Daftar Isi
Khutbah Pertama
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَوْلَانَا مِنَ الْإِحْسَانِ وَالْإِنْعَامِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ، وَسَارَ عَلَى هَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعِبَادِ، وَعِمَادُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْمَعَادِ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
وَقَالَ سُبْحَانَه ُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا.
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّنَا عَلَى أَبْوَابِ شَهْرٍ عَظِيمٍ، شَهْرٍ مُبَارَكٍ، جَعَلَهُ اللَّهُ مَوْسِمًا لِلتَّوْبَةِ وَالتَّزْكِيَةِ وَتَطْهِيرِ الْقُلُوبِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
وَقَالَ سُبْحَانَهُ:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ.
فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاسْتَعِدُّوا لِهٰذَا الشَّهْرِ الْكَرِيمِ بِتَطْهِيرِ الْقُلُوبِ وَإِصْلَاحِ النُّفُوسِ، لَعَلَّكُمْ تُدْرِكُونَ فِيهِ رَحْمَةَ اللَّهِ وَمَغْفِرَتَهُ وَرِضْوَانَهُ.
Mukadimah: Pujian dan Seruan Taqwa
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Dzat yang masih mempertemukan kita dengan hari-hari penuh kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Dialah Rabb yang melimpahkan nikmat iman, kesehatan, dan umur panjang, sehingga kita masih diberi peluang menyambut bulan yang agung, bulan yang dirindukan orang-orang shalih. Kita bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Nabi Muḥammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya, teladan terbaik dalam ibadah, kesabaran, dan kesungguhan menyambut musim ketaatan. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, serta siapa saja yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman. Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita perkuat wasiat yang selalu diulang dalam setiap khutbah: takwa kepada Allah. Takwa adalah bekal paling berharga, perisai paling kokoh, dan cahaya paling terang dalam perjalanan hidup kita. Allah Ta‘ālā berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim (berserah diri kepada Allah).” (QS. Āli ‘Imrān: 102)
Takwa inilah yang akan menentukan apakah Ramadhan kelak menjadi rahmat atau sekadar rutinitas, menjadi ladang pahala atau hanya perubahan jadwal makan dan tidur semata.
Ma‘āsyiral muslimīn yang dimuliakan Allah, di tengah realitas kekinian, ketika Ramadhan sering dipersempit maknanya menjadi peristiwa kalender—datang disambut promo belanja, daftar menu berbuka, dan hiruk-pikuk persiapan lahiriah—kita diingatkan bahwa hakikat Ramadhan jauh lebih dalam dari sekadar suasana musiman. Ramadhan bukan sekadar bulan yang “datang lalu lewat”, melainkan momentum perubahan hidup, titik balik jiwa, dan madrasah takwa bagi siapa saja yang benar-benar mempersiapkan diri. Keberuntungan Ramadhan tidak otomatis dimiliki setiap orang yang menjumpainya, tetapi hanya bagi mereka yang menyambutnya dengan hati yang siap, niat yang lurus, dan tekad untuk memperbaiki diri. Sebab Ramadhan bukan sekadar untuk diisi dengan kesibukan dunia, melainkan untuk membersihkan isi hati dari dosa, kelalaian, dan cinta berlebihan kepada dunia. Maka siapa yang masuk Ramadhan dengan bekal takwa, ia akan keluar sebagai hamba yang lebih dekat kepada Allah; namun siapa yang masuk tanpa persiapan, ia hanya akan mendapatkan lapar dan letih tanpa makna.
Fenomena Kekinian: Ramadhan Disambut dengan Euforia Dunia
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, coba kita perhatikan realitas yang terjadi setiap kali Ramadhan semakin dekat. Jalanan semakin padat, pusat-pusat perbelanjaan penuh sesak, keranjang belanja kita semakin berat. Media sosial dipenuhi resep takjil yang viral, promo diskon bertebaran, dekorasi rumah ditata, hampers disiapkan, pakaian baru diburu, dan jadwal buka bersama disusun hampir setiap malam. Semua tampak meriah, seolah Ramadhan adalah pesta tahunan yang harus dirayakan dengan gemerlap suasana. Namun perlahan kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah ini tanda kita memuliakan Ramadhan, atau justru tanda kita terjebak pada euforia dunia? Kita sibuk menyiapkan hidangan, tetapi lalai menyiapkan iman. Kita sibuk menghias rumah, tetapi lupa menghias hati. Padahal Ramadhan bukan datang untuk memanjakan selera, melainkan untuk mendidik jiwa dan menundukkan hawa nafsu.
Ma‘āsyiral muslimīn yang dimuliakan Allah, Ramadhan adalah bagian dari syiar-syiar Allah, simbol agung agama ini yang seharusnya diagungkan dengan ketundukan dan persiapan ruhani, bukan sekadar kemeriahan lahiriah. Allah Ta‘ālā berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah. Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Ḥajj: 32)
Syiar Allah adalah segala sesuatu yang menjadi tanda dan simbol agama-Nya, seperti ibadah-ibadah agung, hari-hari mulia, dan musim ketaatan—termasuk Ramadhan. Mengagungkannya bukan hanya secara seremonial, tetapi dengan sikap hati: hormat, tunduk, mempersiapkan diri, serta bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Karena itu Allah menegaskan bahwa pengagungan syiar bersumber dari “takwa hati”, bukan sekadar tampilan lahiriah.
Jamaah jumat tamu undangan Allah yang berbahagia, mengagungkan syiar Allah itu tanda hidupnya takwa di dalam hati. Maka memuliakan Ramadhan bukan hanya dengan lampu hias dan meja hidangan, tetapi dengan taubat yang sungguh-sungguh, rencana khatam Al-Qur’an, melunasi utang, dan meminta maaf kepada orang tua serta saudara. Sungguh menyedihkan jika rumah kita bersih menyambut tamu, tetapi hati kita kotor ketika menyambut bulan Allah. Karena itu, mari kita renungkan bersama: apakah kita hendak memuliakan Ramadhan dengan tradisi dunia, atau dengan ketakwaan yang membersihkan jiwa? Sebab hanya hati yang bertakwa yang benar-benar mampu merasakan kemuliaan bulan yang mulia ini.
Hakikat Ramadhan dalam Al-Qur’an: Bulan Tazkiyah, Bukan Hanya Lapar
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, ketika Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mewajibkan puasa Ramadhan, Dia tidak sekadar memerintahkan kita menahan lapar dan dahaga. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
Perhatikanlah penutup ayat ini, لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ, agar kalian bertakwa. Inilah tujuan besarnya. Puasa bukan ritual fisik, melainkan proyek pembentukan jiwa. Ramadhan adalah bulan tazkiyah, bulan penyucian diri, bukan sekadar bulan menahan makan. Jika hanya lapar yang kita dapatkan, maka buruh bangunan dan orang fakir lebih sering lapar daripada kita, tetapi mengapa mereka tidak otomatis menjadi paling bertakwa? Karena yang Allah kehendaki bukan kosongnya perut, melainkan hidupnya hati. Bukan sekadar tubuh yang lemah, tetapi nafsu yang tunduk.
Ma‘āsyiral muslimīn yang dimuliakan Allah, Ramadhan sejatinya adalah madrasah ruhani yang Allah siapkan untuk mendidik kita selama sebulan penuh. Di siang hari kita belajar sabar, di malam hari kita belajar berdiri lama dalam shalat, bersama Al-Qur’an kita belajar merenung dan menangis. Semua itu dirancang untuk membersihkan hati dari dosa, kesombongan, dan cinta dunia yang berlebihan. Sebab takwa lahir dari hati yang bersih, bukan dari perut yang kosong semata. Maka sangat disayangkan jika Ramadhan hanya mengubah jadwal makan kita, tetapi tidak mengubah akhlak kita; hanya menggeser jam tidur kita, tetapi tidak menghidupkan iman kita. Jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa bekas, seperti angin yang lewat tanpa jejak. Mari kita niatkan sejak awal, wahai jamaah sekalian, agar Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi momentum perubahan, menjadikan kita lebih jujur, lebih sabar, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Allah, bukan sekadar lebih sering lapar dan haus.
Konsep Isti‘dād Rūḥī: Persiapan Ruhani Menyambut Ramadhan
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, di antara bekal terpenting sebelum memasuki Ramadhan adalah apa yang para ulama sebut sebagai isti‘dād rūḥī, persiapan ruhani. Bukan sekadar menyiapkan stok makanan atau jadwal kegiatan, tetapi menyiapkan hati sebelum memasuki musim ibadah. Sebab ibadah yang agung hanya akan berbekas pada jiwa yang siap. Ibn Rajab raḥimahullāh berkata:
إنَّما تُفْتَحُ أبوابُ الخيراتِ لِمَن تَهَيَّأَ لَهَا
“Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu hanya dibukakan bagi orang yang mempersiapkan diri untuknya.” (Laṭā’if al-Ma‘ārif, hlm. 8–9)
Kebaikan itu dibukakan hanya bagi orang yang telah menyiapkan diri untuknya. Betapa banyak manusia memasuki Ramadhan, tetapi tidak semua mendapatkan keberkahan yang sama. Ada yang keluar dari Ramadhan dengan dosa terampuni, hati bercahaya, dan hidup berubah. Ada pula yang keluar seperti saat ia masuk, tidak bertambah apa-apa selain lapar dan lelah. Perbedaannya bukan pada panjangnya puasa, tetapi pada kesiapan hatinya. Maka siapa yang ingin Ramadhannya bermakna, hendaknya ia mulai membersihkan dirinya sebelum bulan itu tiba.
Ma‘āsyiral muslimīn yang dimuliakan Allah, persiapan pertama adalah taubat. Jangan sampai kita memasuki Ramadhan sambil menyeret dosa-dosa lama yang belum diselesaikan. Allah Ta‘ālā memerintahkan:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nūr: 31)
Taubat bukan menunggu Ramadhan datang, justru Ramadhan adalah tempat menguatkan taubat yang sudah dimulai sebelumnya. Selain itu, bersihkan hati dari penyakit batin: iri, dengki, dendam, dan kesombongan. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa pintu surga dibuka setiap Senin dan Kamis, dosa-dosa diampuni, kecuali dua orang yang saling bermusuhan. Artinya, dosa sosial bisa menghalangi ampunan Allah. Untuk apa kita lapar seharian, jika hati kita masih penuh kebencian? Untuk apa kita rajin tarawih, jika masih sulit memaafkan saudara sendiri? Ramadhan tidak akan menyentuh hati yang tertutup oleh dendam.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, persiapan ruhani juga berarti menyelesaikan hak-hak manusia. Lunasi utang harta, tunaikan janji, penuhi nafkah, dan kembalikan amanah. Bagaimana mungkin kita khusyuk berdoa kepada Allah sementara hak orang lain masih menempel di pundak kita? Hati tidak akan tenang beribadah jika masih ada tanggungan yang belum dibereskan. Lalu perbaikilah hubungan keluarga: datangi orang tua, minta maaf kepada saudara, damaikan pertengkaran, hangatkan kembali rumah tangga. Ramadhan seharusnya menyatukan hati, bukan memperlebar jarak. Jangan sampai kita sibuk berbuka bersama teman-teman, tetapi lama tidak berbicara dengan orang tua sendiri. Maka mari, wahai jamaah sekalian, kita sambut Ramadhan dengan hati yang bersih, dada yang lapang, dan hubungan yang rukun, agar bulan mulia itu benar-benar menjadi jalan ampunan dan persatuan bagi kita semua.
Teladan Generasi Salaf dalam Menyambut Ramadhan
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, jika kita menengok ke belakang, melihat bagaimana generasi salaf menyambut Ramadhan, kita akan merasa malu pada diri sendiri. Bagi mereka, Ramadhan bukan sekadar bulan biasa yang datang lalu pergi, tetapi anugerah besar yang belum tentu terulang dalam hidup. Mereka mempersiapkan diri jauh hari sebelum ia tiba, bahkan diriwayatkan:
كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُم رَمَضَانَ
Mereka berdoa selama enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan Ramadhan, lalu enam bulan berikutnya mereka berdoa agar amal-amal mereka di bulan itu diterima. Setahun penuh hati mereka berputar di sekitar Ramadhan. Betapa dalam penghormatan mereka terhadap musim ketaatan ini. Sementara kita hari ini, Ramadhan sudah di depan mata, tetapi hati masih lalai, waktu habis untuk urusan dunia, bahkan ketika Ramadhan telah datang pun kita masih menunda taubat, menunda Qur’an, menunda perubahan. Mereka merindukan Ramadhan dengan air mata, sedangkan kita sering menyambutnya dengan kelalaian. Maka bandingkanlah, di manakah posisi kita dibanding mereka? Jika salaf bersiap setahun penuh demi satu Ramadhan, tidakkah kita malu jika masih masuk Ramadhan tanpa persiapan apa pun di hati kita?
Renungan: Jika Ramadhan Ini yang Terakhir
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, marilah sejenak kita menundukkan hati dan merenung lebih dalam: bagaimana jika Ramadhan yang akan datang ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita? Betapa banyak orang yang tahun lalu masih berdiri di samping kita dalam shaf tarawih, masih bercanda saat berbuka, masih menyusun rencana ibadah bersama kita, namun hari ini mereka telah terbaring sunyi di dalam kubur, terputus dari amal, menunggu hisab Rabb-nya. Kematian tidak menunggu tua, tidak menunggu siap, tidak pula menunggu Ramadhan berikutnya. Maka bisa jadi Ramadhan kali ini adalah kesempatan terakhir kita untuk bertaubat, terakhir kali kita bersujud panjang di sepertiga malam, terakhir kali kita membaca Al-Qur’an dengan air mata. Jika benar ini yang terakhir, apakah kita masih sibuk memilih menu berbuka dan pakaian baru, atau sibuk memohon ampunan Allah atas dosa-dosa kita? Ingatlah, kafan tidak punya kantong, tidak ada satu pun harta yang ikut bersama kita, tetapi pahala Ramadhanlah yang akan kita bawa pulang sebagai bekal. Maka jangan biarkan bulan mulia ini berlalu tanpa taubat dan perubahan, karena bisa jadi setelah Ramadhan ini, yang tersisa bagi kita hanyalah penyesalan.
Langkah Praktis Menjelang Ramadhan (Aplikatif)
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, setelah kita memahami kemuliaan Ramadhan dan pentingnya persiapan ruhani, maka jangan biarkan semua ini berhenti pada wacana dan haru semata, tetapi wujudkan dalam langkah nyata. Mulailah dari hari ini dengan taubat nasuha, menyesali dosa-dosa yang lalu dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Susun target ibadah sebagaimana kita menyusun target dunia: berapa kali khatam Al-Qur’an, berapa malam qiyām, berapa sedekah yang ingin ditunaikan. Lunasi utang-utang kita, karena hati yang terbebani hak manusia sulit khusyuk menghadap Allah. Datangi orang tua, peluk mereka, mintalah maaf sebelum penyesalan itu datang terlambat; damaikan saudara dan hangatkan kembali rumah tangga. Kurangi hiburan yang melalaikan, batasi layar dan media sosial, lalu gantilah dengan tilawah, dzikir, dan doa. Niatkan dalam hati, wahai jamaah sekalian, bahwa Ramadhan kali ini bukan Ramadhan biasa, tetapi titik balik hidup kita—dari lalai menjadi sadar, dari jauh menjadi dekat, dari penuh dosa menjadi hamba yang lebih bertakwa—sehingga ketika Ramadhan pergi, ia meninggalkan bekas yang nyata dalam jiwa kita, bukan sekadar kenangan suasana.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, demikianlah beberapa nasihat dan renungan yang dapat kita sampaikan pada kesempatan yang mulia ini. Semoga ia bukan sekadar kata-kata yang terdengar di telinga, tetapi menjadi cahaya yang mengetuk hati dan menggerakkan langkah kita untuk benar-benar mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Marilah kita sambut bulan yang agung ini dengan taubat yang tulus, hati yang bersih, serta tekad untuk berubah menjadi hamba yang lebih taat. Jangan sampai Ramadhan datang lalu pergi, sementara kita tetap dalam kelalaian. Mintalah kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan dalam keadaan iman yang kuat dan diberi kemampuan untuk mengisinya dengan amal-amal terbaik.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Penutup dan Ajakan
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, pada akhirnya marilah kita simpulkan bersama bahwa Ramadhan bukan datang untuk diisi meja makan kita, tetapi untuk membersihkan isi dada kita. Ia bukan sekadar bulan hidangan, melainkan bulan pengampunan; bukan sekadar ramai suasana, melainkan sunyi taubat dan tangisan doa. Jangan sampai kita menyambut tamu agung ini dengan rumah yang bersih, tetapi hati yang kotor; dengan lemari penuh pakaian baru, tetapi jiwa penuh dosa lama. Ramadhan adalah utusan rahmat dari Allah, datang mengetuk pintu hati kita satu tahun sekali. Maka alangkah ruginya jika ia datang, namun kita sibuk dengan dunia dan lalai dari tujuan utamanya. Mari kita sambut ia dengan istighfar, dengan tilawah, dengan sedekah, dan dengan tekad kuat untuk berubah. Jadikan Ramadhan sebagai momentum hijrah pribadi, saat kita tinggalkan kebiasaan buruk dan memulai lembaran hidup yang lebih dekat dengan Allah.
Ma‘āsyiral muslimīn yang dimuliakan Allah, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat menggugah dalam sabdanya:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Sungguh merugi (hina) seseorang yang menjumpai bulan Ramadhan, lalu bulan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” (HR. Tirmiżī, no. 3545).
Betapa keras peringatan ini, karena Ramadhan sejatinya adalah lautan ampunan. Jika di lautan seluas itu kita tetap tidak terampuni, berarti ada yang salah pada hati kita. Karena itu marilah kita berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga Allah memanjangkan umur kita hingga Ramadhan, membersihkan hati kita dari dosa dan penyakit, serta menjadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terbaik dalam hidup kita, Ramadhan yang mengubah arah perjalanan kita menuju ridha-Nya. Jangan sampai yang celaka itu adalah kita.
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْقُلُوبِ، وَنُورُ الطَّرِيقِ، وَعِصْمَةُ الْعَبْدِ فِي الشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِالْهُدَى، وَأَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ، فَإِنَّهُ أَمَانُ الْعِبَادِ وَسَبَبُ الرَّحْمَةِ وَدَفْعِ الْبَلاءِ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا فِيهِ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَغَضِّ الْبَصَرِ وَحِفْظِ اللِّسَانِ.
اَللَّهُمَّ اسْتَقْبِلْنَا رَمَضَانَ بِقُلُوبٍ طَاهِرَةٍ، وَنُفُوسٍ مُخْبِتَةٍ، وَتَوْبَةٍ صَادِقَةٍ نَصُوحٍ، وَاجْعَلْهُ شَهْرًا لِغُفْرَانِ ذُنُوبِنَا، وَسَتْرِ عُيُوبِنَا، وَتَزْكِيَةِ أَرْوَاحِنَا.
اَللَّهُمَّ نَقِّ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْحِقْدِ وَالْحَسَدِ، وَطَهِّرْ أَعْمَالَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَالسُّمْعَةِ، وَاجْعَلْ صِيَامَنَا صِيَامَ مَنْ صَامَ لَكَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا.
اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا فِيهِ لِتِلَاوَةِ كِتَابِكَ، وَذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا فِيهِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، وَاجْعَلْنَا فِيهَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَوَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ، وَاقْضِ عَنَّا الدُّيُونَ، وَفَرِّجْ عَنَّا الْهُمُومَ وَالْكُرُوبَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رَمَضَانَ هٰذَا رَمَضَانَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ وَتَغْيِيرٍ لِحَيَاتِنَا، وَاجْعَلْنَا فِيهِ مِنَ الْمُعْتَقِينَ مِنَ النِّيرَانِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Sumber : santridarsya.xo.je




