Daftar Isi
Oleh : Fathimah Azzahro
(Mahasantri Ma’had Aly Ta’hil Al-Mudarrisat Darusy Syahadah)
Latar Belakang Masalah
Guru memegang peran sentral dalam pendidikan karena menjadi teladan yang digugu dan ditiru oleh peserta didik. Tuntutan profesional guru tidak hanya mencakup penguasaan materi, tetapi juga kemampuan mengelola emosi dalam menghadapi berbagai persoalan, seperti perilaku siswa, tekanan kerja, konflik lingkungan sekolah, serta masalah pribadi. Kondisi tersebut kerap memicu stres berkepanjangan yang berdampak pada menurunnya kesejahteraan, kualitas pengajaran, hingga munculnya sindrom burnout.
Burnout pada guru merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan kerja yang tinggi dan minimnya dukungan lingkungan. Fenomena ini telah banyak terjadi, bahkan mendorong sebagian guru untuk meninggalkan profesinya. Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan tingginya angka burnout pada guru di berbagai jenjang pendidikan.
Karena burnout berkaitan erat dengan aspek mental dan batin, diperlukan pendekatan yang menyentuh sisi kejiwaan, salah satunya melalui tarbiyyah rūḥiyyah. Tarbiyyah rūḥiyyah berperan menumbuhkan kedekatan kepada Allah Ta’ālā sehingga guru memiliki kekuatan batin dalam menghadapi tekanan hidup dan pekerjaan. Oleh karena itu, kajian tentang tarbiyyah rūḥiyyah dalam mengatasi sindrom burnout pada guru dinilai penting sebagai upaya membantu guru agar mampu bertahan, bangkit, dan menjalani profesinya dengan lebih bermakna.
Definisi
Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan atau penerapan suatu rencana yang telah disusun secara matang dan terperinci untuk mencapai tujuan tertentu. Implementasi tidak sekadar aktivitas, tetapi merupakan tindakan terencana yang mencerminkan bagaimana sebuah program atau konsep dijalankan dalam praktik.
Tarbiyyah Rūḥiyyah
Tarbiyyah secara bahasa bermakna menumbuhkan, mengembangkan, dan menyempurnakan, sedangkan secara istilah adalah proses pembinaan manusia secara bertahap sesuai dengan manhaj Islam agar meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Rūḥiyyah berkaitan dengan ruh, yakni unsur kehidupan yang bersifat halus dan tidak kasatmata, namun berpengaruh besar terhadap perilaku manusia. Dengan demikian, tarbiyyah rūḥiyyah adalah upaya pembinaan ruhani untuk membentuk pribadi yang dekat kepada Allah, beramal sesuai rida-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
Sindrom Burnout
Sindrom adalah kumpulan gejala yang muncul bersamaan dan menandai kondisi tertentu. Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat stres berkepanjangan yang tidak terkelola dengan baik. Burnout ditandai dengan menurunnya semangat kerja, sikap menarik diri, sinisme, kelelahan emosional, serta rendahnya kepercayaan diri.
Guru
Guru adalah pendidik profesional yang bertugas mengajar, mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Guru bertanggung jawab atas proses pendidikan peserta didik, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.
Pembahasan
Tanda-tanda Guru yang Mengalami Sindrom Burnout
Para guru yang sedang mengalami sindrom burnout, dapat diketahui melalui beberapa tanda berikut:
- Mengalami Kelelahan Fisik dan Mental
Guru yang sedang mengalami sindrom burnout, akan terlihat sangat lelah secara fisik maupun mentalnya. Adapun kelelahan mental yang dimaksud lebih mengarah pada lelah secara psikologis. Hal ini akan melahirkan berbagai emosi negatif, seperti menjadi kurang bersemangat, merasa hampa, mudah bersedih, baper, dan sebagainya.
- Mengalami Depersonalisasi
Depersonalisasi merupakan perasaan negatif, sensitif, dan menarik diri dari segala aspek pekerjaan. Depersonalisasi/cynicism membuat seseorang akan menganggap orang lain adalah objek, bukan subjek yang harus dimanusiakan. Depersonalisasi terbentuk dari mekanisme self-protective terhadap kelelahan (exhaustion) yang dialami pekerja, yaitu berupa penarikan diri dari keterlibatan secara emosional dengan orang lain. Efek selanjutnya adalah hilangnya perasaan sensitif kepada orang lain sehingga dapat menimbulkan reaksi-reaksi negatif.
- Mendapatkan Permasalahan Kesehatan
Guru yang sedang mengalami burnout bisa ditandai dengan beberapa masalah kesehatan. Penemuan menunjukkan bahwa burnout pada guru secara konsisten mendapat masalah terkait dengan keluhan somatik, contohnya seperti sakit kepala. Masalah lainnya adalah penyakit fisik, seperti gastroenteritis, kemudian ada gangguan suara, serta biomarker disfungsi pada poros hipotalamus-hipofisis-adrenal (kortisol) dan peradangan (sitokin).”
- Menghilangnya Semangat pada Diri
Guru yang sedang mengalami burnout akan merasa bahwa apapun yang dilakukannya akan terasa tidak menyenangkan. Hal inilah yang memicunya untuk kehilangan semangat dan keinginan dalam melakukan apapun.
- Mengalami Penurunan Kinerja
Penurunan kinerja yang terjadi, disebabkan menjauhnya guru tersebut dari lingkungan sosialnya. Hal ini terjadi karena tidak hal yang bisa membuatnya bergairah atau yang memicunya untuk berusaha keras menjadi seorang yang produktif.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Sindrom Burnout pada Guru
Munculnya sindrom burnout pada diri guru, tentu saja tidak lepas dari berbagai faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berikut merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya sindrom burnout pada diri guru:
- Tuntutan Emosional dan Beban Kerja yang Berlebihan
Beban kerja adalah sekumpulan proses atau kewajiban dalam suatu organisasi yang harus diselesaikan pada periode tertentu. Beban kerja yang berlebihan dapat menyebabkan stres kronis dan kelelahan, yang pada akhirnya dapat mengarah pada burnout. Guru muda sering dihadapkan pada tuntutan untuk mencapai standar kinerja yang tinggi, yaitu mengelola kelas dengan berbagai tantangan, serta menghadapi tekanan dari siswa, orang tua, dan manajemen sekolah. Guru juga harus menghadapi tuntutan emosional dalam mengatasi berbagai perilaku siswa, seperti siswa yang berkelakuan tidak baik di sekolah, siswa yang melakukan perilaku indispliner, juga ada siswa yang tidak memiliki motivasi belajar, dan lain sebagainya.
- Kurangnya Dukungan Sosial
Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya burnout pada guru adalah dukungan sosial. Kurangnya dukungan sosial di tempat kerja baik dari rekan kerja maupun atasan, dan rendahnya otonomi pekerjaan dapat memicu burnout. Guru yang memiliki masalah interaksi dengan staf sekolah dan orangtua, hingga nilai-nilai personal yang tidak sejalan dengan nilai yang ada di lingkungan sekolah, juga dapat menjadi sumber lain bagi guru yang berisiko dalam mengalami burnout.
Dukungan sosial merupakan suatu perasaan senang yang dirasakan oleh individu atas adanya rasa kepedulian atau bantuan serta pertolongan dari orang lain. Dukungan sosial merujuk pada kenyamanan, kepedulian, kesediaan saran dan arahan, serta bantuan materi yang tersedia bagi seseorang dari orang lainnya. Individu yang menerima hal tersebut akan merasa dicintai, dihargai dan diterima. Secara keseluruhan, kualitas dan keberadaan dukungan sosial di lingkungan sekolah menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan emosional guru dan mengurangi dampak negatif dari stres kerja. Sementara itu, berdasarkan penelitian Kim dan Lee pada tahun 2022, guru yang merasa kurang didukung oleh rekan kerja dan atasan lebih rentan terhadap stres.
- Kurangnya Penghargaan atau Apresiasi dari Institusi
Burnout pada guru kerap kali muncul akibat dari kurangnya penghargaan dari institusi. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian apresiasi dalam bentuk finansial maupun non-finansial terbukti mampu mengurangi tingkat burnout, dan meningkatkan kesejahteraan guru secara signifikan. Apresiasi finansial, seperti gaji yang sesuai standar, insentif, dan tunjangan tambahan. Sementara itu, apresiasi non-finansial bisa berupa penghargaan verbal dan pengakuan formal, seperti menghargai para guru, memberi sertifikat penghargaan dan sebagainya. Semua hal ini berperan penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang suportif.
- Kompensasi yang Kurang Memadai
Ketidaksesuaian antara beban kerja dan kompensasi sering menjadi pemicu utama stres berkepanjangan dan kelelahan emosional. Kompensasi merupakan hal yang sangat penting dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Salah satu contoh guru yang sering diberi pekerjaan tanpa mendapat kompensasi yang cukup adalah guru honorer. Bahkan, ada guru honorer yang mengabdi di pelosok-pelosok dan di daerah terpencil selama bertahun-tahun, dengan gaji yang tidak tentu setiap bulannya.
Kompensasi yang negatif tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan, tetapi juga dapat menimbulkan burnout. Hal ini perlu diperhatikan di dalam bidang pendidikan dalam memberikan suatu kompensasi bagi para guru. Jika kompensasi yang diberikan tidak sesuai dan layak, maka hal itu akan membuat dampak yang buruk kedepannya dan mengakibatkan tenaga kerja pendidik ingin meninggalkan pekerjaannya.
- Masalah Pribadi
Salah satu faktor lainnya yang memiliki pengaruh paling tinggi terhadap burnout adalah masalah pribadi yang dihadapi guru ketika di rumah. Misalnya, pertengkaran dengan anggota keluarga, kematian orang yang dicintai, masalah keuangan, dan lain sebagainya. Timbulnya konflik tersebut disebabkan oleh pekerjaan dan keluarga yang tidak saling mendukung, bahkan cenderung berlawanan.
Tarbiyyah Rūḥiyyah dalam Mengatasi Sindrom Burnout pada Guru
Setelah memaparkan berbagai permasalahan mengenai burnout, serta tanda-tanda dan faktor-faktor yang mepengaruhinya, maka sudah selayaknya bagi para guru untuk mengetahui solusi dalam mengatasinya. Implementasi tarbiyyah rūḥiyyah sebagai didikan langsung pada jiwa, merupakan hal yang tepat dalam mengatasi sindrom burnout pada guru. Penulis akan menjabarkan poin-poinnya sebagai berikut:
- Murāqabatullāh
Murāqabatullāh merupakan perasaan bahwa diri selalu berada dalam pengawasan Allah Ta’āla. Seseorang yang memiliki perasaan ini sangat yakin bahwa Allah Ta’āla melihat dan mengetahui rahasianya serta mengawasi aktivitasnya. Ia juga yakin bahwa Allah Ta’āla akan memberikan balasan sesuai dengan apa yang telah diusahakannya, begitu juga dengan orang lain. Seseorang yang benar-benar bermurāqabah akan takut jika kehilangan sesuatu dari Rabbnya, bukan dari yang lain. Selain itu, seorang yang merasa hatinya selalu diawasi oleh Allah Ta’āla, maka Allah Ta’āla akan menjaga setiap gerakan anggota badannya, serta menjaga setiap perbuatannya, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan.
Maka dari itu, murāqabatullāh sangat cocok diterapkan dalam mengatasi burnout pada guru. Guru yang menerapkan murāqabatullāh dalam aktivitasnya sehari-hari, tidak akan pernah meragukan balasan dari Allah Ta’āla atas usaha terpuji yang ia lakukan untuk mendidik para muridnya. Sebanyak apapun tuntutan kerja yang didapatkan, banyaknya sikap murid yang menguras emosional, serta sedikitnya gaji yang diperoleh, tidak akan membuatnya putus asa dan merasa sia-sia, karena guru tersebut tahu bahwa semua yang ia lakukan diawasi oleh Allah Ta’āla. Ia juga tahu bahwa Allah Ta’āla tidak akan memberi beban yang tidak sanggup dipikul, serta mengetahui bahwa ganjaran dari-Nya sesuai dengan tingkatan ujian yang diberikan kepada hamba-Nya.
- Muhasabah Diri
Muhasabah diartikan sebagai seseorang yang menyendiri untuk melihat kondisi diri serta menelitinya, atau juga bisa disebut seseorang yang menginstropeksi dirinya, untuk mengingat apa yang telah ia lakukan dan bekal apa yang sudah dipersiapkan dalam menyongsong hari-harinya dan masa yang akan datang. Seseorang yang beriman akan senantiasa melakukan muhasabah, dan seseorang yang melakukan muhasabah akan senantiasa mendapati dirinya dalam kebaikan. Selain itu, seseorang yang meneliti dirinya sendiri lebih baik daripada meneliti seorang teman yang bākhil.
Muhasabah diri ini adalah hal yang sangat cocok untuk dilakukan oleh para guru. Guru yang senantiasa untuk bermuhasabah diri akan menyadari bahwa menjadi guru adalah kewajibannya yang harus ia tunaikan sepenuh hati, bukan dengan setengah-setengah, karena tahu begitu besar pahala yang dapat diraih. Guru juga mengetahui bahwa apapun hal terpuji yang ia ajarkan kepada muridnya akan terus menjadi amal jāriah yang pahalanya akan terus mengalir, bahkan jika sekalipun ia sudah meninggal nanti. Guru yang selalu melakukan muhasabah juga akan menyadari betapa lalainya dirinya selama ini dalam menjadi guru, karena sering mengacuhkan muridnya akibat rasa lelah dan stress yang ia dapatkan. Melalui muhasabah, guru akan lebih mulai memperbaiki diri dan menjalani aktivitasnya dengan lebih lapang dada.
- Tazkiyatun Nafs
Tazkiyatun nafs menurut Imam Al-Ghazali ialah jalan atau upaya dalam membersihkan jiwa manusia dari sifat-sifat mazmumah (tercela) dan kemudian mengisinya dengan akhlak-akhlak mahmudah (terpuji). Tazkiyatun nafs bertujuan untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit batin, seperti kesombongan, iri hati, amarah, dan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Tujuan utamanya adalah mencapai kesempurnaan spiritual dan akhlak dengan mengendalikan hawa nafsu, menghilangkan sifat-sifat negatif, serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’āla.
Para ulama sangat memperhatikan masalah mengenai jiwa dan cara menanggulangi bencana, penyakit, serta petunjuk untuk menyucikan dan memperbaikinya. Hal itu dikarenakan salah satu tujuan diutusnya nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wasallam serta para dā’ī sepeninggal beliau adalah untuk menyucikan jiwa tersebut. Tazkiyatun nafs merupakan hal yang sangat penting untuk diterapkan pada guru yang mengalami burnout. Guru yang menerapkan tazkiyatun nafs akan lebih mudah dalam menjalani perannya sehari-hari. Ia akan lebih bisa mengontrol amarah walaupun terus-menerus diberi pekerjaan yang berat, karena ia tahu bahwa marah tersebut memiliki pengaruh yang jelek terhadap individu, akal, keseimbangan, serta berakibat buruk bagi persatuan. Ia juga akan lebih ridhā dengan gaji yang sedikit, karena tazkiyatun nafs akan menghalanginya dari mencintai dunia secara berlebihan dan lebih mudah dalam mengendalikan hawa nafsunya.
Melalui tazkiyatun nafs pula, guru akan mempelajari keikhlasan. Seorang guru sebagai pendidik harus mengikhlaskan niatnya hanya karena Allah Ta’āla dan mengharap ridhānya dalam setiap amal yang dilakukannya, agar amalan mengajar tersebut diterima di sisi-Nya. Seorang guru yang menerapkan hal ini tidak akan merasa bahwa pekerjaannya sia-sia, karena tugas sebagai guru bukan hanya sebuah profesi, tapi juga amalan yang pahalanya sangat besar dan sangat penting untuk mendidik generasi agar menjadi generasi rabbāni.
- Halaqah Rūḥiyyah
Halaqah rūḥiyyah merupakan sebuah tempat atau komunitas untuk membina jiwa melalui majelis ilmu syar’ī, membaca dan menghafal al-Qur’an bersama, berdzikir, saling memberi nasihat, memotivasi, dan lain sebagainya. Ketika seseorang menghadiri halaqah seperti ini dengan ikhlas demi mengharap ridhā Allah Ta’āla, serta tekad kuat yang tulus dalam rangka mempelajari ilmu, maka dengannya ia akan mengenal Allah Ta’āla dan mewujudkan rasa takut kepadanya. Hal ini juga akan memperbaiki ibadahnya kepada Allah Ta’āla dalam kesehariannya. Melalui halaqah ini juga, akan bertemu dengan saudara seimannya dan mempelajari tingkah laku yang baik, sikap tawaḍu’, sunnah-sunnah Rasul Shallallāhu ‘alaihi wasallam, serta berbagai manfaat lainnya dari mereka.
Halaqah rūḥiyyah ini akan sangat membantu guru jika diterapkan dalam menangani burnout. Guru yang merasa sudah kehilangan harapan bahwa tidak adanya dukungan yang ia dapatkan dari tempat kerja, tidak adanya yang menghargai kemampuannya, ditambah berbagai masalah pribadi yang didapatkan dirumah sangat menguras psikologisnya, maka halaqah rūḥiyyah ini bisa menjadi solusi dari hal tersebut. Bertemunya guru dengan teman-teman seiman yang shālih dan bersama-sama melakukan amal kebaikan, juga akan membuat hati menjadi lebih tentram dan nyaman.
Kesimpulan
Burnout merupakan suatu sindrom psikologi yang menggambarkan kondisi kelelahan pada diri seseorang, baik secara fisik, emosional maupun mental yang dipicu oleh stres yang berkepanjangan. Burnout dapat terjadi di kalangan siapapun, salah satunya adalah di kalangan guru. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi adalah karena tuntutan emosional dan beban kerja yang berlebihan, kurangnya dukungan sosial, kurangnya penghargaan atau apresiasi, kompensasi yang kurang memadai, serta masalah pribadi yang dialami guru tersebut.
Guru yang telah terkena sindrom burnout, memiliki tanda-tanda yang dapat dikenali yaitu, mengalami kelelahan fisik dan mental, mengalami depersonalisasi, mendapatkan permasalahan kesehatan, menghilangnya semangat pada diri, serta mengalami penurunan dalam kinerjanya sebagai guru. Tarbiyyah rūḥiyyah sebagai didikan langsung pada jiwa, merupakan hal yang tepat dalam mengatasi sindrom burnout pada guru. Maka dari itu, tarbiyyah rūḥiyyah yang bisa dilakukan dalam mengatasi burnout tersebut berupa murāqabatullāh, muhasabah, tazkiyatun nafs, serta mengikuti halaqah rūḥiyyah. Wallahu A’lam bish Shawab.
Catatan :
Artikel ini telah melalui proses telaah ilmiah yang sudah layak untuk dipublikasikan, hanya saja kebijakan bagian redaksi website darusyahadah.com menyederhanakannya agar tidak terlalu panjang dan tidak mencantumkan referensi yang valid demi menghindari tindakan plagiarism.




