Daftar Isi
Cinta kepada Rasul bukan hanya bershalawat dengan lisan, tetapi membuktikannya dalam kehidupan.
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَنَسْأَلُهُ الْهِدَايَةَ لِسَبِيلِهِ، وَالثَّبَاتَ عَلَى دِينِهِ، وَحُسْنَ الِاقْتِدَاءِ بِنَبِيِّهِ، وَالِاتِّبَاعَ لِهَدْيِهِ، وَالتَّخَلُّقَ بِأَخْلَاقِهِ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ أَرْسَلَ إِلَيْنَا رَسُولًا رَحِيمًا، وَنَبِيًّا كَرِيمًا، وَهَادِيًا مُسْتَقِيمًا، وَجَعَلَهُ لَنَا أُسْوَةً وَقُدْوَةً، وَسِرَاجًا وَهُدًى وَرَحْمَةً.
وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَلْقَاهُ بِهَا يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُصْطَفَى الْمُجْتَبَى، وَالْقُدْوَةُ الْمُرْتَضَى
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِمَنْ أَرَادَ نَجَاةً وَفَلَاحًا، وَسَعَادَةً وَصَلَاحًا.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Betapa Rasulullah ﷺ Memikirkan Kita
Jamaah Jumat rahimakumullah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk mengenal serta mencintai manusia terbaik yang pernah berjalan di muka bumi, Nabi Muhammad ﷺ. Kita bersyukur kepada-Nya karena melalui Rasulullah ﷺ, Allah menunjukkan kepada kita jalan keselamatan, mengajarkan kepada kita bagaimana beribadah, bagaimana bersikap, bagaimana memaafkan, bagaimana menyayangi, dan bagaimana menjadi manusia yang baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesama.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat. Selanjutnya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa; menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, dan berusaha menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam setiap sisi kehidupan kita.
Jamaah Jumat rahimakumullah, pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita sejenak bertanya kepada diri sendiri: kita sering mengatakan mencintai Rasulullah ﷺ, lisan kita sering bershalawat, hati kita tersentuh ketika mendengar kisah beliau, tetapi sudahkah cinta itu benar-benar terlihat dalam akhlak dan kehidupan kita? Sebab mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang seberapa sering nama beliau kita sebut, tetapi tentang seberapa jauh ajaran dan akhlak beliau hidup dalam diri kita.
Jamaah Jumat rahimakumullah, pernahkah kita membayangkan, ada seseorang yang begitu mengkhawatirkan kita, padahal kita tidak pernah bertemu dengannya? Kita tidak pernah melihat wajah Rasulullah ﷺ, tidak pernah berjabat tangan dengan beliau, tidak pernah duduk di hadapan beliau. Namun lebih dari 1.400 tahun yang lalu, Rasulullah ﷺ telah menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau kepada umatnya. Dalam hadis yang sahih, Rasulullah ﷺ membaca ayat yang berkaitan dengan Nabi Ibrahim dan Nabi Isa tentang umat mereka. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berkata,
“Allahumma ummati, ummati—Ya Allah, umatku, umatku,” lalu beliau menangis. Jibril datang menanyakan sebab tangisan beliau, dan Allah kemudian berfirman, “Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha berkaitan dengan umatmu dan Kami tidak akan menyusahkanmu.” (HR. Muslim no. 202).
Jamaah Jumat rahimakumullah, perhatikanlah kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Beliau menangis memikirkan umatnya. Allah pun memberikan jaminan yang begitu menenteramkan: “Kami akan membuatmu ridha berkaitan dengan umatmu.” Maka jangan hanya kita jadikan hadis ini sebagai kisah yang mengharukan. Jadikan ia sebagai cermin untuk diri kita. Rasulullah ﷺ begitu peduli terhadap keselamatan umatnya, lalu sudahkah kita peduli terhadap jalan keselamatan yang beliau ajarkan? Beliau menangis karena mengkhawatirkan umatnya, sementara kita terkadang justru tidak peduli ketika sunnah dan akhlak beliau semakin jauh dari kehidupan kita. Jangan sampai Rasulullah ﷺ begitu mencintai kita, tetapi kita membalas cinta itu hanya dengan ucapan di lisan, tanpa mengikuti petunjuk dan meneladani akhlak beliau.
Jamaah Jumat rahimakumullah, Allah mengabadikan kasih sayang itu dalam firman-Nya,
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, dia sangat menginginkan kebaikan bagi kalian, dan kepada orang-orang beriman dia sangat penyantun lagi penyayang.” (QS. At-Taubah: 128).
Maka hari ini mari kita balik pertanyaannya kepada diri kita: Rasulullah ﷺ begitu mengkhawatirkan kita yang belum pernah beliau temui, lalu apa yang sudah kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita mencintai beliau? Jangan sampai beliau begitu menginginkan keselamatan kita, sementara kita justru menjauh dari petunjuk yang beliau bawa. Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi sunnahnya hanya kita kagumi, sirahnya hanya kita ceritakan, dan shalawat hanya berhenti di lisan. Sebab cinta kepada Rasulullah ﷺ seharusnya membuat kita semakin dekat dengan ajarannya, semakin lembut akhlaknya, semakin baik lisannya, dan semakin nyata jejak beliau dalam kehidupan kita.
Kita Mengaku Mencintai Rasulullah ﷺ, Tetapi Apa Bukti Cinta Kita?
Jamaah Jumat rahimakumullah, banyak di antara kita yang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ. Kita senang mendengar kisah beliau, hati kita tersentuh ketika nama beliau disebut, lisan kita bershalawat, kita membaca sirah beliau, bahkan kita bergembira ketika memperingati kelahiran beliau. Semua itu adalah kebaikan. Namun, cinta tidak cukup hanya dirasakan di dalam hati dan diucapkan oleh lisan. Allah memberikan ukuran yang sangat jelas tentang cinta kepada-Nya melalui firman-Nya:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31).
Ayat ini mengajarkan bahwa cinta harus melahirkan ittiba’, mengikuti Rasulullah ﷺ dalam perkataan, perbuatan, dan jalan hidup. Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini menjadi ukuran bagi orang yang mengaku mencintai Allah; tanda cintanya adalah mengikuti Rasulullah ﷺ dalam seluruh keadaan hidupnya (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jilid 2, tafsir QS. Ali Imran: 31).
Jamaah Jumat rahimakumullah, maka hari ini jangan hanya kita bertanya, “Apakah aku mencintai Rasulullah ﷺ?” Tetapi mari kita bertanya lebih dalam, “Apa yang berubah dalam hidupku karena cinta itu?” Setelah kita mengenal kelembutan beliau, apakah kita menjadi lebih lembut kepada keluarga? Setelah kita mengetahui betapa mudahnya beliau memaafkan, apakah kita menjadi lebih mudah memaafkan? Setelah kita mengetahui kejujuran beliau, apakah kita semakin jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat? Setelah kita mengetahui kasih sayang beliau, apakah orang-orang di sekitar kita merasakan kasih sayang itu melalui diri kita? Sebab cinta yang benar tidak akan berhenti sebagai kata-kata. Cinta akan meninggalkan jejak. Ia akan mengubah cara kita berbicara, cara kita memperlakukan orang lain, cara kita menahan amarah, cara kita memaafkan, bahkan cara kita menggunakan lisan dan tangan kita. Jika nama Rasulullah ﷺ sering kita sebut, tetapi akhlak beliau belum tampak dalam kehidupan kita, maka sudah saatnya kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: jangan-jangan kita baru mencintai Rasulullah ﷺ dengan lisan, tetapi belum sungguh-sungguh meneladani beliau dengan kehidupan.
Kita Mengenal Sirahnya, Tetapi Sudahkah Kita Meniru Akhlaknya?
Jamaah Jumat rahimakumullah, Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang yang paling banyak beribadah kepada Allah, tetapi juga manusia yang paling indah akhlaknya. Allah berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).
Ketika Aisyah radhiyallahu anha ditanya tentang akhlak beliau, jawabannya begitu singkat tetapi sangat dalam:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 746).
Beliau lembut kepada orang yang kasar, memaafkan orang yang menyakiti, rendah hati meskipun memiliki kedudukan yang tinggi, dan selalu peduli kepada orang-orang di sekitarnya. Bahkan beliau bersabda:
خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari no. 3559).
Maka mengenal Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan mengetahui perjalanan hidup beliau. Kita perlu bertanya: apakah sirah yang kita baca telah mengubah akhlak kita?
Jamaah Jumat rahimakumullah, di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bercermin. Jangan sampai kita begitu bersemangat berbicara tentang Rasulullah ﷺ, tetapi orang-orang yang paling dekat dengan kita justru paling sering terluka oleh lisan dan sikap kita. Jangan sampai kita rajin bershalawat, tetapi kasar kepada istri dan anak; rajin menghadiri kajian, tetapi mudah merendahkan orang; banyak berbicara tentang sunnah, tetapi sulit meminta maaf kepada orang tua. Kita mengenal kisah beliau, tetapi jangan sampai orang-orang yang hidup bersama kita tidak merasakan sedikit pun akhlak beliau melalui diri kita. Sebab salah satu tanda cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah ketika kehadiran kita membuat orang lain merasa aman, lisan kita membuat orang lain merasa dihargai, dan sikap kita menghadirkan kebaikan. Kita mungkin tidak mampu menjadi seperti Rasulullah ﷺ, tetapi kita diperintahkan untuk meneladani beliau. Jangan hanya jadikan sirah sebagai cerita yang kita dengarkan, jadikan ia cermin yang memperbaiki kehidupan.
Zaman Berubah, Tetapi Akhlak Rasulullah ﷺ Tetap Menjadi Pedoman
Jamaah Jumat rahimakumullah, zaman boleh berubah, teknologi boleh semakin canggih, tetapi akhlak Rasulullah ﷺ tidak pernah kehilangan tempatnya sebagai pedoman. Dahulu seseorang menyakiti dengan lisannya, hari ini seseorang bisa menyakiti orang lain hanya dengan beberapa ketukan jari. Media sosial terkadang membuat kita terlalu mudah mencaci orang yang berbeda pendapat, membongkar aib, menyebarkan kesalahan, mempermalukan seseorang di hadapan ribuan mata, membalas komentar dengan kemarahan, bahkan merasa menang setelah berhasil menjatuhkan orang lain. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaq ‘alaih; HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).
Dahulu kita belajar menjaga lisan, tetapi hari ini kita juga harus belajar menjaga jempol. Sebab setiap kata yang kita ketik, setiap komentar yang kita tulis, dan setiap aib yang kita sebarkan, semuanya tetap berada dalam pengawasan Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah, maka sebelum jari kita menekan tombol kirim, sebelum komentar kita meluncur, dan sebelum sebuah unggahan kita sebarkan, mari berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: “Kalau Rasulullah ﷺ berada di sampingku, apakah aku masih tega menulis kalimat ini?” Sebelum membalas hinaan, tanyakan: “Bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan kita menghadapi orang yang menyakiti?” Sebelum membuka aib seseorang, tanyakan: “Apakah ini akhlak yang beliau ajarkan?” Inilah tantangan mencintai Rasulullah ﷺ di zaman kita. Mengikuti beliau bukan hanya ketika berada di masjid, majelis ilmu, atau saat bershalawat, tetapi juga ketika berada sendirian di balik layar handphone. Jangan sampai wajah kita tampak santun di hadapan manusia, tetapi jari kita menjadi liar ketika tidak ada yang melihat. Karena orang yang benar-benar meneladani Rasulullah ﷺ akan membawa akhlaknya ke mana pun ia berada, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.
Jangan Hanya Mengaku Cinta, Biarkan Akhlak yang Membuktikan
Jamaah Jumat rahimakumullah, setelah kita berbicara tentang kasih sayang Rasulullah ﷺ, tentang cinta yang harus dibuktikan, tentang akhlak beliau, dan tentang bagaimana akhlak itu seharusnya hadir bahkan di dunia digital, kini saatnya kita membawa semuanya kembali kepada diri kita sendiri. Cinta kepada Rasulullah ﷺ seharusnya terlihat di rumah, ketika kita berbicara kepada orang tua dan memperlakukan pasangan; terlihat di pesantren, sekolah, dan tempat kerja, ketika kita berinteraksi dengan guru, teman, dan orang lain; terlihat di jalan, di masjid, bahkan ketika kita sendirian di balik layar handphone. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Maka jangan hanya bertanya, “Apakah aku mencintai Rasulullah ﷺ?” Tetapi tanyakan dengan jujur: “Apakah cinta itu telah mengubah akhlakku?”
Jamaah Jumat rahimakumullah, mari kita bayangkan sejenak, jika Rasulullah ﷺ hadir di tengah kehidupan kita hari ini, lalu beliau melihat bagaimana kita berbicara kepada orang tua, bagaimana kita memperlakukan pasangan, bagaimana kita bersikap kepada guru, bagaimana kita menghadapi tetangga, bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat, dan bagaimana jari-jari kita menulis komentar di media sosial, akankah beliau mengenali semua itu sebagai akhlak umatnya? Kita mungkin tidak pernah melihat wajah Rasulullah ﷺ, tetapi orang-orang yang hidup bersama kita seharusnya dapat melihat jejak beliau melalui akhlak kita. Jika kita mengaku mencintainya, biarlah kelembutan beliau terlihat dalam kelembutan kita, kesabaran beliau terlihat dalam kesabaran kita, kejujuran beliau terlihat dalam kejujuran kita, dan kasih sayang beliau terasa dalam cara kita memperlakukan sesama. Karena cinta kepada Rasulullah ﷺ yang sejati bukan hanya membuat nama beliau sering berada di lisan kita, tetapi membuat akhlak beliau semakin hidup dalam diri kita.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾
Penutup dan Muhasabah
Jamaah Jumat rahimakumullah, dari semua yang telah kita renungkan, ternyata mencintai Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar seberapa sering nama beliau kita sebut, seberapa merdu kita bershalawat, atau seberapa banyak kisah beliau yang kita ketahui. Cinta itu seharusnya pulang bersama kita dan terlihat dalam kehidupan kita. Terlihat ketika kita berbicara kepada orang tua, ketika kita menghadapi pasangan, ketika kita menasihati anak, ketika kita berhadapan dengan guru, teman, tetangga, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kelembutan, tetapi apakah kita sudah lembut? Beliau mengajarkan pemaafan, tetapi apakah kita mudah memaafkan? Beliau mengajarkan menjaga lisan, tetapi apakah lisan dan jari-jari kita sudah aman dari menyakiti orang lain? Jangan sampai kita begitu mengenal sirah beliau, tetapi akhlak beliau justru asing dalam kehidupan kita.
Jamaah Jumat rahimakumullah, mari kita pulang hari ini dengan satu pertanyaan yang tidak perlu kita jawab dengan lisan, tetapi harus kita jawab dengan perubahan: “Apakah cinta kepada Rasulullah ﷺ benar-benar telah mengubah akhlakku?” Kita mungkin tidak pernah melihat wajah beliau, tetapi biarlah orang-orang yang hidup bersama kita melihat sedikit dari keindahan akhlak beliau melalui diri kita. Jika hari ini kita masih mudah marah, mari belajar menahan amarah. Jika masih sulit memaafkan, mari belajar memaafkan. Jika lisan kita masih sering melukai, mari belajar diam atau berkata baik. Dan jika selama ini cinta kepada Rasulullah ﷺ baru ramai di lisan, semoga mulai hari ini cinta itu tumbuh dalam hati, lalu bergerak menjadi amal, dan akhirnya terlihat dalam akhlak. Karena pada akhirnya, cinta yang sejati tidak hanya terdengar dari apa yang kita ucapkan, tetapi terlihat dari siapa diri kita setelah mengenal orang yang kita cintai.
اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّهُ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّهِ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صِدْقَ مَحَبَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الِاقْتِدَاءِ بِهِ، وَالِاتِّبَاعَ لِسُنَّتِهِ، وَالتَّخَلُّقَ بِأَخْلَاقِهِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَتْبَاعِهِ الصَّادِقِينَ، وَمِنْ أُمَّتِهِ الْمُحِبِّينَ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ، وَاسْقِنَا مِنْ حَوْضِهِ، وَارْزُقْنَا شَفَاعَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ، وَجَمِّلْنَا بِصَالِحِ الْأَعْمَالِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَالْحِقْدِ وَسُوءِ الْأَخْلَاقِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا ذَاكِرَةً لَكَ، قَائِلَةً لِلْخَيْرِ، وَاجْعَلْ أَيْدِيَنَا وَجَوَارِحَنَا مُسَارِعَةً إِلَى طَاعَتِكَ، وَاحْفَظْنَا مِنْ أَنْ نُؤْذِيَ عِبَادَكَ بِقَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا الْحِلْمَ عِنْدَ الْغَضَبِ، وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْقُدْرَةِ، وَالرِّفْقَ عِنْدَ الْخِلَافِ، وَالصِّدْقَ فِي الْقَوْلِ، وَالْأَمَانَةَ فِي الْعَمَلِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَخْلَاقَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا تَسُودُهَا الْمَوَدَّةُ وَالرَّحْمَةُ وَالطَّاعَةُ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِبِرِّ وَالِدَيْنَا، وَاحْفَظْ لَنَا آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ، وَارْحَمْ أَمْوَاتَهُمْ وَأَمْوَاتَنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا رُحَمَاءَ بَيْنَنَا، مُتَوَاضِعِينَ، مُتَحَابِّينَ، مُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْبُهْتَانِ، وَاحْفَظْ أَيْدِيَنَا وَأَصَابِعَنَا مِنْ نَشْرِ الْبَاطِلِ وَالْأَذَى، وَاجْعَلْ مَا نَكْتُبُ وَنَنْشُرُ وَنَقُولُ حُجَّةً لَنَا لَا عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ، وَوَفِّقْنَا لِأَنْ نَجْعَلَ أَقْوَالَنَا أَعْمَالًا، وَمَحَبَّتَنَا اتِّبَاعًا، وَشَهَادَتَنَا لِلْحُبِّ سُلُوكًا وَأَخْلَاقًا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَنْفُسِنَا وَأَهْلِنَا وَأَمْوَالِنَا، وَارْزُقْنَا صُحْبَتَهُ فِي الْجَنَّةِ، وَاجْمَعْنَا بِهِ فِي دَارِ كَرَامَتِكَ.
اللَّهُمَّ اجْمَعْنَا مَعَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ، وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Oleh : Santri Darsya




