangan kompas, berjalan cepat tetapi tidak tahu ke mana arah yang benar.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengingatkan kita dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra‘d: 11).

Ayat ini menegaskan bahwa rusaknya masa depan umat seringkali bermula dari rusaknya nilai di ruang-ruang kecil bernama rumah. Ketika rasa hormat kepada orang tua memudar, ketika takut kepada Allah digantikan oleh takut kepada manusia, maka konflik keluarga, kehancuran moral, dan keretakan sosial menjadi keniscayaan. Bencana ini memang tidak selalu tampak oleh mata, tetapi sangat terasa akibatnya: hilangnya ketenangan jiwa, rusaknya relasi, dan lenyapnya keberkahan hidup. Maka sungguh, rumah tanpa ilmu dan akhlak bukan hanya masalah pribadi, tetapi ancaman nyata bagi masa depan umat seluruhnya.

Tanggung Jawab Orang Tua sebagai Penjaga Generasi

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, anak-anak kita bukan sekadar anugerah yang menghibur hati, tetapi amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka bukan hanya titipan untuk diberi makan dan pakaian, tetapi jiwa-jiwa yang harus dibimbing agar mengenal Tuhannya, mencintai kebaikan, dan membenci keburukan. Kewajiban orang tua tidak berhenti pada nafkah lahir, tetapi jauh lebih besar pada nafkah batin: pendidikan iman dan akhlak. Betapa banyak orang tua yang bersusah payah mencarikan harta untuk anaknya, tetapi lupa mencarikan hidayah bagi hatinya. Padahal harta tanpa iman hanya akan mempercepat kerusakan, sedangkan iman tanpa harta masih mampu menjaga kemuliaan diri.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah memperingatkan kita dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

 “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. at-Taḥrīm: 6).

Ayat ini menegaskan bahwa rumah bukan sekadar tempat berlindung dari panas dan hujan, tetapi benteng dari azab Allah. Kelalaian kita hari ini dalam mendidik anak akan menjelma menjadi penyesalan di masa depan, bukan hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah kelak. Karena itu, setiap rumah akan dimintai pertanggungjawaban: apakah ia menjadi taman iman yang menumbuhkan generasi shalih, atau justru menjadi lorong kelalaian yang menjerumuskan anak-anak ke jurang kebinasaan. Maka, wahai para orang tua, sadarlah bahwa menjaga generasi bukan pilihan, tetapi kewajiban yang akan ditanya satu per satu.

Langkah Menghidupkan Rumah dengan Ilmu dan Akhlak

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, menghidupkan rumah dengan ilmu dan akhlak tidak selalu dimulai dari hal besar dan berat, tetapi dari kebiasaan kecil yang terus dijaga. Hadirkanlah nasihat agama dalam keseharian, bukan hanya saat marah atau ada masalah, tetapi sebagai bahasa cinta dalam keluarga. Biasakan ibadah berjamaah di rumah, meski hanya dua atau tiga orang, karena dari sanalah anak belajar bahwa shalat bukan sekadar kewajiban pribadi, tetapi napas kehidupan keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ فَصَلَّوْا

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di malam hari lalu shalat dan membangunkan keluarganya untuk shalat.” (HR. Abū Dāwud, no. 1450).

Hadits ini mengajarkan bahwa membangunkan keluarga dalam ibadah bukanlah gangguan, tetapi rahmat; bukan beban, tetapi jalan keberkahan.

Ma’asyiral muslimin, hidupkan pula rumah dengan suasana saling menasihati dalam kasih sayang, bukan dengan bentakan dan caci maki. Jadikan rumah ramah terhadap Al-Qur’an dan dzikir, sehingga anak-anak tumbuh akrab dengan ayat-ayat Allah sebelum akrab dengan hiruk-pikuk dunia. Al-Imām an-Nawawī rahimahullah menjelaskan bahwa keluarga yang dibiasakan dengan ketaatan akan dimudahkan oleh Allah untuk istiqamah, karena kebaikan yang dilakukan bersama lebih kuat pengaruhnya daripada yang dilakukan sendiri. Beliau berkata:

“Dalam kebersamaan di atas ketaatan terdapat kemudahan untuk melakukannya dan pengokohan di atasnya.” (Lihat: an-Nawawī, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, jilid 6, hlm. 145).

Namun ingatlah, wahai orang tua, sebelum menuntut anak menjadi baik, perbaikilah diri kita terlebih dahulu. Karena sesungguhnya akhlak kita adalah dakwah yang paling jujur, dan perubahan diri adalah langkah pertama untuk menyelamatkan generasi.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنَا بِمَا فِيهِ مِنَ الآيِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Renungan Penutup: Menyelamatkan Generasi dari Dalam Rumah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, sungguh umat ini tidak akan pernah bangkit dengan kokoh jika rumah-rumahnya runtuh secara nilai. Kita boleh membangun sekolah megah, lembaga hebat, dan sistem yang canggih, tetapi jika rumah kehilangan ruh iman dan akhlak, maka semua itu hanya akan melahirkan generasi yang kosong dari makna. Ketahuilah, perubahan besar tidak selalu dimulai dari mimbar-mimbar tinggi atau ruang-ruang kekuasaan, tetapi justru dari ruang kecil bernama rumah: dari cara ayah menundukkan pandangan, dari cara ibu menjaga lisan, dari kebiasaan keluarga menjaga shalat dan adab. Maka marilah kita bermuhasabah, wahai para orang tua dan calon orang tua: sudahkah rumah kita menjadi tempat bertumbuhnya iman, atau justru ladang suburnya kelalaian? Ingatlah, membangun rumah berilmu bukan sekadar upaya dunia, tetapi investasi besar untuk akhirat, yang pahalanya terus mengalir selama kebaikan itu hidup dalam diri anak-anak kita.

Karena itu, ma’asyiral muslimin, marilah kita kembali menjadikan rumah sebagai pusat iman dan akhlak, bukan sekadar tempat istirahat jasad, tetapi tempat disemai dan disuburkannya nilai. Jangan biarkan rumah kita sunyi dari Al-Qur’an, sepi dari zikir, dan asing dari nasihat agama. Mari kita angkat tangan dan tundukkan hati, memohon kepada Allah agar rumah-rumah kita dijaga dari kebodohan yang menyesatkan dan kerusakan akhlak yang menghancurkan. Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang diberkahi, yang darinya lahir generasi shalih yang menyejukkan pandangan dan menguatkan umat. Dan marilah kita akhiri khutbah ini dengan doa, seraya berharap Allah mengabulkan segala harapan dan permohonan kita.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْقُلُوبِ، وَنُورُ الطَّرِيقِ، وَعِصْمَةُ الْعَبْدِ فِي الشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِالْهُدَى، وَأَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ، فَإِنَّهُ أَمَانُ الْعِبَادِ وَسَبَبُ الرَّحْمَةِ وَدَفْعِ الْبَلاءِ.

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ إِيمَانٍ وَعِلْمٍ وَتَقْوَى، وَلَا تَجْعَلْهَا بُيُوتَ غَفْلَةٍ وَضَلَالٍ وَشَقَاءٍ.
اللَّهُمَّ زَيِّنْ بُيُوتَنَا بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ، وَاجْعَلْهَا مَهْبِطَ رَحْمَتِكَ، وَمَوْطِنَ سَكِينَتِكَ، وَمَجْمَعَ طَاعَتِكَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَوْلَادَنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ فِتَنِ الزَّمَانِ، وَمِنْ شَرِّ الْأَخْلَاقِ، وَمِنْ سُوءِ الْفِكْرِ وَالْعَمَلِ.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى تَرْبِيَتِهِمْ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ وَالْأَخْلَاقِ الْكَرِيمَةِ، وَاجْعَلْنَا لَهُمْ قُدْوَةً صَالِحَةً فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا سَبَبًا فِي ضَيَاعِهِمْ، وَلَا فِي انْحِرَافِهِمْ، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا فِي هِدَايَتِهِمْ وَصَلَاحِهِمْ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَأُسَرَنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

source : santridarsya.xo.je

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami