BerandaKajianFikihBacaan Doa dan Dzikir Ketika Menyembelih Hewan Kurban

Bacaan Doa dan Dzikir Ketika Menyembelih Hewan Kurban

- Advertisement -spot_img

Kurban Bukan Sekadar Menyembelih Hewan

Setiap Idul Adha, suasana penyembelihan hewan kurban selalu menghadirkan pemandangan yang khas. Ada yang sibuk memegang tali sapi, ada yang menyiapkan plastik daging, ada pula yang merekam momen penyembelihan dengan kamera ponsel. Sebagian panitia sibuk mengatur antrean distribusi, sementara yang lain fokus mendokumentasikan proses penyembelihan untuk media sosial dan laporan kegiatan.

Namun di tengah kesibukan itu, satu hal yang sering terlupakan adalah bacaan ketika menyembelih hewan kurban.

Padahal, penyembelihan kurban bukan sekadar proses memotong hewan. Ia adalah ibadah. Ia adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala. Karena itu, syariat mengajarkan adab dan dzikir khusus yang dianjurkan dibaca ketika menyembelih.

Lalu, apa sebenarnya bacaan yang disunnahkan?

Bacaan yang Dianjurkan Ketika Menyembelih Kurban

Rasulullah ﷺ mencontohkan agar orang yang menyembelih mengucapkan basmalah dan takbir, serta dianjurkan menambahkan doa-doa yang baik.

Di antara bacaan yang dianjurkan adalah:

بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنِّي، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, (kurban) ini dari-Mu dan untuk-Mu. Ini atas namaku. Ya Allah, terimalah kurban ini dariku.”

Jika penyembelihan dilakukan untuk orang lain, maka nama orang tersebut disebutkan:

هَذَا عَنْ فُلَانٍ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلَانٍ وَآلِ فُلَانٍ

“Ini atas nama fulan. Ya Allah, terimalah dari fulan dan keluarga fulan.”

Bagaimana Jika Kurban Sapi Patungan Tujuh Orang?

Dalam praktik kurban masa kini, hal ini sangat sering terjadi. Satu ekor sapi dibeli bersama oleh tujuh peserta, lalu panitia mewakili proses penyembelihannya. Maka muncul pertanyaan: apakah semua nama peserta perlu disebutkan?

Para ulama menjelaskan bahwa hal tersebut dibolehkan dan termasuk dalam keumuman sunnah menyebut shahibul qurban ketika menyembelih.

Misalnya dengan membaca:

بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنْ فُلَانٍ وَفُلَانٍ وَفُلَانٍ وَفُلَانٍ وَفُلَانٍ وَفُلَانٍ وَفُلَانٍ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمْ

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, kurban ini dari-Mu dan untuk-Mu. Ini atas nama fulan, fulan, fulan dan seterusnya. Ya Allah, terimalah dari mereka.”

Jika nama peserta terlalu banyak atau sulit disebut satu per satu, maka cukup dengan doa yang bersifat umum:

اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ أَصْحَابِ هَذِهِ الْأُضْحِيَةِ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمْ

“Ya Allah, ini atas nama para peserta kurban ini. Ya Allah, terimalah dari mereka.”

Sebab inti dari bacaan tersebut adalah menghadirkan niat ibadah dan penyandaran kurban kepada para shahibul qurban.

Yang Wajib dan Yang Sunnah Ketika Menyembelih

Yang wajib sebenarnya hanyalah membaca basmalah. Adapun tambahan doa dan dzikir lainnya hukumnya sunnah, namun sangat dianjurkan karena itulah yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi ﷺ berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, membaca basmalah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di atas sisi tubuh hewan tersebut.” (HR. al-Bukhari, no. 5565 dan Muslim, no. 1966)

Dalam riwayat lain dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ membaca doa:

بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah kurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” (HR. Muslim, no. 1967)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menyebut lebih dari satu pihak dalam doa kurban beliau.

Bahkan dalam hadits riwayat Imam at-Tirmidzi, Nabi ﷺ juga pernah membaca:

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ini dariku dan dari siapa saja dari umatku yang belum berkurban.” (HR. at-Tirmidzi, no. 1521; dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah)

Kalau Nabi ﷺ saja boleh memasukkan banyak orang dalam satu penyebutan kurban, maka penyebutan tujuh peserta sapi kurban tentu lebih memungkinkan.

Penjelasan Para Ulama tentang Penyebutan Shahibul Qurban

Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullah berkata:

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ: اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي

“Disunnahkan mengucapkan: ‘Ya Allah, terimalah dariku.’”
(al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 8/408)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan:

وَإِنْ كَانَتْ عَنْ غَيْرِهِ قَالَ: اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلَانٍ

“Jika kurban itu untuk orang lain, maka ia mengucapkan: ‘Ya Allah, ini atas nama fulan.’”
(Syarhul Mumti’, 7/492)

Ada pula tambahan doa yang sangat masyhur:

اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

“Ya Allah, sesungguhnya kurban ini dari-Mu dan untuk-Mu.”

Para ulama menjelaskan bahwa makna “مِنْكَ” adalah: hewan kurban, kemampuan membeli, dan rezeki untuk berkurban semuanya berasal dari Allah. Sedangkan “وَلَكَ” artinya: seluruh ibadah ini dipersembahkan hanya untuk Allah semata. (Lihat: Syarhul Mumti’, 7/492)

Ketika Dokumentasi Lebih Ramai daripada Dzikir

Di zaman sekarang, kadang penyembelihan kurban berubah menjadi sekadar rutinitas tahunan. Ada yang lebih sibuk memastikan kamera merekam dengan baik daripada menghadirkan dzikir ketika menyembelih. Bahkan tidak jarang penyembelihan berlangsung terburu-buru, penuh teriakan instruksi, tetapi minim pengagungan kepada Allah.

Padahal justru di detik-detik itulah letak ruh ibadah kurban.

Allah Ta’ala tidak membutuhkan darah dan daging hewan tersebut. Yang Allah lihat adalah ketakwaan dan keikhlasan hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. al-Hajj: 37)

Menyembelih dengan Nama Allah, Bukan Sekadar Tradisi

Karena itu, jangan sampai penyembelihan kurban dilakukan tanpa dzikir, tanpa menghadirkan niat ibadah, dan tanpa pengagungan kepada Allah.

Basmalah yang diucapkan sebelum menyembelih bukan sekadar formalitas. Ia adalah tanda bahwa hewan itu disembelih atas nama Allah, bukan sekadar tradisi tahunan, acara panitia, atau kegiatan sosial biasa.

Semoga Allah menerima amal kurban kaum muslimin, melimpahkan keberkahan pada harta yang dikorbankan, dan menjadikan ibadah kurban sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami