BerandaKabar PondokJejak Tarbiyah Darusy Syahadah di Bumi Poso

Jejak Tarbiyah Darusy Syahadah di Bumi Poso

- Advertisement -spot_img
Jejak Tarbiyah Darusy Syahadah di Bumi Poso
Catatan Perjalanan dan Silaturahim Darusy Syahadah di Poso dan Palu

Poso, 23/05/2026 — Ada kebahagiaan yang sulit dilukiskan ketika benih yang disemai bertahun-tahun lalu tumbuh menjadi pohon yang rindang, berbuah lebat, dan menaungi banyak orang. Perasaan itulah yang menyelimuti perjalanan saya, Qosdi Ridwanullah, saat mendapat amanah berharga: menemani Ustadz Mustaqim memenuhi undangan para ikhwah dan alumni Darusy Syahadah di bumi Poso, Sulawesi Tengah.

​Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana tarbiyah mampu mengubah wajah sebuah daerah dan merajut kembali peradaban yang sejuk.

​Babak I — Detak Jantung Pendidikan di Pondok Amanah

Langkah kaki kami pertama kali disambut oleh rona semangat para pejuang pendidikan di Pondok Pesantren Amanah. Kompleks pendidikan ini telah berkembang pesat hingga terbagi menjadi empat bagian. Decak kagum dan rasa syukur langsung membuncah di dada kami saat mengetahui bahwa tiga dari mudir yang memimpin unit-unit tersebut adalah anak-anak ideologis kami sendiri — alumni Darusy Syahadah.

​Di ruang pertemuan yang khidmat, Ustadz Mustaqim membuka cakrawala berpikir para pengelola pondok. Beliau mengupas tuntas karakter utama yang harus melekat pada seorang pemegang amanah pendidikan: menjaga integritas amanah dan terus menguatkan profesionalitas. Tanpa keduanya, institusi pendidikan hanya akan menjadi bangunan tanpa jiwa.

​Saya pun mendapat kehormatan untuk melengkapi arahan beliau. Siang itu, saya menekankan kembali potret karakter guru ideal yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ melalui untaian hadisnya. Seorang pendidik sejati adalah mereka yang:

  • Dekat dan lekat dengan hati peserta didiknya.
  • ​Bersikap terhormat (mubajjal) sehingga berwibawa di mata santri.
  • ​Lemah lembut dalam menuntun, bukan memukul.
  • Memudahkan urusan, bukan mempersulit proses belajar.

​Babak II — Hangatnya Pelukan Ayah dan Anak, serta Buah Manis Tarbiyah

Sore beranjak malam, namun suasana justru semakin menghangat. Kami berkumpul bersama para alumni dalam sebuah ruang rasa yang penuh kerinduan. Pertemuan itu laksana melepas kangen antara seorang bapak dengan anak-anak kandungnya yang telah lama merantau.

Mendengar cerita kiprah mereka di tanah Poso membuat dada kami bergetar haru. Tarbiyah yang dahulu disemai di Darusy Syahadah kini telah berbuah manis dan ikut andil nyata dalam menumbuhkan peradaban Islam di sini — sebuah peradaban yang tidak hanya memberikan rasa aman bagi umat muslim, tetapi juga menjadi rahmat yang nyaman bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).

Kiprah mereka begitu warna-warni dan multidimensi:

  • Ada yang tegak berdiri menjadi ketua yayasan pendidikan dan mudir pesantren.
  • Ada yang mengambil peran unik sebagai peruqyah syar’iyyah yang handal.
  • Banyak pula yang merintis dunia wirausaha, bahkan salah satu di antara mereka berkisah dengan ceria telah berhasil membeli mobil dari hasil panen kebun duriannya.
  • Bahkan, adik-adik alumni yang statusnya belum resmi lulus pun, sudah dipercaya masyarakat untuk menjadi imam masjid di daerahnya.

​Di sela-sela agenda yang padat, kebahagiaan kami makin lengkap karena sempat bersua dengan para alumni putri — mulai dari angkatan KMA pertama hingga alumni program Ta’hil — yang dengan anggun mengabdikan diri mengajar di pesantren.

​Babak III — Menata Idaroh, Merawat Irodah

Kunjungan kami berlanjut pada sesi sharing bersama pengurus Yayasan Amanah Poso — sebuah yayasan besar yang dirintis dan dibesarkan oleh tokoh karismatis Poso, almarhum K.H. Adnan Arsal.

Dalam diskusi yang mendalam, Ustadz Mustaqim memberikan sebuah formula penting dalam mengelola lembaga dakwah. Beliau menekankan bahwa selain sibuk menata Idaroh (manajemen organisasi/fisik), sebuah yayasan Islam wajib hukumnya untuk terus menjaga dan menguatkan Irodah (manajemen hati). Mengapa? Karena dari kebersihan hati sajalah akan lahir kebersamaan yang tulus dan sikap saling menguatkan antar-pengurus.

​Setelah itu, ruang diskusi melebar bersama pengurus pesantren, dihadiri oleh empat mudir beserta jajaran timnya, serta mudir umum. Di sinilah kami saling bertukar isi kepala dan pengalaman. Kami berbagi resep bagaimana Darusy Syahadah mengelola lembaganya yang kini telah berkembang dari jenjang SLTP, SLTA, hingga Ma’had Aly.

Kuncinya terletak pada sistem satu pimpinan utama dan satu yayasan, yang kemudian digerakkan oleh kekuatan syura (musyawarah) serta komunikasi yang tiada putus antar-pengasuh. Manajemen yang satu pintu inilah yang membuat roda pesantren berjalan dengan sangat nyaman dan minim gesekan.

​Babak IV — Gema Takbir dan Kehangatan di Rumah Wakil Bupati

​Hari Raya Idul Adha tiba. Gema takbir berkumandang membelah langit Poso. Kami berdua mendapat kehormatan luar biasa untuk menyapa langsung masyarakat Poso dengan berdiri di mimbar sebagai khatib salat Id.

Suasana terasa sangat sakral dan khidmat. Khusus bagi Ustadz Mustaqim yang bertugas menyampaikan khotbah di pusat Poso Kota, momentum ini berlanjut pada agenda ramah tamah di kediaman Wakil Bupati Poso. Sambutan yang diberikan begitu hangat, mencerminkan betapa diterimanya dakwah yang santun di hati para pemangku kebijakan daerah.

​Babak V — Estafet Perjalanan Menuju Palu

Selesai menuntaskan rindu dan agenda di Poso, perjalanan kami berlanjut menuju Palu. Kali ini, kami “dikawal” langsung oleh Mudir Pesantren Amanah Putra dan Mudir Amanah Putri yang dua-duanya merupakan alumni Darusy Syahadah. Sungguh sebuah bakti yang membuat kami tersanjung.

​Setibanya di Palu, kami transit di salah satu rumah wali santri. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, kami menyempatkan diri menyapa jamaah masjid di sekitar lingkungan tersebut. Ustadz Mustaqim memberikan taujih (arahan) yang membakar semangat agar kita, sebagai aktivis dakwah, harus terus meningkatkan potensi diri dan menguatkan kontribusi bagi umat.

Sementara saya mengulas sedikit tentang pola pendidikan di Darusy Syahadah yang berikhtiar menapaki jejak Nabawi — mengikuti pola Rasulullah saat mendidik dan menempa para sahabatnya di masa awal Islam.

​Penutup — Kembali ke Pangkuan Darusy Syahadah

​Pagi ini, Jumat, 29 Mei 2026, udara terasa sejuk saat kami bersiap bertolak kembali ke pelukan Darusy Syahadah. Langkah kepulangan kami diantar dengan takzim oleh Mudir Pesantren Khoiru Ummah Palu beserta seorang ustadz muda — yang lagi-lagi, keduanya adalah alumni Darusy Syahadah.

​Perjalanan ke Bumi Poso dan Palu ini menjadi bukti nyata bahwa sejauh apa pun burung-burung Darusy Syahadah itu terbang, mereka tidak pernah lupa pada sangkarnya. Lebih dari itu, mereka telah membangun sangkar-sangkar baru untuk melahirkan generasi penerus berikutnya.

​Jazakumullah khairan atas sambutan, khidmah, dan ketulusan semuanya. Terkhusus kepada segenap jajaran Yayasan Amanah Poso — mulai dari ketua yayasan, bagian dakwah, bagian pendidikan, hingga seluruh tim yang terlibat. Semoga Allah ta’ala selalu menautkan hati-hati kita dalam ikatan kasih sayang sesama muslim, dan membalas seluruh kebaikan antum semua dengan ganjaran terbaik dan berlipat ganda. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

- Advertisement -spot_img
abufajri
abufajrihttp://www.darusyahadah.com/tag/abufajri/
Alumnus K01 tahun 1998, menyukai kaligrafi atau khat, menulis dan edit-edit dikit
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami