BerandaKajianAkidahSerial Syarh 3 Landasan Utama (Urgensi Waktu, Ilmu dan Amal)

Serial Syarh 3 Landasan Utama (Urgensi Waktu, Ilmu dan Amal)

- Advertisement -spot_img

Urgensiالمسألة الرَّابِعَةُ: الصَّبْرُ عَلَى الأَذَى فِيهِ. وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: بسم الله الرحمن الرحيم: وَالْعَصْرِ * إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. سورة العصركاملة

قَالَ الشَّافِعيُّ ـ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ـ: لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السُّورَةَ لَكَفَتْهُمْ

وَقَالَ البُخَارِيُّ ـ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ـ: بَابُ: العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالْعَمَلِ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ( فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ اله إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ )[محمد:19]، فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ (قَبْلَ القَوْلِ وَالعَمَلِ )

Masalah keempat: Bersabar menghadapi gangguan dalam berdakwah. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabara.” (QS Al-‘Ashr: 1-3)

Asy-Syafi’iy rahimahullah berkata: “Jika seandainya Allah subhanahu wa ta’ala tak menurunkan hujjah (keterangan) kepada para makhluk kecauali surat ini, tentu hal itu sudah cukup bagi mereka.”

Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Bab: ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.”

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: “Ketahuilah bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan mohon ampunlah untuk dosa-dosa mu. (QS Muhammad: 19)

SYARAH

Ucapan penulis: “bersabar dalam menghadapi kesulitan di dalamnya”, yaitu bersabar dalam menghadapi kesulitan yang dihadapi baik saat mencari ilmu, mengamalkan maupun mendakwahkannya. lebih-lebih bersabar saat mendakwahkannya. Sebab hal itu mengandung dua tantangan sekaligus. pertama tantangan internal, yaitu tantangan agar mampu beristiqamah dalam beramal, yang kedua adalah tantangan dalam menghadapi rintangan eksternal dakwah berupa orang-orang munafik maupun orang-orang kafir.

Dakwah sendiri memiliki banyak keutamaan di antaranya;

  1. Dakwah merupakan jalan hidup para Nabi.
  2. Mendapatkan pahala orang-orang yang mengikuti tanpa mengurangi pahala mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه ، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئاً ، ومن دعا إلى ضلالة ، كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئاً

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Sebaliknya barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa merekasedikitpun.” (Muttafaqun alaih)

  1. Merupakan sebaik-baik ucapan. Allah berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَولا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” ( QS. Fusilat: 33)

Sabar secara bahasa adalah menahan diri (Mukhtarus shihhah 1/375). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sabar adalah menahan diri dari dari rasa cemas , menahan lisan dari mengeluh dan menahan anggota badan dari tindakan anarkis.” (Madarijus Salikin 2/129). Syeikh DR Abdul Muhsin Al-Qasim hafidhallah mengatakan: “Sabar adalah kokohnya hati saat situasi kacau dan genting.” (Taisirul Wushul ila tsalatsatil ushul: 17) . Sabar bermacam-macam sesuai sudut pandang yang digunakan. Di antaranya ditinjau dari hukumnya sabar terbagi menjadi dua:

  1. Sabar yang wajib, contohnya sangat banyak tetapi yang paling penting ada tiga yaitu sabar dalam melaksanakan kewajiban, sabar dalam menjauhi yang haram serta dosa besar dan sabar dalam menghadapi ujian yang menimpa seorang hamba.
  2. Sabar yang mustahab/sunnah contohnya kesabaran dalam melaksanakan sesuatu diluar yang wajib.

Dan sabar yang dimaksud penulis (Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab ) adalah jenis sabar yang wajib (Miftahul wushul syarh tsalatsatil ushul: 21-22)

Sabar memiliki banyak faedah, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Hidayah tak akan diperoleh kecuali dengan ilmu, sedang kelurusan tak akan diperoleh kecuali dengan kesabaran.” (Majmu’ fatawa 10/40) di tempat lain beliau berkata: “Siapa dianugerahi kesabaran dan keyakinan maka Allah akan menjadikannya pemimpin.” (Majmu’ fatawa 6/215)

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr: 1-3)

“Dalilnya”, maksudnya dalil dari empat hal di atas.

“Di dalam surat ini Allah bersumpah dengan waktu asar yang merupakaan bagian dari waktu, yang merupakan tempat terjadinya berbagai peristiwa, bahwa setiap manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang memiliki empat karakter berikut: iman, amal shalih,berwasiat dalam kesabaran dan ketakwaan.” (Syeikh Utsaimin, Syarh tslalatsatul Ushul: 25)

Surat di atas juga menegaskan bahwa untuk istiqamah di atas kebenaran seseorang harus bermujahadah (bersungguh-sungguh) menundukkan jiwanya, sebab jiwa cenderung untuk santai dan memilih hal-hal yang mudah, sementara hidup adalah perjuangan. Ibnul Qayyim Al-jauziyah menyebutkan paling tidak ada empat jihadun nafs (jihad melawan hawa nafsu) yaitu:

  1. Jihadun nafs dalam mempelajari kebenaran dan agama yang haq, sebab dengan itulah keselamatan di dunia dan akhirat.
  2. Jihadun nafs untuk mengamalkan ilmu, bila tidak maka ilmunya tak bermanfaat.
  3. Jihadun nafs dalam rangka berdakwah untuk mengajarkan orang yang tidak tahu, bila tak dilakukan maka ia termasuk orang-orang menyembunyikan ilmu.
  4. Jihadun nafs dalam rangka bersabar menghadapi ujian-ujian dan gangguan dakwah.

Bila terwujud empat hal ini maka jadilah ia seorang rabbaniyyin (Zadul Ma’ad 3/9)

Penulis selanjutnya menukil perkataan Imam Syafi’iy rahimahullah. Beliau adalah salah seorang di antara empat imam madzhab, nama beliau Muhammad bin Idris Al-Quraisiy. Beliau berkata: “Jika seandainya Allah subhanahu wa ta’ala tak menurunkan hujjah (keterangan) kepada para makhluk kecauali surat ini, tentu hal itu sudah cukup bagi mereka.” Maksudnya cukup menjadi motivasi bagi setiap hamba untuk memaksimalkan waktu dalam empat hal di atas yaitu ilmu, amal, dakwah dan bersabar dalam menempuh itu semua.

Al-Bukhari, maksudnya adalah Imam Muhammad bin Isma’il berasal dari kota Bukhara (suatu kota di negeri Uzbekistan), beliau adalah penyusun kitab hadits jami’us Shahih yang dinilai sebagai kitab paling otentik setelah Al-Qur’an.

Al-Bukhari berkata: “Bab: ilmu sebelum perkataan dan perbuatan”. Beliau menulis dalam kitab As-Shahihnya satu bab tentang pentingnya ilmu yang fardhu sebelum ucapan dan perbuatan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Muhammad ayat ke-9 yang disebutkan kemudian:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ اله إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ [محمد:19

“Ketahuilah bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan mohon ampunlah untuk dosa-dosa mu (QS Muhammad: 19). Ayat ini pula yang dijadikan dalil oeh Al-Bukhari untuk memulai bab yang beliau tulis (bab Ilmu sebelum pekataan dan pebuatan). Hal ini dapat kita lihat bagaimana Allah mendahulukan ilmu sebelum mengesakan Allah dalam ibadah dan sebelum memohon ampun kepada Allah.

Wallahu a’lam

Referensi

  1. Mutunu Thalibil ilmi Al-Mustawa Al-Awwal. Dikumpulkan dan ditahqiq oleh Dr Abdul Muhsin bil Al-Qasim, Maktabah Malik Al-fahd, Riyadh, Saudi Arabia. 1434 H
  2. Hasyiyah Utsuluts tsalatsah, Aburrahman bin Al-Qasim An-Najdy, Wizaratus syu’unil Islamiyyah wal auqaf wadda’wah wal Irsyad, Saudi Arabia. 1416 H
  3. Syarh Tsalatsatul Ushul, Muhammad bin shalih Al-Utsaimin, Darul Aqidah , Mesir, 1420 H
  4. Taisirul wusul ila tsalatsatil ushul, DR Abdul Muhsin bin Al-Qasim
  5. Miftahul wushul syarh tsalatsatul ushul. Mut’ab bin Mus’ab Al-Ja’id
  6. Madarijus Salikin juz 2. Ibnul Qayyim Al-jauziyyah. Darul Hadits . kairo, Mesir cet 1430 H
  7. Zadul Ma’ad fi Hadyi khairil ‘ibaad jilid 2. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. cet Muasassah Ar-risalah, Beirut, Libanon 1415 H.
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami