BerandaKabar PondokDSPALawu dan Jejak Jiwa Muda SAPALA KADAFISA

Lawu dan Jejak Jiwa Muda SAPALA KADAFISA

- Advertisement -spot_img

Pendahuluan

Karanganyar, 16 Mei 2025 – Suasana pegunungan yang sejuk dan penuh tantangan menjadi saksi perjalanan istimewa para santri SAPALA (Santri Pecinta Alam Kader Da’i Fie Sabilillah) dari kelas 1 dan 2 KMI Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah dalam kegiatan bertajuk “Lawu dan Jejak Jiwa Muda SAPALA KADAFISA.” Kegiatan ini berlangsung pada hari Kamis hingga Jumat, 15–16 Mei 2025, selama 2 hari 1 malam, dengan rute pendakian Gunung Lawu via Jalur Cetho, Karanganyar.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting dalam program pembinaan santri SAPALA, dengan tujuan utama melatih kemandirian, daya juang, tanggung jawab sosial, serta meningkatkan ketahanan fisik, mental, dan spiritual.

Menyambut Tantangan dengan Semangat Dakwah

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan dan briefing teknis di pondok, yang dipandu langsung oleh pengurus SAPALA KMI. Setelah persiapan matang, para peserta diberangkatkan menuju basecamp Jalur Cetho, titik awal pendakian.

Dengan semangat yang membara, para santri menapaki jalur menanjak menuju Pos Lima, tempat mereka mendirikan camp dan melaksanakan tadabbur alam. Di tempat inilah mereka tidak hanya melepas lelah, tetapi juga merenungi kebesaran Allah di tengah alam ciptaan-Nya yang megah.

Puncak Hargo Dumilah: Simbol Kemenangan Diri

Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, para peserta melanjutkan perjalanan menuju puncak Hargo Dumilah—puncak tertinggi Gunung Lawu. Pendakian ini bukan hanya tentang menaklukkan ketinggian, tetapi juga tentang menaklukkan ego, rasa lelah, dan keterbatasan diri.

Setelah mencapai puncak dan menikmati panorama yang memukau, rombongan melanjutkan perjalanan turun dan menutup kegiatan dengan evaluasi akhir. Di momen inilah setiap peserta diajak merefleksikan nilai-nilai yang telah mereka dapatkan selama perjalanan.

Pembelajaran yang Melekat di Hati

Melalui kegiatan ini, para santri mendapatkan pengalaman yang tak ternilai. Dari kerja sama dalam mendaki, rasa peduli terhadap rekan yang kelelahan, hingga kesabaran menghadapi tantangan alam. Semua itu menjadi bagian dari pendidikan karakter yang melekat kuat dalam jiwa mereka.

Dalam penutupan kegiatan, pengurus SAPALA menyampaikan pesan mendalam: “Langkah ini bukan sekadar mendaki, tapi menapak jejak jiwa muda yang ditempa oleh alam. Semoga menjadi pengalaman berharga dan pelajaran hidup yang tak terlupakan.”

Di balik rimbunnya hutan dan terjalnya jalur pendakian, para santri menapaki kemandirian dengan langkah-langkah kecil yang penuh makna—bukan sekadar melawan lelah, tapi menaklukkan diri sendiri. Di alam raya yang sunyi namun sarat pelajaran, mereka belajar bahwa kemandirian bukan berarti berjalan sendiri, tapi mampu berdiri tegak ketika ujian datang, dan tetap peduli saat yang lain tertinggal. Setiap embusan angin, setiap denting ranting, menjadi pengingat bahwa proses menempa diri tidak selalu nyaman, tapi selalu bermanfaat. Di tengah dingin yang menusuk dan langkah yang melambat, lahirlah jiwa-jiwa muda yang lebih kuat—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara mental dan spiritual.

 

Gunung Lawu menjadi ladang latihan yang tak hanya menguatkan otot dan napas, tetapi juga menghidupkan hati. Santri SAPALA pulang bukan hanya dengan ransel penuh perlengkapan, tetapi dengan semangat baru, pengalaman berharga, dan tekad yang semakin kuat untuk menjadi da’i muda yang tangguh dan bermanfaat bagi umat.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami