BerandaKajianRenunganMemaknai Hakikat Beragama

Memaknai Hakikat Beragama

- Advertisement -spot_img

Memaknai Hakikat Beragama

Semenjak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan syariat Islam, maka saat itu pula diketahui tentang tujuan dan maksud dari agama itu sendiri.

Agama Islam memiliki peran penting dalam memperbaiki kualitas hidup seseorang baik di level pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Hal tersebut tertuang dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta dengan mengajarkan kepada manusia segala hal yang baik baginya dan memberi peringatan tentang segala yang merusak kehidupan.

Semua syariat dan hukum yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud agar setiap individu maupun masyarakat bisa meraih keberhasilan di kehidupan saat ini dan nanti setelah mati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Manusia diciptakan dengan berbagai unsur yang meliputi dirinya, seperti ruh, jasad, tabiat bawaan, dan juga akal pikiran yang membedakannya dari hewan.

Agama Islam datang dengan petunjuk agar manusia bisa memberikan pada setiap unsur tersebut hak yang harus ditunaikan. Demikianlah karena memang syariat merupakan ajaran yang seimbang dan adil.

Ia mengajarkan kepada manusia untuk memberikan kepada jiwa hak spiritual yang dengannya seseorang akan naik untuk menggapai rasa cinta kepada Rabbnya.

Pada saat yang sama Islam tidak menekan naluri tubuh dan kebutuhan bawaannya.

Akan tetapi ia mendisiplinkan dan mengarahkan hal itu pada cara yang benar serta beradab. Maka bolehlah setiap insan untuk menikah, bekerja, dan juga berhias.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pula yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. Al-A’raf: 32)

Selain ruh dan jasad, Islam juga menaruh perhatian pada akal manusia. Ia memerintahkan setiap insan untuk belajar, meneliti, dan memahami. Secara khusus, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan sebuah doa dalam firman-Nya

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً

Katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114)

Allah Ta’ala juga melarang seseorang untuk mengikuti begitu saja (taqlid) agama atau pemikiran seseorang yang tanpa dalil atau bukti. Terlepas dari status orang tersebut apakah seorang pemimpin, nenek moyang, atau semisalnya.

Dia berfirman

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُوا۟ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami mengerjakannya.’

Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al-Ma’idah: 104)

Seluruh ajaran Islam dalam aspek ilmu bertujuan untuk menciptakan mentalitas ilmiah dalam diri setiap muslim.

Memunculkan pribadi-pribadi berakal yang percaya pada bukt-bukti indrawi, selalu melakukan konfirmasi dalam transmisi ilmu, dan berdalil menggunakan logika.

Dengan hal itu lah khurafat dan tahayul bisa diperangi sehingga akal terbebas dari legenda palsu yang dibuat-buat.

Dalam aspek sosial, Islam menyeru setiap individu untuk berkumpul dan bersatu serta melarang perpecahan. Inilah agama yang mempersatukan bukan memisahkan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa Allah bersama jamaah.

Beliau juga mengatakan bahwa sesungguhnya serigala akan memakan kambing yang sendirian dan tidak berkelompok.

Itu semua berarti bahwa bersatu padu dan saling tolong menolong merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim.

Selain berjamaah, Islam juga menyerukan untuk memilih pemimpin adil yang akan mengatur kebersamaan, mengendalikan perbedaan, dan memimpin mereka menggapai tujuan yang baik.

Dalam aspek ini pula syariat menyerukan untuk menghapus segala hal yang bisa membuat manusia saling merendahkan. Baik itu ras, suku, ataupun harta kekayaan.

Kemuliaan manusia tidak terletak pada hal-hal tersebut akan tetapi pada ketakwaan mereka kepada Allah. Dia berfirman

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Agama mulia ini telah memberikan petunjuk kebaikan pada manusia dalam seluruh aspek yang selaras dengan fitrahnya.

Maka sungguh beruntung bagi mereka yang senantiasa berusaha untuk menjalankan petunjuk yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebaik mungkin. Wallahu a’lam bishawab.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami