BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatSaat Doa Tidak Lagi Menjadi Kebiasaan

Saat Doa Tidak Lagi Menjadi Kebiasaan

- Advertisement -spot_img

Menemukan kembali ketenangan hidup dengan memperkuat hubungan kepada Allah.

 

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِدُعَائِهِ، وَوَعَدَهُمْ بِالْإِجَابَةِ وَالْعَطَاءِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلٰهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، وَقَيُّومُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَحُجَّةً عَلَى الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

وَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾

Mukadimah: Fenomena Manusia Modern yang Sibuk Tetapi Gelisah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Dzat Yang Maha Kaya, sementara kita semua adalah hamba yang fakir dan membutuhkan-Nya. Dialah Yang mengatur langit dan bumi, Yang menggenggam segala urusan makhluk-Nya, serta Yang membuka pintu-pintu kemudahan bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya dengan penuh ketundukan dan pengharapan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat. Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebab ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan menuju kehidupan akhirat dan sumber kebahagiaan sejati dalam kehidupan dunia.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita hidup di zaman yang penuh kemudahan. Manusia modern memiliki berbagai fasilitas yang dahulu tidak pernah terbayangkan. Pendidikan semakin tinggi, teknologi semakin canggih, informasi begitu mudah diakses, dan berbagai kebutuhan hidup dapat diperoleh hanya dengan sentuhan jari. Banyak orang memiliki pekerjaan yang mapan, kendaraan yang nyaman, rumah yang layak, serta berbagai sarana yang mendukung kehidupan mereka. Namun anehnya, di tengah segala kemajuan tersebut, tidak sedikit manusia yang mengeluhkan hidupnya terasa semakin berat. Hati mereka sempit, pikiran dipenuhi kecemasan, tidur tidak nyenyak, dan keberkahan seolah semakin sulit dirasakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketenangan hidup tidak semata-mata lahir dari banyaknya fasilitas dan kemudahan duniawi. Sebab manusia bukan hanya membutuhkan kenyamanan jasmani, tetapi juga membutuhkan ketenangan ruhani yang bersumber dari kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ketika masalah datang menghimpit kehidupan, sering kali yang pertama kali dicari oleh manusia adalah jalan-jalan duniawi. Mereka sibuk mencari relasi yang bisa membantu, menghitung kekuatan finansial yang dimiliki, menyusun berbagai strategi, atau berharap kepada bantuan sesama manusia. Semua itu memang termasuk bagian dari ikhtiar yang dibenarkan syariat. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah ketika hati sepenuhnya bergantung kepada sebab-sebab tersebut dan melupakan Dzat Yang menciptakan seluruh sebab. Doa yang seharusnya menjadi senjata utama seorang mukmin justru berubah menjadi pilihan terakhir setelah segala upaya duniawi menemui jalan buntu. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan hamba-hamba-Nya dengan firman-Nya:

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾

“Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.” (QS. Ghafir: 60)

Ayat yang agung ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh memisahkan antara ikhtiar dan doa. Semakin besar persoalan yang dihadapi, semakin besar pula kebutuhan seorang hamba untuk mengetuk pintu Rabb-nya. Boleh jadi hidup terasa berat bukan karena kurangnya kemampuan, kurangnya harta, atau kurangnya kesempatan. Bisa jadi karena hati kita terlalu sibuk bergantung kepada makhluk dan terlalu sedikit bergantung kepada Sang Khaliq. Ketika hubungan dengan Allah melemah, maka sebesar apa pun kekuatan dunia yang dimiliki tidak akan mampu menghadirkan ketenteraman yang hakiki. Sebaliknya, ketika hati dekat dengan Allah dan lisan terbiasa berdoa kepada-Nya, maka kesulitan yang besar pun akan terasa ringan karena seorang hamba yakin bahwa ia memiliki Rabb Yang Maha Mendengar, Maha Mengabulkan, dan Maha Mengurus seluruh urusannya.

Hakikat Doa: Bukan Pelengkap, Tetapi Inti Ibadah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam kehidupan kita adalah memandang doa hanya sebagai sarana untuk meminta kebutuhan. Ketika sakit, kita berdoa agar sembuh. Ketika mengalami kesulitan ekonomi, kita berdoa agar dimudahkan rezeki. Ketika menghadapi masalah keluarga, pekerjaan, atau pendidikan anak, kita pun berdoa agar diberi jalan keluar. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun, jika kita memahami doa hanya sebatas permintaan kebutuhan, berarti kita belum memahami hakikat doa yang sebenarnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2969).

Hadis ini menunjukkan bahwa nilai doa jauh lebih besar daripada sekadar alat untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Doa adalah manifestasi penghambaan seorang hamba kepada Rabb-nya. Ketika kedua tangan terangkat dan lisan memohon kepada Allah, saat itulah seorang hamba sedang mengakui bahwa dirinya lemah, terbatas, tidak berdaya, dan sangat membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap urusannya. Sebaliknya, Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya, Maha Kuasa, dan Maha Sempurna. Oleh karena itu, setiap doa yang terucap sesungguhnya bukan hanya permintaan, tetapi juga pengakuan akan kehambaan dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di zaman yang sangat mengagungkan kemandirian seperti sekarang, manusia sering didorong untuk merasa mampu menyelesaikan segala sesuatu dengan kekuatan dirinya sendiri. Banyak orang merasa cukup dengan ilmu, pengalaman, jabatan, jaringan pertemanan, atau kekuatan finansial yang dimilikinya. Akibatnya, doa perlahan mulai tersingkir dari rutinitas kehidupan. Padahal semakin seseorang merasa tidak membutuhkan doa, semakin jauh ia dari hakikat penghambaan kepada Allah. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata,

وَأَصْلُ الدُّعَاءِ إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَى اللهِ

“Inti doa adalah menampakkan kebutuhan dan kefakiran seorang hamba kepada Allah.” (Lathā’if Al-Ma’ārif, hlm. 225).

Karena itu, meninggalkan doa bukan sekadar kehilangan sebuah amalan sunnah, tetapi kehilangan salah satu bentuk ibadah yang paling agung. Sungguh mengherankan apabila seorang hamba begitu rajin mengetuk pintu manusia untuk mencari bantuan, tetapi jarang mengetuk pintu Rabb yang menguasai seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Maka marilah kita hidupkan kembali kebiasaan berdoa dalam setiap keadaan, bukan hanya ketika kesulitan datang, tetapi juga ketika nikmat melimpah. Sebab semakin sering seorang hamba berdoa, semakin kuat pula kesadarannya bahwa seluruh kehidupannya bergantung sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mengapa Hidup Terasa Berat? Karena Terlalu Bersandar Pada Sebab

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu penyebab mengapa hidup terasa begitu berat adalah karena hati kita terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi. Tidak sedikit orang yang merasa aman karena memiliki tabungan yang cukup, merasa kuat karena memiliki jabatan yang tinggi, merasa tenang karena memiliki banyak relasi dan koneksi, atau merasa yakin akan masa depannya karena kemampuan dan kecerdasannya sendiri. Semua itu memang merupakan nikmat Allah yang patut disyukuri. Namun persoalannya muncul ketika hati mulai menggantungkan rasa aman dan harapannya kepada semua sebab tersebut. Padahal sejarah kehidupan manusia berulang kali menunjukkan bahwa harta dapat habis dalam sekejap, jabatan dapat dicabut dalam hitungan hari, relasi dapat berubah menjadi permusuhan, dan kemampuan diri dapat runtuh karena sakit atau musibah yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Betapa banyak orang yang dahulu merasa tidak akan pernah kekurangan, namun akhirnya diuji dengan kesulitan ekonomi. Betapa banyak orang yang merasa posisinya tidak tergoyahkan, namun suatu saat harus menerima kenyataan kehilangan kedudukan yang selama ini dibanggakannya. Ketika sandaran hati bertumpu kepada sesuatu yang fana, maka kegelisahan akan selalu menghantui, sebab segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya tidak memiliki kekuatan untuk menjamin ketenangan hidup manusia.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Islam tidak pernah melarang seorang muslim untuk berikhtiar. Bahkan syariat memerintahkan kita untuk bekerja, merencanakan, belajar, dan memanfaatkan berbagai sebab yang Allah sediakan. Akan tetapi Islam mengajarkan bahwa hati tidak boleh bergantung kepada sebab-sebab tersebut. Sebab hanyalah alat, sedangkan Allah-lah yang menentukan hasilnya. Karena itu Allah berfirman,

 ﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾

 “Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3).

Seorang mukmin boleh memiliki harta, tetapi jangan menjadikan harta sebagai sumber ketenangan. Ia boleh memiliki jabatan, tetapi jangan menjadikan jabatan sebagai sandaran hidup. Ia boleh memiliki ilmu dan kemampuan, tetapi jangan sampai merasa bahwa keberhasilannya semata-mata karena dirinya sendiri. Ibnu Qayyim rahimahullah mengingatkan,

مَنْ تَعَلَّقَ بِشَيْءٍ وُكِلَ إِلَيْهِ

“Siapa yang menggantungkan dirinya kepada sesuatu, maka ia akan diserahkan kepada sesuatu itu.” (Madārij As-Sālikīn, 2/121).

Maka renungkanlah, ketika hati terlalu sibuk bersandar kepada makhluk, sering kali kita merasa lelah, cemas, dan mudah kecewa. Namun ketika hati bersandar kepada Allah, kita akan menemukan ketenangan yang tidak mampu diberikan oleh harta, jabatan, ataupun seluruh kekuatan dunia. Sebab orang yang bertawakal kepada Allah tidak berarti terbebas dari masalah, tetapi ia memiliki sandaran yang tidak pernah lemah, tidak pernah lalai, dan tidak pernah mengecewakan.

Salah Satu Sebab Terhalangnya Kebaikan Adalah Lalai Berdoa

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara sebab yang sering tidak disadari sehingga kebaikan terasa sulit datang dan berbagai urusan terasa berat adalah kelalaian dalam berdoa. Banyak orang bekerja sejak pagi hingga malam demi meraih keberhasilan, namun sangat sedikit waktu yang ia gunakan untuk memohon pertolongan kepada Allah. Banyak orang menyusun rencana hidup dengan sangat rinci, menghitung setiap peluang dan risiko, menyiapkan berbagai strategi untuk masa depan, tetapi lupa melibatkan Allah melalui doa-doa yang tulus. Bahkan tidak sedikit orang yang begitu mudah mencurahkan keluh kesahnya kepada manusia, menangis di hadapan teman, kerabat, atau media sosial, namun jarang meneteskan air mata ketika bermunajat kepada Rabb yang menciptakannya. Seakan-akan manusia lebih diyakini mampu menyelesaikan masalah daripada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Padahal seorang mukmin yang sejati memahami bahwa sebesar apa pun usaha yang dilakukan, semua itu tidak akan membuahkan hasil kecuali dengan pertolongan dan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itulah doa bukan sekadar pelengkap setelah ikhtiar, melainkan ruh yang menghidupkan seluruh ikhtiar tersebut.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Betapa agung kedudukan doa di sisi Allah hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Barang siapa tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3373; dihasankan oleh Al-Albani).

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Jika manusia sering merasa terganggu ketika terlalu banyak dimintai bantuan, maka Allah justru mencintai hamba yang terus-menerus meminta kepada-Nya. Allah menyukai hamba yang datang membawa kelemahan, kebutuhan, dan pengharapannya. Semakin seorang hamba merasa dirinya membutuhkan Allah, semakin dekat kedudukannya di sisi-Nya.

Sebaliknya, ketika seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri dan enggan berdoa, sesungguhnya ia sedang menjauh dari pintu rahmat Allah. Oleh karena itu, marilah kita bertanya kepada diri masing-masing: berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk memikirkan masalah dibandingkan waktu yang kita gunakan untuk berdoa? Berapa sering kita mencari solusi kepada manusia dibandingkan mencari pertolongan kepada Allah? Bisa jadi sebagian kebaikan belum kita rasakan, bukan karena Allah tidak mampu memberikannya, tetapi karena kita belum sungguh-sungguh mengetuk pintu-Nya dengan doa, kerendahan hati, dan keyakinan yang penuh kepada-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَجَعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ الَّذِينَ إِذَا سَأَلُوا اللَّهَ أَعْطَاهُمْ، وَإِذَا دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ، وَإِذَا اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ، وَإِذَا تَوَكَّلُوا عَلَيْهِ كَفَاهُمْ.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، وَأَلِحُّوا عَلَيْهِ فِي الدُّعَاءِ، وَأَكْثِرُوا مِنْ سُؤَالِهِ وَرَجَائِهِ، فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ كَرِيمٌ لَا يَرُدُّ مَنْ قَصَدَهُ، وَلَا يُخَيِّبُ مَنْ رَجَاهُ، وَلَا يَحْرِمُ مَنْ وَقَفَ بِبَابِهِ مُتَضَرِّعًا مُنِيبًا.

إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، الْجَوَادُ الْكَرِيمُ، الْبَرُّ الرَّؤُوفُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ أَقْرَبَ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ إِذَا صَدَقَ فِي دُعَائِهِ وَافْتِقَارِهِ إِلَيْهِ، وَأَنَّ مَنْ لَزِمَ بَابَ اللَّهِ لَمْ يُرَدَّ خَائِبًا، وَمَنْ أَكْثَرَ مِنْ سُؤَالِهِ وَرَجَائِهِ وَجَدَ مِنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ مَا لَا يَخْطُرُ لَهُ عَلَى بَالٍ.

Doa Bukan Opsi Terakhir, Tetapi Nafas Kehidupan Seorang Mukmin

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Jika kita memperhatikan kehidupan para nabi dan rasul, kita akan menemukan bahwa mereka selalu kembali kepada Allah melalui doa. Nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa ketika dakwahnya ditolak, Nabi Yunus ‘alaihissalam berdoa ketika berada di dalam perut ikan, Nabi Zakariya ‘alaihissalam berdoa ketika mengharapkan keturunan di usia senja, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdoa dalam berbagai keadaan. Hal ini menunjukkan bahwa doa bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kuatnya iman dan ketergantungan seorang hamba kepada Rabb-nya. Jika para nabi yang merupakan manusia terbaik saja tidak pernah meninggalkan doa, maka kita tentu lebih membutuhkan doa dalam menjalani kehidupan ini.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Karena itu, jangan jadikan doa sebagai pilihan terakhir ketika semua usaha telah gagal. Jadikan doa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari; setelah shalat, sebelum bekerja, saat menghadapi kesulitan, dan ketika memohon kebaikan untuk keluarga. Namun jika doa belum terwujud sesuai harapan, jangan terburu-buru berputus asa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ

“Akan dikabulkan doa salah seorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa.” (HR. Al-Bukhari, no. 6340; Muslim, no. 2735).

Bisa jadi Allah mengabulkannya saat ini, menundanya untuk waktu yang lebih baik, atau menggantinya dengan kebaikan yang lebih besar. Karena itu, yang terpenting bukanlah kapan doa dikabulkan, tetapi apakah kita terus berdoa dan berharap kepada Allah. Sebagaimana Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنِّي لَا أَحْمِلُ هَمَّ الْإِجَابَةِ وَلَكِنْ أَحْمِلُ هَمَّ الدُّعَاءِ

“Aku tidak memikirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tetapi aku memikirkan apakah aku sudah berdoa atau belum.”

Penutup: Kembali Mengetuk Pintu yang Selalu Terbuka

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sebelum khutbah ini kita akhiri, marilah sejenak kita bermuhasabah dan bertanya kepada diri kita masing-masing: kapan terakhir kali kita menangis dalam doa karena merasa benar-benar membutuhkan Allah? Kapan terakhir kali kita mengangkat tangan dengan penuh harap dan keyakinan kepada-Nya? Dan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk menyusun rencana, mencari solusi, serta memikirkan berbagai kemungkinan, dibandingkan waktu yang kita gunakan untuk berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah? Boleh jadi hidup yang terasa berat, hati yang terasa sempit, dan berbagai urusan yang terasa sulit bukan karena Allah menjauh dari kita, melainkan karena kita yang terlalu lama menjauh dari pintu doa.

Kita begitu sering mengetuk pintu manusia, berharap pada kemampuan diri, dan bersandar pada sebab-sebab duniawi, sementara pintu Allah yang selalu terbuka siang dan malam justru jarang kita datangi. Karena itu, marilah kita hidupkan kembali kebiasaan berdoa dalam setiap keadaan, menggabungkan ikhtiar dengan tawakal, serta menjadikan doa sebagai kebutuhan harian, bukan hanya amalan yang hadir saat musibah datang. Yakinlah bahwa tidak ada tempat bergantung yang lebih kokoh, tidak ada penolong yang lebih kuat, dan tidak ada pemberi jalan keluar yang lebih sempurna selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka selama pintu doa masih terbuka, jangan pernah berhenti mengetuknya dan jangan pernah kehilangan harapan kepada Rabb semesta alam. Wallahu a’lam bish shawab.

قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

‎اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

‎اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا عِبَادُكَ الضُّعَفَاءُ، وَأَنْتَ رَبُّنَا الْغَنِيُّ الْقَوِيُّ، اللَّهُمَّ فَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُتَعَلِّقَةً بِكَ، مُقْبِلَةً عَلَيْكَ، مُفَوِّضَةً أُمُورَهَا إِلَيْكَ.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ، الصَّادِقِينَ فِي الرَّجَاءِ، الْحَسَنِي الظَّنِّ بِكَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ.

اللَّهُمَّ لَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، وَاجْعَلْ تَوَكُّلَنَا عَلَيْكَ وَحْدَكَ، وَاعْتِمَادَنَا عَلَيْكَ وَحْدَكَ، وَثِقَتَنَا بِكَ وَحْدَكَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَلْسِنَةً ذَاكِرَةً، وَأَعْيُنًا دَامِعَةً، وَدُعَاءً لَا يُرَدُّ، وَرَجَاءً لَا يَنْقَطِعُ، وَيَقِينًا يَزْدَادُ وَلَا يَنْقُصُ.

اللَّهُمَّ إِنْ كَانَتْ ذُنُوبُنَا قَدْ حَالَتْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ فَاغْفِرْهَا لَنَا، وَإِنْ كَانَ فِي قُلُوبِنَا تَعَلُّقٌ بِغَيْرِكَ فَاقْطَعْهُ عَنَّا، وَإِنْ كَانَ فِي أَنْفُسِنَا غَفْلَةٌ عَنْكَ فَأَيْقِظْهَا بِفَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا بَرَكَاتِكَ، وَيَسِّرْ لَنَا أُمُورَنَا، وَفَرِّجْ هُمُومَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوبَنَا، وَاقْضِ دُيُونَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا دَعَوْكَ أَجَبْتَهُمْ، وَإِذَا اسْتَغْفَرُوكَ غَفَرْتَ لَهُمْ، وَإِذَا تَوَكَّلُوا عَلَيْكَ كَفَيْتَهُمْ، وَإِذَا رَجَوْكَ لَمْ تُخَيِّبْ رَجَاءَهُمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami