Karanganyar – Semangat kepedulian terhadap Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis terus ditumbuhkan di kalangan santri. Salah satu ikhtiar nyata diwujudkan melalui kegiatan Rekrutmen Duta Baitul Maqdis yang diselenggarakan oleh FORMAQIN (Forum Ma’had Aly dan Ma’had ‘Aly Nusantara) bekerja sama dengan ISA (International Sharia Academy) dan ACA Indonesia. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari penuh, Sabtu–Ahad, 7–8 Februari 2026, bertempat di Lembah Manah Mataram, Karanganyar.
Pondok Pesantren Darusy Syahadah turut berpartisipasi dengan mengirimkan tiga santri kelas 1 KMI, yaitu Yahya, Aufan, dan Rafa, didampingi ustadz Ihsanul Amal Arrifa’i. Kehadiran delegasi Darusy Syahadah menjadi bagian dari 32 pondok pesantren peserta yang hadir dari berbagai daerah, menunjukkan besarnya perhatian kalangan pesantren terhadap isu perjuangan Baitul Maqdis.

Kegiatan ini mengusung visi membentuk jaringan santri lintas pesantren yang memiliki kesadaran, kepedulian, serta komitmen dakwah terhadap pembelaan Baitul Maqdis. Para peserta diseleksi dengan kriteria tertentu, di antaranya berakhlak baik, mampu berkomunikasi dengan baik, serta memiliki minat dalam bidang dakwah, literasi, media, maupun kepemimpinan santri.


Selama dua hari, peserta mengikuti rangkaian dauroh yang padat dan terstruktur. Hari pertama diawali dengan registrasi dan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi-materi tematik. Materi pembuka membahas “Indahnya Kedudukan Baitul Maqdis dalam Semesta Al-Qur’an dan As-Sunnah” sebagai fondasi keilmuan tentang urgensi Masjidil Aqsha dalam ajaran Islam. Selanjutnya, peserta mendapatkan pemaparan mengenai kewajiban jihad saat tanah suci dijajah, keteladanan para khalifah dalam melanjutkan perjuangan dakwah, hingga kisah kebangkitan generasi Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai inspirasi sejarah peradaban Islam.
Memasuki hari kedua, suasana ruhiyah dibangun sejak dini hari melalui qiyamullail dan kultum Subuh. Rangkaian materi berikutnya mengupas sejarah konspirasi penjajah terhadap dunia Islam, perjalanan satu abad jihad Baitul Maqdis di masa modern, hingga strategi memasukkan isu Baitul Maqdis ke dalam kurikulum pendidikan. Sesi bedah forensik kejahatan kemanusiaan Zionisme serta kajian geopolitik dunia Islam turut memperluas wawasan peserta tentang realitas perjuangan kontemporer.

Selain materi kelas, panitia juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung, seperti penginapan, konsumsi, coffee break, kaos seragam, sertifikat, serta bimbingan lanjutan selepas dauroh. Fasilitas ini membantu peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan lebih fokus dan nyaman.

Melalui kegiatan ini, para santri tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah dan geopolitik, tetapi juga ditanamkan kesadaran ideologis serta tanggung jawab dakwah. Harapannya, para peserta yang terpilih sebagai Duta Baitul Maqdis dapat menjadi agen edukasi di pesantren masing-masing, menyebarkan kepedulian umat terhadap Masjidil Aqsha serta menggerakkan aksi nyata di bidang dakwah, literasi, dan sosial kemanusiaan.

Keikutsertaan Darusy Syahadah dalam agenda ini menjadi bukti komitmen pesantren untuk terus hadir dalam isu-isu umat berskala global. Semoga langkah ini menjadi kontribusi nyata dalam membangun generasi santri yang berilmu, peduli, dan siap membela kehormatan Islam di mana pun berada.




