BerandaMateri KhutbahKhutbah Idul AdhaKetakwaan, Keikhlasan, dan Pengorbanan di Zaman Penuh Godaan

Ketakwaan, Keikhlasan, dan Pengorbanan di Zaman Penuh Godaan

- Advertisement -spot_img

Sebuah renungan dari pembelajaran kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ    أَمَّا بَعْدُ،

عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

 أَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ.

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَيَّامَ الْفَاضِلَةَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَةِ وَالْإِيمَانِ، وَاخْتَصَّ عَشْرَ ذِي الْحِجَّةِ بِمَزِيدِ الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْعَظِيمَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِلْعِبَادِ، وَهِيَ سَبَبُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْمَعَادِ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،

نَحْنُ الْيَوْمَ فِي يَوْمٍ عَظِيمٍ مِنْ أَعْظَمِ أَيَّامِ الدُّنْيَا، يَوْمِ النَّحْرِ، يَوْمِ عِيدِ الْأَضْحَى الْمُبَارَكِ، الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ الْعَظِيمَةِ، وَخَتَمَ بِهِ أَيَّامَ الْعَشْرِ الْمُفَضَّلَةِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، تِلْكَ الْأَيَّامُ الَّتِي أَقْسَمَ اللَّهُ بِهَا فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:

﴿وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ﴾

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Khutbah Pertama

Idul Adha: Hari Besar Ketakwaan, Bukan Sekadar Tradisi

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Hari raya Idul Adha yang kita rasakan hari ini bukanlah sekadar tradisi tahunan yang datang lalu berlalu tanpa makna. Ia adalah syiar agung yang mengingatkan manusia tentang arti ketakwaan dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Karena itu Allah memerintahkan kita agar benar-benar menjaga ketakwaan dalam kehidupan ini. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan muslim.” (QS. Āli ‘Imrān: 102)

Ketakwaan itulah inti terbesar dari ibadah kurban. Sebab Allah tidak membutuhkan darah sembelihan dan tidak pula membutuhkan daging hewan yang kita kurbankan. Allah hanya ingin melihat keikhlasan dan ketundukan hati hamba-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ﴾

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Ḥajj: 37)

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Di zaman sekarang, ayat ini terasa semakin relevan untuk kita renungkan. Betapa banyak manusia rela mengeluarkan uang besar demi gaya hidup dan kesenangan dunia, tetapi terasa berat ketika diminta berkorban di jalan Allah. Ada yang mudah membeli kendaraan baru, mengganti gawai terbaru, atau menghabiskan harta demi hiburan, namun menimbang-nimbang ketika ingin bersedekah dan berkurban. Bahkan ada yang takut hartanya berkurang karena ibadah, seakan-akan dunia adalah segalanya. Padahal Idul Adha hadir untuk mendidik hati agar tidak diperbudak oleh dunia. Kurban mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan, sedangkan ketakwaan adalah kemuliaan yang sesungguhnya.

Karena itu Rasulullah ﷺ mengingatkan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, no. 2564)

Apa artinya hewan kurban yang besar jika hati kita masih penuh riya’, cinta dunia, dan jauh dari keikhlasan? Apa artinya penampilan agama yang indah jika hati kita belum tunduk kepada Allah? Oleh sebab itu Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Inti seluruh amal adalah hadirnya ketakwaan dan keikhlasan kepada Allah, bukan sekadar bentuk lahiriah amal.” (Lathā’if al-Ma‘ārif, hlm. 437). Maka Idul Adha hari ini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri kita masing-masing: sudahkah kita benar-benar berkorban demi agama? Sudahkah kita mendahulukan Allah di atas hawa nafsu dan kecintaan kepada dunia?

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam: Teladan Ketundukan Tanpa Syarat kepada Allah

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketika kita berbicara tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, maka sesungguhnya kita sedang berbicara tentang sosok manusia yang lulus dalam ujian ketundukan kepada Allah. Beliau bukan hanya diuji dengan kehilangan harta atau meninggalkan kampung halaman. Lebih dari itu, beliau diuji dengan sesuatu yang paling dicintai oleh manusia: keluarga, perasaan, harapan masa depan, bahkan anak yang telah lama dinanti kehadirannya. Namun di hadapan perintah Allah, Nabi Ibrahim tidak mendahulukan logika, perasaan, ataupun hawa nafsunya. Allah menggambarkan ketundukan itu dalam firman-Nya:

﴿إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Ketika Rabb-nya berkata kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.’” (QS. Al-Baqarah: 131)

Inilah hakikat iman yang sejati. Taat meski berat. Patuh meski hati diuji. Tetap berjalan di atas perintah Allah meskipun harus mengorbankan sesuatu yang dicintai.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pelajaran besar dari Nabi Ibrahim sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Sebab banyak manusia di zaman sekarang ingin taat kepada Allah selama ketaatan itu tidak mengganggu kenyamanan hidupnya. Ada yang rajin beribadah selama bisnisnya tetap aman. Ada yang semangat menampakkan identitas Islam selama tidak mengurangi popularitas dan citranya di hadapan manusia. Bahkan ada yang berani melanggar syariat hanya demi menjaga jabatan, keuntungan, dan penerimaan sosial. Padahal iman yang sesungguhnya bukan diuji saat keadaan mudah, tetapi ketika perintah Allah berbenturan dengan hawa nafsu dan kepentingan dunia. Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga dikelilingi hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, sedangkan neraka dikelilingi syahwat.” (HR. Muslim, no. 2822)

Maka jangan heran jika jalan menuju surga sering terasa berat. Menjaga shalat di tengah kesibukan terasa berat. Menjaga pandangan di tengah fitnah media terasa berat. Menahan diri dari yang haram terasa berat. Tetapi justru di situlah nilai pengorbanan seorang mukmin di hadapan Allah.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa keimanan bukan sekadar slogan dan ucapan di lisan. Iman harus tampak dalam keberanian untuk tunduk kepada Allah meskipun harus melawan hawa nafsu diri sendiri. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Iman bukan sekadar angan-angan dan hiasan kata-kata, tetapi apa yang menetap dalam hati dan dibuktikan dengan amal.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibānah Al-Kubrā, no. 1090). Oleh sebab itu, Idul Adha ini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri kita masing-masing: sejauh mana kita benar-benar tunduk kepada Allah? Apakah agama hanya kita jalankan ketika sesuai dengan keinginan kita, ataukah kita siap mengatakan seperti Ibrahim: “Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam”?

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail: Membangun Keluarga dengan Iman dan Ketakwaan

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu pelajaran terbesar dari Idul Adha adalah tentang bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membangun keluarganya di atas pondasi iman dan ketakwaan. Ketika Allah menguji beliau dengan perintah untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail ‘alaihissalam, Nabi Ibrahim tidak memaksakan kehendak dengan keras dan tanpa dialog. Beliau tetap mengedepankan kelembutan dan pendidikan iman dalam keluarganya. Allah Ta‘ala mengabadikan percakapan yang sangat menyentuh itu dalam firman-Nya:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 102)

Lalu lihatlah jawaban seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan iman dan keteladanan:

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 102)

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Kisah ini sangat relevan dengan kondisi keluarga di zaman sekarang. Banyak orang tua hari ini bekerja keras demi masa depan anak-anaknya. Mereka rela banting tulang agar anak bisa sekolah tinggi, hidup nyaman, dan sukses secara dunia. Namun sayangnya, tidak sedikit yang lupa membangun iman anak-anak mereka. Anak diajari mengejar prestasi, tetapi kurang diajari shalat. Anak dibimbing meraih cita-cita dunia, tetapi sedikit dibimbing mencintai Al-Qur’an dan masjid. Bahkan ada anak yang begitu dekat dengan teknologi dan media sosial, tetapi begitu jauh dari ilmu agama dan adab Islami. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas akalnya tetapi rapuh imannya. Padahal keluarga saleh tidak lahir hanya dari fasilitas dan kemewahan, tetapi lahir dari doa, keteladanan, dan pendidikan tauhid yang terus menerus ditanamkan oleh orang tua.

Karena itu Allah mengingatkan:

﴿وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا﴾

“Perintahkan keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Ṭāhā: 132)

Ayat ini menunjukkan bahwa membangun keluarga yang taat membutuhkan kesabaran dan kesungguhan. Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa‘di rahimahullah berkata, “Perbaikan keluarga dimulai dari kesungguhan orang tua dalam menanamkan tauhid dan ibadah.” (Tafsīr As-Sa‘di, hlm. 515).

Maka Idul Adha hari ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk mengevaluasi keluarga kita masing-masing. Sudahkah rumah kita dipenuhi suara Al-Qur’an? Sudahkah anak-anak kita lebih mengenal Allah daripada mengenal hiburan dunia? Sudahkah kita menjadi teladan iman bagi keluarga kita? Sebab Nabi Ibrahim tidak hanya meninggalkan kisah tentang pengorbanan, tetapi juga warisan tentang pentingnya membangun keluarga yang tunduk kepada Allah.

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Idul Adha: Menghidupkan Kepedulian dan Pengorbanan untuk Umat

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Idul Adha mengajarkan kepada kita bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga tentang kepedulian terhadap sesama manusia. Karena itu kurban bukan sekadar ibadah individual yang selesai setelah hewan disembelih, melainkan syiar sosial yang menghadirkan kasih sayang, kebersamaan, dan perhatian kepada kaum muslimin yang membutuhkan. Di hari raya ini, daging kurban sampai ke rumah-rumah fakir miskin, para janda, anak yatim, dan keluarga yang mungkin sepanjang tahun jarang menikmati makanan yang layak. Betapa banyak senyum kebahagiaan yang lahir karena syariat kurban. Betapa banyak hati yang merasa diperhatikan dan dimuliakan oleh Islam. Inilah indahnya agama kita; ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menghadirkan manfaat bagi sesama manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Awsaṭ, no. 5937; dihasankan Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi‘, no. 176)

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualis, manusia sering sibuk memikirkan dirinya sendiri. Banyak orang hidup di tengah kemewahan, sementara di sekitarnya masih ada tetangga yang kesulitan makan, ada anak yatim yang membutuhkan perhatian, dan ada saudara sesama muslim yang hidup dalam kekurangan. Media sosial membuat manusia mudah memamerkan kebahagiaan pribadi, tetapi terkadang lupa merasakan penderitaan orang lain. Maka Idul Adha hadir untuk melembutkan hati yang keras dan membangunkan rasa empati yang mulai pudar. Kurban mendidik kita agar tidak hidup egois, agar kita belajar memberi, berbagi, dan merasakan kebahagiaan bersama umat. Sebab sejatinya, kekuatan umat Islam tidak dibangun hanya dengan banyaknya harta, tetapi dengan kuatnya ukhuwah, kepedulian, dan semangat saling menolong di antara sesama kaum muslimin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah Kedua

اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِقْرَارًا بِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي تَقَدَّسَ عَنِ الْأَنْدَادِ، وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا، وَتَنَزَّهَ عَنِ الْأَشْبَاهِ، وَلَمْ يَزَلْ فَرْدًا صَمَدًا، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى الرَّسُولِ الْمُجْتَبَى، وَالنَّبِيِّ الْمُصْطَفَى، سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ الْأَبْرَارِ، وَأَصْحَابِهِ الْأَطْهَارِ الْأَنْجَابِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْجَزَاءِ وَالْحِسَابِ.

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Renungan Idul Adha: Apa yang Sudah Kita Korbankan untuk Agama?

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan menikmati hari raya yang penuh keberkahan ini. Marilah kita kembali memperkuat ketakwaan kepada Allah, karena sejatinya kemuliaan hidup seorang hamba terletak pada kedekatannya kepada Rabb semesta alam. Idul Adha yang kita rayakan hari ini mengingatkan kembali tentang makna pengorbanan dan keikhlasan. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam rela meninggalkan kenyamanan, menahan beratnya perasaan, bahkan siap mengorbankan sesuatu yang paling beliau cintai demi menjalankan perintah Allah. Maka pada hari yang mulia ini, sudah sepatutnya kita merenung dan bertanya kepada diri kita masing-masing: apa yang sudah kita korbankan untuk agama ini? Sudahkah kita meluangkan waktu terbaik kita untuk shalat, membaca Al-Qur’an, dan menghadiri majelis ilmu? Ataukah selama ini ibadah hanya menjadi sisa dari kesibukan dunia yang tidak pernah selesai? Sudahkah kita menahan ego demi menjaga keluarga dan memperbaiki hubungan dengan sesama? Sudahkah kita menggunakan sebagian harta kita untuk dakwah, membantu kaum dhuafa, dan menolong saudara-saudara kita yang kesulitan?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Banyak manusia hari ini rela berkorban demi karier, jabatan, dan ambisi dunia. Mereka sanggup lelah demi mencari penghasilan, sanggup begadang demi urusan bisnis, bahkan sanggup menghabiskan usia demi mengejar pengakuan manusia. Namun ketika diajak mendekat kepada Allah, banyak yang merasa berat. Hatinya gelisah ketika kehilangan dunia, tetapi tidak gelisah ketika jauh dari Allah. Padahal kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta dan kenyamanan hidup, melainkan pada hati yang kembali tunduk kepada Rabb-nya. Karena itu Allah menyeru:

﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ﴾

“Maka berlarilah menuju Allah.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 50)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hati tidak akan merasakan kebahagiaan sejati sampai ia benar-benar kembali kepada Allah.” (Madārij As-Sālikīn, 3/156). Maka jangan sampai dunia membuat hati kita keras dan lalai. Jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan kembali menjadikan Allah sebagai tujuan terbesar dalam hidup kita.

يَا عِبَادَ اللهِ ، اِعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ،

اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ،

اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا    اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ الَّذِينَ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا وَبُيُوتَنَا، وَاجْعَلْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا فِي بُيُوتِنَا الْإِيمَانَ وَالطَّاعَةَ وَالْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَ، وَاجْعَلْنَا نَقْتَدِي بِإِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ وَالثَّبَاتِ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا أُضْحِيَّاتِنَا وَعِبَادَاتِنَا، وَاجْعَلْهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَأَعِذْنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَالْعُجْبِ.

اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا وَحَافِظًا وَمُؤَيِّدًا، اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَهُمْ، وَنَفِّسْ كُرُوبَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَارْفَعِ الظُّلْمَ وَالْبَلَاءَ عَنْهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَيْنَا الْأَمْنَ وَالْإِيمَانَ وَالسَّلَامَةَ وَالِاسْتِقْرَارَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَخَيْرَاتِ الْأَرْضِ، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّقْوَى وَالْإِخْلَاصِ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا تُحِبُّكَ وَتَخْشَاكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسِيرُ عَلَى خُطَى إِبْرَاهِيمَ فِي الطَّاعَةِ وَالتَّضْحِيَةِ وَالثَّبَاتِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami