Menasihati dengan Kebenaran, Menyampaikan dengan Kelembutan
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْعَظِيمَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْقَسْوَةِ، وَأَنْ يُزَيِّنَ أَلْسِنَتَنَا بِالصِّدْقِ وَالْحِكْمَةِ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا لِينًا فِي الْقَوْلِ، وَرِفْقًا فِي النُّصْحِ، وَإِخْلَاصًا فِي الْعَمَلِ، حَتَّى لَا نَجْعَلَ مِنَ الْحَقِّ سَبَبًا لِلْجَرْحِ، وَلَا مِنَ النَّصِيحَةِ بَابًا لِلْعَدَاوَةِ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنْ يَقُولُونَ الْحَقَّ بِرَحْمَةٍ، وَيَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ بِحِكْمَةٍ، وَيُصْلِحُونَ الْقُلُوبَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَقُدْوَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فِي الْحِكْمَةِ وَالرِّفْقِ وَحُسْنِ الْبَيَانِ، فَكَانَ أَرْفَقَ النَّاسِ بِالنَّاسِ، وَأَحْسَنَهُمْ نُصْحًا لِلْعِبَادِ، وَأَعْظَمَهُمْ صَبْرًا عَلَى أَذَى الْخَلْقِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ، وَاقْتَفَى أَثَرَهُ، وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى مُبَيِّنًا لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَثَرَ الرِّفْقِ فِي الْقُلُوبِ:
﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ﴾
Daftar Isi
Pembukaan dan pengantar masalah
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya, terutama nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk kembali memenuhi panggilan-Nya dalam ibadah Jumat yang penuh keberkahan ini. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti petunjuk beliau hingga akhir zaman.
Selanjutnya, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjaga lisan, memperbaiki akhlak, serta menimbang setiap perkataan sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Sebab, tidak sedikit di antara kita yang ingin memperbaiki, tetapi justru melukai; berniat menasihati, tetapi tanpa sadar merendahkan; bermaksud menyampaikan kebenaran, tetapi melupakan kelembutan. Padahal, kebenaran bukan hanya perlu disampaikan, melainkan juga perlu disampaikan dengan cara yang benar.
Oleh karena itu, pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan bersama sebuah perkara yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu “Ketika Niat Baik Berujung Melukai Hati: Menasihati dengan Kebenaran, Menyampaikan dengan Kelembutan.” Semoga melalui khutbah ini, Allah membimbing kita menjadi pribadi yang tidak hanya mencintai kebenaran, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan hikmah, menjaga kehormatan sesama, dan menghadirkan kebaikan melalui setiap kata yang terucap.
Nasihat adalah bagian dari agama, tetapi menyampaikan nasihat bukan sekadar perkara mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Ada ilmu yang harus dipahami, ada adab yang harus dijaga, dan ada hati yang perlu diperlakukan dengan bijaksana. Sebab, tidak semua perkataan yang benar akan membawa kebaikan jika disampaikan dengan cara yang keliru. Betapa banyak orang tua yang bermaksud mendidik anaknya, tetapi justru meruntuhkan kepercayaan dirinya dengan kata-kata yang menyakitkan. Betapa banyak guru yang ingin mendisiplinkan muridnya, tetapi tanpa sadar mempermalukannya di hadapan teman-temannya. Demikian pula atasan yang ingin memperbaiki kinerja bawahannya, tetapi memilih merendahkan martabatnya daripada membimbingnya dengan bijaksana. Niatnya mungkin baik, tujuannya mungkin benar, tetapi cara yang ditempuh justru meninggalkan luka yang tidak mudah disembuhkan.
Ironisnya, fenomena semacam ini semakin mudah kita jumpai di tengah kehidupan modern, terutama di media sosial. Sebagian orang merasa sedang membela kebenaran, padahal yang keluar dari lisannya adalah hinaan, cemoohan, dan kata-kata yang merendahkan kehormatan orang lain. Seolah-olah semakin keras perkataan, semakin kuat pula kebenaran yang dibawanya. Padahal, keberanian menyampaikan kebenaran tidak harus dibuktikan dengan menyakiti perasaan orang lain. Maka, sebelum menegur kesalahan seseorang, marilah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar ingin memperbaiki dirinya, ataukah kita hanya sedang melampiaskan kemarahan atas kesalahannya? Sebab, nasihat yang tulus berorientasi pada perbaikan, bukan penghinaan; mengharapkan seseorang kembali kepada kebenaran, bukan membuatnya merasa tidak berharga. Jangan sampai lisan kita sibuk menunjukkan kesalahan orang lain, sementara hati kita lupa bahwa cara kita menasihati pun kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalil Al-Qur’an dan tafsirnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang adab menyampaikan nasihat melalui firman-Nya ketika memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mendatangi Fir’aun, seorang penguasa yang melampaui batas dan mengaku memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah berfirman,
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
“Berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut” (QS. Thaha: 44).
Perhatikanlah, jamaah Jumat yang dirahmati Allah, kepada Fir’aun yang begitu angkuh dan durhaka saja, Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan untuk berbicara dengan lembut. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, ketika menjelaskan ayat ini, menerangkan bahwa perintah tersebut menunjukkan pentingnya kelembutan dalam menyampaikan dakwah, bahkan kepada orang yang paling keras penentangannya. Kelembutan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari hikmah dalam mengajak manusia kembali kepada kebenaran. Sebab, tujuan nasihat bukan sekadar membuat seseorang mengakui kesalahannya, melainkan membuka hatinya agar bersedia menerima petunjuk Allah.
Maka, jika terhadap Fir’aun saja kelembutan diperintahkan, bagaimana dengan anak-anak kita yang masih belajar memahami kehidupan, murid-murid kita yang sedang bertumbuh, pasangan kita yang memiliki perasaan, atau saudara sesama Muslim yang tergelincir dalam kesalahan? Apakah mereka lebih pantas menerima kata-kata yang kasar daripada seorang Fir’aun? Tentu bukan demikian. Kita perlu memahami bahwa kelembutan tidak berarti membiarkan kesalahan, membenarkan kemungkaran, atau mengorbankan prinsip agama. Kebenaran tetap harus ditegakkan, kesalahan tetap perlu diluruskan, dan kemungkaran tetap harus diingkari sesuai tuntunan syariat. Namun, semua itu hendaknya dilakukan dengan cara yang tepat, perkataan yang baik, dan sikap yang bijaksana. Jangan sampai kita begitu bersemangat meluruskan kesalahan seseorang, tetapi justru melukai hatinya hingga ia semakin jauh dari kebenaran. Sebab, nasihat yang baik bukan hanya tentang apa yang kita sampaikan, melainkan juga bagaimana kita menyampaikannya. Jangan sampai kebenaran yang keluar dari lisan kita justru kehilangan keindahannya karena disampaikan tanpa kelembutan.
Hadis dan penjelasannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebuah kaidah agung dalam kehidupan seorang Muslim. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk” (HR. Muslim, no. 2594a, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab).
Hadis ini mengajarkan bahwa kelembutan bukan sekadar pemanis ucapan, melainkan akhlak yang memperindah cara kita bertindak, menegur, mendidik, dan menyampaikan kebenaran. Nasihat yang benar dapat kehilangan pengaruhnya ketika dibungkus dengan penghinaan, sementara teguran yang disampaikan dengan santun dapat membuka pintu hati yang sebelumnya tertutup. Sebab, manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir dan mendengar, tetapi juga memiliki perasaan yang dapat terluka oleh perkataan. Tidak semua orang yang diam ketika ditegur berarti menerima nasihat kita; bisa jadi ia hanya tidak sanggup membalas, sementara luka di hatinya terus membekas.
Namun, kelembutan bukan berarti kita harus diam ketika melihat kesalahan, apalagi membiarkan kemungkaran terus berlangsung. Seorang Muslim tetap harus berani menyampaikan kebenaran, tetapi keberaniannya hendaknya disertai kebijaksanaan dan adab. Kita dapat menolak perbuatan yang salah tanpa menghina pelakunya, meluruskan pemahaman yang keliru tanpa merendahkan orang yang belum mengerti, serta bersikap tegas tanpa kehilangan kasih sayang. Mari kita bercermin: ketika menasihati anak, apakah kita sedang membimbingnya atau melampiaskan kekecewaan? Ketika mengoreksi bawahan, apakah kita ingin memperbaiki pekerjaannya atau menunjukkan kekuasaan? Ketika menegur seseorang di media sosial, apakah kita benar-benar mengharapkan kebaikan baginya atau sekadar ingin terlihat paling benar? Ingatlah, jamaah Jumat yang dirahmati Allah, kebenaran tidak membutuhkan penghinaan agar terlihat mulia, dan ketegasan tidak membutuhkan kekasaran agar terlihat berwibawa. Justru ketika kebenaran disampaikan dengan kelembutan, nasihat menjadi lebih indah, hubungan tetap terjaga, dan peluang seseorang untuk memperbaiki diri semakin terbuka.
Nasihat ulama
Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menjelaskan firman Allah dalam QS. Thaha ayat 44, menerangkan pentingnya perkataan yang lembut dalam menyampaikan dakwah. Perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan lembut kepada Fir’aun menunjukkan bahwa cara menyampaikan kebenaran memiliki peran penting dalam mengharapkan terbukanya hati seseorang. Pelajaran ini mengingatkan kita agar tidak mengukur keberhasilan nasihat dari seberapa keras suara kita, seberapa tajam kata-kata kita, atau seberapa terdiam orang yang mendengarnya. Sebab, seseorang yang terdiam belum tentu menerima kebenaran; bisa jadi ia sedang menahan sakit hati. Seseorang yang tidak membantah belum tentu menyadari kesalahannya; mungkin ia hanya merasa tidak memiliki ruang untuk menjelaskan dirinya. Nasihat yang baik bukanlah nasihat yang membuat orang lain merasa kecil di hadapan kita, melainkan yang membantunya menyadari kekeliruan dan menemukan jalan untuk memperbaikinya. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Thaha: 44).
Karena itu, ketika hendak menasihati seseorang, jangan hanya memikirkan apa yang ingin kita katakan, tetapi pikirkan pula bagaimana perkataan itu akan membantunya menjadi lebih baik. Kebenaran tidak perlu dikurangi hanya agar orang lain senang, tetapi cara penyampaiannya perlu diperbaiki agar tidak berubah menjadi sumber luka. Ada kalanya kita perlu berbicara tegas, ada saatnya kita perlu mendengarkan terlebih dahulu, dan ada keadaan ketika menasihati secara pribadi jauh lebih bijaksana daripada menegur di hadapan banyak orang. Jangan sampai kita merasa telah menunaikan kewajiban menasihati, padahal kita belum sungguh-sungguh memikirkan kemaslahatan orang yang dinasihati. Tujuan nasihat bukan sekadar membuat seseorang menyadari bahwa dirinya salah, melainkan membantunya menemukan keberanian untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Sebab, keberhasilan nasihat bukan terletak pada kerasnya teguran yang kita berikan, melainkan pada kebaikan yang tumbuh setelahnya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾
Muhasabah dan penutup khutbah
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, sebelum lisan kita menegur kesalahan orang lain, marilah kita terlebih dahulu memeriksa niat dan mengendalikan emosi. Apakah kita benar-benar ingin memperbaiki, atau sekadar ingin melampiaskan kemarahan? Apakah kita sedang membimbing seseorang menuju kebenaran, atau justru ingin menunjukkan bahwa diri kita lebih benar darinya? Pilihlah kalimat yang menjelaskan kesalahan tanpa merendahkan pribadi, tegurlah dengan cara yang menjaga kehormatan, dan jangan menjadikan dalil agama sebagai pembenaran untuk melampiaskan amarah. Sebab, kebenaran yang kita sampaikan tidak menghalalkan segala cara, dan semangat membela agama tidak membebaskan kita dari kewajiban menjaga adab. Jangan sampai kita begitu bersemangat meluruskan kesalahan seseorang, tetapi lupa meluruskan cara kita memperlakukannya. Kita sibuk mengoreksi perkataan orang lain, tetapi tidak menyadari bahwa perkataan kita sendiri telah meninggalkan luka; kita ingin orang lain memperbaiki akhlaknya, tetapi lupa bahwa akhlak kita saat menasihati juga merupakan bagian dari ujian keimanan.
Maka, sebelum kita mengakhiri pembahasan ini, marilah kita mengajukan satu pertanyaan jujur kepada diri sendiri: jika suatu hari kita melakukan kesalahan, apakah kita ingin dinasihati dengan kelembutan atau dipermalukan di hadapan banyak orang? Jika kita berharap orang lain menegur kita dengan santun, bukankah mereka pun layak mendapatkan perlakuan yang sama? Jangan hanya menuntut orang lain menerima nasihat kita, tetapi belajarlah menyampaikan nasihat dengan cara yang membuat mereka lebih mudah menerimanya. Kita tidak selalu mampu mengendalikan bagaimana orang lain merespons perkataan kita, tetapi kita bertanggung jawab atas bagaimana kita memilih kata-kata dan memperlakukan mereka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan hati kita dari kesombongan, menjaga lisan kita dari perkataan yang menyakiti, dan membimbing kita agar mampu menggabungkan keteguhan dalam memegang kebenaran dengan kelembutan dalam menyampaikannya. Sebab, nasihat yang tulus tidak bertujuan memenangkan perdebatan, melainkan mengharapkan kebaikan bagi orang yang dinasihati. Semoga melalui lisan kita, semakin banyak hati yang mendekat kepada kebenaran, bukan justru menjauh karenanya.
اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْفُحْشِ وَالْإِيذَاءِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي النِّيَّةِ، وَالصِّدْقَ فِي الْقَوْلِ، وَالرِّفْقَ فِي النَّصِيحَةِ، وَالْحِكْمَةَ فِي الدَّعْوَةِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقُولُونَ الْحَقَّ بِرَحْمَةٍ، وَيَنْصَحُونَ بِحِكْمَةٍ، وَيُصْلِحُونَ وَلَا يُفْسِدُونَ، وَيَجْمَعُونَ الْقُلُوبَ وَلَا يُنَفِّرُونَ النُّفُوسَ. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ضَبْطِ أَلْسِنَتِنَا، وَكَظْمِ غَيْظِنَا، وَحُسْنِ مُعَامَلَةِ إِخْوَانِنَا، وَاجْعَلْ كَلِمَاتِنَا سَبَبًا لِلْهِدَايَةِ وَالْمَحَبَّةِ وَالْإِصْلَاحِ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِلْجُرْحِ وَالْعَدَاوَةِ وَالْفِرَاقِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَاجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدُّعَاءِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.






