Melawan Arus Sekularisme, Menyongsong Kebangkitan Umat
Oleh: Adib Fattah Suntoro, M.Ag.
(Dosen Ma’had ‘Aly Darusy Syahadah)
KHUTBAH PERTAMA
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَالْإِيمَانِ، وَجَعَلَنَا أُمَّةً وَسَطًا، نَحْمِلُ رِسَالَةَ السَّلَامِ وَالْخَيْرِ وَالْإِعْمَارِ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ الْمُذْنِبَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى. }وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ{
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Hari ini kita hidup di zaman, di mana kezaliman dibiarkan, kemaksiatan jadi tontonan, kedustaan dipertahankan, kesyirikan dibudayakan, dan pemikiran sesat diajarkan. Sementara itu, umat Islam yang seharusnya menjadi pembawa arus kebaikan, justru menjadi pengekor keburukan. Jumlah kita memang banyak, tapi lemah dan tak punya arah, bagai buih di lautan. Mungkin saat inilah zaman yang dimaksud oleh Nabi SAW dalam salah satu sabdanya ratusan tahun silam.
يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ، كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا.
“Hampir-hampir umat-umat lain akan datang menyerang kalian dari segala penjuru, sebagaimana orang-orang yang sedang makan mengerumuni nampannya.”
قَالَ: قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ؟
Lalu seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu karena jumlah kami sedikit pada waktu itu?”
قَالَ: أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ،
Beliau menjawab, “Tidak, bahkan pada waktu itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih (busa) di aliran air.
تُنْتَزَعُ الْمَهَابَةُ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ، وَيُجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنُ.
“Allah akan mencabut rasa takut (kewibawaan) dari hati musuh-musuh kalian terhadap kalian dan Allah akan menanamkan penyakit al-wahn (kelemahan).’
قَالُوا: وَمَا الْوَهْنُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
Para sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan al-wahn, wahai Rasulullah?”
قَالَ: حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.
Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (Sunan Abī Dāwūd 4/184)
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Jika kita melihat kondisi umat Islam hari ini, kita akan dapati kondisi umat persis seperti yang digambarkan Nabi SAW dalam hadis tersebut. Hari ini umat Islam tengah mengalami krisis multidimensi. Umat Islam lemah dari berbagai aspek: politik, sosial, ekonomi, militer, budaya, teknologi, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Dengan kondisi yang demikian, tak ada lagi rasa segan maupun sungkan bagi musuh-musuh Islam untuk menindas umat Islam. Ditambah lagi, seperti yang disebutkan dalam hadis tersebut, umat Islam mengidap penyakit al-Wahn, “Cinta dunia dan takut mati”.
Maka bisa kita saksikan sendiri, ketika umat Islam di Palestina menjadi korban genosida oleh penjajah Israel berpuluhan tahun lamanya, dunia Islam tidak bisa berbuat banyak. Musuh-musuh Islam, dari Zionis Israel, Amerika dan bangsa-bangsa Kafir lainnya dapat secara leluasa berbuat kezaliman. Sementara negara-negara Arab-Muslim yang tengah dilimpahi dengan kekayaan ekonomi yang luar biasa, tercekal oleh sekat-sekat nasionalisme lalu dipaksa bernegosiasi. Mereka sibuk membangun kota-kota masa depan, dengan gedung-gedung tinggi menjulang, dan mobil-mobil mewah yang berlalu lalang. Namun abai terhadap saudara muslimnya yang tertindas dan kesusahan. Fenomena ini seolah menjadi gambaran nyata dari apa yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang kita baca di muka, yaitu penyakit al-Wahn “Cinta dunia dan takut mati”.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Jika kita melihat berbagai fenomena yang terjadi pada umat hari ini, kita akan sadar bahwa saat ini kita sedang diperangi dari berbagai penjuru, seperti yang disebutkan dalam hadis tadi. Namun, peperangan saat ini ternyata tidak hanya dalam konteks perang fisik, tapi juga perang pemikiran dan kebudayaan (ghazwul fikri). Perang pemikiran yang dilancarkan terhadap umat Islam jauh lebih berbahaya dibandingkan penjajahan militer dan politik yang pernah terjadi di masa lalu. Sebab, penjajahan militer akan berakhir ketika pasukan penjajah menarik diri dari suatu wilayah. Namun, penjajahan pemikiran tidak akan pernah berakhir selama jiwa dan pikiran orang-orang yang dijajah masih terikat dan terpengaruh oleh ide-ide penjajah itu sendiri.
Oleh karena itu para ulama, pemikir dan cendikiawan muslim kontemporer telah mewanti-wanti terkait hal ini. Misalnya, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pemikir Muslim asal Malaysia, menyoroti bahwa Peradaban Barat, telah menghegemoni pikiran umat Islam melalui konsep-konsep ilmu dan pendidikan yang sekuler. Inilah bentuk kolonialisme baru yang lebih berbahaya daripada penjajahan militer. Dalam karyanya Islam and Secularism, beliau menulis:
“The confusion and error in knowledge is the root cause of the loss of adab, and the loss of adab is the main cause of the rise of false leaders.”
(“Kekacauan dan kesalahan dalam ilmu merupakan akar dari hilangnya adab, dan hilangnya adab melahirkan para pemimpin palsu.”)
Dengan kata lain, perang pemikiran itu terjadi ketika umat Islam mengadopsi sistem ilmu Barat tanpa menyaring nilai-nilainya, sehingga akan menghilangkan atau mengaburkan pandangan hidup Islam (Islamic worldview).
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Sejalan dengan ini namun dalam konteks yang lebih spesifik, yaitu pembebasan Baitul Maqdis, Prof. Abdul Fattah al-Awaisi, menyebutkan bahwa umat Islam menderita “penjajahan akal” (colonization of intellect), yaitu kondisi di mana cara berpikir umat telah didominasi oleh sistem pemikiran luar (terutama Barat) yang tidak selaras dengan nilai-nilai Islam. Prof. Al-Awaisi menekankan bahwa perjuangan pembebasan Baitul Maqdis harus dimulai dari fondasi keilmuan dan kesadaran spiritual — yaitu memperkuat pemahaman, sejarah, akidah, syariah dan nilai-nilai adab. Tanpa landasan keilmuan yang mapan, mustahil akan terjadi pembebasan Baitul Maqdis, seperti yang terjadi di era Umar bin Khattab dan Shalahuddin al-Ayubi.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Di antara tantangan pemikiran yang sedang dihadapi oleh umat Islam hari ini yaitu: sekularisme. Sekularisme bukan hanya teori sosial atau filsafat politik. Ia adalah pandangan hidup yang lahir dari rahim peradaban Barat. Sekularisme mengajarkan bahwa agama hanyalah urusan pribadi; bahwa Tuhan tidak berhak ikut campur dalam urusan ekonomi, politik, pendidikan, dan kehidupan publik. Dalam pandangan sekular, manusia adalah penguasa tunggal atas bumi dan nasibnya sendiri.
Namun saudaraku yang semoga dirahmati Allah, tahukah kita bahwa ketika manusia menyingkirkan Tuhan dari kehidupannya, ia sesungguhnya sedang menyingkirkan makna hidup itu sendiri? Manusia menjadi kosong, kehilangan arah, kehilangan ruh. Seperti kata Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, “Sekularisme bukanlah pembebasan manusia dari belenggu agama, tetapi pembebasan manusia dari makna hidup yang sejati.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Sejatinya, sekularisme lahir dari sejarah Barat yang kelam — ketika gereja menindas ilmu pengetahuan, ketika agama dijadikan alat kekuasaan. Maka, bangsa Barat memberontak terhadap agama. Mereka ingin hidup tanpa wahyu, tanpa bimbingan Tuhan. Tetapi pengalaman itu tidak pernah terjadi dalam Islam. Islam tidak pernah memusuhi ilmu. Islam tidak pernah membelenggu akal. Bahkan, ayat pertama yang turun kepada Nabi ﷺ adalah perintah membaca — Iqra’.
Namun sayangnya, banyak umat Islam hari ini yang tanpa sadar mengimpor ide sekularisme ke dalam kehidupan mereka. Mereka berkata: “Agama urusan masjid, ekonomi urusan pasar. Agama urusan hati, politik urusan dunia.”
Padahal, Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An‘ām: 162)
Ayat ini jelas menolak sekularisme. Islam tidak mengenal pemisahan antara dunia dan agama. Dalam Islam, seluruh kehidupan adalah ibadah — jika dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai syariat.
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Sekularisme telah membuat banyak kaum Muslim kehilangan rasa tunduk kepada Allah. Mereka belajar ilmu tanpa mengaitkannya dengan iman. Mereka membangun ekonomi tanpa memperhatikan halal dan haram. Mereka membentuk sistem pendidikan tanpa ruh wahyu. Inilah yang disebut oleh al-Attas sebagai “loss of adab” — hilangnya adab, yaitu hilangnya kemampuan menempatkan sesuatu pada tempat yang benar.
Ketika adab hilang, maka ilmu tidak lagi mengantarkan pada hikmah, tapi pada kesombongan. Ketika adab hilang, maka kemajuan tidak lagi mendekatkan kepada Allah, tapi menjauhkan dari-Nya. Itulah buah pahit sekularisme. Ia menjanjikan kemerdekaan, tapi membawa perbudakan baru — perbudakan kepada hawa nafsu, materi, dan logika tanpa nurani.
Prof. al-Attas memperingatkan, sekularisme adalah racun halus yang menyusup dalam sistem pendidikan dan kebudayaan umat Islam. Ia mengajarkan manusia untuk menilai segala sesuatu dengan ukuran duniawi — sukses diukur dengan harta, jabatan, dan prestasi dunia. Padahal Islam mengajarkan bahwa nilai manusia terletak pada takwanya, bukan kedudukannya.
Allah berfirman:
ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt: 13)
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Inilah saatnya kita kembali menyatukan iman dan ilmu, dunia dan akhirat, akal dan wahyu. Jangan biarkan sekularisme menceraikan keduanya. Karena ketika ilmu dipisahkan dari iman, ia akan menjadi senjata yang membunuh jiwa. Tapi ketika ilmu disatukan dengan iman, ia menjadi cahaya yang menerangi dunia.
Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita bahwa Islam bukan hanya agama yang mengatur ibadah mahdhah seperti salat dan puasa, tetapi juga mengatur ekonomi, politik, keluarga, dan masyarakat. Islam adalah manhaj al-ḥayāh — jalan hidup yang sempurna.
Maka marilah kita lawan sekularisme bukan dengan kebencian, tapi dengan pencerahan ilmu dan keteguhan iman. Kembalikan seluruh aspek hidup kita di bawah naungan tauhid. Jadikan Allah pusat dari seluruh aktivitas kita. Karena jika Allah tidak lagi menjadi pusat, maka segala hal yang kita bangun — hanyalah istana megah tanpa penghuni.
Ingatlah, saudaraku yang dirahmati Allah, bahwa kejatuhan umat Islam bukan karena lemahnya teknologi atau ekonomi, tetapi karena lemahnya iman dan karna penyakit al-Wahn. Ketika kita mulai memisahkan dunia dari agama, di situlah kita kehilangan posisi kita sebagai umat yang terbaik.
Maka mari kita berdoa, semoga Allah menjaga hati kita dari racun sekularisme, menghidupkan kembali kesadaran iman dalam setiap langkah, dan mengembalikan umat ini kepada kejayaan sejati — kejayaan yang lahir dari iman, ilmu, dan adab.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.
اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.






