BerandaKultumFaktor-Faktor Penghalang Menggapai Kelezatan Amal Shalih

Faktor-Faktor Penghalang Menggapai Kelezatan Amal Shalih

- Advertisement -spot_img

Oleh: Galuh Nur Aiman

(Mahasantri Ma’had Aly Ta’hil Al-Mudarrisin Darusy Syahadah, Semester 2)

Silakan klik Santri Darsya untuk men-download artikel kultum berikut.

 

Jama’ah salat tarawih yang semoga dirahmati oleh Allah

Dalam beramal ibadah kepada Allah ﷻ yang sering kita lakukan setiap harinya terkadang muncul keinginan untuk meninggalkan ibadah tersebut, mungkin karena malas, lelah atau karena sebab lainnya. Keinginan tersebut datang diakibatkan dari hilangnya rasa nikmat dalam beribadah. Hilangnya rasa nikmat dalam beribadah itu ada faktor-faktor penyebabnya, faktor-faktor penyebab hilangnya rasa nikmat ketika beribadah adalah:

  1. Maksiat

Maksiat adalah tindakan perilaku yang melanggar perintah Allah ﷻ dan hukum moral dalam Islam. Secara bahasa maksiat berasal dari bahasa Arab yang berarti menentang, mendurhakai, melanggar, dan membangkang. Dengan demikian, maksiat mencakup segala bentuk perbuatan dosa dan tindakan tercela yang bertentangan dengan ajaran agama. Imam Al-Ghazali membagi dosa menjadi tiga kategori, yaitu:

  • Meninggalkan kewajiban kepada Allah ﷻ. Dosa ini meliputi meninggalkan shalat, puasa, zakat. Cara untuk meleburnya adalah dengan mengqadha atau mengganti kewajiban yang ditinggalkan.
  • Dosa antara hamba dan Allah ﷻ. Dosa ini mencakup perbuatan yang dilarang Allah, seperti minum khamr, berzina, memakan riba, atau memandang lawan jenis yang bukan mahram. Dosa ini dapat ditebus dengan penyesalan bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut.
  • Dosa antara sesama manusia. Dosa ini diangggap lebih rumit dan berat resikonya dibanding dosa yang terjadi antara hamba dan Allah. Ini dikarenakan dosa antar sesama manusia lebih banyak menuntut tindakan-tindakan tertentu untuk bisa meleburnya, dosa ini biasa menyangkut harta benda, jiwa, kehormatan, kesucian. Masing-masing memiliki cara tersendiri bila seseorang yang menyalahinya ingin meleburnya.
  1. Pergaulan.

Pergaulan atau interaksi adalah hubungan timbal balik dengan unsur masyarakat. Hal dapat membawa dampak negatif tertentu, meskipun pada umumnya mendorong interaksi sosial yang positif. Adapun dampak negatifnya bisa meliputi sikap dan hal-hal  tertentu, misalnya.

Terlalu banyak berbaur dengan orang-orang yang tidak memiliki nilai-nilai agama yang kuat dapat mempengaruhi keyakinan dan perilaku seseorang. Dalam agama Islam sering menekankan pentingnya memilih teman dalam pergaulan. Semakin sering berbaur dengan orang lain, semakin besar pula kesempatan untuk terlibat dalam percakapan yang tidak bermanfaat, dalam Agama Islam dua hal tersebut termasuk perbuatan dosa yang sudah jelas ada perintah untuk menjauhinya. Terlalu sibuk dengan urusan interaksi sosial yang berlebihan dapat membuat seseorang lupa arah dan hidupnya bagi seorang hamba. Yaitu mempersiapkan tujuan hidup dan tujuan kematian.

Ibnul Jauzi rahimahulllah berkata, “Sewaktu aku masih muda, aku memiliki keinginan untuk menempuh jalan zuhud dengan senantiasa berpuasa dan shalat, dan ber-khalwat.  Hal itu menjadikan hatiku tajam, kuat, dan peka, ia akan merasa sedih bilamana sedikit waktunya berlalu bukan dalam ketaatan. Ia akan bersegera memanfaatkan waktu tersebut untuk ketaatan. Dengannya aku mendapatkan ketenangan jiwa dan manisnya bermunajat.” Banyak bergaul juga dapat menyebabkan kerugian dunia dan akhirat apabila didalamnya tidak ada perkara yang positif atau bahkan melanggar agama. Maka dari itu kita perlu pintar dan bisa memilih dalam pergaluan kita dalam kehidupan ini.

  1. Menjadikan Ibadah Hanya Sekedar Kebiasaan

Dalam Islam, ibadah yang dilakukan tanpa niat yang benar dapat berubah menjadi sebuah aktivitas kebiasaan yang tidak bernilai pahala disisi Allahﷻ. Seorang hamba yang cerdas akan merubah kebiasaan miliknya menjadi bernilai pahala, sementara orang yang lalai menjadikan amalan ibadahnya sebatas kebiasaan yang tidak mendatangkan pahala. Yang perlu di garis bawahidan menjadi perhatian disini adalah ketika kita akan melakukan ibadah kepada Allah ﷻ yang pertama yaitu tentang niat kita, apakah niat itu sudah benar dan berkesinambungan dengan apa yang akan kita lakukan, dan tentunya dalam beribadah kita hanya mengharap Ridho Allah ﷻ semata.

Maka dengan hal itu orang  yang lalai terhadap ibadahnya akan mengalami Kehilangan ruh ibadah. Ibadah dalam Islam memiliki tujuan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, meningkatkan ketakwaan, dan membersihkan hati. Jika ibadah hanya menjadi kebiasaan tanpa pemahaman makna dan tujuan yang mendalam, maka ruh ibadah tersebut hilang. Maka akibatnya ibadah itu tidak memberikan dampak positif yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini juga berimbas kepada kurangnya ke-khusyu’an. Ke-khusyu’an adalah inti dari ibadah yang berkualitas. Jika ibadah yang dilakukan tidak memiliki kesadaran hati dan pikiran yang fokus kepada Allah ﷻ maka kekhusyu’an akan sulit dicapai dan ibadah itu cenderung menjadi gerakan fisik dan ucapan lisan yang tanpa makna  mendalam dan tidak meningkatkan kualitas diri.

Ibadah hadir di kehidupan adalah untuk memperbaiki akhlak. Jika ibadah hanya menjadi kebiasaan maka potensi untuk meningkatkan kualitas diri dan menjauhi perbuatan buruk menjadi berkurang. Seharusnya ibadah menjadi sarana untuk instropeksi dan perubahan positif dalam hidup.

Jamaah yang semoga di rahmati oleh Allah

  1. Nifak

Ini merupakan pembahasan terakhir dari materi ini, yang mana kelezatan ibadah hanya bisa dirasakan oleh seorang mukmin shadiq dalam beriman. Seseorang yang didalam dirinya terdapat kemunafikan yaitu berpura-pura beriman atau menunjukkan kesetiaan kepada Islam di depan umum, padahal hatinya tidak beriman atau menyimpan niat buruk.

Sejatinya seorang yang beramal shalih akan merasakan manis didalam hatinya, kelapanagn yang luas dan pandangan yang sejuk. Kapan saja dia tidak mendaptkannya maka amalannya cacat.

Ya Allah, jadikanlah kita cinta pada keimanan dan hiaskanlah didalam hati kami, dan jadikanlah hati kami benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, dan jadikannya kami sebagai orang yang mendapat petunjuk. Wallahu a’alam semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, dan para sahabatnya, aamiin.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami