BerandaBuletin DakwahMengenal Ibn al-Haytsam dan Kontribusi Keilmuannya

Mengenal Ibn al-Haytsam dan Kontribusi Keilmuannya

- Advertisement -spot_img

Dr. Amir Reza Kusuma

(Dosen STAI Bina Muwahhidin)

Ketika berbicara tentang ilmuwan besar, nama yang sering kita dengar mungkin Newton, Galileo, atau Kepler. Namun, jauh sebelum mereka, dunia Islam telah memiliki seorang ilmuwan yang melakukan berbagai penelitian dan percobaan untuk memahami alam. Ia adalah Ibn al-Haytsam, seorang ilmuwan Muslim yang lahir di Basrah sekitar seribu tahun yang lalu. Ia banyak mempelajari matematika, astronomi, dan terutama cahaya serta penglihatan. Yang menarik, Ibn al-Haytsam tidak hanya pandai dalam ilmu pengetahuan. Ia juga dikenal sebagai orang yang sederhana, taat beragama, dan tidak berlebihan dalam mencari harta. Dari kisah hidupnya, kita bisa melihat bahwa seorang Muslim dapat menjadi ilmuwan yang hebat sekaligus tetap dekat dengan Allah. Lalu, siapa sebenarnya Ibn al-Haytsam dan apa saja yang telah ia sumbangkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan?

Perjalanan Hidup Sang Ilmuwan

Saintis yang lahir pada tahun 354H/956 M, ini bernama Abu Ali Hasan Ibn al-Hasan ibn al-Haytsam. Meski perawakanya tidak tinggi, ia dikenal sangat saleh, taat beribadah dan menghormati ajaran agama. Ia banyak menulis buku, hidup sederhana, dan menyukai kebaikan. Di masa mudanya ia telah memikirkan hal-hal yang sangat serius dan mengamati pemikiran dan perbedaan pendapat dalam berbagai bidang ilmu yang ada pada saat itu. Dari kota Basrah, tempat kelahirannya, Ibn al-Haytsam pergi ke Baghdad belajar dengan  para ahli yang bekerja di Bayt al-Hikmah, semacam lembaga penelitian dengan perpustakaan yang terkenal menyimpan karya-karya ilmiah dari Yunani, Persia dan India yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab.

Dari sana Ibn al-Haytsam kemudian berangkat ke Mesir atas undangan penguasa dinasti Fatimiyah, al-Hakim bi Amrillah (996-1021) untuk menyelesaikan masalah pengaliran sungai Nil. Menurut sejarawan al-Bayhaqi, sesampainya di Kairo Ibn al-Haytsam langsung ditemui oleh Khalifah al-Hakim bi Amrillah bersama para pengawalnya di gerbang pemondokanya. Al-Hakim menunggang kuda kecil berhiaskan sepuhan perak. Ibn al-Haytsam harus memanjat bangku karena perawakanya yang pendek dan memberikan catatan tentang rencana yang akan dilakukannya terhadap masalah sungai Nil.[1]

Namun, setelah melihat skala Sungai Nil yang begitu masif secara langsung serta melihat peninggalan arsitektur megah peradaban Mesir Kuno, ia tersadar. Ia menyadari bahwa dengan teknologi dan keterbatasan teknik pada abad ke-11, proyek membendung Sungai Nil adalah hal yang mustahil dilakukan. Ia menyimpulkan jika proyek tersebut bisa dilakukan dengan teknologi saat itu, pastilah para arsitek Mesir Kuno yang genius sudah membangunnya jauh sebelum dia.

Pada saat itulah kisah yang sangat terkenal berupa kegilaan Ibn al-Haytsam terjadi. Para sejarawan berbeda pendapat tentang hal ini apakah ia betul-betul sakit jiwa karena tertekan, ataukah ia berpura-pura gila agar dapat lolos dari pekerjaan yang membelenggunya dan  lepas dari ancaman al-Hakim ataukah karena sebab lain.  Setelah al-Hakim mengetahui keadaanya, maka Ibn al-Haytsam pun dibebaskan dari tugasnya, namun ia memasukannya ke dalam rumah tahanan. Ketika al-Hakim meninggal, Ibn al-Haytsam segera dibebaskan dalam keadaan normal dan dibolehkan tinggal di kawasan masjid al-Azhar untuk mengajar dan melakukan penelitiian.

Setelah meninggalkan Mesir dan tinggal di Syiria, Ibn al-Haytsam mulai meringkas tiga puluh jilid buku mengenai kedokteran Galen. Penguasa Syiria menyimpannya di perpustakaan istana, serta menjanjikan kepada Ibn al-Haytsam uang sebesar 100 dinar emas setiap bulan sebagai imbalan atas pekerjaannya itu, namun al-Bayhaqi meriwayatkan bahwa Ibn al-Haytsam menolak upah tersebut dan hanya mau menerima empat dinar emas, sambal berkata,” Cukup bagiku empat dinar ini, ini sudah mencukupi untuk makanan sehari-hari dalam sebulan untuk aku pelayanku, pembantuku dan hewan  tungganngnganku, jangan lebihkan  dari itu wahai gubernur, sesungguhnya jumlah yang engkau berikan lebih dari keperluanku sehari-hari. Jika aku terlalu engkau memberi lebih maka aku akan menjadi penjaga hartamu.”[2]

Selain menulis, menyalin, meneliti membuat eksperimen dan kegiatan ilmiah lainnya. Ia diketahui memberi pengajaran kepada beberapa orang yang datang kepada dirinya. Suatu waktu  seseorang datang kepada Ibn al-Haytsam dia adalah seseorang bangsawan dari daerah Syiria yang disebut dengan nama Surkhab, namun Ibn al-Haytsam tidak serta merta menerimanya dan meyelidikinya kepribadiannya terlebih dahulu, setelah melakuan semacam wawancara ia menerimanya akan tetapi dengan suatu syarat, yaitu syurkab harus membayar uang sebesar 100 dinar setiap bulan hingga masa studinya selesai selama tiga tahun. Tanpa berpikir dua kali Surkhab menyetujuinya. Ketika berlalu waktu tiga tahun dan Surkhab sampai di penghujung pendidikannya, Surkhab berpamitan kepada Ibn al-Haytsam gurunya. Ketika ia hendak pergi meninggalkan Ibn al-Haytsam gurunya itu memanggilnya kembali dan memberinya seluruh uang yang telah ia bayarkan setiap bulan selama tiga bulan.

Pada masa-masa terakhir kehidupannya, Ibn al-Haytsam dikisahkan mengalami penyakit pencernaan yang cukup berat. Ia berusaha mengobatinya dengan mengonsumsi manisan safarjal (quince) dan irisan tabasyir, sejenis obat tradisional. Namun, kondisi tubuhnya semakin lemah hingga makanan tersebut sering kali dimuntahkan kembali. Menyadari bahwa penyakitnya semakin parah dan usianya telah lebih dari 70 tahun, ia akhirnya menyerahkan seluruh keadaan kepada Allah. Ia menyadari bahwa kemampuan manusia, termasuk matematika dan ilmu pengobatan, memiliki batas. Dalam keadaan tersebut, ia mengungkapkan bahwa segala kemampuan itu telah berakhir dan yang tersisa hanyalah menyerahkan diri kepada Allah, Dzat yang menciptakan dirinya.[3]

Ibn al-Haytsam kemudian menghadapkan dirinya ke arah kiblat. Ketika penyakitnya semakin parah dan tidak lagi mampu menahan kondisi yang dideritanya selama beberapa pekan, ia berdoa kepada Allah dengan penuh tawakal dan menyatakan bahwa kepada-Nya tempat kembali. Tidak lama setelah itu, Ibn al-Haytsam meninggal dunia. Ia diperkirakan wafat sekitar tahun 354 H/1038 M.

Karya Ilmiah Ibn al-Haytsam

Informasi mengenai karya-karya Ibn al-Haytsam dapat ditelusuri terutama melalui ‘Uyūn al-Anbā’ fī Ṭabaqāt al-Aṭibbā’, yang memuat tiga daftar karya Ibn al-Haytsam. Daftar pertama merupakan karya-karya yang dicatat oleh Ibn al-Haytsam sendiri, sedangkan Ibn Abī Uṣaybi‘ah menyertakan dua daftar tambahan dengan susunan dan rincian yang berbeda.[4] Melalui daftar-daftar tersebut dapat diketahui keluasan bidang keilmuan yang menjadi perhatian Ibn al-Haytsam.

Karya-karya Ibn al-Haytsam mencakup berbagai disiplin ilmu, antara lain matematika, logika, astronomi, optika, musik, sastra, dan etika. Keberagaman tersebut menunjukkan keluasan pandangannya mengenai ilmu dan filsafat (al-ḥikmah). Ia memahami al-ḥikmah sebagai pengetahuan mengenai segala sesuatu yang benar sekaligus pengamalan terhadap segala sesuatu yang bermanfaat (al-‘ilm bi-kulli ḥaqqin wa al-a‘māl li-kulli nāfi‘in). Dalam kerangka tersebut, ilmu teoritis (al-‘ilm al-naẓarī) dibagi menjadi tiga cabang, yaitu ilmu matematika (al-‘ilm al-riyāḍī), ilmu alam (al-‘ilm al-ṭabī‘ī), dan ilmu metafisika (al-‘ilm al-ilāhī). Adapun ilmu praktis (al-‘ilm al-‘amalī) terbagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu yang berkaitan dengan pembinaan individu, seperti kedokteran dan pembentukan akhlak, serta ilmu yang berkaitan dengan kehidupan bersama dan pengelolaan lingkungan sosial, seperti pengaturan rumah tangga (tadbīr al-manzil), hukum (al-sunan wa aḥkām al-qiṣāṣ), dan politik kenabian (al-siyāsah al-nabawiyyah).[5]

Dalam melakukan penyelidikan terhadap berbagai fenomena alam, Ibn al-Haytsam tidak hanya menyajikan hasil penelitian, tetapi juga menjelaskan persoalan yang melatarbelakangi dilakukannya suatu penyelidikan. Dari karya-karyanya dapat diketahui bahwa terdapat beberapa tujuan utama dalam penelitian ilmiahnya. Pertama, ia berusaha mengoreksi konsep-konsep yang dianggap keliru, khususnya pemikiran yang diwariskan oleh para ilmuwan dan matematikawan Yunani. Kedua, ia berupaya menyelesaikan perbedaan pendapat yang berkembang di antara para filsuf alam dan matematikawan dalam menjelaskan fenomena tertentu. Ketiga, ia berusaha melengkapi teori dan temuan yang masih belum sempurna, sekaligus memberikan bukti terhadap hipotesis yang sebelumnya belum memiliki dasar pembuktian yang memadai.[6]

Dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut, Ibn al-Haytsam menggunakan tahapan penelitian yang cukup sistematis. Ia terlebih dahulu mengemukakan suatu teori atau dugaan mengenai fenomena yang sedang dikaji, kemudian mengujinya melalui pengamatan dan eksperimen. Pola tersebut menunjukkan bahwa ia tidak menjadikan teori sebagai kesimpulan akhir, melainkan sebagai sesuatu yang harus diuji berdasarkan fakta yang dapat diamati. Cara kerja semacam ini menjadi salah satu karakter penting dalam metode ilmiah Ibn al-Haytsam dan terlihat jelas dalam penelitian-penelitiannya mengenai cahaya dan penglihatan.[7]

Kesimpulan

Sebagai seorang Muslim, penting bagi kita untuk meneladani dedikasi dan perjuangan para ulama terdahulu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Ibn al-Haytsam merupakan salah satu tokoh yang menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan sains. Karya-karyanya hingga kini menjadi perhatian para pendidik, akademisi, dan peneliti dalam mengkaji kembali sejarah perkembangan sains dalam peradaban Islam. Keteladanan tersebut hendaknya menjadi dorongan bagi umat Islam untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan secara kritis dan konstruktif, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai dan pandangan hidup Islam, sehingga perkembangan sains tidak hanya menghasilkan kemajuan intelektual, tetapi juga memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi umat manusia.

Daftar Pustaka

Al-Bayhaqī, Ẓahīr al-Dīn. Tatimmat Ṣiwān al-Ḥikmah. Taḥqīq, ḍabṭ, wa ta‘līq Rafīq al-‘Ajam. Beirut: Dār al-Fikr al-Lubnānī, 1994.

Ibn Abī Uṣaybi‘ah, Aḥmad ibn al-Qāsim ibn Khalīfah ibn Yūnus al-Sa‘dī al-Khazrajī. ‘Uyūn al-Anbā’ fī Ṭabaqāt al-Aṭibbā’. Beirut: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, 1998.

Sabra, A. I. “Ibn al-Haytham.” Dalam Dictionary of Scientific Biography, diedit oleh Charles Coulston Gillispie, vol. 6, 189–210. New York: Charles Scribner’s Sons, 1972.

———. The Optics of Ibn al-Haytham: Books I–III, On Direct Vision. 2 vols. London: Warburg Institute, University of London, 1989.

 

[1] Aḥmad ibn al-Qāsim ibn Khalīfah ibn Yūnus al-Sa‘dī al-Khazrajī (Ibn Abī Uṣaybi‘ah), ‘Uyūn al-Anbā’ fī Ṭabaqāt al-Aṭibbā’ (Beirut: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, 1998), 500.

[2] Ẓahīr al-Dīn al-Bayhaqī, Tatimmat Ṣiwān al-Ḥikmah, taḥqīq wa ḍabṭ wa ta‘līq Rafīq al-‘Ajam (Beirut: Dār al-Fikr al-Lubnānī, 1994), 83.

[3] Al-Bayhaqī, Tatimmat Ṣiwān al-Ḥikmah, 83.

[4] Ibn Abī Uṣaybi‘ah, ‘Uyūn al-Anbā’ fī Ṭabaqāt al-Aṭibbā’, 500.

[5] A. I. Sabra, “Ibn al-Haytham,” dalam Dictionary of Scientific Biography, ed. Charles Coulston Gillispie, vol. 6 (New York: Charles Scribner’s Sons, 1972), 189–210.

[6] A. I. Sabra, The Optics of Ibn al-Haytham: Books I–III, On Direct Vision, 2 vols. (London: Warburg Institute, University of London, 1989), 1:3–5.

[7] Sabra, “Ibn al-Haytham,” 189–210.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami