BerandaAlumniDari Anak Petani Menjadi Perintis Pesantren: Jejak Pengabdian Ustadz Khoierul Umam

Dari Anak Petani Menjadi Perintis Pesantren: Jejak Pengabdian Ustadz Khoierul Umam

- Advertisement -spot_img

Dari Tanah Petani Tumbuh Pejuang Pendidikan

Tidak semua anak petani bercita-cita menjadi tokoh pendidikan. Namun, dari sebuah kampung religius di pesisir Lamongan, lahirlah seorang santri yang kelak mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk pendidikan Islam, dakwah, dan pembinaan umat.

Dialah Ustadz Khoierul Umam, salah satu alumni angkatan kedua KMI (Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah) Darusy Syahadah yang perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa kesungguhan dalam menuntut ilmu dapat mengantarkan seseorang menjadi pelopor kebaikan di tengah masyarakat.

Lahir di Desa Payaman, Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, pada 12 September 1979, beliau tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahanda, H. Abdul Karim, dan ibunda, Hj. Yani Nur Jannah, merupakan sosok petani yang membesarkan putra-putrinya dengan nilai-nilai agama dan kerja keras. Dari lingkungan sederhana itulah tumbuh semangat untuk mencari ilmu dan mengabdikan diri kepada umat.

Menapaki Jalan Ilmu Sejak Remaja

Perjalanan pendidikan agama Ustadz Khoierul Umam dimulai sejak usia muda. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, beliau memilih meninggalkan kenyamanan rumah demi menempuh jalan para pencari ilmu.

Pada tahun 1992, beliau mondok di Pondok Pesantren Al-Ishlah, Sendang, Paciran, Lamongan. Di bawah bimbingan KH. Muhammad Dawam Sholih, beliau mendapatkan fondasi keilmuan Islam yang kuat sekaligus tempaan kedisiplinan yang membentuk karakter seorang santri.

Kehausan terhadap ilmu kemudian membawanya merantau ke Jawa Tengah. Di Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah, Boyolali, beliau menempa diri dalam lingkungan pendidikan yang menekankan pembentukan ilmu, akhlak, kemandirian, dan semangat dakwah. Di bawah asuhan KH. Mustaqim Safar, masa-masa belajar di Darusy Syahadah menjadi fase penting yang membentuk arah perjuangan hidupnya.

Bagi beliau, Darusy Syahadah bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah yang menanamkan nilai-nilai perjuangan. Ikatan emosional itu bahkan tetap terjaga hingga hari ini. Kecintaannya terhadap almamater kerap terlihat dari kebiasaannya mengenakan seragam berlogo KMI 99 Darusy Syahadah, sebuah simbol kebanggaan dan loyalitas terhadap pesantren yang telah membentuk perjalanan hidupnya.

Mengajar sebagai Jalan Pengabdian

Selepas menyelesaikan pendidikan di Darusy Syahadah, Ustadz Khoierul Umam memilih jalan pengabdian. Bukan dunia bisnis atau profesi yang menjanjikan keuntungan besar yang beliau pilih, melainkan ruang-ruang pendidikan yang penuh tantangan namun sarat keberkahan.

Sejak tahun 2000 hingga 2008, beliau mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di Pondok Pesantren Darul Fitrah. Di sana beliau menanamkan ilmu dan nilai-nilai Islam kepada para santri.

Komitmennya terhadap dunia pendidikan terus berkembang hingga dipercaya menjadi dosen di Ma’had Aly Putri Al-Himmah, Sukoharjo. Melalui dunia akademik, beliau turut berkontribusi dalam mencetak kader-kader muslimah yang berilmu dan berakhlak.

Di luar lembaga formal, aktivitas dakwahnya juga menjangkau masyarakat luas. Beliau aktif mengisi kajian, membina majelis taklim, serta memberikan pembinaan keagamaan di berbagai wilayah Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru yang dikenal dengan sebutan kawasan BUTARU.

Merintis dan Membangun Lembaga Dakwah

Salah satu karakter menonjol dalam perjalanan hidup Ustadz Khoierul Umam adalah jiwa kepeloporannya. Beliau tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga perintis lahirnya berbagai lembaga pendidikan Islam.

Pada tahun 2003, beliau turut merintis Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an At-Taqwa di Nguter, Sukoharjo. Langkah ini menjadi awal kontribusinya dalam membangun lembaga yang berfokus pada pembinaan generasi penghafal Al-Qur’an.

Semangat tersebut terus berlanjut. Pada tahun 2010, beliau kembali merintis Pondok Pesantren Qoryatul Qur’an di Weru, Sukoharjo. Seiring berjalannya waktu, pesantren ini berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Al-Qur’an yang melahirkan banyak hafizh dan hafizhah.

Tidak berhenti di situ, pada tahun 2022 beliau kembali menginisiasi lahirnya Pondok Pesantren Muhammadiyah Bukit Kemasan di Tawangsari, Sukoharjo. Kehadiran pesantren ini menjadi bagian dari ikhtiar memperluas akses pendidikan Islam yang berkualitas bagi masyarakat.

Aktif di Tengah Organisasi dan Umat

Bagi Ustadz Khoierul Umam, dakwah tidak hanya dilakukan dari mimbar dan ruang kelas. Dakwah juga memerlukan kerja kolektif melalui berbagai organisasi dan lembaga sosial.

Saat ini beliau mengemban amanah sebagai Mudir Muhammadiyah Boarding School Tawangsari (MBST). Selain itu, beliau juga dipercaya sebagai Pembina Yayasan Muslim Muhajirin Indonesia (YAMIIN) periode 2018–2026.

Keterlibatannya dalam berbagai organisasi kemasyarakatan juga menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap pembinaan umat. Beliau aktif sebagai anggota MUI Kecamatan Tawangsari, PCM Tawangsari, Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, serta Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Cabang Tawangsari.

Menghidupkan Filosofi Manfaat

Di balik seluruh aktivitas pendidikan, dakwah, dan organisasi yang dijalani, terdapat sebuah prinsip hidup yang terus beliau pegang erat:

“Hidup ini singkat, maksimalkan nikmat untuk menjadi manusia manfaat.”

Kalimat sederhana tersebut bukan sekadar slogan. Ia tercermin dalam jejak panjang pengabdian yang telah beliau jalani selama puluhan tahun. Dari ruang kelas pesantren, majelis taklim, lembaga pendidikan, hingga organisasi sosial, semuanya menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat bagi sebanyak mungkin manusia.

Jejak Alumni yang Terus Menginspirasi

Perjalanan hidup Ustadz Khoierul Umam menunjukkan bahwa keberhasilan seorang alumni tidak selalu diukur dari popularitas atau kemewahan hidup, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada umat.

Dari kampung sederhana di pesisir Lamongan hingga menjadi salah satu penggerak pendidikan Islam di Sukoharjo, beliau telah membuktikan bahwa ilmu yang dipadukan dengan keikhlasan akan melahirkan pengabdian yang panjang dan berbuah keberkahan.

Sebagai alumni angkatan kedua KMI Darusy Syahadah, beliau menjadi salah satu contoh nyata bagaimana nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren dapat tumbuh menjadi karya dan kontribusi yang dirasakan oleh masyarakat luas. Melalui lembaga-lembaga yang dirintis, para santri yang dibina, dan dakwah yang terus dijalankan, jejak kebaikan itu insya Allah akan terus mengalir sebagai amal jariyah yang tidak terputus.

Semoga Allah senantiasa menjaga, memberkahi, dan menerima seluruh pengabdian beliau untuk agama, umat, dan bangsa.

 

 

Oleh: UkBa

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami