BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatKetika Alam Menangis dan Amanah Dikhianati

Ketika Alam Menangis dan Amanah Dikhianati

- Advertisement -spot_img

Bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi di alam, tetapi juga tentang apa yang sedang terjadi dalam diri manusia.

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعَمِهِ، وَدَفَعَ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ وَالْمِحَنِ بِرَحْمَتِهِ، وَأَرْسَلَ إِلَيْنَا آيَاتٍ تُذَكِّرُنَا بِقُدْرَتِهِ، وَتَدْعُونَا إِلَى التَّوْبَةِ وَالْإِنَابَةِ إِلَيْهِ، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ ذُنُوبِنَا وَتَقْصِيرِنَا، وَنَسْأَلُهُ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالسَّلَامَةَ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ تَرْتَجِفُ الْقُلُوبُ وَتَضْطَرِبُ الْأَرْضُ وَالسَّمَاوَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَهَادِيًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَمُنْذِرًا لِلْغَافِلِينَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَهِيَ سَبِيلُ النَّجَاةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَفِي الرَّخَاءِ وَالْبَلَاءِ، وَفِي الْمَسْؤُولِيَّةِ وَالْأَمَانَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ لَا يُنَالُ بِالْمَعَاصِي وَالْخِيَانَةِ، وَإِنَّمَا يُنَالُ بِالتَّقْوَى وَالطَّاعَةِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ.

ثُمَّ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى، مُذَكِّرًا عِبَادَهُ بِآثَارِ أَعْمَالِهِمْ، وَدَاعِيًا إِيَّاهُمْ إِلَى الرُّجُوعِ إِلَيْهِ:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ.

Ketika negeri kita diuji dari berbagai arah

Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat-Nya, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk hadir di rumah-Nya pada hari yang mulia ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umat beliau hingga akhir zaman. Selanjutnya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jamaah Jumat rahimakumullah, ketakwaan kepada Allah seharusnya melahirkan kesadaran bahwa setiap nikmat dan setiap kedudukan yang kita miliki adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, ketika kita menyaksikan berbagai bencana yang menimpa negeri ini, kerusakan lingkungan, kasus korupsi, dan kemerosotan moral di tengah masyarakat, marilah kita tidak hanya melihatnya sebagai persoalan yang terjadi di luar sana. Tetapi mari kita jadikan semua itu sebagai cermin untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjaga amanah Allah dan menjadi bagian dari perbaikan, atau justru ikut menyumbang kerusakan?

Jamaah Jumat rahimakumullah, hari ini kita menyaksikan negeri kita menghadapi berbagai ujian. Di satu tempat banjir dan longsor datang merenggut rumah dan harta, di tempat lain gempa, erupsi, kekeringan, dan kebakaran hutan menguji kesabaran saudara-saudara kita. Di tengah itu semua, kita juga mendengar berita tentang amanah yang disalahgunakan, korupsi yang menjerat sebagian pejabat, dan berbagai kerusakan moral yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kejujuran semakin diuji, rasa malu semakin menipis, dan kemaksiatan semakin mudah dipertontonkan. Semua ini semestinya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita hanya sibuk mencari jawaban mengapa bencana terjadi, tetapi lupa bertanya apa yang sedang terjadi pada diri dan masyarakat kita?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Ayat ini bukan alasan bagi kita untuk menghakimi orang-orang yang tertimpa musibah. Kita tidak tahu kedudukan mereka di sisi Allah, dan tidak setiap bencana berarti hukuman. Namun ayat ini adalah peringatan bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup: jangan sampai kerusakan yang kita lakukan menjadi sebab lahirnya kerusakan yang lebih luas. Maka ketika alam seakan mengingatkan, ketika amanah dikhianati, dan ketika moral mulai kehilangan arah, jangan hanya menunjuk siapa yang salah. Mari kita tundukkan hati dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang harus saya perbaiki sebelum saya menuntut perubahan dari orang lain?

Jangan hanya menyalahkan keadaan, mulailah memperbaiki amanah

Jamaah Jumat rahimakumullah, menghadapi berbagai persoalan tersebut, janganlah kita berhenti pada menyalahkan keadaan, pemerintah, masyarakat, atau generasi muda. Islam mengajarkan bahwa perubahan harus dimulai dari manusia itu sendiri. Maka seorang pemimpin hendaknya memperbaiki amanahnya, karena jabatan bukan jalan untuk memperkaya diri; orang tua dan pendidik hendaknya memperbaiki keteladanan, karena anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar; dan kita semua hendaknya memperbaiki diri, mulai dari hal-hal yang sering dianggap kecil: jujur dalam perkataan, bersih dalam mencari rezeki, tidak mengambil hak orang lain, dan tidak membiasakan kecurangan meskipun tidak ada yang melihat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari no. 7138; Muslim no. 1829).

Karena itu, amanah bukan hanya urusan orang yang duduk di kursi kekuasaan. Amanah adalah urusan kita semua. Allah memerintahkan,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58).

Jamaah Jumat rahimakumullah, korupsi yang besar mungkin dimulai dari kebiasaan kecil: merasa tidak apa-apa mengambil yang bukan hak kita, memanipulasi sedikit, berbohong sedikit, atau menggunakan sesuatu yang bukan milik kita. Karena itu, sebelum kita menuntut negeri ini menjadi lebih bersih, marilah kita pastikan tangan kita bersih, lisan kita jujur, dan hati kita takut kepada Allah.

Renungan dan hikmah: Jangan sampai kita hanya menangisi korban, tetapi lupa membaca pesan

Jamaah Jumat rahimakumullah, ketika kita melihat rumah-rumah hanyut dan kehidupan saudara kita porak-poranda oleh bencana, tentu hati kita bersedih. Namun jangan berhenti pada rasa kasihan. Mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjaga bumi yang Allah amanahkan? Ketika kita melihat seorang pejabat terjerat korupsi, jangan hanya berkata, “Betapa buruknya dia.” Mari kita bertanya, “Bagaimana dengan amanah yang Allah titipkan kepada saya?” Dan ketika kita melihat anak-anak muda terjerumus dalam berbagai kerusakan moral, jangan tergesa-gesa mengatakan, “Generasi sekarang semakin rusak.” Mari kita bertanya, “Apa yang telah mereka lihat dari kita? Apa yang mereka dengar dari rumah? Keteladanan seperti apa yang telah kita berikan?” Di sinilah musibah dan berbagai persoalan kehidupan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi menjadi cermin untuk memperbaiki diri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura [42]: 30).

Ayat ini hendaknya tidak kita jadikan alasan untuk menuduh atau menghakimi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Sebab kita tidak mengetahui apa yang Allah kehendaki bagi mereka di balik musibah tersebut. Bagi seorang mukmin, musibah bisa menjadi ujian, penghapus dosa, pengangkat derajat, sekaligus jalan untuk semakin dekat kepada Allah. Karena itu, ketika melihat musibah menimpa orang lain, sikap kita bukanlah mencari-cari siapa yang harus disalahkan, melainkan menumbuhkan kepedulian, membantu yang terdampak, dan mengambil pelajaran bagi diri sendiri. Jika ada kerusakan yang lahir dari kesalahan manusia, marilah kita memperbaikinya; jika ada dosa yang pernah kita lakukan, marilah kita bertobat; dan jika ada amanah yang selama ini kita abaikan, marilah kita tunaikan. Dengan demikian, musibah tidak hanya melahirkan kesedihan, tetapi juga melahirkan kesadaran, kepedulian, dan perubahan.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾

Sebelum meminta perubahan negeri, mari mulai dari diri sendiri

Jamaah Jumat rahimakumullah, sebelum kita meminta negeri ini berubah, marilah kita mulai dari diri sendiri. Bagaimana mungkin kita menginginkan negeri yang bersih jika hati kita masih nyaman dengan dosa? Bagaimana mungkin kita menginginkan pemimpin yang amanah jika kita sendiri masih membenarkan ketidakjujuran? Dan bagaimana mungkin kita meminta Allah menjaga negeri ini, sementara kita masih ikut merusak lingkungan, mengabaikan amanah, dan membiarkan generasi tumbuh tanpa keteladanan? Negeri ini tidak hanya membutuhkan pembangunan gedung, jalan, dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan manusia yang takut kepada Allah meskipun tidak ada seorang pun yang melihat. Kita membutuhkan pemimpin yang memandang jabatan sebagai amanah, orang tua yang tidak hanya menginginkan anaknya pintar tetapi juga jujur, serta generasi yang tidak hanya mengejar kesuksesan tetapi juga memiliki rasa malu ketika berbuat dosa.

Jamaah Jumat rahimakumullah, mungkin kita tidak mampu menghentikan seluruh bencana, memberantas seluruh korupsi, atau mengubah generasi dalam waktu sehari. Tetapi kita masih memiliki satu kemampuan yang sangat besar: memperbaiki diri sendiri. Karena perubahan sebuah negeri tidak selalu dimulai dari istana, kantor pemerintahan, atau gedung-gedung besar. Perubahan dapat dimulai dari rumah, dari keluarga, dari tempat kita bekerja, dan terutama dari hati manusia yang kembali takut kepada Allah. Maka marilah kita jadikan setiap bencana sebagai panggilan untuk bermuhasabah, setiap pengkhianatan amanah sebagai peringatan untuk berlaku jujur, dan setiap kerusakan moral sebagai seruan untuk memperbaiki keteladanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11).

Maka sebelum kita bertanya, “Kapan negeri ini berubah?”, marilah kita bertanya lebih dahulu, “Kapan saya mulai berubah?”

Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita akhiri khutbah ini dengan menundukkan hati di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga berbagai ujian yang menimpa negeri kita tidak menjadikan kita semakin takut kepada dunia, tetapi semakin takut kepada Allah; tidak hanya membuat kita pandai mengeluh, tetapi juga terdorong untuk memperbaiki diri, menjaga amanah, menebar kebaikan, dan menjadi bagian dari perbaikan. Mari kita berdoa, semoga Allah menjaga negeri kita dari bencana, menguatkan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, membimbing para pemimpin agar senantiasa amanah dan adil, menjaga keluarga serta generasi kita dari kerusakan moral, dan mengampuni dosa-dosa kita. Marilah kita berdoa dengan hati yang tunduk, karena boleh jadi negeri ini tidak hanya membutuhkan tangan-tangan yang bekerja, tetapi juga hati-hati yang menangis dan berdoa kepada Allah.

اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ وَالْبَلَاءِ، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا.

اللَّهُمَّ ارْحَمْ مَنْ أَصَابَتْهُمُ الْكَوَارِثُ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَعَوِّضْهُمْ خَيْرًا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ، وَاصْرِفْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْخِيَانَةَ.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْحَسَدِ وَالطَّمَعِ، وَارْزُقْنَا الصِّدْقَ وَالْأَمَانَةَ وَالتَّقْوَى.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا وَأَبْنَاءَنَا، وَاحْفَظْهُمْ مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَعَاصِي، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ وَالْهُدَى.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَغَيِّرْ سَيِّئَ أَحْوَالِنَا إِلَى أَحْسَنِهَا، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَرُدَّنَا إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيلًا، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، وَأَصْلِحْ بِنَا وَلَا تُصْلِحْ عَلَيْنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami