Daftar Isi
Refleksi dari Strategi I’dad Ma’rifi Rasulullah ﷺ di Madinah untuk Penyiapan Generasi Pembebas Al-Aqsa
Oleh: Irfan Zain Nury
(Pengurus Pondok Pesantren Darusy Syahadah)
Pendahuluan: Khilafah akan Muncul di Baitul Maqdis
Rasulullah ﷺ memberikan isyarat penting mengenai masa depan umat Islam melalui sabdanya kepada Ibnu Hawalah. Ia bercerita: Rasulullah ﷺ meletakkan kedua tangannya di atas kepalaku, lalu beliau berkata:
يَا ابْنَ حَوَالَةَ، إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتِ الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ، فَقَدْ دَنَتِ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَاءُ وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ، وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّاسِ مِنْ يَدَي هَاتَيْنِ مِنْ رَأْسِكَ
“Wahai Ibnu Hawalah! Jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di atas bumi-bumi yang disucikan, maka telah dekatlah gempa, bencana dan masalah-masalah besar, dan hari Kiamat saat itu lebih dekat kepada manusia daripada dekatnya kedua tanganku ini dari kepalamu.” (HR. Ahmad, no. 22487, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).
Hadits ini menegaskan bahwa Khilafah akan tegak di Tanah Suci Baitul Maqdis.
Penjelasan Pilar Pertama Pembebasan Baitul Maqdis pada Fase Madinah
Ada tiga pilar utama pembebasan Baitul Maqdis, yaitu: I’dad Ma’rifi (Persiapan Pengetahuan), I’dad Siyasi (Persiapan Politik), dan I’dad ‘Askari (Persiapan Militer).
Untuk I’dad Ma’rifi (Persiapan Pengetahuan) pada fase Madinah, Rasulullah ﷺ melakukannya dengan menguatkan foundation stones (batu fondasi) umat. Prof. Dr. Abdul Fattah Al-Awaisi menyebutnya dengan istilah: ثقافة بيت المقدس في المدينة المنورة(Budaya Baitul Maqdis di Madinah Al-Munawarah). Dan budaya Baitul Maqdis itu dibangun di atas empat pilar:
- المصطلحات الإسلامية
Pilar I – Menghidupkan Istilah Islami yang Benar tentang Baitul Maqdis
Istilah yang tepat merupakan pondasi, karena istilah yang tepat akan memberikan gambaran yang tepat. Dan gambaran yang tepat akan melahirkan perjuangan yang tepat pula.
Rasulullah ﷺ tidak menggunakan istilah Romawi “Aelia”, tetapi menggantinya dengan istilah Islami, yaitu:
- Baitul Maqdis (Istilah Nabawiyah).
- Al-Ardh al-Muqaddasah (Istilah Qur’aniyah).
Memang benar ayat-ayat tentang Baitul Maqdis atau Masjid Al-Aqsha adalah ayat Makkiyah, namun ternyata ada juga ayat Madaniyah yaitu tentang perintah Nabi Musa kepada Bani Israil:
يٰقَوْمِ ادْخُلُوا الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ
“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitulmaqdis).” (QS. Al-Māidah: 21)
Ada istilah lain yang perlu dipahami dan dibedakan di sini, yaitu ‘Al-Ardh Al-Muqaddasah’ dan ‘Al-Ardh Al-Mubarakah’.
- ‘Al-Ardh Al-Muqaddasah’ (Tanah yang Disucikan), yaitu Baitul Maqdis.
- ‘Al-Ardh Al-Mubarakah’ (Tanah yang Diberkahi), yaitu Syam dan Mesir.
‘Al-Ardh Al-Muqaddasah’ ada di dalam ‘Al-Ardh Al-Mubarakah’, karena ‘Al-Ardh Al-Mubarakah’ lebih luas dari pada ‘Al-Ardh Al-Muqaddasah’.
Batasan wilayah Baitul Maqdis bukanlah batas administratif, tetapi batas suci yang telah ditetapkan oleh Allah, sebagaimana Batasan Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Maka batasan wilayah Baitul Maqdis bukanlah batasan wilayah Palestina hari ini. Sehingga kita berjuang hari ini adalah atas nama Baitul Maqdis, bukan sekedar atas nama Palestina.
Oleh sebab itu, penggunaan istilah dan batasan yang benar menjadi hal yang penting bagi umat Islam, sebab penggunaan istilah yang salah akan menghasilkan gambaran yang salah. Dan gambaran yang salah akan berakibat kepada perjuangan yang salah pula.
Dan dalam sejarahnya, Perancis dan Inggrislah yang telah membuat batasan wilayah Palestina. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُوْمَ الأَرْضِ
“Allah melaknat orang yang merubah batasan wilayah di muka bumi ini.” (HR. Ahmad)
Maka kita lebih cinta kepada siapa? Kepada Perancis, Inggris dan penjajah? Atau kepada Rasulullah ﷺ? Oleh karenanya, kalua kita cinta kepada Rasulullah ﷺ, maka cinta itu bukanlah sekedar omongan, akan tetapi membutuhkan pembuktian. Dan bentuk pembuktian itu adalah dengan mengikuti apa yang beliau ﷺ sampaikan.
Selanjutnya sebagai bukti cinta Rasul ﷺ juga, Prof. Dr. Abdul Fattah Al-Awaisi menginginkan agar kita semua menggunakan istilah-istilah Islami di Indonesia, khususnya istilah Baitul Maqdis. Sebagaimana sebelumnya beliau pernah menyebut sebuah tema:
“Budaya Baitul Maqdis di Madinah Al-Munawarah (ثقافة بيت المقدس في المدينة المنورة)”
Beliau juga ingin kita menciptakan dan menyebarkan:
“Budaya Baitul Maqdis di Indonesia (ثقافة بيت المقدس في إندونيسية)”
- بث الأمل والبشارات بفتح بيت المقدس
Pilar II – Menyebarkan Harapan dan Kabar Gembira Pembebasan Baitul Maqdis
Rasulullah ﷺ senantiasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat tentang masa depan Baitul Maqdis. Contohnya:
- Kepada sahabat Syaddad ibn Aus yang sedang sakit, beliau ﷺ memberikan kabar bahwa Syam dan Baitul Maqdis akan dibebaskan, bahkan Syaddad dan keturunannya akan menjadi pemimpin di Masjidil Aqsa. Dan ternyata hal itu menjadi kenyataan.
- Kepada Auf ibn Malik saat Perang Tabuk, Rasulullah ﷺ menyebutkan enam tanda besar sebelum kiamat, dan nomor dua adalah pembebasan Baitul Maqdis.
Ini menunjukkan bahwa proyek pembebasan Baitul Maqdis adalah rencana strategis lintas generasi yang telah dipersiapkan sejak kenabian. Allah memerintahkan manusia untuk beramal, adapun hasilnya, maka diserahkan kepada Allah. Akhirnya benar, bahwa Baitul Maqdis dibebaskan selang 5 tahun setelah Rasulullah ﷺ wafat.
Allah berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 105:
﴿ وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا مُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۘ ١٠٥ ﴾
“Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.”
Demikian pula, di akhir zaman ini ada kabar gembira bahwa negara Israel akan hancur. Maka tugas kita sekarang ini adalah menyebarkan kabar gembira akan pembebasan Kembali Baitul Maqdis dan akan hancurnya negara Israel yang pasti terjadi.
- قراءة سورة الإسراء كل ليلة قبل النوم
Pilar III – Merutinkan Membaca Surah Al-Isrā’ pada Setiap Malam Sebelum Tidur
Aisyah ra. meriwayatkan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ َالزُّمَرَ وبَنِي إِسْرَائِيلَ
“Nabi ﷺ tidak tidur hingga membaca Surat Az-Zumar dan Bani Israil [Al-Isra’].” (HR. Tirmidzi)
Kalau kita melakukan hal ini, maka kita akan merasakan perubahan besar dalam hidup. Hal ini bisa dilakukan secara bersama atau sendiri-sendiri. Bisa bersama keluarga, teman atau bersama di pondok. Hal ini bisa dilakukan dengan niat:
- Menghidupkan sunnah yang tertinggalkan.
- Menghidupkan budaya Baitul Maqdis di Indonesia, sebagaimana budaya Baitul Maqdis di Madinah.
Sesungguhnya banyak ulama dan aktivis Al-Aqsa yang menjadikan surah ini sebagai amalan bacaan harian (sebelum tidur) yang membentuk karakter perjuangan. Cobalah minimal selama 1 bulan, maka akan nampak perubahan pola hidup dan karakter pada diri kita.
- مادة حوارية بين الصحابة
Pilar IV – Menjadikan Baitul Maqdis sebagai Topik Pembicaraan Para Shahabat
Para sahabat selalu membicarakan Baitul Maqdis dalam majelis-majelis mereka. Bahkan seorang pembantu seperti Maimunah binti Sa’ad Maula Rasulullah ﷺ pun memiliki perhatian besar. Ia bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفْتِنا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ؟
“Wahai Rasulullah, berilah kami fatwa (penjelasan) tentang Baitul Maqdis!”
Rasulullah ﷺ menjawab:
أَرْضُ الْمَنْشَرِ وَالْمَحْشَرِ
“(Ia adalah) tempat manusia dibangkitkan dan dikumpulkan (pada hari kiamat)”
Maksudnya hal itu akan terjadi di Baitul Maqdis, tempat yang namanya sama, namun bumi sudah berganti dengan bumi lain.
Rasulullah ﷺ melanjutkan bahwa shalat di dalamnya bernilai seribu kali lipat. Ketika Maimunah belum mampu pergi ke sana, Rasulullah ﷺ memberikan solusi:
فَلْيُهْدِ إِلَيْهِ زَيْتًا يُسْرَجُ فِيْهِ
“Maka kirimkanlah minyak untuk meneranginya.” (HR. Ahmad: 6/463, hadits no. 27079).
Maksudnya adalah agar menyampaikan ilmu tentangnya, karena ilmu adalah ‘نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ’ (cahaya di atas cahaya).
Demikianlah pembicaraan pada masa itu. Hadits ini pun sampai ke telinga Nuruddin Zanki hingga akhirnya ia membuat mimbar khusus di tengah kota Damaskus untuk diletakkan di Masjidil Aqsa, setelah bebas nantinya.
Menjadikan Masjid Al-Aqsha sebagai tema pembicaraan kita ini bisa kita lakukan dengan menyampaikan kepada lawan bicara kita, misalnya dengan mengatakan:
- Ramadhan depan kita akan berbuka di Masjid Al-Aqsha in sya Allah.
- Semoga Allah menjadikan anak keturunanmu bisa pulang pergi ke Masjid Al-Aqsha yang telah merdeka.
Demikianlah yang biasa disampaikan oleh Prof. Dr. Abdul Fattah Al-Awaisi kepada keluarganya dan lawan biacaranya.
Penutup: Membangun Budaya Baitul Maqdis di Indonesia
Untuk menerapkan budaya ini, umat Islam Indonesia dapat melakukan beberapa hal berikut.
- Menghidupkan kembali istilah “Baitul Maqdis” dan menggunakan peta Wilayah Baitul Maqdis yang benar.
- Menjadikan pembahasan Aqsa sebagai topik pembicaraan keluarga, komunitas, dan dakwah.
- Membaca Surah Al-Isra’ setiap malam.
- Menyebarkan kabar gembira mengenai janji Allah atas pembebasan Baitul Maqdis.
Budaya inilah yang membentuk generasi yang siap mengambil bagian dalam proyek besar umat: Pembebasan Masjidil Aqsa dan wilayah suci Baitul Maqdis.
Sumber:
- Nury, Irfan Zain. Resume Dauroh Baitul Maqdis dengan Pembicara Prof. Dr. Syaikh Abdul Fattah El-Awaisi. Diselenggarakan oleh Saladin Community & Aqsa Working Group, 21-23 November 2025, Semarang, Jawa Tengah.
- El-Awaisi, Abdul Fatah. 2025. Rencana Strategis Pembebasan Masjid Al-Aqsa. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.
- El Awaisi, Abd Al Fattah. 2025. Budaya Baitul Maqdis di Madinah al-Munawwarah: dari Fondasi Strategis Kenabian hingga Implementasi Substansial Kontemporer dalam Masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia. Majalah Dirasat Baitul Maqdis, 25(2): 173-186.




